
Ares dan Inas sedang khawatir karena Sandi tidak bisa di hubungi. Semalam Ares tidak memperhatikan Sandi karena fokus mencari Shina, jadi dia tidak tau jika Sandi tertinggal di hutan.
"Gimana yah?"
"Masih gak aktif bun!" Inas dan yang lainnya terlihat khawatir.
Ares sudah menceritakan semuanya tentang Shina anak Fahri. Inas pun tak menyangka jika gadis yang ada di dekatnya itu adalah anak yang pernah di tolongnya dan itu membuat Inas yakin jika Shina adalah pemilik darah suci, karena di darahnya mengalir darah miliknya yang pernah dia donorkan pada Felin ibunya Shina.
Argan juga kaget saat mengetahui siapa Shina, dia ikut khawatir karena sampai sekarang Shina belum ditemukan di tambah lagi Sandi menghilang.
"Semoga mereka baik-baik aja!" ucapnya dalam hati.
Fahri sudah melaporkan ke polisi dan polisi pun sudah mulai bergerak mencari Shina.
Sedangkan kedua orang yang sedang mereka khawatirkan sedang berjalan di jalan pinggir hutan.
"Kamu capek?" tanya Sandi. Shina menatap Sandi lalu menggeleng dan tersenyum. Sandi berjongkok dan menyuruh Shina naik ke punggung, dia tau gadisnya itu sedang kelelahan.
"Aku gak capek!" ucap Shina. Sandi tetap memaksa agar Shina naik ke punggungnya. Shina pun menurut dan naik ke punggung Sandi.
"Apa kamu gak capek gendong aku?" tanya Shina.
Deg!
Sandi merasakan perasaan aneh saat Shina memanggil dirinya kamu bukan om. Sandi menggeleng. Lalu dia berjalan sambil menggendong Shina, Shina merasa sangat nyaman di dekat pria ini.
"Aku boleh tanya gak?" tanya Shina. Sandi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Shina membuat wajah mereka sangat dekat dan mata mereka bertemu. Sandi langsung mengalihkan pandangannya karena takut tidak bisa menahan diri lagi.
"Boleh!" jawab Sandi lalu melanjutkan langkahnya.
Shina merasa ragu untuk bertanya, tapi dia ingin memastikan tentang ucapan pria itu tadi malam.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Shina. Sontak membuat Sandi terbelalak kaget dari mana gadis itu tau kalo dia mencintainya.
Sandi terdiam dia menghentikan langkahnya. Shina menatap wajah sandi dari pinggir meskipun dia tidak bisa melihat jelas wajahnya karena hanya terlihat pinggirnya saja.
"Om!" panggil Shina. Sandi menoleh dan membuat hidung mereka beradu dan Itu membuat mereka jadi salah tingkah.
"Kamu bicara apa? mana mungkin aku mencintaimu!" ucap Sandi asal dia merasa gugup dan tidak sadar bicara seperti itu.
Dan itu membuat Shina sangat kecewa, apa yang dia dengar semalam adalah sebuah kebohongan, apa cintanya bertepuk sebelah tangan lagi.
"Aku ingin turun!" ucap Shina kesal
Dia memaksa turun dari gendongan Sandi, lalu dia berjalan dengan cepat meninggalkan Sandi. Sandi merutuki kebodohannya lagi, setelah menyadari ucapannya.
"Shina tunggu!!" Sandi mengejar Shina dan dia langsung menarik tangan Shina hingga tubuh Shina menabraknya.
Sandi memeluk Shina. Terdengar isakan Shina, dia merasa sangat malu pada Sandi karena menanyakan itu, tapi nyatanya Sandi tak mencintainya. Shina melepaskan pelukan itu, tapi Sandi menahannya.
"Lepasin om!" Sandi melepaskan pelukannya lalu dia menangkup pipi Shina.
"Dari mana kamu tau aku mencintaimu?" Shina mengalihkan pandangannya dia sangat malu untuk menatap Sandi.
"Tatap aku!" pinta Sandi. Shina pun menatapnya air matanya tak bisa berhenti menetes.
__ADS_1
"Apa salah jika aku mencintaimu? apa aku pantas bersanding denganmu? kamu adalah wanita cantik dan baik, aku yakin di luar sana kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari pada aku! aku merasa tidak pantas untukmu, tapi aku sangat mencintaimu, aku menyukaimu saat pertama kali kita bertemu dan sampai sekarang aku masih sangat mencintaimu!" tutur Sandi.
Shina menangis terharu, sungguh dia sangat merasa bahagia mendengar ungkapan cinta dari pria ini. Dia sadar bahwa dia juga mencintai pria yang ada dihadapannya ini.
"Aku juga mencintaimu!" ucap Shina terisak membuat Sandi terperangah tak percaya apa yang baru saja dia dengar.
"Apa kamu bilang?" Sandi masih belum percaya dengan ucapan gadis itu.
"Aku mencintaimu om Sandi!"
Sungguh ini adalah hal yang paling membahagiakan untuknya. Sandi menatap wajah cantik gadis itu, dia tak menyangka gadis itu membalas cintanya, padahal dia pikir dia akan berjuang keras untuk mendapatkan cintanya ternyata semuanya terasa sangat mudah. Shina tersenyum melihat wajah Sandi yang sedang terkejut.
Sandi memeluk Shina. Dia benar-benar sangat bahagia begitu juga Shina.
Shina pun sangat bahagia akhirnya dia bisa membuka hati untuk orang lain dan bisa melupakan perasaannya pada Argan. Sungguh dia pun tidak menyangka bisa mencintai pria ini.
"Terima kasih! aku sangat bahagia!" Mereka pun melepaskan pelukannya.
"Apa sekarang aku kekasihmu?" tanya Shina malu-malu.
Sandi mengangguk dan tersenyum dan itu membuat Shina tertunduk malu. Sandi memegang dagu Shina dan mengangkatnya.
"Apa kamu mau jadi kekasihku?" Shina mengangguk dan tersenyum.
cup..
Sandi mengecup kening Shina, membuat Shina blushing dan semakin malu.
"Aku mencintaimu!"
Tapi tidak dengan hati kedua insan itu, hati mereka sedang berbunga-bunga dan sangat cerah.
Mereka berjalan sudah cukup jauh, tapi mereka belum bisa menemukan kendaraan dan sepertinya motor Sandi pun hilang.
"Kita istirahat dulu ya!" ucap Sandi. Shina mengangguk.
"Iya bang!" balas Shina.
Membuat Sandi terdiam sungguh rasanya masih seperti mimpi bisa mendapatkan cinta gadis ini dan sekarang dia memanggil dirinya abang.
"Ehh.. gak apa-apa kan aku panggil kamu abang?" Sandi mengangguk.
"Apa pun jika itu membuatmu bahagia!" Shina tersenyum.
Mereka pun beristirahat di sebuah saung. Langit semakin mendung sepertinya akan turun hujan.
Dan benar saja tak lama mereka beristirahat di saung, hujan turun deras. Mereka masuk lebih dalam ke saung. Tapi ternyata saungnya banyak yang bocor. Shina dan Sandi merapat ke pojok yang tidak bocor.
Sandi memeluk erat tubuh Shina agar gadis itu tidak kedinginan. Dia menatap wajah cantik gadis itu yang sekarang menjadi kekasihnya.
"Kenapa abang melihatku seperti itu! aku malu!" ucap Shina sambil menunduk. Sandi mengangkat wajahnya.
"Apa aku sedang bermimpi bisa memiliki gadis cantik sepertimu!" Shina tersipu malu. Dia membenamkan wajahnya di dada Sandi. Sandi tersenyum dia memeluk erat tubuh gadis itu.
"Apa papamu akan merestui kita?" tanya Sandi.
__ADS_1
Membuat Shina mendongak ke arahnya, Mereka saling menatap.
"Kenapa? apa abang takut?" Sandi menggeleng.
"Tapi sepertinya kamu adalah orang yang sangat berharga dalam hidupnya, dia sangat terpukul saat kehilangan kamu, dia sangat menyayangi kamu! apa mungkin dia akan merestui hubungan kita? aku yakin dia ingin yang terbaik buat anaknya termasuk pendamping buat kamu. Sedangkan aku-"
Shina memotong ucapan Sandi dengan menaruh jari telunjuknya di bibir Sandi.
"Aku yang akan bilang ke papa, bahwa aku sangat mencintai kamu!" ucap Shina.
"Apa kamu tidak malu memiliki kekasih yang usianya terpaut jauh darimu?" Shina menggeleng.
"Aku tidak peduli dengan usia mu, yang pasti aku sangat mencintaimu!" Sandi sangat bahagia mendengar ucapan Cinta dari gadis itu.
"Terima kasih, apa kamu mau menikah denganku?" bisik Sandi menggoda.
"Tapi aku masih sekolah dan aku juga ingin kuliah bang!" Sandi tersenyum padahal dia hanya becanda.
"Setelah lulus sekolah aku akan melamarmu dan aku tidak akan melarangmu kuliah nanti!" Shina nampak terdiam dan berfikir lalu dia mengangguk.
"Kamu harus minta itu sama papa!" Sandi tak percaya jika gadis itu mau menikah dengannya, padahal tadi dia tidak serius mengatakan itu. Tapi melihat Shina setuju, ucapan itu akan dia wujudkan.
"Bersiap-siaplah aku pasti akan datang melamarmu!" bisiknya di telinga Shina. Shina merasakan merinding di sekujur tubuhnya saat Sandi membisikinya. Dia langsung membenamkan wajahnya di dada Sandi karena malu. Sandi mengelus kepala Shina.
"Abang!"
"Iya!"
"Apa tangan abang masih sakit?" Sandi menggeleng.
"Nanti kalo pulang aku obatin ya!" Sandi mengangguk.
"Terima kasih!" jawab Sandi sambil memeluk erat tubuh gadis itu.
Dua insan itu sedang merasakan bahagia, meski hujan deras, tak membuat mereka kedinginan karena mereka berbagi kehangatan dengan sebuah pelukan.
...***...
Di tempat lain seorang pria sedang mengamuk karena sanderanya kabur.
"Menjaga gadis ingusan saja kalian tidak bisa!" teriaknya kesal.
"Dasar bodoh!" geramnya.
Dia menampar satu persatu anak buahnya, dia benar-benar kesal.
"Seharusnya aku cepat membunuhnya, sekarang dia lolos lagi! sial!!" geramnya sambil melempar apa yang ada di dekatnya.
Dia bingung harus mengatakan apa pada kakaknya itu.
"Habislah aku!" gumamnya.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....