Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Di incar makhluk halus


__ADS_3

Setelah melihat-lihat dan mencari sesuatu namun tak menemukan apa pun. Ares kembali ke dalam mobil.


"Ada apa kak?" tanya Inas panik.


"Gak ada apa-apa sayang, saya udah cari kemana-mana tapi gak ada apa-apa." jawab Ares.


"Tapi tadi aku lihat ada yang lewat kak, kamu juga denger kan suara benturan dimobil kita?" Inas terlihat panik. Dia melihat jelas ada sesuatu yang melintas didepan mobil mereka.


"Mungkin tadi saya nabrak hewan sayang, kamu gak usah khawatir ya." Ares berusaha menenangkan istrinya yang terlihat panik.


"Ya udah kita pulang ya?" lanjut Ares sambil mengelus kepala Inas. Inas mengangguk meski perasaannya sangat tidak enak, terlebih lagi melihat putranya tidak bisa tidur dengan tenang.


Sedangkan di luar lebih tepatnya di atas mobil mereka, ada sosok nenek-nenek yang sedang nemplok disana. Sosok nenek yang menyeramkan rambut putih ubanan acak-acakkan ditambah banyak belatung dirambut itu, sebelah wajahnya hancur sampai bola matanya tidak ada, giginya menghitam, kulitnya keriput bahkan sangat keriput.


"Aku harus mendapatkan anak itu!" ucapnya.


Namun ada sebuah cahaya yang mengenai dia sehingga dia terpental jauh dan meringis kesakitan.


"Sial!! siapa yang menghalangiku!!" ucapnya geram.


Ares melajukan mobilnya dengan kecepatan yang agak tinggi, hari juga sudah mulai menjelang maghrib sangat tidak baik untuk anaknya masih berkeliaran diluar rumah.


"Sayang terus berdoa ya ini mau maghrib!!" ucap Ares mengingatkan. Inas pun berdoa dan dia juga membaca sholawat. Karena suasana di dalam mobil tiba-tiba saja sangat tidak enak, membuat anaknya tidak bisa tidur dengan tenang, terlihat Argan sangat gelisah. Inas terus melantunkan sholawat dengan lantang, karena suasana tiba-tiba sangat merinding di dalam mobil.


"Sayang kok aku merinding ya." Inas merasa tak enak dan terasa pusing.


"Sabar ya sayang sebentar lagi kita sampe!" Inas mengangguk lalu lanjut membaca doa dan membaca ayat-ayat yang dia hapal.


Sedangkan di luar yang sudah masuk sendakala, para demit atau setan berkeliaran, kehadiran Argan menarik perhatian mereka. Mereka berusaha mendekati mobil Ares dan terus mengikutinya. Meskipun mereka tau ada sosok yang melindungi Ares dan keluarganya. Tapi mereka terus mengejar mobil Ares.


Sesekali sosok itu menghalau para demit yang menginginkan Argan. Tak lama Ares sampai di Apartemennya. Dia berhenti di depan lobby lalu dia mengantar Inas sampai ke dalam lobby. Lalu dia kembali ke mobil lagi untuk memarkirkan mobil ke basemen apartemen.


"Sabar sayang tunggu ayah ya!" Inas terus menenangkan Argan karena dia bangun dan terus menangis. Tangis Argan semakin kencang, untung saja di lobby tidak ada orang, penjaga resepsionis pun tidak ada jadi tidak ada yang keganggu dengan tangisan Argan yang kencang.


"Kamu kenapa sih nak? kok nangis terus, jangan bikin bunda khawatir sayang!" Inas terus menggoyangkan badannya untuk menenangkan Argan.


"Kak Ares mana sih lama banget, mau masuk duluan kuncinya sama dia."


Tangis Argan semakin kencang, membuat Inas panik dan cemas. Tak lama Ares datang, dia juga ikut panik melihat anaknya menangis kencang.


"Sayang Argan kenapa ya? dari tadi nangisnya gak berhenti!"


"Udah ayo kita ke atas!" ajak Ares. Inas pun mengangguk sambil terus menenangkan Argan yang terus menangis.


Tentu saja Argan menangis kencang ada sosok setan yang mengikuti mereka, setan berkepala kerbau tapi badannya manusia, dia membawa trisula ditangannya. Argan masih kecil jadi dia bisa melihat dan merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata. Namun sosok yang mengikutinya mempunyai aura negatif yang sangat kuat. Membuat tubuh Argan tidak enak dan mungkin merasakan sakit.


Tak lama mereka sampai di apartemen, tapi tangis Argan masih berlanjut. Membuat Inas sangat panik bahkan dia juga ikut menangis karena khawatir dengan Argan. Karena tidak biasanya Argan menangis seperti itu.


"Sayang tolongin Argan, kenapa dia nangis terus?" ucap Inas terisak. Dia terus menenangkan Argan dan memberinya Asi tapi Argan malah menolak, dia malah menangis semakin kencang.


"Ya udah kamu tunggu disini ya!!"


"Kamu mau kemana?"


"pokoknya kamu jangan kemana-mana sayang, saya cuma sebentar."


Inas pun melantunkan sholawat lagi, Inas takut kalo ini karena gangguan dari makhluk halus, karena tadi saat maghrib dia malah keluar.


Siluman kerbau itu menjilati wajah Argan dan membuat Argan semakin menangis kencang.


"Ya Allah nak, kamu kenapa sih sayang? Apa yang sakit nak?" Inas terus menciumi wajah Argan dan mengusapnya. Tangisnya pun pecah melihat anaknya menangis seperti kesakitan.


"Maafin bunda sayang, bunda gak bisa apa-apa."


Tak lama kemudian tangis Argan berhenti seketika, bahkan tiba-tiba saja berhenti. Dan Argan menutup matanya seolah sedang tidur.


"Sayang.. sayang.." Inas panik karena tiba-tiba Argan menutup matanya. Apa dia pingsan? Inas memanggil Argan sambil mengelus pipinya. Tapi tidak ada reaksi dari Argan.


"Sayang bangun, jangan bikin bunda takut" Inas semakin panik. Tak lama kemudian Ares datang bersama seorang pria paruh baya.

__ADS_1


"Astaghfirullah.." ucap pria paruh baya itu saat memasuki apartemen Ares.


"Ada apa pak kyai?" Ares ikut panik saat melihat reaksi pria yang disebut kyai itu sangat kaget.


Lalu Ares menghampiri Inas yang sedang menangis karena Argan tiba-tiba saja menutup mata. Lalu Ares menggendong Argan dan menaruhnya dibox bayi.


Ares langsung memeluk istrinya yang sedang menangis. Lalu pak kyai membacakan doa untuk Argan. Pak kyai bisa melihat makhluk yang sedang berada di apartemen Ares. Makanya saat masuk dia sangat kaget.


Lalu pak kyai duduk bersila dan menaruh tangannya di kedua pahanya, sambil menggerakkan jarinya, lalu dia menutup mata, mulutnya komat-kamit merapalkan doa.


Lalu kyai yang bernama Hasan itu membuka mata dan dia berada disebuah tempat yang entah dimana, yang pasti itu bukan dunia manusia.


Kyai Hasan berjalan menyusuri hutan gelap, yang di kelilingi pohon jati. Tidak ada penerangan tapi Kyai Hasan berjalan tanpa rasa takut.


Setelah berjalan menyusuri hutan jati ada suara-suara aneh terdengar. Lalu kyai Hasan mendengar suara tangis bayi, Kyai Hasan mencari dimana keberadaan bayi itu. Dia yakin itu adalah anaknya Ares yang di ambil sukmanya oleh siluman itu.


Ditempat lain Inas tak henti-hentinya menangis melihat anaknya terbaring dan tidak membuka mata.


"Sabar ya sayang, Argan pasti baik-baik aja!!" Ares berusaha menenangkan istrinya, meski sebenarnya dia pun sangat khawatir dengan keadaan anaknya.


"Ya Allah lindungi anakku!" doa terus mereka panjatkan untuk keselamatan anaknya.


Sedangkan sosok yang menghalau para demit tadi baru datang dan dia langsung menyusul kyai Hasan ke dunia gaib.


Kyai Hasan masih mencari dimana keberadaan Argan. Semakin masuk kedalam hutan aura negatif semakin terasa. Mulut Kyai Hasan terus merapalkan dzikir dan doa.


Tak lama kyai Hasan melihat hamparan padang rumput yang luas, terlihat jelas karena bulan bersinar terang. Kyai Hasan mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu, betapa kagetnya saat dia melihat sosok menyeramkan yang berbagai macam rupa. Yang pasti itu para siluman. Terlihat seorang bayi yang sedang ditaruh disebuah batu sedang menangis.


Lalu kyai Hasan duduk bersila dan membaca doa, para siluman itu tau kedatangan kyai Hasan dan mereka sangat murka akan kedatangannya. Mereka mencoba menyerang kyai Hasan tapi mereka terpental karena ada yang melindungi kyai Hasan.


"Pergilah!! jangan ganggu kami, atau kalian akan mati!" geram salah satu siluman berbadan kuda namun berkepala manusia.


"Seharusnya kalian yang jangan ganggu kami, kenapa kalian mengambil bayi itu?" tanya kyai Hasan dia berdiri dan dia juga melihat seseorang yang membantunya.


"Dia santapan kami, kami menginginkannya, karena dia memiliki darah iblis yang terkuat!" ucap siluman kerbau.


"Tidak ada yang paling kuat didunia ini selain kekuatan Allah!!" ucap kyai Hasan.


"Kami tidak akan pergi, sampai kalian menyerahkan bayi itu!"


"HAHAHAHA.. Jangan harap kami akan mengembalikan dia, pergi atau kubunuh kau!" Lalu para siluman menyerang kyai Hasan lagi, tapi sosok itu melindungi kyai Hasan.


"Pergilah ambil bayi itu, biar mereka saya yang urus." ucap sosok itu.


Tak buang waktu kyai Hasan pun menurut dia langsung berlari ke arah dimana Argan berada, namun saat dia mau mendekati Argan. Para siluman menghadangnya.


"Jangan harap kau bisa ambil dia, manusia!!" geram siluman ular.


Kyai Hasan membaca doa, lalu dia mengambil sorban yang dia kenakan dan menyabetkannya ke para siluman itu. Mereka kesakitan tapi tak lama mereka kembali menghadang lagi, rasa sakitnya sepertinya hanya sebentar dan membuat kyai Hasan sulit untuk mengambil Argan. Lalu mereka menyerang kyai Hasan membuat kyai Hasan tersungkur dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Tapi untung saja ada seorang kakek berpakaian putih menolongnya dan melawan para siluman itu.


"Cepat bawa dia pergi!! dan pergilah ke arah barat." ucap kakek itu. Kyai Hasan mengangguk dia beranjak sambil memegangi dadanya dan membawa Argan lalu pergi ke arah barat.


"Tak henti-hentinya kalian mengganggu manusia!" ucap sosok kakek itu.


Sedangkan Inas yang sedari tadi menangis dia tak sadarkan diri dan membuat Ares semakin khawatir dan panik.


"Sayang bangun!! jangan buat saya tambah khawatir." Ares berusaha menyadarkan istrinya.


Lalu dia membawa Inas ke kamar dan membaringkannya dikasur. Dia membangunkannya lagi dengan memberi minyak angin, tapi itu tidak membuat Inas tersadar. Ares semakin panik anaknya sedang dalam bahaya, istrinya juga malah pingsan.


Ares tau anaknya dalam bahaya karena dia bisa merasakan aura negatif, sepertinya efek dari Lakhuds yang pernah memakai raganya masih ada, sehingga Ares bisa merasakan kehadiran makhluk halus. Seperti dulu dia bisa merasakan kehadiran Lakhuds.


Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..


Tiba-tiba Ares mendengar suara orang batuk, dia pun kembali keruang tamu, ternyata itu kyai Hasan. Ares segera memberinya minum untuk kyai Hasan.


"Pak kyai tidak apa-apa?" Ares khawatir karena mulut pak kyai mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Alhamdulillah mas saya baik-baik saja!" jawab kyai Hasan.


"Gimana dengan putra saya pak? Apa dia baik-baik saja?" Ares membantu Kyai Hasan untuk duduk disofa. Lalu dia mengambil Argan kepangkuannya.


"Alhamdulillah anak mas selamat, tapi kalo seandainya saja tadi terlambat, mungkin saja anak mas tidak selamat." jawab kyai Hasan.


"Astaghfirullah nak.." Ares langsung mencium anaknya.


"Sepertinya anak bapak ini punya pelindung!!"


"Maksud pak kyai?" Kyai Hasan tidak menjawab dia hanya tersenyum. Ares pun tidak menanyakan nya lagi sudah pasti itu adalah kakeknya Nur Jagad, karena dia yang selalu menolongnya selama ini.


"Kalo boleh saya tau, kenapa dengan anak saya pak?"


"Ada sesuatu yang berbeda dengan anak mas, sehingga banyak makhluk halus yang menginginkan anak mas, terutama darahnya" penuturan kyai Hasan membuat Ares tercekat.


"Bukankah kakek bilang juga seperti itu!" pikirnya.


"Tapi kenapa ya pak kyai, mereka menginginkan anak saya?" Ares ingin tau apa sebab mereka menginginkan darah anaknya. Karena waktu itu dia belum sempat menanyakan pada Nur Jagad.


"Saya tidak tau!" jawab pak kyai. Pak kyai sengaja merahasiakan pada Ares. Dia takut Ares akan kaget jika mengetahuinya.


Ares mengangguk dan sebenarnya Ares tau kyai Hasan sedang berbohong, Ares tau kalo Kyai Hasan tau sesuatu. Tapi dia tak enak jika harus mendesak pak kyai.


"Terima kasih banyak pak kyai, sudah membantu saya dan keluarga saya!" ucap Ares.


"Sama-sama mas, sesama manusia kita harus saling membantu," balas kyai Hasan.


Argan sudah terbangun dia bahkan sudah bisa tersenyum lagi. Apa lagi saat kyai Hasan menyapanya, seolah Argan sedang berterima kasih dengan senyumannya.


"Alhamdulillah nak kamu baik-baik saja!" Ares merasa lega dan terus menciumi anaknya.


"Kalo gitu saya permisi dulu mas." pamit kyai Hasan.


Ares mengangguk. "Sekali lagi terima kasih banyak pak kyai." ucap Ares.


Kyai Hasan tersenyum, lalu Ares mengantar kyai Hasan sampai ke pintu.


Namun saat Ares menutup pintu kyai Hasan berbalik menatap ke arah pintu.


"Anakmu akan mengalami hal besar, semoga kalian bisa kuat," gumamnya dalam hati. Lalu dia melanjutkan perjalanannya.


Sedangkan di dalam Ares sedang berusaha membangunkan istrinya dengan mengelus pipi Inas dengan tangan Argan.


"Bunda bangun, aku udah bangun bunda!" ucap Ares mengubah suaranya jadi sok imut seolah Argan yang sedang berbicara.


"Sayang bangun, liat Argan udah kembali sayang." Ares membelai pipi Inas dan tak lama Inas pun tersadar. Saat membuka mata, dia melihat suaminya yang sedang tersenyum.


Lalu dia melihat bayi yang sedang di gendong Ares. Inas langsung beranjak.


"Argaaan.." pekiknya langsung menggendong Argan.


"Ya Allah nak sayang, anak bunda, kamu baik-baik aja kan nak? Maafin bunda sayang!" ucap Inas sambil menciumi Argan. Sedangkan Argan hanya tertawa melihat kekhawatiran bundanya.


"Argan tidak apa-apa sayang, dia baik-baik aja!" ucap Ares lalu dia memeluk anak dan istrinya.


"Aku takut banget, aku takut kehilangan Argan kak!" Inas terisak dan sangat ketakutan.


"Tidak akan sayang kita akan terus bersama-sama." ucap Ares sambil mencium puncak kepala Inas dan mencium anaknya.


Sedangkan dikamar itu ada dua sosok yang sedang menatap mereka, dengan senyum yang mengembang.


"jaga dia!"


"baik kek."


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2