Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Siapa dia?


__ADS_3

...Sebelum membaca mohon dukungannya ya. Tinggalkan Like dan Komennya. Biar Author semangat bikin ceritanya. Terima kasih 😊...


...Happy Reading 📖...


...***...


Setelah selesai sholat tiba-tiba saja kepala Ares sakit dan berat dan dia mengingat apa yang sudah terjadi dengannya.


Ares membelalakkan mata saat mengingat itu.


flashback on


Ares membelalakkan matanya saat melihat ke kamar itu. Kamar itu sudah berantakan seperti kapal pecah, bahkan isi kasur dan bantal semuanya berhamburan.


"Apa yang terjadi?" gumamnya.


Saat Ares akan masuk tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dan membuat Ares terkejut. Dia menoleh ternyata seorang wanita paruh baya, dia sedang tersenyum melihat Ares.


"Ibu siapa ya?" tanya Ares.


"Saya Watiah" jawab Wati tersenyum. Aneh biasanya dia akan bersikap datar dan dingin saat berbicara dengan Inas tapi dia tersenyum saat berbicara dengan Ares.


"Ohh bi Wati!" tukas Ares.


"Itu kenap-" Ares memotong ucapannya saat menengok kembali ke kamar pembantunya, kamarnya sudah tidak berantakan lagi, bahkan sangat rapi, tidak ada bekas kekacauan atau berantakan. Ares mengernyitkan dahi.


"Apa saya salah lihat?" gumamnya. Ares merasa bingung dengan apa yang dia lihat.


"Aneh tadi pun rumah ini berantakan tapi tiba-tiba saat saya lihat lagi, rumah ini tidak apa-apa, mungkin itu halusinasi karena saya kecapean dan panik!" pikirnya.


"Pak, kenapa?" tanya bi Wati.


Ares berlalu begitu saja meninggalkan bi Wati, tapi terlihat bi wati tersenyum senang saat melihat Ares.


Ares berniat kembali ke rumah sakit dia membereskan baju untuk Inas dan untuknya, saat sedang membereskan baju, tiba-tiba saja terasa ada yang memeluknya dari belakang. Ares kaget dan sontak berusaha menepis pelukan itu, tapi saat dia menoleh kebelakang tidak ada siapa pun.


Ares melanjutkan kembali mengepak pakaiannya dan kejadian itu terulang lagi, setiap Ares menengok tidak ada siapa-siapa.


"Aneh apa iya saya halusinasi?" gumamnya bingung.


"Sudahlah saya harus kembali ke rumah sakit, kasian bunda sendiri." ucapnya.


Ares pun bergegas membereskan pakaiannya dan kejadian tadi terulang, terasa sekali ada yang memeluknya dari belakang, tapi kali ini Ares membiarkannya, dia melihat ke arah dadanya ada sebuah tangan yang hitam legam dengan kuku-kuku yang panjang berlumuran darah. Bau busuk menyengat bercampur bau bunga tujuh rupa.


Jantung Ares berdetak kencang, namun dia berusaha tenang.


"Saya yakin ini bukan halusinasi!" pikirnya.


Lalu dia mendengar suara seorang perempuan bernyanyi tembang jawa. Ares berusaha tenang meski sebenarnya tubuhnya tegang. Tangan hitam itu begerilya di dada Ares, suara nyanyian itu terdengar sangat halus dan membuat Ares terlena, tangan itu beralih mengusap wajah Ares, lalu ke lehernya kembali ke dadanya dan..


Duarrrr..


Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Tiba-tiba saja suara nyanyian itu hilang dan Ares tidak sadarkan diri.


Sedangkan diluar, pemuda itu dan Tio, sedang berusaha masuk kedalam rumah Ares, tapi ada kekuatan gaib yang menghalangi mereka masuk. Pemuda yang bernama Braga itu bingung siapa yang memagari rumah Ares dengan kekuatan gaib.


"Om kenapa kita tidak bisa masuk?" tanya Tio.


"Seperti kata kamu ada nenek sihir!" jawab Braga.


Mendengar jawaban Braga Tio langsung bersembunyi dibelakang tubuh Braga.


"Sepertinya saya mengenal siapa dia?" ucapnya dalam hati.


Braga memejamkan mata berusaha berkonsentrasi, agar dia bisa memusnahkan pagar gaib itu, saat Braga mulai mau menyerang, justru serangannya meledak.


Duaarrr..


Membuat Braga dan Tio terpental.

__ADS_1


"Aduh sakit om." ringis Tio.


"Kekuatannya lumayan juga tuh nenek peot!" gumam Braga.


Tak berselang lama muncul sosok wanita cantik dengan memakai kebaya berwarna kuning keemasan, dengan hiasan seperti pengantin. Dia menghampiri Braga yang sedang terduduk.


"Pria tampan, tidak usah capek-capek untuk menghancurkan pagar gaib itu, lebih baik kau menjadi suamiku!" ucap wanita itu lemah lembut menggoda Braga.


"Enyah kau dari sini jangan ganggu tuan saya nenek peot!" ucap Braga.


Wanita itu tertawa. "Kau menolakku!!" pekik wanita itu geram. Tio yang melihat kemarahan wanita itu ketakutan dan mencengkram tangan Braga.


Wanita itu berubah jadi makhluk menyeramkan berambut panjang kusut, dengan tubuh yang hitam legam serta kuku-kukunya yang tajam, kulitnya keriput, dengan mata merah menyala dan bau busuk yang menyengat. Tubuhnya seperti nenek-nenek yang sudah bungkuk.


"Beraninya kau menolakku!!" pekik wanita itu geram.


Tio semakin ketakutan melihat wujud Asli sosok itu. Braga hanya tersenyum smirk menatap sosok itu. Braga berdiri dan berusaha melawan siluman jelek itu. Tio yang ketakutan dia menghilang, tapi siluman itu berhasil menangkapnya.


"Om..tolong aku, om tolong.." teriak Tio.


"Aku pasti mendapatkan darah anak itu dan kau tidak akan bisa menghalangiku!" ucap sosok itu.


Braga tidak membalas ucapan siluman itu dia hanya terdiam dan menatap tajam, dia juga tidak mempedulikan Tio yang terus meronta-ronta ingin lepas.


"Hussstt.. berisik bocah saya gak konsen!" ucap Braga yang sudah mulai kesal mendengar teriakan Tio.


"Aku takut om." teriak Tio. Sosok itu menabur serbuk yang membuat Braga terbatuk dan membuat pandangannya kabur. Dan sosok itu pun menghilang.


"Dasar pengecut, belum apa-apa udah kabur." ucap Braga setelah serbuk-serbuk itu menghilang.


"ha ha ha ha tenang aja tampan kita akan bertemu lagi!" ucap sebuah suara.


Braga kesal karena dia belum bisa masuk ke dalam rumah Ares.


"Cuma ada satu cara biar saya bisa masuk!" ucap Braga yang masih terbatuk karena serbuk tadi.


flashback end


"Sepertinya ada yang mengganggu keluargaku, apa itu juga yang membuat Argan sakit?" ucapnya yang masih memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Tak lama adzan subuh berkumandang, setelah adzan selesai Ares menunaikan sholat subuh, agar dia cepat bergegas menyusul istrinya ke rumah sakit.


Ditempat lain Inas yang terbangun karena mimpi buruk, nafasnya ngos-ngosan, tubuhnya keringatan, tak lama terdengar adzan berkumandang. Untung dia tidak sedang melaksanakan sholat karena halangan.


Dia menatap putranya yang masih terpejam lalu dia mengusap pipinya dan menciumnya dan dia beranjak ke kamar mandi.


...***...


Ares sudah kembali ke rumah sakit, dia melihat istrinya yang sedang terbaring disamping Argan dan memeluk putranya. Inas belum menyadari kehadiran suaminya.


Ares mencium pipi Inas dan membuat Inas terkesiap.


"Sayang kamu darimana aja?" tanya Inas sambil beranjak.


"Maaf ya sayang, ayah malah ketiduran dirumah, kamu gak apa-apa kan?"


Inas mengangguk. "Bunda gak papa yah, Argan juga udah mulai membaik!" ucap Inas membuat Ares senang. Sebenarnya ada yang sedang Inas pikirkan tapi dia tidak mau memberitahukan Ares karena tidak mau membuat suaminya khawatir. Lalu Ares mencium Argan.


"Anak ayah cepat sembuh ya sayang, anak ayah kan kuat!" ucap Ares sambil membelai kepala Argan.


"Sayang!!" panggil Inas sambil memeluk Ares dan terisak.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu gak apa-apa kan?" tanya Ares panik.


"Jangan tinggalin kami lagi, aku taku!t" ucap Inas terisak.


"Maafin saya udah meninggalkan kalian, ada apa sebenarnya sayang?" tanya Ares penasaran.


Lalu Inas menceritakan dimana saat malam mati lampu dan hujan deras, sampe dia harus mencari lilin dan bertemu sosok yang sedang menggendong Argan dan paginya Argan sakit.

__ADS_1


Ares mendengarkan penuturan istrinya, dia yakin itu adalah sosok yang mengganggunya tadi malam, tapi Ares tidak mau menceritakannya pada Inas karena tidak mau membuat Inas tambah ketakutan.


"Maaf ya sayang, udah bikin kamu ketakutan!" ucap Ares sambil memeluk istrinya lagi.


"Jangan tinggalin kami lagi, aku takut!" isak Inas.


"Iya sayang, saya gak akan tinggalin kalian lagi!"


Sedangkan Braga yang mendengar penuturan Inas dia merasa geram.


"Dasar siluman jelek udah bikin tuan saya sakit!" ucapnya geram.


...***...


Ares dan keluarganya sudah pulang, Argan hanya dirawat tiga hari dirumah sakit, kondisinya sudah mulai membaik dan sudah bisa tertawa lagi, meski masih agak lemes.


Ares sedang bermain dengan anaknya sedangkan Inas sedang membantu bi Wati memasak, sikap bi Wati masih datar dan dingin, dia hanya bicara seperlunya saja.


Tak lama terdengar suara ponsel berdering.


"Bun ada yang nelpon!" teriak Ares.


"Angkat aja yah." sahut Inas.


📞 "Hallo Assalamualaikum.." sapa Ares saat mengangkat telponnya.


📞"....."


📞 "Ohh mbak Ega, ada apa mbak?" tanya Ares.


📞"...."


📞"Maksudnya mbak gimana?"


📞 "......"


📞"Loh gak mungkin mbak!"


📞"....."


Ares menelan ludah mendengar penuturan mbak Ega. Setelah selesai menelpon Ares termenung dan memikirkan apa yang mbak Ega katakan.


"Gak mungkin ini pasti orang iseng, tapi suaranya bener mbak Ega!" pikir Ares.


"Ayah!" ucap Inas menepuk pundak Ares.


"Eh bunda iya kenapa sayang?" tanya Ares.


"Ayah bunda panggil-panggil gak denger?" Ares menggeleng.


"Makanya jangan suka melamun." ucap Inas.


Ares ingin mengatakan sesuatu pada istrinya tapi dia bingung.


"Ohh iya siapa yang telpon yah?" tanya Inas.


"Ohh i-itu bun, em.. anu salah sambung!" jawab Ares tergagap. Membuat Inas mengernyitkan dahi.


"Ayah kenapa sih?" tanya Inas bingung.


"Gak apa-apa sayang, masaknya udah ayah laper bun!" jawab Ares sambil memegangi perutnya.


"Udah yah, ayo kita makan!" sahut Inas.


Lalu Ares memangku Argan dan mengajaknya makan. Ares masih memikirkan perkataan mbak Ega.


"Lalu siapa dia?" gumamnya dalam hati.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2