
Amarah sang tuan memuncak, dia menghabisi semua orang yang dia lihat. Matanya merah menyala, taringnya tajam, kuku-kukunya tak kalah tajam. Sungguh sangat mengerikan jika terkena sedikit saja terkena sayatan kuku atau taring itu akan langsung robek.
Tak ada yang bisa menghentikan amarahnya, dia ingin segera membunuh gadis pemilik darah suci itu dan semua keturunan Nur Jagad.
Dia menyesal karena dulu tidak menghabisi pemilik darah suci itu dan sekarang dia sedang terancam, karena kekuatan yang seharusnya dia dapatkan lenyap begitu saja.
Jantung Argan bisa mengembalikan kekuatannya, jika Argan sudah menghisap darah dari sembilan ratus sembilan puluh sembilan manusia, maka sempurnalah jantungnya untuk dia santap dan bisa mengembalikan kekuatannya. Namun karena kelengahannya dia gagal untuk mendapatkan jantung itu, karena Argan sudah terlanjur meminum darah suci itu.
Maka saat ini iblis itu sangat murka dia ingin sekali membunuh seluruh keluarga Argan dan gadis pemilik darah suci itu.
"Saya akan hancurkan kalian!" pekiknya menggema.
...***...
Argan sudah mulai membaik Inas dan Ares sudah membawanya pulang. Begitu juga Shina dia sudah baik-baik saja.
Semua orang sedang berkumpul di rumah Argan, semua mengucap syukur karena semuanya baik-baik saja.
Raut bahagia terpancar dari Ares dan yang lainnya. Semuanya sedang berbahagia.
Argan menatap Shina dia senang karena berkat Shina dirinya sembuh, namun dari tadi dia memperhatikan Shina, pandangan Shina terus menatap Sandi. Argan heran dan penasaran. Di sisi lain Penty pun memperhatikan Argan yang sedang menatap Shina.
Sesak, mungkin itu yang di rasakan Penty. Tapi dia mencoba untuk menerima dan pasrah jika memang Argan bukanlah jodohnya.
Sedangkan Shina pandangannya tak bisa beralih dari Sandi begitu juga Sandi. Dua insan itu sedang di mabuk asmara, namun sepertinya hanya mereka yang tau.
"Shina!!" panggil Argan. Shina menoleh.
"Iya, kenapa gan?"
"Aku boleh ngomong sama kamu?" Shina terdiam dia menatap Sandi. Sandi mengangguk dan tersenyum tanda memberikan izin pada Shina, dan itu tak luput dari perhatian Argan. Argan semakin bingung ada apa sebenarnya di antara mereka.
Argan pun beranjak dan keluar di ikuti Shina. Penty hanya memperhatikan mereka berdua, dia menghela nafas.
"Ayolah Penty kamu pasti bisa!" gumamnya menyemangati diri sendiri.
"Makasih ya!" ucap Argan.
"Makasih buat apa?" tanya Shina.
"Kamu sudah bantuin aku!" Shina tersenyum.
"Kita kan teman jadi kita harus saling bantu!" Argan merasa sesak saat Shina menganggapnya teman. Argan tersenyum terpaksa.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Shina mengangguk.
"Mau tanya apa?"
"Mau tanya soal perasaan kamu?" Shina menoleh ke Argan dan menatap pria yang sudah meluluh lantahkan hatinya.
"Kenapa dengan perasaanku?" tanya Shina dengan nada yang mulai datar.
"Apa kamu masih menyukaiku?" tanya Argan. Shina terdiam dan menunduk. Dia tau perasaannya sudah tidak untuk Argan lagi, karena dia sudah menyerahkan perasaannya pada Sandi. Shina menggeleng.
"Sudah lama aku melupakannya dan aku gak mau terus jadi orang bodoh yang terus berharap pada seseorang yang bahkan gak bisa bersikap tegas!" jawab Shina.
Deg!
Argan merasakan sesak di dada, tapi dia sadar semua itu adalah kesalahannya.
"Maaf!" ucap Argan sambil menunduk. Shina tersenyum.
"Aku sudah memaafkanmu, semua manusia pasti punya kesalahan kan? termasuk aku!"
"Sebaiknya kamu pikirkan Penty! dia pasti masih berharap padamu!" ujar Shina yang melihat Argan terdiam.
"Dan kamu jangan berharap apa-apa lagi padaku, karena aku sudah mencintai laki-laki lain!" ucap Shina lalu dia beranjak namun saat dia akan pergi, Argan menahannya.
__ADS_1
"Apa laki-laki itu om Sandi?" tanya Argan. Shina terkejut dari mana Argan tau, laki-laki itu adalah Sandi.
"Itu bukan urusanmu!" ucap Shina lalu dia beranjak dan kembali ke dalam.
Argan terdiam dia merutuki kebodohannya karena tidak bisa tegas dengan hatinya. Jujur dia masih mencintai Shina, tapi dia juga mencintai Penty. Dia ingin egois dia tidak rela jika Shina maupun Penty jatuh ke pelukan laki-laki lain.
Tapi sungguh dia tidak bisa memilih karena dia mencintai kedua gadis itu dan jika bisa dia ingin memiliki keduanya. Egois memang, tapi itulah yang dia inginkan.
Shina kembali ke dalam dan duduk di samping Sandi. Tak lama Argan pun nyusul ke dalam dia duduk di sebelah Inka. Argan menatap Shina yang sedang mengobrol dengan Sandi.
Tak lama Inas memanggil untuk makan bersama, semua orang berkumpul untuk makan bersama. Semuanya terlihat senang dan bahagia.
Sedang asyik bercengkrama tiba-tiba Reka datang dan ikut bergabung. Dia juga meminta maaf karena gak bisa menjenguk Argan kemarin karena dia sibuk dengan pekerjaan.
Akhirnya mereka makan bersama dan sesekali bercerita. Pandangan Argan terus tertuju pada Shina, tapi Shina terus sibuk sama Sandi dan Inka yang ada di dekatnya.
Hati Argan memanas melihat kedekatan Shina dan Sandi. Dan lagi-lagi sikap Argan tak luput dari perhatian Penty.
Penty hanya tersenyum kecut lalu dia melanjutkan makannya dan tak banyak bicara. Dia sudah lelah memikirkan perasaannya apa lagi sekarang dia yakin, perasaan Argan sepertinya untuk Shina.
Penty menyelesaikan makannya lebih dulu, dia pamit pada semuanya untuk keluar. Penty keluar dan duduk di depan dia ingin mengistirahatkan perasaannya dan ingin menata hatinya agar tidak terus berharap pada hati yang bahkan tak pernah melihatnya.
Dia menunduk dia terus berusaha untuk mengubur perasaannya. Argan menghampiri Penty dia sadar dia terus mengabaikan Penty. Ini pertama kalinya dia bicara sama Penty berdua setelah mereka memutuskan untuk melupakan perasaannya.
Argan terdiam dia tidak tau harus memulai dari mana untuk berbicara.
Penty pun tak ingin berbicara dengan Argan dia sudah memutuskan untuk mengubur semua tentang Argan.
Penty beranjak dan membuat Argan terkesiap. Argan memegang tangan Penty.
"Kamu mau kemana?" tanya Argan.
"Mau istirahat!" jawab Penty datar lalu dia melepaskan tangan Argan. Penty berlalu meninggalkan Argan.
"Apa kamu membenciku?" tanya Argan, sontak membuat Penty menghentikan langkahnya. Dia berdiri membelakangi Argan. Dia menghela nafas.
Sungguh saat ini Argan merasakan sesak didadanya kedua gadis yang di sayanginya mengabaikan dia. Tapi dia sadar itu terjadi karena kesalahannya.
"Ini salah gue, gue harus terima konsekuensinya!" lirihnya.
Tak lama Marvel menyusul, dia memberikan semangat pada Argan. Marvel tau sahabatnya itu sedang patah hati. Argan hanya terdiam dia larut dengan perasaannya.
Tak lama datang Reka, dia ingin pamit pulang.
"Boy, om mau pulang ya!"
"Kok sebentar om?"
"Iya masih ada yang harus om kerjakan! jangan lupa datang ya lusa, om undang kamu dan keluarga kamu ke rumah om!"
"Ada acara apa om?"
"Pokoknya dateng nanti juga tau, om udah kasih tau keluarga kamu yang lainnya, teman kamu juga boleh di ajak, biar tambah seru!"
"Bener om?" tanya Marvel antusias. Reka mengangguk.
"Makasih om!"
"Ya udah om pulang ya!"
"Hati-hati om!" Reka pulang dia masuk ke mobilnya namun sebelum masuk dia sempat menoleh ke arah rumah Ares dan tersenyum menyeringai.
...***...
Setelah selesai berkumpul Fahri dan Shina pamit pulang begitu juga Marvel. Ares dan Inas sangat senang karena akhirnya mereka bisa mewujudkan untuk makan bersama, setelah kemarin gagal. Sebelum pulang Inas memeluk Shina.
"Makasih ya sayang, kamu sudah tolongin Argan!" ucap Inas. Shina tersenyum.
__ADS_1
"Tante, Argan kan teman aku, aku pasti tolongin dia!" sahut Shina.
"Iya sayang, tante benar-benar sangat berterima kasih!" Shina mengangguk.
Mereka pun pamit pulang, Inas dan yang lainnya membereskan rumah yang sudah mereka gunakan. Setelah selesai Penty dan Sandi pun pamit pulang.
"Kak kita pulang ya!" ucap Sandi.
"Gak nginep aja San?"
"Pulang ajalah kak, kalo disini nanti aku di gangguin terus sama si dedek cantik!" ledek nya pada Inka.
"Om nyebelin!" sebal Inka sambil memukul lengan Sandi. Sandi tergelak melihat tingkah lucu gadis kecil itu dan yang lainnya pun tersenyum.
"Bunda aku pengen ikut sama om, aku pengen nginep di rumah kak Penty!" ucap Inka sambil meledek Sandi. Sandi hanya tersenyum sambil mengacak rambut Inka.
"Boleh, tapi jangan isengin om Sandi nanti ngambek loh!" Sahut Inas.
"Biarin bun, om Sandi nyebelin sih wueee.." ucap Inka sambil meledek Sandi. Sandi langsung memeluk Inka dan menggelitikinya.
"Berani ya sama om!"
"Hahaha ampun om, bunda tolong aku hahaha bundaa.. ayaaahhh..!" teriak Inka kegelian.
Inas dan Ares hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adik dan anaknya.
Akhirnya Inka pun jadi ikut menginap di rumah Penty. Dia sangat antusias ikut Sandi dan Penty.
Setelah semua orang kembali pulang, rumah itu terasa sangat sepi dan adem. Ares menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa tengah.
"Sayang!" Inas menoleh dan tersenyum pada suaminya. Ares duduk di samping Inas, Inas langsung memeluk suaminya dan menangis.
"Bunda bahagia yah, anak kita sudah sembuh anak kita gak akan menderita lagi, bunda sangat bahagia!" isak Inas terharu. Ares tersenyum dan mengelus kepala Inas.
"Ayah juga bun, ayah bahagia, akhirnya kita bisa mengakhiri penderitaan anak kita!" Inas melepaskan pelukannya dan menatap suaminya.
"Terima kasih ayah selalu ada disamping bunda, selalu temenin bunda dan jagain keluarga kita!" Ares tersenyum lalu membelai pipi istrinya.
"Itu adalah tugas ayah dan itu juga janji ayah sama bunda, untuk selalu ada di samping bunda dan jagain kalian!"
Inas memeluk suaminya lagi, sungguh dia sangat merasakan bahagia.
Sedangkan Argan dia sedang di kamarnya dia sedang bergelut dengan hatinya. Dia tersenyum kecut dan merutuki segala kebodohannya. Lalu dia beranjak dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang menonton televisi.
Argan duduk di samping bundanya dan menyenderkan kepala di bahu Inas. Inas tersenyum dan mengelus kepala Argan.
"Ada apa kak?"
"Yah, bun aku pengen kuliah di Melbourne!" ucap Argan. Inas dan Ares saling berpandangan.
"Maksud kakak?"
"Nanti kalo aku lulus sekolah aku pengen kuliah di Melbourne bareng Marvel!" jawab Argan.
"Kenapa harus kesana sih nak, kan disini juga banyak universitas yang bagus!" ucap Inas dia tak ingin jauh dari anak-anaknya.
"Boleh ya bun, yah, please..!" rengek Argan memohon.
"Ya udah kita pikirin itu nanti lagi, kan ujiannya juga masih lama!" ujar Ares.
Argan mengangguk, sebenarnya dia sengaja ingin kuliah di Melbourne, dia ingin menata hatinya dan ingin melupakan perasaannya pada Shina dan dia ingin belajar sepenuhnya mencintai Penty, tapi dia ingin melupakan Shina dulu biar dia bisa mencintai Penty sepenuh hatinya.
"Maafin aku peniti, aku selalu menyakiti kamu!" gumamnya dalam hati.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....