Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Kehadiran Sakti


__ADS_3

Terlihat seorang pria tampan memakai jubah hitam sedang berjalan sambil membawa seorang wanita di pundaknya. Dia membawa wanita yang tak sadarkan diri itu berjalan ke tengah hutan, lalu dia meletakkan tubuh wanita itu di tanah.


Pria berjubah itu menatap sambil tersenyum menyeringai ke arah wanita yang sedang tergeletak di tanah.


"Santapan lezat." gumamnya.


Lalu pria berjubah itu langsung menggigit leher wanita itu dan menghisap darah wanita itu sampai habis. Kali ini dia langsung menggigit korbannya tanpa perlu melukainya dulu. Terlihat tubuh wanita itu kaku dan pucat pasi, sudah dipastikan dia sudah tidak bernyawa lagi.


Setelah menenggak habis darah wanita itu, pria tampan itu semakin menyeringai.


"Segar dan manis!!" gumamnya.


Lalu dia meninggalkann jasad wanita itu begitu saja. Dia menatap kembali ke arah jasad itu lalu tersenyum menyeringai lagi, terlihat darah segar menempel di bibirnya lalu dia menyekanya dan menjilat darah yang ada dijempolnya.


Lalu beberapa orang menghampiri pria itu, dia menunduk hormat pada pria itu.


"Mari tuan!" Pria tampan itu pun mengikuti mereka. Lalu mereka masuk kedalam mobil yang sudah menunggu mereka dijalan pinggir hutan. Ada dua mobil yang sudah menunggu, pria tampan itu masuk kedalam mobil.


"Hai om!" sapa pria tampan itu pada pria yang ada di mobil. Pria itu hanya tersenyum menanggapi.


"Kenapa harus disini? padahal dirumah om lebih aman!"


"Entahlah om, aku menyukai menikmati santapanku ditengah hembusan angin yang menerpa sambil mendengar suara-suara merdu hewan malam. Ada sensasi yang berbeda!" jawab pria tampan itu.


Pria itu tergelak mendengar ucapan pria tampan itu.


"Kau ini ada-ada aja!"


Pria tampan itu hanya tersenyum, sambil menatap ke arah luar jendela. Tatapannya tidak dapat di mengerti. Hati dan pikirannya saling bertolak belakang. Hatinya menolak tapi pikirannya menikmati bahkan itu jadi suatu kebutuhan untuknya, karena cuma itu yang bisa meredakan rasa sakit dalam dirinya.


Bahkan terkadang hatinya memperoloknya, tapi pikirannya selalu membela akan tindakan yang dia lakukan, meski dia sendiri tau itu salah.


"Kau iblis, kau iblis!" hatinya terus berbisik padanya.


"Tidak aku bukan iblis, ini bukan keinginanku!" pikirannya terus menolak.


Pria yang sedang duduk disampingnya tersenyum Smirk, saat melihat dia sedang berperang dengan hatinya. Tak lama mereka sampai di sebuah rumah.


"Terima kasih om, sudah mengantarku!"


"Tidak usah sungkan, om senang membantumu kita punya nasib yang sama!" balas pria itu sambil menepuk bahu pria tampan itu. Lalu dia keluar dari mobil dan berlalu masuk kedalam rumahnya.


Pria yang ada di mobil itu tertawa senang dia bahkan sangat bahagia.


"Ini baru permulaan, semakin dia banyak menyantap darah, semakin dia akan bergantung padanya dan tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali darah suci!" pria itu tertawa lagi.


"Tapi saya tidak perlu khawatir karena darah suci itu sudah lenyap dan tidak ada yang bisa menghentikannya, perlahan dia akan menjadi iblis sepertiku, tidak sia-sia aku titiskan darah pada tubuh anak itu, aku sangat menyukai permainan ini!" pria itu tertawa lagi dia terus berbicara sendiri.


"Bagaimana jika kalian tau, kalian terlalu lengah sampai tidak mengetahuinya ha ha ha!"


...***...


Argan sudah siap untuk berangkat sekolah, semua keluarganya sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.

__ADS_1


"Kakak mau apa? Roti apa nasi goreng?" tanya Inas saat Argan duduk di kursi.


"Nasi goreng aja bun!" jawab Argan sambil menguap lalu Inas mengambilkan nasi goreng untuk Argan.


"Kayaknya kakak ngantuk banget, kakak tidur jam berapa?"


"Gak tidur bun!"


"Apa??" sentak Inas kaget.


"Kenapa kakak gak tidur? kakak jangan suka begadang gak baik, kakak kan sekolah, nanti belajar kamu keganggu, karena menguap terus di kelas!" celoteh Inas menceramahi anaknya.


Argan yang mendengar pun meringis dia keceplosan bilang gak tidur. Jadilah dia harus mendengar ceramah dari sang ibu negara.


"Denger gak kak? Kok malah diem!"


"Iya bun denger!" ucap Argan sambil melanjutkan makannya. Inas hanya menggelengkan kepala sambil berlalu ke dapur.


"Kakak pacaran ya makanya begadang?" tanya Inka.


"Enak aja, siapa yang pacaran!"


"Awas ya kak jangan pacaran-pacaran, fokus belajar dan sekolah!" teriak Inas yang sedang berada di dapur.


"Iya bun!" sahut Argan sambil memelototi Inka. Inka hanya terkekeh melihat kakaknya di marahi bundanya.


Ares yang mendengar istrinya sudah ceramah pagi-pagi hanya menggelengkan kepalanya.


"Bunda denger loh yah!" ucap Inas yang kembali menghampiri meja makan. Sambil menatap tajam ke arahnya.


"Gak kok, bunda semakin cantik!" rayu Ares sambil memegang dagu Inas.


"Cihh.." Inas hanya mendengus sebal dengan gombalan suaminya.


"Udah cepetan sarapannya nanti kalian pada kesiangan!"


"Iya bun!" jawab mereka serempak.


Setelah drama pagi selesai Ares mengantarkan kedua anaknya ke sekolah terlebih dahulu sebelum ke kantor.


Setelah mengantar Inka kesekolah sekarang tinggal mengantar Argan kesekolahnya.


Sedangkan Inas setelah suami dan kedua anaknya berangkat, dia membereskan meja makan dan juga rumah. Inas sengaja tidak menggunakan ART karena dia ingin mengurus keluarganya sendiri, meski Ares sudah menawarkan untuk menggunakan ART tapi Inas menolak.


Setelah Inas membereskan kamarnya dia berlalu ke kamar Inka tapi kamarnya itu sudah rapi, Inas selalu mengajarkan anaknya kebersihan dan kerapihan, dan akhirnya sekarang anak-anaknya menerapkan itu semua, setelah dari kamar Inka dan mengambil baju kotor Inka. Inas berlalu ke kamar Argan seperti kamar Inka kamar Argan pun sudah rapi. Lalu dia mengambil baju kotor di kamar mandi.


Tapi saat Inas sedang mengambil baju kotor, dia melihat bercak merah di lantai kamar mandi.


"Apa nih?" Inas memeriksanya dia menoel bercak itu dengan telunjuknya lalu menciumnya.


"Darah!" gumamnya. Lalu Inas memperhatikan sekelilingnya tapi tidak ada apa pun hanya ada bercak itu. Inas pun membersihkan bercak darah itu.


"Apa si kakak terluka?"

__ADS_1


Setelah memastikan tidak ada apa-apa lagi, Inas keluar dari kamar Argan dan dia memasukan baju kotor itu ke mesin cuci lalu mencucinya.


Sambil menunggu cucian, Inas membereskan tempat lain. Tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Inas bergegas untuk membukakan pintu.


Inas terkejut saat melihat siapa yang datang.


"Bang Sakti!"


Sakti tersenyum menatap Inas. Inas bingung dan gugup soalnya dia dirumah sendiri, Sakti memang tidak akan menyakiti Inas, tapi Inas khawatir Ares bakal tau kalo Sakti menemuinya.


"Kamu gak nyuruh abang masuk? kamu benci banget ya sama abang?"


"Ng-nggak kok bang, a-ayo masuk!" Inas sangat gugup. Sakti pun masuk lalu duduk di sofa dia melihat ke sekeliling rumah itu.


"Udah lama abang gak kesini!" ucapnya.


"I-iya, abang mau minum apa?" tanya Inas masih gugup. Sakti tidak menjawab dia malah berdiri lalu menghampiri Inas. Inas merasa gugup dia mundur saat Sakti melangkah maju.


"A-abang mau apa?" Sakti masih terus maju lalu dia langsung memeluk Inas. Inas terbelalak kaget dan syok tiba-tiba Sakti memeluknya. Inas spechlees.


"Abang kangen banget sama kamu, abang gak bisa lupain kamu, abang sangat mencintai kamu Inas!"


Deg!


Deg!


Inas semakin syok mendengar pernyataan Sakti, sudah cukup lama mereka tidak bertemu dan sekarang Sakti hadir lagi. Inas gak mau rumah tangganya bermasalah lagi gara-gara Sakti.


"Abang lepas!" Inas berusaha melepaskan pelukan Sakti saat dia tersadar dari keterkejutannya.


"Abang mohon biarkan seperti ini, abang sangat merindukan kamu Inas, abang sangat merindukan kamu!" Sakti mengeratkan pelukannya dan Inas terus berontak agar lepas dari pelukan Sakti.


"Abang aku mohon jangan kaya gini, aku gak mau ada masalah sama kak Ares!" tapi Sakti tidak mempedulikannya dia masih memeluk erat tubuh Inas.


"Abang lepas!!" teriak Inas. Sakti pun melepaskan pelukannya saat Inas teriak.


Air mata Inas mengalir. "Abang gak boleh kaya gini, aku udah punya suami dan anak, apa abang gak malu masih terus mengejarku. Aku mohon bang lupain aku. Aku tidak pernah mencintai kamu. Kamu tau kan aku hanya mencintai kak Ares!" ucap Inas.


Sakti terdiam, dia sangat tau wanita yang di cintainya itu tidak mencintainya. Tapi dia masih sangat mencintai wanitanya itu, nafsunya mengalahkan dia, dia sangat ingin memiliki Inas. Dia tidak peduli dengan cara apa pun dia harus mendapatkan Inas.


Sakti menarik tangan Inas dan langsung mencium bibir Inas. Lagi-lagi Inas terbelalak kaget dengan sikap Sakti.


"Mphh.." Inas berontak dengan memukul-mukul dada Sakti. Tapi Sakti menahan kepala Inas, agar ciumannya tidak lepas. Inas terus berontak dia tidak menyangka Sakti akan melakukan ini. Sakti benar-benar berubah, di mana Sakti yang baik hati dan bertanggung jawab seperti dulu, kenapa dia jadi seperti ini. Kenapa gara-gara cinta dia bisa berubah. Inas benar-benar kecewa.


Inas terus berontak agar Sakti melepaskan ciumannya tapi Sakti tidak mempedulikannya. Air mata Inas mengalir deras, Inas benar-benar tidak menyangka Sakti akan melakukan hal gila ini.


"Brengsek!!" teriak seseorang.


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2