Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Pembantu Misterius 3


__ADS_3

Inas dan Ares masih dirumah sakit untuk menjaga Argan, sedangkan Sakti sudah pulang karena dia juga masih ada kerjaan.


"Sayang makan dulu ya." ucap Ares. Inas menggeleng.


"Nanti kamu sakit." lanjut Ares sambil membelai rambut Inas.


"Aku gak laper yah, aku juga gak ***** makan, aku gak sanggup anak kita sakit kaya gini, lebih baik aku yang sakit!"


"sssttt..!!" Ares menaruh jarinya dibibir Inas.


"Kamu gak boleh ngomong kaya gitu, saya gak mau kamu atau pun anak kita sakit. Saya mau kalian selalu sehat dan baik-baik aja." ucap Ares sambil memeluk istrinya.


"Sekarang kamu makan gak ada penolakan, kalo kamu sakit, nanti kamu gak bisa main sama Argan, makan ya sayang?" Akhirnya Inas mengangguk dan menuruti suaminya, dari pagi dia belum makan apa pun, dia terlalu panik sehingga tidak memikirkan dirinya sendiri.


Ares menyuapi Inas, meski hanya beberapa suap yang masuk ketubuhnya. Setidaknya itu lebih baik dari pada tidak makan sama sekali.


"Nanti ayah mau pulang dulu bun, ambil baju bunda, gak apa-apa ya ayah tinggal sebentar!" ucap Ares.


"Iya sayang, sekarang dirumah ada bi wati saudaranya mbak Ega!" balas Inas.


"Ohh.. bukannya gak jadi datang ya?"


"Bukannya gak jadi yah, tapi kemarin lusa ada halangan, jadi gak berangkat hari itu, jadi dia datangnya kemarin, pas ayah pergi dia datang." Ares menganggukkan kepalanya sambil ber'O' ria.


"Ya udah ayah pulang dulu ya, sekalian mau beresin baju juga."


"Ayah hati-hati!!"


"Iya sayang, kalo ada apa-apa cepet telpon." Inas mengangguk dan tersenyum.


Ares pulang dan menaiki taksi karena mobil dia masih dikantor, pas dari bandara dia langsung ke rumah sakit. Tidak mampir kemana-mana ditambah supirnya sedang cuti, jadi tidak ada yang menjemputnya.


Malam itu baru pukul 19.13 WIB. Cuacanya memang mendung mungkin akan hujan deras seperti kemarin malam.


Tak lama Ares sampai rumah, namun terlihat rumahnya sangat gelap.


"Apa si bibi gak nyalain lampu?" gumam Ares.


Ares pun masuk untung saja dia bawa kunci cadangan, tapi ternyata pintunya tidak dikunci. Ares menggelengkan kepala saat tau pintu rumahnya tidak dikunci.


"Kalo ada maling gimana?" gerutunya.


Ares pun masuk dan rumahnya sangat gelap, Ares menyalakan lampu. Betapa terkejutnya Ares saat melihat rumahnya berantakan seperti kapal pecah.


"Jangan-jangan benar ada maling!"


"Bi..bi.." panggilnya namun tak ada sahutan dari pembantunya itu. Ares menyusuri rumahnya namun tak ada siapa pun.


"Kemana si bibi?" tanyanya bingung.


Ares mengabaikannya karena dia sudah sangat lengket dan gerah, dia ingin sekali mandi, soal ini biar jadi urusan nanti, pikirnya.

__ADS_1


Ares bergegas mandi setelah menyalakan lampu seluruh rumahnya.


Kucuran air dari shower benar-benar membuat tubuhnya sangat segar.


tok tok tok


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dikamar mandi, Ares menghentikan aktifitasnya dan menajamkan pendengarannya, apa yang dia dengar itu benar.


Namun tak ada lagi ketukan pintu, malah hanya ada suara gemericik air yang menetes dari shower. Ares pun melanjutkan mandinya, namun saat dia menyalakan shower suara ketukan itu terdengar lagi, suara ketukannya pelan dan berirama cuma tiga kali ketukan.


tok tok tok


Akhirnya secepat mungkin Ares menyelesaikan mandinya dan mencari tau siapa yang mengganggunya.


"Apa mungkin si bibi?" pikirnya.


Setelah selesai mandi dan berganti baju, Ares keluar kamar karena tak ditemui siapa pun dikamarnya, lagi-lagi dia terkejut melihat keadaan rumahnya sudah rapi, padahal tadi sangat berantakan, dalam sekejap rumahnya rapi seperti tidak habis berantakan, padahal dia berniat akan membereskannya setelah mandi.


Tak lama dia mendengar suara orang bernyanyi, menyanyikan tembang jawa. Ares mendengarkan dengan seksama, suaranya terdengar dari arah belakang. Ares menghampirinya karena penasaran dan ternyata suara itu berasal dari kamar pembantunya.


Ares melangkah pelan mendekati kamar pembantunya, entah kenapa dia sangat penasaran dan sama sekali tidak ingin memanggil pembantunya.


"Perasaan tadi gak ada siapa-siapa!" pikirnya.


Ares memegang handle pintu dan membuka pintu kamarnya. Dan melihat siapa yang ada di kamar pembantunya, Ares membelalakkan matanya saat melihat ke kamar itu.


...***...


Argan belum sadarkan diri dari pagi, membuat hati Inas sangat terluka melihat buah hatinya terkulai lemah disitu. Belum lagi sudah tiga kantong darah yang sudah didonorkan ke tubuh Argan.


"Bangun sayang, bunda kangen nak, bunda gak mau liat kamu kaya gini, nanti kita main lagi sama-sama, bareng bunda, ayah sama kakak yang suka terbang!" ucap Inas lirih sambil mencium pipi Argan. Dia inget anaknya sering bilang, kalo temen gaibnya itu suka terbang.


Sedangkan Tio yang melihat temannya sedang terbaring, hanya menatap sedih. Tak lama datang seorang pemuda menghampiri Tio.


"Hei bocah.. Apa yang terjadi dengan tuan saya?" tanya pemuda itu. Tio pun menatapnya.


"Om kemana aja? Biasanya om suka nolongin Argan." bukannya menjawab pertanyaan pemuda itu, Tio malah memberi pertanyaan balik.


"Saya tanya, malah balik tanya!" ucap pemuda itu kesal.


"Saya ada urusan, jadi saya gak bisa jagain tuan dulu, bukannya kamu yang jagain dia." lanjut Pemuda itu.


"Gak mau, aku takut ada nenek sihir." ucap Tio lalu menghilang. Membuat pemuda itu mengernyitkan dahi.


"Nenek sihir? Siapa?" tanyanya sendiri.


"Dasar upil firaun belum selesai ngomong udah kabur duluan." gerutu pemuda itu kesal dan ikut menghilang.


Inas terlelap setelah puas melihat dan berbicara dengan anaknya. Mungkin karena dia kelelahan dan juga menangis terus.


Lalu dia terbangun dan dia berada disebuah kebun bambu yang rimbun yang temaram, entah siapa yang menaruh obor-obor ditengah kebun bambu menjadikan suasana disini tidak terlalu gelap. Inas berjalan menyusuri kebun bambu itu lalu dia berjalan semakin masuk ke dalam, tak sengaja dia mendengar suara geraman yang mengerikan, bahkan suaranya bukan satu karena terdengar saling bersahutan.

__ADS_1


Tak lama Inas melihat sebuah cahaya dari balik bambu yang sangat rimbun, Inas ingin menengok tapi pohon bambu itu saling berdempetan sehingga jadi sulit untuk Inas mengintip.


Inas mengabaikannya dan kembali menyusuri pohon bambu itu, tak lama dia berjalan dikebun bambu, dia memasuki sebuah kampung dengan rumah yang biasa aja seperti rumah biasanya. Tapi penerangan disitu memakai obor. Tidak ada siapapun, kampungnya sangat sepi.


"Mungkin mereka sedang tertidur." pikir Inas.


Tapi semakin masuk ke dalam kampung, Inas mencium bau busuk bercampur bau bunga tujuh rupa yang menyengat, sontak Inas langsung menutup hidung.


Inas ingin pergi dari situ, tapi kakinya malah terus melangkah maju, tak lama terdengar suara tangis anak kecil. Inas mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari suara tangis itu berada, dia seperti mengenal suara tangis itu.


Suara tangis itu berasal dari salah satu rumah disana, Inas yang penasaran langsung berjalan perlahan kerumah itu.


Suara tangis anak itu semakin kencang, dia seperti sedang kesakitan. Inas mengintip dari jendela namun isi dalam rumah itu gelap. Tak ditemui apa pun, bahkan suara tangis itu menghilang bak ditelan bumi. Suasana menjadi hening seketika. Semilir angin menerpa tubuh Inas membuat bulu kuduk merinding, bau busuk perlahan menghilang.


Tapi tiba-tiba terdengar suara riuh orang banyak mendekat, Inas yang panik langsung bersembunyi disamping rumah. Inas menunggu sesaat, suara riuh itu masih terdengar tapi belum ada satu pun seseorang yang mendekat, tidak ada siapa pun.


Inas mengedarkan pandangan ke sekeliling kampung ini benar-benar tidak berpenghuni, tidak ada tanda-tanda kehidupan, suara hewan malam pun tidak didengarnya.


Tapi dia mendengar sangat jelas suara orang banyak. Dan Inas baru menyadari dimana dia berada sekarang? bukankah sebelumnya masih tidur disamping Argan? pikirnya.


Inas terbangun karena merasa ada yang mengejutkannya.


"Astaghfirullah.." ucapnya. Dia melirik jam dinding baru pukul 2 dini hari. Dia pun beranjak ke kamar mandi.


...***...


Ares yang tiba-tiba terbaring ditempat tidurnya dia terbangun, matanya terasa berat dan pusing, dia menekan-nekan pelipisnya karena merasa pusing.


Dia beranjak dan dia kaget kenapa dia bisa ada disini?


"Kenapa saya bisa ada disini?" gumamnya.


Dia beranjak dan berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi? Tapi dia belum bisa mengingat apa pun, terakhir dia ingat hanya saat bersama istri dan anaknya dirumah sakit.


"Argan, Inas!!" pekiknya saat mengingat anak dan istrinya.


Dia beranjak dan ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.


"Ke rumah sakit sekarang tanggung, nanti saja habis subuh." ucap Ares.


Setelah membersihkan diri dan berwudhu akhirnya Ares menunaikan sholat malam, sekalian bangun dan sekalian mendokan kesembuhan buah hatinya.


Setelah selesai sholat tiba-tiba saja kepala Ares terasa sakit dan berat dan dia mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.


Ares membelalakkan mata saat mengingat itu.


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2