Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Mimpi


__ADS_3

...Bagi yang membaca cerita ini diharapkan baca season pertamanya ya, biar nyambung nantinya....


...Mohon dukungannya Like, Vote dan Komen....


...Kasih Author semangat ya, kasih komen positif biar Author semangat lanjutin ceritanya😊...


...Terima Kasih. Happy Reading 📖...


......................


Terlihat seorang wanita yang tengah berjalan ditengah hutan lebat dan rimbun ditengah malam yang gelap, namun sinar rembulan memberinya sedikit pencahayaan dari celah-celah dedaunan untuk menerangi setiap langkahnya.


Dia terus berjalan sambil sesekali melihat ke sekeliling, suara hewan malam sesekali bersuara menemani perjalanannya.


Terlihat bibirnya terus bergumam dan tangannya melipat memeluk tubuhnya karena cuaca yang sangat dingin. Dia terus berjalan dan sesekali duduk dibawah pohon besar untuk beristirahat.


"Kenapa aku kembali kesini?"


Dia terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling, semilir angin malam menerpa tubuhnya membuatnya semakin kedinginan.


Tak jauh dari tempatnya duduk, terlihat sosok hitam dan sebuah cahaya. Wanita itu pun berdiri dan menelaah untuk mencari tau siapa dia?


Sosok itu berjalan menjauh lalu wanita itu mengikutinya. Ternyata itu adalah sosok berjubah hitam yang sedang menenteng sebuah lentera ditangannya. Seketika membuat tubuh wanita itu menegang, bahkan jantungnya bergemuruh, aliran darahnya berjalan terasa semakin cepat.


"Di-dia lagi!" gumamnya.


Sosok itu terus berjalan tanpa menyadari ada yang mengikutinya. Meski wanita itu merasa takut tapi dia juga penasaran dengan sosok itu, dia terus mengikutinya.


Namun tiba-tiba sosok itu berhenti dan menoleh kebelakang, untung saja wanita itu cepat bersembunyi dibalik pohon.


Sosok itu tersenyum menyeringai, lalu dia kembali berjalan dan wanita itu pun kembali mengikutinya. Tak lama kemudian sosok itu sampai disebuah gubuk yang berada ditengah hutan lalu dia masuk ke dalam.


Wanita itu masih memperhatikannya, dia sangat penasaran dengan sosok berjubah itu, wanita itu pun mengikutinya sampai ke gubuk, namun dia hanya mengintip dari celah-celah bilik bambu gubuk itu.


Suasana di dalam gubuk temaram karena hanya disinari oleh lentera saja. Namun terlihat jelas sosok berjubah yang ada di dalam.


Wanita itu terus mengintip dan memperhatikan apa yang sedang di lakukan sosok berjubah itu.


"Apa dia pengikut Lakhuds? Bukankah Lakhuds sudah musnah? Meskipun aku tau dia belum mati, tapi setidaknya kekuatannya sudah musnah, tapi kenapa sosok berjubah itu masih ada." pikir wanita itu.


Tak lama terlihat seseorang yang sedang terbaring di atas ranjang bambu dia seorang gadis, wanita itu terus memperhatikannya dengan seksama. Lalu sosok berjubah itu membuka tudungnya.


Terlihat seorang pria muda yang sangat tampan, dengan kulit putih, hidung mancung dan mata agak sipit, tatapannya tajam dan alis tebal.


"Kenapa wajahnya familiar? siapa dia, entah kenapa dia mirip seseorang." gumam wanita itu.


Dia masih setia mengintip aktivitas sosok berjubah itu, dia sangat penasaran apa yang akan di lakukan pria berjubah itu.


Lalu pria berjubah itu duduk disamping gadis yang sedang terbaring. Dia mengusap wajah gadis yang sedang terpejam itu, lalu dia mengendus-endus tubuh gadis itu.


Pria itu sempat menoleh ke arah dimana wanita itu sedang mengintip, lalu dia tersenyum. Seketika membuat wanita itu panik, seolah-olah sosok itu bisa melihatnya, namun tak lama dia kembali melakukan aktivitasnya, dia kembali mengendus gadis itu.


"Aaahhh.. nikmat." gumam pria itu seolah sedang mencium aroma masakan yang lezat.


Lalu sosok itu memegang tangan gadis yang terbaring dan dia mengendusnya perlahan sambil memejamkan mata, seperti sedang menikmati aroma sebuah hidangan yang sangat lezat sambil tersenyum senang.


Wanita itu masih terus mengintip, dia bingung apa yang sedang di lakukan pria itu, dari tadi hanya mengendusi gadis yang sedang terbaring itu.


Tak lama kemudian pria itu seperti sedang menciumi leher jenjang gadis itu, tapi saat pria itu mengangkat kepalanya tiba-tiba dia menoleh lagi ke arah wanita itu, betapa terkejutnya wanita itu saat pria itu menoleh lagi, mulutnya sudah dipenuhi dengan darah. Wanita itu sampai membekap mulutnya sendiri saking kagetnya, matanya terbelalak, menyaksikan kengerian dihadapannya, karena ternyata pria itu habis menghisap darah gadis yang sedang terbaring itu.


Seketika tubuh wanita itu lemas dan tubuhnya merosot ketanah, percaya tidak percaya tapi dia menyaksikan sendiri seseorang sedang menghisap darah. Nafasnya tak beraturan, pikirannya masih sedang mencerna apa yang sudah terjadi, dia masih belum percaya apa yang dilihatnya tapi itulah yang terjadi, tatapannya kosong, sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang sedang berdiri dihadapannya.


Lalu dia pun tersadar, seketika membuat dia ketakutan, tubuhnya gemetaran saat menyadari ada yang sedang berdiri di hadapannya, dia perlahan menatap sosok itu, di mulai dari bawah sampai ke atas lagi-lagi dia terkejut, saat melihat siapa yang sedang berdiri dihadapannya.


Lidahnya kelu, tubuhnya gemetaran, jantungnya berdetak sangat kencang apa lagi saat sosok itu tersenyum menyeringai ke arahnya.

__ADS_1


Sangat jelas terlihat masih ada darah segar menempel di mulutnya, tatapannya tajam, lalu dia berjongkok dihadapan wanita itu dan mencengkram pipinya, sosok itu menatap seperti orang yang sedang kelaparan dan dia tersenyum senang seperti mendapat mangsanya.


Wanita itu semakin ketakutan ingin rasanya dia berlari, tapi tubuhnya saja gemetaran dan lemas, bahkan rasanya sangat kaku. Tapi saat melihat tatapan dan senyuman sosok itu, dia seperti mengenalnya, sosok di hadapannya benar-benar mirip seseorang yang dia kenal dan sesaat dia menyadari siapa orangnya. Lalu sosok itu tersenyum lagi dan..


Deg!!


Tubuhnya semakin lemas kala dia menyadari siapa sosok yang ada dihadapannya.


"TIDAAAAAKKK.."


Dia terbangun dari tidurnya, ternyata lagi-lagi itu hanya mimpi, nafasnya terengah-engah, tubuhnya keringatan. Dan membuat pria yang sedang tidur disampingnya ikut terbangun karena mendengar teriakannya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya pria itu.


Wanita itu masih mengatur nafasnya, terlihat dia masih syok, lalu pria itu mengambil segelas air yang ada di nakas dan menyodorkannya pada wanita itu. Dia menenggak air itu sampai habis tak tersisa. Setelah menaruh gelas, pria itu memeluk wanita itu dan mengusap kepalanya.


"Mimpi buruk ya?" tanyanya. Wanita itu mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Ya udah itu kan cuma mimpi, kita tidur lagi ya, ini masih malam sayang!" ucap pria itu sambil melepaskan pelukannya.


"Aku takut kak, kamu tau kan mimpi yang sering kita alami bukan hanya sekedar bunga tidur!" terlihat sekali wajah khawatir dan takut dari wanita itu.


Pria itu tersenyum menatap istri yang sangat di cintainya itu, lalu dia mengusap pipinya.


"Jangan khawatir sayang, semuanya pasti akan baik-baik aja!" ucapnya menenangkan istrinya.


"Tapi aku-" belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, pria itu mencium bibir istrinya dan membuat dia terdiam dan menatap sebal ke arah suaminya.


"Masih malam sayang, tidur lagi ya." Dia pun pasrah dan menuruti perintah suaminya, dia kembali tidur dan memeluk suaminya. Meski matanya sulit terpejam karena memikirkan mimpinya. Dia sangat takut dan khawatir.


"Tidak mungkin!! aku harap itu hanya mimpi." gumamnya dalam hati.


"Tidur sayang." ucap pria itu membuyarkan lamunan istrinya yang ternyata masih terjaga. Dia pun terpejam meski pikirannya masih berkelana.


Dan pria itu mengeratkan pelukannya, jauh didalam hatinya dia juga khawatir dan takut akan mimpi istrinya itu yang sering terulang, tapi dia berusaha tenang agar tidak menambah kekhawatiran istrinya.


...***...


Malam telah berlalu mentari sudah menampakan sinarnya di ufuk timur. Pagi itu Inas sudah sibuk dengan aktivitasnya untuk mengurus putranya yang baru menginjak usia tujuh bulan. Dia sedang bermain dengan anaknya diruang tengah, tetapi wajahnya menjadi sendu saat menatap putranya.


Tak lama kemudian Ares pun menghampiri mereka dan ikut bergabung dengan anak istrinya.


"Morning jagoan ayah!" ucapnya lalu mencium gemas anaknya karena dia merespon dengan senyuman kala ayahnya menyapanya.


"Morning bunda cantik!" sapanya pada Inas lalu mencium pipi Inas sambil duduk di samping Inas.


"Morning ayah, ayah belum mandi ya, ayah masih bau acem!" ledek Inas membuat Ares gemas pada istrinya dan mencium pipinya berkali-kali.


"Aaa.. sayang kamu mandi dulu!" Inas sebal dengan kelakuan suaminya itu. Tapi Ares malah semakin menjaili istrinya itu dan membuat Inas semakin sebal.


"Mandiin sama kamu!" ucapnya jail sambil menaik turunkan alisnya.


"Gak mau, mandi aja sendiri, udah gede!" ucap Inas. Tapi Ares malah memeluk manja istrinya yang sedang bermain dengan anaknya dan terus menciumi pipi istrinya.


"Sayang!" panggil Ares.


"hm.."


"Bikin adek yuk buat Argan!" ucapnya untuk menjaili istrinya. Inas langsung menatap horor Ares.


"Apa-apaan kamu, Argan baru juga umur tujuh bulan masa mau bikin adek buat dia." ucap Inas kesal.


"Biarin, saya kan udah pernah bilang pengen punya anak lima belas!" ucap Ares tersenyum jail.


"Aaaa..aaa, ampun sayang ampun!" Ares meringis karena Inas langsung mencubit perutnya, karena kesal mendengar ucapan suaminya itu.

__ADS_1


"Becanda sayang!" ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.


"Sayang!" panggil Inas dan menatap suaminya yang sedang memeluknya.


"Kenapa?"


"Aku masih kepikiran tentang mimpi itu!!" wajah khawatir Inas terlihat lagi, membuat Ares juga ikut khawatir, selain dia juga khawatir dengan mimpi Inas, dia juga khawatir dengan kesehatan Inas, apa lagi dia masih dalam masa menyusui, Ares tidak ingin Inas jadi stres dan kesehatannya terganggu.


"Gak usah terlalu dipikirin ya, kita berpikir positif aja, semoga semuanya baik-baik aja!" Ares berusaha menenangkan istrinya. Meski sebenarnya hatinya juga gak tenang.


"Tapi sayang-"


"Sayang, udah jangan dipikirin lagi, buktinya sekarang anak kita gak apa-apa kan, dia baik-baik aja dan juga sehat!" ucap Ares memotong ucapan Inas.


Inas menatap putranya dengan tatapan sendu, dia begitu khawatir dengan putranya, tapi mendengar ucapan Ares, hatinya merasa lebih tenang. Lalu Inas menatap suaminya dan tersenyum.


"Makasih ya kamu selalu membuat aku tenang!" ucapnya menatap suaminya. Ares tersenyum dan mengangguk.


Lalu mereka menatap putranya yang sedang tertawa lucu, menyaksikan kedua orang tuanya membicarakannya.


Di sisi lain terlihat sosok yang sedang memperhatikan mereka, sosok tinggi besar, dengan rambut gimbal yang kusut, wajahnya merah padam begitu juga tubuhnya, taringnya panjang sampai bawah dagu, air liurnya menetes.


Dia menatap seperti sedang kelaparan.


"Aku harus mendapatkan anak itu!" serunya lalu dia menghilang.


"Sayang, udah sana mandi nanti kesiangan ke kantornya!" ucap Inas, tapi Ares malah makin erat memeluk Inas.


"Gak mau, pengen disini sama kamu dan jagoan kita!" balasnya manja.


Membuat Inas menghela nafas karena sebal dengan kelakuan suaminya. Pasalnya semenjak mereka mempunyai anak, sikap Ares jadi sangat manja dan seperti tidak mau perhatian Inas hanya untuk anaknya semua, dia takut perhatian Inas hanya untuk anaknya dan mengabaikan dia, ya bisa dibilang dia cemburu sama anaknya sendiri.


"Sayang ini sudah siang, kamu kan bosnya harus ngasih contoh yang baik buat karyawannya, kalo bosnya aja sering kesiangan, nanti karyawannya ikut-ikutan, ayo sekarang kamu man- mmphh.." belum sempat Inas menyelesaikan ocehannya, Ares menghentikannya dengan ciuman mesra dibibirnya.


"Udah ngomelnya?" Inas sebal dan mengerucutkan bibirnya, karena kebiasaan Ares tidak pernah berubah selalu seperti itu dari dulu sampai sekarang, tapi dia sangat bahagia karena suaminya selalu memperlakukannya sangat baik dan penuh cinta.


"Kenapa bibirnya kaya gitu? Pengen lagi?" Inas menggeleng, tapi Ares menjailinya lagi dan malah mengangkat Inas ke pangkuannya.


"Iihhh kamu apaan sih?" ucap Inas sambil mendorong Ares dan melepaskan diri dari pangkuan Ares, tapi Ares menahannya.


"Saya sangat bahagia dan bersyukur, dulu saya kira gak bisa hidup bersama kamu, saya juga mengira saya adalah keturunan terakhir kakek Nur Jagad, tapi ternyata saya salah, keturunan kakek Nur Jagad masih berlanjut!" ucap Ares menatap Inas. Inas tersenyum dan memegang pipi Ares.


"Aku pernah bilangkan, kalo kita pasti bisa hidup bersama sampai kita nikah dan punya anak bahkan kita bakal punya cucu kelak, dan ternyata Allah mengabulkannya, setiap ucapan adalah doa, jadi kita harus bicara yang baik-baik. Aku juga sangat bahagia dan bersyukur bisa hidup bersama kamu dan memiliki keluarga kecil!" balas Inas Ares mengangguk.


Inas mencium bibir suaminya, dan Ares membalasnya dengan senang hati. Tiba-tiba bel pintu berbunyi.


"Ck.. ganggu aja." ucap Ares sebal. Inas terkekeh melihat tingkah suaminya, lalu dia beranjak untuk membukakan pintu.


"Pagi bu Inas!" sapa orang diluar pintu saat Inas membuka pintu.


"Ehh mbak Ega pagi juga mbak, ayo masuk!" balas Inas. Mbak Ega masuk dan langsung melakukan tugasnya untuk beres-beres rumah.


"Siapa sayang?" tanya Ares saat Inas menghampirinya.


"Mbak ega." jawab Inas.


"Oh.. ya udah saya mandi dulu ya!"


"Iya sana ayah mandi dulu!" balas Inas. Tak lupa Ares mencium anaknya sebelum beranjak ke kamar mandi.


Lalu Inas kembali bermain dengan putranya, mereka tidak tau sedari tadi ada sosok yang terus memperhatikan kegiatan mereka. Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2