Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Siapa Aku?


__ADS_3

Argan mendengarkan cerita Tamara dengan seksama, dia merasa bersalah karena sudah suudzon pada Tamara.


"Makasih ya ra dan sorry gue gak tau kalo elo udah berjuang buat nyelamatin gue!"


Tamara tersenyum. "Aku senang kenal kamu Argan, dan aku juga senang bisa menyelamatkan kamu!" ucap Tamara.


"Elo bilang elo sudah tau penyebab kematian elo, dan penyebabnya om Rendi, berarti elo kenal om Rendi?"


Tamara mengangguk. "Kenapa elo bisa mati?"


Tamara terdiam, dia tidak ingin mengingat kematiannya yang menyakitkan itu, meski itu udah berlalu.


"Maaf gan, tapi aku tidak bisa cerita dan mungkin aku juga akan pergi!" ucap Tamara.


"Kenapa?" tanya Argan kaget mendengar Tamara akan pergi.


"Aku sudah tau penyebab kematianku dan orangnya juga udah di tangkep polisi dan aku yakin dia akan mendapat hukuman mati, karena dia seorang bandar narkoba, aku udah tenang pembunuhku akan mati!" ucap Tamara.


"Tapi ra, gue-" ucap Argan ragu.


Tiba-tiba Tamara memeluk Argan. "Makasih ya, kamu udah bantuin aku untuk mengingat kematianku dan menghukum pembunuhku!"


"Gue gak lakuin apa-apa ra, elo sendiri yang melakukannya, bahkan elo yang nolongin gue!" ucap Argan membalas pelukan Tamara namun pelukan Tamara mulai menembus.


Tamara menatap Argan dan tersenyum. "Coba aku ketemu kamu sebelum meninggal, aku pasti bakal pacarin kamu gan!" ucap Tamara terkekeh tapi matanya berkaca-kaca.


"Makasih ya ra, makasih banyak, maaf kalo selama ini gue suka marahin elo dan jutekin elo!" Tamara mengangguk dan tersenyum. Lalu tubuhnya mulai transparan dan perlahan menghilang.


"Semoga elo tenang ra, gue bakal terus doain elo!" gumam Argan.


"Om Rendi, meski aku sudah tau siapa dia yang ternyata sepupu ayahku dan seorang bandar narkoba, tapi aku merasa masih ada misteri didiri om Rendi yang belum terungkap. siapa sebenarnya om Rendi? Kenapa dia selalu membuatku penasaran dari awal bertemu dengannya!" pikir Argan.


...***...


Pagi hari semua sudah bersiap untuk sarapan karena ini hari minggu, mereka libur sekolah. Shina ikut membantu Inas dan Inka menyiapkan untuk sarapan, dia begitu dekat dengan Inka mereka sangat akrab begitu juga dengan Inas.


Tapi Argan terlihat sedih dan sendu dan terlihat tidak bisa bersemangat. Dia sedang duduk bersama ayahnya di ruang tv. Mereka melihat berita pagi ini dan tentu saja berita tentang tertangkapnya bandar narkoba yang berinisial RA dan udah pasti itu Rendi. Dan dia akan mendapatkan hukuman mati karena selain penyebar, penjual, dia juga pengguna obat-obatan terlarang itu dan dia adalah bandar terbesar yang selalu lolos dari kejaran polisi.


"Ya ampun ren, gak nyangka kamu bakal kaya gini!" ucap Ares.


Argan masih terdiam dia masih mengingat Tamara, biasanya jika pagi dia sudah mengganggu Argan dan membangunkan Argan untuk sholat. Tapi kali ini tidak ada dia, Argan merasa kehilangan Tamara. Meski Tamara sangat menyebalkan, tapi Argan senang dengan kehadirannya.


"Kak!" panggil Ares sambil menepuk pundak Argan.


"Iya yah!"


"Kenapa bengong, masih ada yang sakit?" tanya Ares khawatir.

__ADS_1


"Gak apa-apa yah, aku baik-baik aja kok!" jawab Argan tersenyum.


Lalu Inka memanggil ayah dan kakaknya untuk sarapan, karena mereka sudah selesai memasak. Mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan.


"Ayo cobain ini masakan Shina loh!" goda Inas sambil menatap Argan. Argan yang kebetulan menatap bundanya, mengalihkan pandangannya karena Inas tersenyum jahil. Membuat Inas terkekeh.


"Oh iya, Shina kalo om anter pulangnya siang gak apa-apa ya?"


"Gak usah om, aku juga udah telpon papa dan udah memberi kabar papa kalo aku baik-baik aja, nanti aku bakal di jemput supir kantor papa!" jawab Shina.


"Loh kenapa gak papa Shina yang jemput?" tanya Inas.


"Tadinya iya tante, papa yang mau jemput tapi tiba-tiba ada masalah di proyek jadi papa harus kesana sekarang juga, jadi papa nyuruh supirnya untuk jemput aku!"


"Ya udah tapi kalo nanti Shina pengen di anter om bilang ya, atau mau di anter Argan?" celetuk Ares. Membuat Argan tersedak dan menatap ayahnya yang sedang tersenyum jail. Inas dan Inka menahan tawa. Sedangkan Shina hanya menunduk malu.


"Ayah apa-apaan sih, dia kan mau di jemput supirnya, kenapa juga harus aku!" ucap Argan sebal sambil mengalihkan pandangannya.


Ares, Inas dan Inka tertawa melihat reaksi Argan. Shina hanya tertunduk malu.


"Ekhem.. ekhem.." ledek Inka.


"Dedek!" Inas menahan tawa melihat Inka meledek kakaknya.


"Udah ah aku kenyang!" Argan beranjak dan pergi ke kamarnya dengan raut yang kesal. Inas dan Ares hanya menggelengkan kepalanya.


"Hussstt.." Inas menyuruh Inka diam.


"Maaf ya neng Shina, kita emang suka becanda jangan di masukin ke hati!" ucap Inas.


"Gak apa-apa tante!" ucap Shina tersenyum.


...***...


Hari demi hari telah di lewati berganti bulan. Argan merasa tenang setidaknya hidupnya tidak ada gangguan lagi. Meski Argan masih merasa kesepian karena kehilangan Tamara dan terkadang dia juga penasaran apa hubungannya Tamara dengan pak Rendi sehingga membuat Tamara meninggal.


Dan hubungannya dengan Shina mulai membaik, tidak seperti sebelumnya. Dan anehnya Argan tidak merasakan kepanasan lagi saat di dekat Shina, itu semenjak kejadian tak sengaja Argan melihat Shina terluka karena terkena silet.


Argan yang biasanya akan senang mencium bau darah, tapi tidak dengan darah Shina. Argan mencium bau darah Shina sangatlah amis dan anyir tidak seperti darah lainnya dan itu membuat Argan semakin bingung. Dan saat itu tak sengaja Argan menyentuh darah Shina yang mengalir lalu semenjak itu Argan tak pernah merasakan kepanasan saat berdekatan dengan Shina.


Dan membuat mereka semakin dekat bahkan ada yang mengira mereka pacaran.


Malam itu Argan terlihat gelisah ada yang aneh biasanya di malam ini dia akan merasakan panas terbakar diseluruh tubuhnya, tapi malam ini tubuhnya hanya terasa gerah. Tapi tenggorokannya tetap terasa kering dan perih.


Argan bergegas membuka lemarinya, dia mengambil sesuatu lalu memakainya. Dia tidak kuat dengan rasa perih dan panas di tenggorokannya. Meski badannya sudah tidak terasa panas lagi. Tapi tetap saja tenggorokannya membuatnya tersiksa.


Dia keluar dari kamarnya dia celingak-celinguk untuk memastikan keadaan setelah dirasa aman. Dia bergegas keluar rumah dengan jalan perlahan, sambil menenteng sesuatu.

__ADS_1


Setelah keluar rumah dia bergegas menelusuri jalan di malam buta. Di malam ini lah Argan akan berbeda, dia akan berubah jadi iblis yang haus akan darah. Seperti biasa dia memakai jubah hitam dan masker untuk menutupi tubuh dan wajahnya. Dia akan mencari mangsa untuk menghilangkan dahaganya.


Dia terus berjalan menelusuri jalan mencari darah segar untuk dia santap. Dia seperti vampire atau drakula tapi dia tidak memiliki taring. Namun gigitannya sangatlah tajam, awalnya dia menggunakan benda tajam untuk melukai mangsanya agar mengeluarkan darah.


Namun seiring dia terus berlatih dengan ahlinya dia tidak memerlukan itu lagi, sekarang dia bisa menggigit dengan giginya sendiri.


Tenggorokannya semakin terasa panas, perih dan kering, meski badannya hanya merasakan gerah. Dia sendiri merasa aneh karena biasanya dia akan merasakan panas terbakar di seluruh tubuhnya.


Wajahnya tetap pucat, bibirnya kering pecah-pecah. Matanya merah karena merasakan panas dari tenggorokan.


Terkadang dia bertanya, siapa dia sebenarnya? manusia atau iblis?


Tapi dia hidup layaknya manusia, dia hanya akan menjadi berbeda di setiap malam jumat kliwon, karena di hari biasanya dia hidup layaknya manusia biasa. Bahkan dia bisa beribadah layaknya manusia. Bukankah jika iblis atau setan dia akan takut dengan sholat dan ibadah lainnya. Tapi dia tidak, dia bisa beribadah dengan baik dan benar.


Namun dia akan lupa dengan kejadian malam mengerikan itu ketika dia terbangun di pagi hari, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Otaknya mendadak Amnesia.


"Siapa aku?" gumamnya sambil berjalan menelusuri jalanan di tengah malam buta. Yang seharusnya dia sedang terlelap terbuai oleh mimpi, tapi dia malah berkeliaran untuk mencari penghilang dahaganya.


Dia masih memikirkan tentang jati dirinya, siapa sesungguhnya dia. Kedua orang tua dan adiknya normal tapi kenapa dia berbeda.


"Apa aku bukan anak mereka?" pikirnya.


Argan sudah tidak kuat menahan rasa dahaganya. Dia melihat sesosok wanita yang sedang berjalan di tengah malam buta dipinggir jalan.


"Santapan lezat!" gumamnya senang.


Setelah memastikan semua aman, dia langsung membekap mulut wanita malam itu, hingga dia tak sadarkan diri. Karena kain untuk membekapnya ada obat biusnya.


Dia membawa wanita itu di pundaknya, meski badannya kecil tapi tenaganya cukup kuat untuk mengangkat wanita yang lumayan montok itu. Tangan satunya menenteng sebuah lentera untuk menerangi perjalanannya.


Dengan cepat dia membawa mangsanya ke tengah hutan agar tidak ada orang yang melihatnya. Setelah masuk ke dalam hutan dan sampai di sebuah gubuk reot dia langsung meletakkan tubuh wanita itu dan membaringkannya di sebuah ranjang yang terbuat dari kayu.


Dia menatap mangsanya dan tersenyum senang, secepat mungkin dia menggigit leher wanita itu dan menghisap darahnya, sampai dahaganya benar-benar hilang. Setelah puas dia tersenyum menyeringai ke arah mangsanya, sepertinya saat dia menghisap darahnya, mangsanya terbangun, terlihat matanya melotot dan mulutnya menganga. Tapi itu tak membuatnya merasa iba dia malah terlihat sangat senang melihat kondisi mangsanya mengenaskan seperti itu.


"Ternyata lebih nikmat saat mereka tersadar!" gumamnya.


"Aaa.." tiba-tiba terdengar suara teriakan.


Dia kaget dan mencari tau dimana asal suara itu jangan sampai ada orang yang melihatnya bisa kacau jika ada yang tau. Dia bergegas keluar dari gubuk itu untuk mencari siapa yang mengintipnya saat sedang menikmati santapannya.


Dia panik dan secepatnya mencari siapa yang berteriak tadi. Dia segera memakai maskernya agar tidak ada yang melihat wajahnya. Dia terus mencari siapa pelaku yang berteriak itu, sampai akhirnya dia melihat seseorang sedang bersembunyi di balik pohon. Dia tersenyum dan menghampirinya perlahan dan dia segera menangkapnya.


"Aaa.." teriak orang itu dan dia juga ikut berteriak karena kaget. Setelah melihat siapa orang yang sudah mengintipnya matanya terbelalak dan seketika lututnya lemas.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2