Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Tak direstui


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu, semuanya sudah berangsur membaik. Argan pun sudah menyelesaikan ujian susulannya dan juga sudah menerima kelulusan. Kali ini dia akan fokus kuliah sekalian belajar mengurus perusahaan ayahnya dan di bantu oleh Sandi. Dia sudah tidak memikirkan lagi untuk kuliah di Melbourne, karena dia ingin menjaga bunda dan adiknya serta mengurus perusahaan ayahnya.


Semuanya sudah kembali pulih, meski diam-diam Inas sering menangis di kamarnya karena merindukan suaminya, tapi dia berusaha tegar dan tersenyum saat di depan keluarganya.


Begitu juga Argan dan Inka, jika sedang sendiri mereka akan menangis merindukan ayahnya, tapi mereka akan tersenyum jika di depan bundanya.


"Assalamualaikum.." ucap Argan.


"Waalaikumsalam.." balas Inas.


Argan menyalami Inas lalu duduk di samping Inas dan menyenderkan kepala di bahu Inas.


"Kenapa sayang!" Argan malah memeluk manja Inas.


"Gak apa-apa bun, aku cuma capek aja habis ospek!" Inas tersenyum dan mengelus kepala Argan.


"Semangat ya anak bunda!" Argan mengangguk.


"Bunda udah makan belum?"


"Udah sayang!"


Saat sedang mengobrol tiba-tiba ada suara mobil datang. Tak lama seseorang mengucap salam.


"Assalamualaikum.." ucap Sandi dan Penty.


"Waalaikumsalam.." jawab Inas dan Argan. Inas tersenyum melihat adik dan keponakannya.


"Hai bunda!" Penty langsung menghampiri Inas dan memeluknya.


"Hai cantik, gimana ospeknya?"


"Capek bun!" Inas tersenyum dan mengelus kepala Penty.


"Ya udah, bunda mau bikin minum dulu ya!" Penty melepaskan pelukannya.


"Gak usah bun biar aku aja!" ucap Penty sambil beranjak.


"Makasih sayang!" Penty mengangguk dan tersenyum.


"Om, bun aku ke belakang dulu ya, mau jailin Peniti dulu!" ucap Argan.


"Kakak jangan iseng ya!"


"Gak bun cuma dikit!" ucap Argan lalu beranjak menyusul Penty.


"Oh iya San, gimana di kantor ada masalah gak?" tanya Inas.


"Alhamdulillah gak kak, semuanya baik dan berjalan lancar!" jawab Sandi.


"Alhamdulillah, kalo gitu!"


"Kak!" panggil Sandi.


"Iya kenapa San?"


"Mm.. anu kak!" Sandi nampak ragu untuk berbicara membuat Inas menjadi penasaran.


"Ada apa San? Ada masalah?" Sandi menggeleng dan nampak gugup.


"Bilang aja kalo kakak bisa bantu, kakak bantuin!" ucap Inas.


"Tolong lamarin aku buat Shina!" ucap Sandi.


"Apa??" pekik Inas kaget. Sandi hanya tersenyum malu. Inas menghela nafas.


"Apa kamu benar-benar mencintainya?" Sandi mengangguk.


"Aku tulus mencintai Shina kak!"


"Apa Shina juga mencintai kamu?" Sandi mengangguk.


"Apa kamu yakin akan menikahi Shina?"


"Kak, aku minta tolong kakak buat lamarin Shina, itu berarti aku sudah sangat yakin dan siap!"


"Kakak gak melarang kamu sama Shina, tapi Shina kan baru lulus sekolah, apa dia setuju buat nikah?" Sandi mengangguk.


"Kami udah membicarakanya!"


"Lalu bagaimana dengan mas Fahri?" Sandi terdiam dia memang belum membicarakannya dengan Fahri.


"Ya udah!! kapan acara lamarannya?" Sandi menatap Inas.


"Kakak mau bantu?" Inas sebal dan melempar tisu yang ada di meja.


"Aku ini kakakmu, pasti aku bantu!" ujar Inas kesal.


"Maaf kak!" ucap Sandi sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Tak lama Penty datang membawa minuman, dia terlihat kesal karena Argan terus mengganggunya.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanya Inas saat melihat wajah kesal Penty.


"Argan bun, gangguin aku terus!" ucap Penty sebal.


"Kakak!" Inas menatap tajam Argan. Argan hanya menyengir.


"Lebih baik kakak jemput dedek aja!" Argan pun mengangguk tapi sebelum masuk dia menggoda Penty dengan mencubit pipi Penty.


"Bundaaaa.." rengek Penty. Inas menggeleng melihat kelakuan anaknya. Lalu dia mengusap pipi Penty. Penty tersenyum dan memeluk Inas.


...***...


"Papa!" panggil Shina sambil memeluk papanya.


"Iya sayang! ada apa?"


"Mm.. aku..mm.." ucap Shina ragu. Fahri melepaskan pelukannya dan menatap anaknya.


"Ada apa?"


"Aku ingin menikah!" ucap Shina. Membuat Fahri terbelalak kaget.


"Jangan becanda sayang!" Shina cemberut.


"Aku serius pah, aku mencintai bang Sandi aku ingin menikah dengannya!" ucap Shina. Fahri melongo mendengarkan ucapan anaknya.


"Sayang, kamu-"


"Papa, aku mohon restui kami." rengek Shina memotong ucapan Fahri.


"Sayang kamu kan baru lulus sekolah, katanya kamu pengen kuliah di Perth, papa udah mulai mau bersiap loh untuk itu!" Shina menggeleng.


"Aku gak mau, aku mau kuliah di sini aja, abang juga gak larang aku buat kuliah!" ucap Shina.


Fahri memijit pelipisnya, dia tidak menyangka anak gadisnya minta nikah secepat itu.


"Apa Sandi tau soal kekurangan kamu?" Shina menggeleng.


"Bagaimana kalo dia tau? terus dia tidak mau menikah denganmu?" Shina terdiam dia tau Sandi sangat mencintainya, tapi dia pun belum menceritakan soal keanehan dirinya.


"Papa ingin kamu sembuh dulu nak, papa gak mau liat kamu menderita terus!" Shina terisak.


"Tapi aku sangat bahagia saat bersama bang Sandi, aku gak mau kehilangannya, aku sangat mencintainya!" Shina beranjak dan berlari ke kamarnya.


"Shina!!" panggil Fahri.


Shina tak menghiraukannya dan terus berlari ke kamarnya dan menangis. Fahri menelpon seseorang, setelah selesai dia bergegas pergi.


"Silahkan duduk pak!" Lalu Sandi memanggil pelayan untuk memesan. Setelah selesai mereka mulai berbincang.


"Maaf pak Fahri ada perlu apa?" tanya Sandi sebenarnya dia agak gugup saat di hadapan Fahri.


"Jauhi Shina!" ucap Fahri tegas tanpa basa basi. Membuat Sandi terbelalak kaget.


"Ma-maksudnya?"


Fahri menghela nafas sebenarnya dia pun tidak tega memisahkan anaknya dengan pria yang di cintainya, tapi dia lebih tidak ingin anaknya akan terluka nanti, jika Sandi tau kekurangan Shina.


"Saya sangat mencintai Shina pak! saya tulus mencintainya dan saya juga ingin menikah dengannya!" ucap Sandi dia tak ingin kehilangan gadis yang sangat dia cintai.


"Kamu pria yang baik, kamu bisa dapetin wanita yang jauh lebih baik dari Shina!" ucap Fahri.


Sandi merasakan sesak di dadanya, dia tau hubungannya dengan Shina tidak akan semudah itu. Sandi meremas celananya.


"Saya mohon restui kami pak, saya janji saya akan membahagiakan anak bapak, saya janji saya tidak akan menyakitinya!" lirih Sandi.


Tak lama pelayan pun datang membawa pesanan.


"Terima kasih!" ucap Fahri. Pelayan itu mengangguk dan tersenyum.


Fahri menatap Sandi, dia tau Sandi pria yang baik dan bertanggung jawab, tapi dia tak ingin anaknya suatu saat tersakiti jika Sandi mengetahui keanehan di dalam diri Shina. Dia ingin menyembuhkan Shina, tapi dia sendiri tidak tau apa obatnya.


"Saya mohon Sandi, ini demi kebaikan kalian, saya mohon untuk jauhi anak saya, dia juga baru lulus sekolah, dia ingin menggapai cita-citanya dulu!" ucap Fahri. Sandi semakin merasakan sesak di dadanya.


"Saya doakan semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang baik!" ucap Fahri lalu dia meminum jus pesanannya. Setelah itu dia beranjak dan pergi. Tapi sebelum pergi dia berbicara.


"Tolong lupakan Shina, mungkin dia akan pergi ke luar negeri akhir minggu ini!" ucap Fahri sebelum melangkah keluar.


Lagi-lagi Sandi terbelalak kaget saat tau Shina akan pergi. Sandi merasakan sesak berkali lipat di dadanya.


Sandi pulang dengan wajah yang semrawut kali ini dia pulang ke rumah Inas dan ternyata keluarganya sedang kumpul bersama dia ruang tv bahkan ada Marvel juga.


"Assalamualaikum.." ucap Sandi.


"Waalaikumsalam.." jawab semuanya.


Sandi langsung duduk di sofa dan menyenderkan tubuhnya di sofa. Inas terheran melihat wajah adiknya kusut seperti itu.


"Kenapa San?" tanya Inas.

__ADS_1


Membuat semua orang menoleh ke arah Sandi. Sandi menggeleng, perasaannya benar-benar campur aduk, dia sangat tidak ingin kehilangan Shina, dia sangat mencintai gadis itu.


"Ada masalah? bicara San, kali aja kakak bisa bantu!" ujar Inas.


"Pak Fahri tidak merestui kami!" ucap Sandi. Inas mengangguk mengerti, dia pun merasa kasian pada adiknya itu.


Inas menghampiri Sandi dan mengusap pundak Sandi.


"Kalo emang kalian berjodoh, suatu saat kalian akan bersama, kamu juga gak boleh menyerah perjuangkan cinta kamu, rebut hati mas Fahri agar dia merestui kalian!" Sandi menatap Inas.


"Mereka akan pergi kak ke luar negri!" ucap Sandi.


plakk..


Inas memukul lengan Sandi. "Kenapa kakak pukul aku?" tanya Sandi heran.


"Kenapa kamu malah pulang? Apa kamu tidak ingin memperjuangkannya? Harusnya kamu kerumah Shina menemui Fahri! kalo kayak gini aku pun gak mau bantu kamu!" ucap Inas sebal dan memukul lengan Sandi lagi.


Sandi melongo melihat kakaknya galak seperti itu.


"Gila kakak gue galak banget!" ucap Sandi.


Argan dan yang lainnya hanya terkekeh melihat Sandi di marahi Inas.


"Kenapa masih diam Sandi? cepat sana temui mas Fahri!" pekik Inas.


"I-iya kak!" Sandi pun beranjak tanpa membantah.


"Semangat om!!" ucap Penty dan Inka. Argan dan Marvel hanya tersenyum melihat Sandi.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Sandi pun pergi untuk memperjuangkan cintanya.


"Ya udah bunda mau istirahat dulu ya, kalian lanjutin nontonnya!"


"Iya bun!!" Inas pun beranjak dan ke kamar.


Penty menatap Argan lalu dia berbisik pada Argan.


"Kamu gak cemburu?" bisik Penty di telinga Argan. Membuat Argan menoleh ke arah Penty dan membuat wajah mereka sangat dekat bahkan hidung mereka menempel.


Penty langsung menjauhkan wajahnya karena merasa gugup. Argan beranjak dan menarik Penty dan membawanya ke kamar dan meninggalkan Inka dan Marvel yang sedang menonton tv.


"Kamu apaan sih?" tanya Penty sebal.


"Kamu tadi bilang apa? Cemburu? Sama siapa?" tanya Argan dia melangkah maju mendekati Penty dan membuat Penty mundur.


"Ya kan om mau melamar Shina, apa kamu gak cemburu?" tanya Penty.


Argan menatap Penty dia terus maju mendekati Penty sehingga Penty terus mundur, tapi Penty tak bisa mundur lagi karena di belakangnya ada tembok.


Argan tersenyum lalu meletakan kedua tangannya ditembok dan mengurung Penty. Jantung Penty berdetak kencang, ini seperti Dejavu.


"Aku cemburu!" ucap Argan.


Seketika membuat raut wajah Penty sedih dia pun menunduk, dia tau Argan masih menyukai Shina.


"Aku cemburu kalo kamu deket dengan laki-laki lain!" bisik Argan di telinga Penty.


Membuat Penty menoleh ke arah Argan dan menatap bingung Argan. Argan tersenyum.


"Jadi jangan berani-beraninya kamu deketin laki-laki lain!" ucap Argan lagi. Penty masih menatap Argan tak percaya.


"Karena! kamu milikku!" bisik Argan tepat di telinga Penty. Membuat Penty merasakan merinding dan jantungnya berdetak sangat kencang. Penty mendorong Argan.


"Gak usah becanda deh!" ucap Penty sebal dan melangkah pergi tapi Argan menahannya dan menarik tangan Penty hingga Penty menubruk tubuh Argan. Argan menahannya dengan memeluk pinggang Penty.


Penty memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat tatapan Argan. Tapi Argan mengalihkan pandangan Penty hingga menatapnya, lalu dia mengecup bibir Penty. Membuat Penty blushing.


"Aku mencintaimu!!"


"Tapi Shina?" Argan tersenyum.


"Dia masa lalu dan kamu masa depanku!" ucapnya membuat Penty menunduk malu.


"Kamu gak usah becanda!" ucap Penty. Dia tidak mau berharap lebih, takut dia akan terluka lagi.


"Apa perlu aku bilang ke bunda sekarang buat lamar kamu dan nikahi kamu, biar kamu percaya!" Penty menatap tak percaya, Argan bicara seperti itu.


"Aku serius Peniti! Aku mencintaimu!" Penty tersenyum dan memeluk Argan.


"Aku juga mencintaimu!" ucap Penty. Argan tersenyum dan memeluk erat tubuh Penty.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2