
Saat Argan membantu Ares. Ares menyuruhnya untuk menyelamatkan Penty. Tapi Argan tidak mau karena tidak ingin ayahnya terluka. Tapi Ares memaksanya hingga Argan pun menurutinya.
Argan segera mencari keberadaan Penty di seluruh rumah besar itu, tapi dia belum menemukan dimana keberadaan gadis itu. Hingga dia menemukan pintu besar di depannya, dia pun masuk namun Ghandi dan beberapa penjaga menghalanginya masuk. Mereka segera menyerang Argan.
Argan sudah sangat kewalahan apa lagi dia mendengar tangis Penty di dalam. Argan tak bisa melawan para penjaga yang postur tubuhnya lebih besar dari dia. Apa lagi dia cuma sendirian.
Argan terus tersungkur. Namun dia tetap mencoba bertahan demi menyelamatkan gadis yang di cintainya, tiba-tiba dia merasakan Penty memanggilnya dan meminta tolong. Argan segera bangkit dan seperti mendapat kekuatan dan melawan mereka lagi.
Namun Argan tetap kalah dan tidak bisa mengalahkan mereka.
Sedangkan di dalam Reka masih sedang bermain-main dengan Penty. Penty sudah terkulai lemah karena tenaganya di hisap iblis itu. Meski matanya terpejam dia masih sadar, air matanya terus mengalir.
******* Reka berpindah dari bibir ke leher dan saat dia ******* bibir Penty saat itulah dia menghisap tenaga Penty hingga terkulai lemah.
"Mari cantik! kita akan bermain-main!" ucap Reka. Perlahan dia membuka kancing gaun Penty. Sungguh hati Penty sangat sakit, ada pria yang menyentuhnya, ingin sekali dia berlari namun dia tidak bisa. Dia hanya bisa menangis.
"Jangan ku mohon!" lirihnya dalam hati. Ketika Reka sudah menyentuhnya. Reka hanya tersenyum smirk.
Namun tiba-tiba ada yang mendobrak pintu, membuat Reka menoleh ke arah pintu dan Penty pun membuka mata. Dia tersenyum melihat seseorang yang di cintainya datang.
Argan murka melihat Reka sedang menyentuh gadis yang di cintainya.
Namun Reka tersenyum melihat kedatangan Argan. Dia bertepuk tangan dan tertawa.
"Hebat kamu boy! datang di saat yang tepat!" ucap Reka. Mata Argan sudah memerah, emosinya sudah berada di ubun-ubun.
Dia langsung menyerang Reka namun belum sempat dia menyentuh Reka. Dia sudah terpental dan membentur tembok, hingga mulutnya mengeluarkan darah seperti Sandi. Penty menangis melihat Argan terluka, dia ingin membantu namun dia tak bisa apa-apa.
Lagi-lagi Reka tertawa senang, dia seperti mendapat mainan baru. Argan meringis darahnya terus keluar dari mulut. Belum juga dia menyentuh dia sudah kalah.
Argan sadar yang dia hadapi itu bukan manusia tapi iblis, jadi dia tidak bisa di lawan dengan fisik atau kekerasan. Argan berusaha tenang dan fokus, dia memusatkan pikirannya dan meminta pertolongan pada sang pencipta.
"Darah suci! belati!" Argan harus menggunakan senjata itu untuk mengalahkan dia.
Namun dia bingung bagaimana dia mendapatkan darah suci. Sedangkan Shina tidak berada bersamanya. Lagi-lagi Argan harus putar otak, untuk bisa mendapatkan darah suci.
Reka menghampiri Argan yang sedang tergeletak menyender di tembok.
Di luar seorang pria memakai topeng, sedang melawan para penjaga dan Ghandi. Dia lah yang menolong Argan saat Argan kewalahan. Argan pun sempat bingung siapa orang itu dan orang itu menyuruh Argan segera menolong Penty dan karena itulah Argan bisa masuk ke kamar itu.
__ADS_1
Entah siapa pria bertopeng itu, kenapa dia menyelamatkan Argan.
Di tempat lain Inas dan yang lainnya sedang berlari ke arah hutan karena mereka di kejar oleh para penjaga.
"Tante! apa kita berhenti dulu, sepertinya mereka juga tidak mengejar kita!" ucap Shina yang sudah sangat kelelahan. Inas pun mengangguk dan mereka beristirahat sambil bersembunyi.
"Bunda! ayah sama kakak gimana?" tanya Inka sambil memeluk Inas. Inas pun khawatir sama anak dan suaminya, juga Penty, Sandi dan Fahri yang masih di dalam.
Mereka ingin menghubungi seseorang namun ponsel mereka tidak ada.
"Kita berdoa ya sayang, biar ayah sama kakak dan yang lainnya baik-baik aja!" ucap Inas. Inka mengangguk dan memeluk Inas.
Nafas mereka terengah-engah karena terus berlari. Mereka bersembunyi di tempat yang gelap agar tak ada yang melihat mereka. Tak lama para penjaga itu mendekat, mereka langsung terdiam dan menutup mulut agar tidak bersuara.
Penjaga itu terus mencari-cari keberadaan Inas dan yang lainnya.
"Kita harus menemukan mereka, atau kita akan mati di bunuh tuan!" ucap salah satu penjaga itu. Dan yang lainnya mengangguk dan terus mencari keberadaan mereka.
Sedangkan Ares dia juga kewalahan melawan para penjaga itu karena dia hanya sendirian. Tak lama Sandi sadar, dia melihat Ares yang sedang berkelahi dan dia pun menoleh ke arah Shina dan yang lainnya di ikat, namun mereka sudah tidak ada.
"Kemana mereka?" gumamnya.
Pikiran buruk hinggap di otaknya dia takut Reka sudah membunuh mereka. Sandi berusaha bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah dia juga melihat Fahri yang masih tergeletak. Dia ingin membantu Ares namun tubuhnya begitu lemah, tak lama datang seorang memakai topeng membantu Ares yang sedang kewalahan.
"Cepat bawa mereka berdua keluar dari sini!" ucap pria itu Ares tidak mengenali suara siapa itu karena orang itu memakai topeng hingga suaranya agak menggema.
Ares pun menurut dia segera memapah Fahri dan orang itu memapah Sandi. Mereka pun keluar namun masih ada penjaga di sana sehingga membuat mereka kesulitan keluar.
"Apa kamu bisa berjalan sendiri?" tanya pria bertopeng itu pada Sandi. Sandi mengangguk.
"Kalo begitu kalian cepat keluar saya akan mengalihkan mereka!" Sandi mengangguk lagi, Ares pun sama namun tiba-tiba berhenti. Dia teringat sesuatu.
"Kenapa kak?" tanya Sandi.
"Argan sama Penty dia masih di dalam bareng Reka!" Sandi pun berdecak kesal, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan kedua keponakannya itu.
"Sebaiknya kalian cepat keluar dulu, selamatkan yang lainnya, mereka masih ada di hutan dan sedang di kejar!" ucap pria bertopeng.
Ares dan Sandi pun terkejut mereka khawatir dengan keadaan Inas dan yang lainnya. Segeralah mereka keluar dan pria itu mengalihlan para penjaga.
__ADS_1
Sandi membantu Ares memapah Fahri, meski tubuhnya pun terasa remuk. Setelah para penjaga di alihkan pria bertopeng itu, mereka segera keluar mereka ingin masuk mobil namun kunci mobil mereka semuanya tidak ada.
Ares berdecak kesal dia sangat khawatir dengan anak dan istrinya.
"Aaaaa.." Ares dan Sandi terkejut mendengar teriakan dari arah hutan.
"San kamu tunggu di sini, saya mau cek mereka!"
"Tapi kak!"
"Tunggu di sini dan bersembunyi jaga Fahri!" mau tak mau Sandi pun menurut padahal dia ingin membantu Ares dia ingin menyelamatkan kekasihnya.
Ares berjalan ke arah hutan yang masih terang dengan lampu, tak lama dia masuk kehutan yang sudah mulai gelap dia agak kesulitan berjalan karena gelap, sedangkan di langit bulan tidak terlalu terang. Dia terus menerobos semak-semak dia ingin cepat menemukan Inas dan yang lainnya.Dia berjalan semakin ke dalam hutan.
Sedangkan Inas dan Inka sedang berlari dari kejaran para penjaga, mereka terpisah dari Shina dan Widia.
Begitu juga Shina dia terus berlari karena para penjaga terus mengejarnya. Sedangkan Widia dia tertangkap dan teriakan tadi adalah berasal darinya. Inas, Shina dan Inka terus berlari, para penjaga itu sangat mudah mengejar mereka, namun mereka berhasil lolos meski hampir tertangkap.
Rasa lelah, takut dan gemetar mereka rasakan, ingin rasanya mereka menyerah tapi mereka mengingat orang-orang yang mereka sayang, sehingga mereka tetap bertahan untuk berlari.
"Bunda dedek capek!" ucap Inka.
"Kita harus lari sayang, atau kita di tangkap nanti kita cari tempat persembunyian!" meskipun lelah Inka pun menurut karena dia tidak mau di tangkap.
Sedangkan Shina dia sedang bersembunyi di sebuah batu besar, para penjaga itu pun mendekati area itu. Jantung Shina serasa mau copot saat para penjaga mendekatinya.
Dia berusaha tenang dan mengatur nafas agar nafasnya tidak terdengar ngos-ngosan. Penjaga itu semakin mendekati batu itu. Saat tinggal selangkah lagi, Shina sudah pasrah jika memang harus ketahuan, dia sudah tidak bisa berlari lagi.
Namun selangkah lagi penjaga itu mendekati ada suara orang berlari dari arah kanan, hingga mengalihkan penjaga itu dari Shina.
Shina bernafas lega saat penjaga itu menjauhinya, tapi dia bingung siapa yang sudah mengalihkan para penjaga itu.
Inas dan Inka masih berlari Inka sesekali terjatuh karena kelelahan, Inas pun menggendong Inka. Karena tidak tega melihat anaknya kelelahan. Inas pun tak bisa berlari lagi karena menambah beban, dia hanya bisa berjalan cepat.
Saat dia sedang berjalan tiba-tiba ada seseorang yang menariknya. Inas terkejut dan hampir berteriak, untung saja orang itu membekap mulut Inas.
Inas membelalakan matanya saat tau siapa orang itu.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....