Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Mimpi Argan


__ADS_3

Rasa haru bahagia terpancar diwajah Inas kala suami tercintanya sudah sadarkan diri. Inas langsung memeluknya erat begitu juga Argan.


"Aku seneng banget kamu sudah sadar sayang!" raut bahagia terpancar bersinar seperti mentari di wajah Inas.


Melihat raut wajah Inas Ares bingung, terlebih anaknya Argan terlihat sangat bahagia, dia langsung memangku Argan.


"Ayah udah sembuh? Ayah udah gak sakit lagi? nanti kita main ya!" Argan langsung berbicara dengan semangat. Ares begitu bahagia melihat anaknya, tapi pikirannya masih bingung apa yang sudah terjadi dengannya.


"iya sayang!"


"yeee..." Argan bersorak bahagia mendengar ayahnya.


Lalu Ares menatap istrinya yang sedang menangis, terlihat matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Tangan Ares menyeka air matanya, Inas langsung mengambil tangan itu dan mengecupnya berkali-kali.


"Terima kasih kamu sudah kembali!" Ares tersenyum meski sebenarnya dia masih bingung apa yang sudah terjadi dengannya. Tapi dia tau ada sesuatu yang sudah terjadi. Tapi dia menunda untuk menanyakannya, melihat kebahagiaan keluarganya dia tidak ingin banyak bertanya dulu.


Argan sudah lepas dari pelukan ayahnya, lalu sekarang Inas yang memeluk suaminya.


"Aku takut, aku sangat takut kehilangan kamu!" Ares mengelus kepala Inas lembut.


...***...


Sudah beberapa hari Ares tersadar dari pingsannya karena habis di sandera oleh nyai kelana. Sekarang sudah beraktivitas normal lagi.


Inas pun sudah menceritakan apa yang sudah terjadi dengannya, di tambah lagi Ares sudah bertemu dengan Ayub dan banyak bercerita.


Pagi itu Ares menghampiri istrinya yang sedang memasak, dia memeluknya dari belakang menaruh kepalanya dibahu Inas.


"Pagi Cantik!"


"Hemm.."


"Kok cuma jawab hemm?"


"Bunda lagi masak sayang, jangan ganggu nanti gosong!" Inas menoleh pada suaminya, Ares tersenyum menatap istrinya lalu mengecup bibir istrinya.


"Ayah kebiasaan banget sih gangguin bunda terus, udah sana mandi terus ke kantor sayang!"


"Hari ini gak ke kantor, pengen dirumah sama bunda!" ujar Ares sambil menguyel-nguyel pipi Inas.


"Ck.. ayah!!" Inas sebal melihat kelakuan suaminya, tapi ini yang selalu dia rindukan dari suaminya. Inas menatap kembali suaminya, lagi-lagi Ares mengecup bibir Inas bahkan berkali-kali.


"Kenapa kamu semakin cantik sayang!"


"Cihh.. gombal" Inas melengos dan kembali mengaduk-ngaduk masakannya.


"Gak sayang, kamu memang cantik semakin cantik, ayah kangen banget sama bunda kaya udah lama banget kita gak ketemu!" ucap Ares sambil menciumi leher istrinya.


"Pasti ada maunya nih!"


"Kok tau sayang!" Ares tersenyum jail.


Inas melepaskan pelukan Ares. "Dari pada ayah gangguin bunda, mending temenin Argan, dia masih bobo!" ucap Inas sambil menaruh masakannya ke piring.


Ares mengikuti kemana langkah Inas, seperti anak kecil yang sedang dipasar bersama ibunya, yang terus ngekor karena takut ibunya hilang.


"Ayah udah kangen-kangenan sama Argan, sekarang tinggal sama bunda!" ucapnya sambil memeluk Inas lagi. Inas sudah jengah dengan kelakuan suaminya tapi dia tidak protes, karena itu adalah tanda bukti cinta suaminya, yang selalu bermanja-manja padanya.


"Udah sana ayah mandi, gantian bunda juga mau mandi nih gerah, bunda udah selesai masaknya nanti kita sarapan!" omelnya Sambil menghadap suaminya dan menatapnya.


Ares melingkarkan tangannya dipinggang Inas, dan menatap lembut.


"Kenapa kamu semakin cantik sayang? Bahkan kamu semakin sexy!"

__ADS_1


"Ihhh apaan sih ayah!" meski Inas sering mendengar perkataan seperti itu, tapi tetap saja dia selalu tersipu setiap mendengarnya.


"Mandinya gak usah gantian kita mandi bareng aja ya sayang!" bisik Ares ditelinga Inas.


"Apaan sih kamu mphh-" Ares memotong ucapan Inas karena dia langsung menyambar bibir istrinya, Inas berontak tapi Ares tidak memperdulikannya dia terus mencium bibir istrinya lalu beralih ke leher Inas.


"Ayah mphh-" Inas protes tapi dia akhirnya nurut saja yang dilakukan suaminya.


"Nanti Argan liat sayang!" Ares tidak menggubrisnya, hasratnya sudah terpancing dia tidak bisa menahannya, Ares menggendong istrinya ke kamar.


"Kita olah raga pagi yah!" Inas memukul dada Ares bahkan wajahnya memerah karena malu dan membenamkan wajahnya didada suaminya, padahal ini bukan pertama kalinya untuk dia.


Akhirnya pagi itu mereka melanjutkan olah raga dikamar.


"Sayang!"


"Kenapa?" Ares memeluk istrinya erat yang terbungkus dengan selimut. Setelah puas dengan olah raganya mereka masih enggan untuk beranjak, apa lagi Argan masih belum bangun jadi mereka masih ada waktu untuk berduaan, untung saja Argan sedang tidak sekolah.


"Janji ya jangan ada lagi yang disembunyikan, kamu harus jujur apa pun yang terjadi, aku gak mau kejadian kemarin terulang, aku gak mau kehilangan kamu, aku takut sayang!" mata Inas berkaca-kaca mengingat apa yang sudah terjadi dengan suaminya.


"Maaf ya udah bikin kamu sama Argan khawatir!" balas Ares sambil membelai pipi istrinya.


"Jangan diulang lagi!" Ares mengangguk.


"Kenapa kamu semakin menggemaskan sih?"


"Apa sih, udah ahh bunda mau mandi!" Tapi Ares menahan Inas dan malah mengeratkan pelukannya.


"Entar mandinya, kita mandi bareng!"


"Nanti Argan keburu bangun gimana?"


"Kita mandi bertiga!" balasnya sambil mencium bibir istrinya, drama pagi itu dilanjut lagi, bahkan sampai lupa buat sarapan.


...***...


Hari berganti bulan dan berganti tahun, keluarga mereka selalu harmonis meski kadang ada pertengkaran kecil. Saat ini Argan sudah kelas empat SD, berarti dia sudah berumur sepuluh tahun. Bahkan mereka sudah punya satu anak perempuan lagi yang sangat cantik dan lucu yang menggemaskan berumur empat tahun yang bernama 'Inka Shadrina Wijaya'


Dan apa yang mereka khawatirkan tentang Argan tidak terjadi tentang kutukan itu, sampe sekarang berumur sepuluh tahun dia masih baik-baik saja, membuat Ares dan Inas merasa tenang.


"Bun!"


"Apa kak?"


"Kenapa ya aku sering mimpi aneh!"


"Mimpi apa?"


"Aku sering mimpi liat orang berjubah hitam di tengah hutan, dia bawa lentera, terus aku ikutin dia sampe ke gubuk kecil!"


Deg!


Inas yang mendengar itu wajahnya langsung pucat dan tegang. Bukankah dia juga pernah memimpikan itu, melihat pria berjubah yang membawa lentera menuju gubuk.


"Kenapa Argan mimpi itu?" batin Inas cemas.


"Udah kakak gak usah pikirin, itu cuma mimpi!"


Meski sebenarnya Inas merasa sangat cemas dan khawatir, apa mungkin ini ada hubungannya dengan Lakhuds? Apa dia masih hidup? bukankah Inas sudah memusnahkannya. Segala praduga bermunculan di otak Inas, sudah sekian lama mereka hidup tenang tidak ada gangguan lagi dan mereka berharap akan terus seperti itu.


Tapi mendengar cerita Argan membuat pikiran Inas cemas dan khawatir, dia mengingat tentang kutukan Lakhuds.


"Tidak! itu tidak akan terjadi anakku akan baik-baik saja aku yakin itu!" Dia terus meyakinkan diri, semuanya akan baik-baik saja dan ketenangan ini akan terus berlanjut.

__ADS_1


Malam itu Inas menghampiri kedua anaknya yang sedang terlelap di kamarnya. Inka tidur bersama Argan karena dia meminta tidur bersama kakaknya, tidak biasanya dia seperti itu. Inas menatap lekat kedua anaknya, rasa khawatir dan cemas terlihat dari raut wajahnya.


"Bunda yakin kalian akan baik-baik aja sayang, kalian adalah harta bunda dan ayah, kami akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan kalian, kami sangat menyayangi kalian, Argan maafin bunda. Bunda harap kamu akan baik-baik saja!" ucap Inas sambil mencium kening kedua buah hatinya.


Tak terasa air matanya menetes terjatuh mengenai tangan Argan. Argan sudah terbangun semenjak bundanya masuk kamar, namun dia pura-pura tidur dan mendengar semua ucapan bundanya.


"Aku juga sayang bunda sama ayah, aku sayang banget sama kalian, aku yakin dedek juga sama. Terima kasih kalian sudah menjadi orang tua yang terbaik buat kami. Tapi kenapa bunda minta maaf, emang bunda salah apa?" batin Argan saat menatap bundanya yang keluar kamar dan mematikan lampunya kembali.


Inas termenung diruang tamu sambil menunggu suaminya pulang karena dia mengabarkan akan lembur. Mimpi Argan terngiang-ngiang di kepalanya. Rasa takut dan cemas terus menghantuinya.


Dia terus berdoa semoga ketakutannya tidak


akan pernah terjadi. Tapi tetap saja meski dia berusaha tenang, dia tidak bisa.


Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil, Inas langsung beranjak menyambut suaminya.


"Kok belum tidur sayang?" tanya Ares saat melihat istrinya menyambutnya.


"Nungguin ayah!" Lalu Ares mengajak istrinya masuk, Inas membawakan jas dan tas suaminya ke kamar.


"Ayah udah makan?" tanya Inas sambil membantu membuka dasi Ares.


"Udah sayang!"


"Ya udah bunda siapin air ya buat ayah mandi!" Inas beranjak tapi Ares menahannya.


"Ada apa sayang?" Inas mengernyit mendengar pertanyaan suaminya.


"Ada apa apanya?"


"Kok bunda kelihatan sedih!"


"Gak apa-apa yah, bunda gak sedih kok!"


"Jangan bohong!"


Ares tidak percaya dengan ucapan istrinya, karena dia melihat raut sedih diwajah istrinya.


"Gak sayang bunda gak bohong!" Inas mengalihkan kecurigaan suaminya dengan mengecup bibir suaminya, dia tidak mau menceritakan tentang Argan, takut akan kepikiran dan mengganggu konsentrasi suaminya bekerja.


"Bunda mau godain ayah!" Ares memeluk istrinya dia melingkarkan tangan dipinggang istrinya.


"Siapa yang mau godain ayah? Emang gak boleh bunda cium ayah!"


"Gak boleh!" Raut Inas kecewa mendengar ucapan suaminya.


"Ayah udah gak suka sama bunda?" Inas tertunduk sedih, tapi Ares tersenyum melihat wajah istrinya sedih. Dia memegang dagu Inas dan mengangkat kepalanya.


"Gak boleh sekali sayang, dan kamu harus tanggung jawab karena udah memulai duluan!"


Ares langsung membawa Inas ke kamar dan langsung menciumi seluruh wajah Inas dan juga lehernya sambil memberi tanda kepemilikan.


Inas pasrah saja apa yang dilakukan suaminya, meski sudah memiliki dua anak, tidak membuat sikap dan perlakuan suaminya berubah, masih tetap sama meski terkadang mereka bertengkar tapi itu pun hanya sebentar. Selepas itu mereka berbaikan dan bermesraan lagi.


"Ayah mandi sana!" ucap Inas setelah mereka menyelesaikan ritual panasnya.


"Besok aja sayang, ayah udah keburu ngantuk!" Ares langsung mendekap tubuh istrinya dan membenamkan wajah di dada istrinya, tak lama dia terlelap. Inas mengusap kepala suaminya yang sudah terlelap, untuk sesaat dia melupakan masalah yang sedang dipikirkannya.


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2