Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Melawan


__ADS_3

Ares kembali masuk ke rumah itu, namun dia merasa ada yang aneh saat masuk ke rumah itu.


"Bau banget!" ucap Ares sambil menutup hidungnya.


Di rumah itu tiba-tiba bau bangkai yang sangat menyengat bahkan di dalam rumah itu banyak darah berceceran di lantai dan di tembok. Ares bingung dengan keadaan rumah yang berubah seperti ini. Namun dia tetap masuk untuk mencari Argan dan Penty.


Semakin dia masuk ke dalam bau bangkai itu semakin menyengat, Ares hampir aja muntah karena tidak tahan dengan bau itu. Dia semakin terbelalak kaget saat melihat banyak mayat berserakan dengan kondisi yang mengenaskan.


Ares begidik ngeri bagaimana rumah ini bisa berubah secepat itu. Tidak ada kemewahan lagi yang ada seperti gudang mayat. Ares berjalan melewati mayat-mayat yang sudah membusuk itu, kepalanya sampe pening karena tidak kuat menahan bau bangkai itu.


Namun dia berusaha menahannya dan harus cepat menolong anaknya. Ares belum sadar jika dia sudah masuk di dimensi lain, jadi dia bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu.


Mayat-mayat itu adalah anak buah Reka dan Ghandi yang di bunuh iblis itu karena gagal menjaga Argan. Mereka di bunuh saat Argan berhasil meminum darah suci itu.


Saat Ares sudah melewati para mayat itu, langkahnya terhenti karena dia merasa ada seseorang di belakangnya perlahan dia menoleh ke belakang. Lagi-lagi dia di kejutkan denga para mayat itu yang tiba-tiba bangun seperti Zombie dan menyerangnya, Ares yang belum siap pun tak sempat menghindar hingga dia di kerumuni para mayat hidup itu.


Ares berusaha melawan mereka namun sia-sia mereka bukanlah manusia tidak bisa di lawan hanya dengan pukulan. Ada yang mencakar Ares, ada yang mau menggigitnya namun Ares masih bisa menahannya, ada juga yang menarik tangan dan kaki Ares.


Tiba-tiba ada seseorang yang memukul mereka satu persatu dan menolong Ares. Namun tidak membuat mereka mati, hanya bisa membuat mereka menjauh dari Ares. Ternyata orang itu adalah si pria bertopeng, namun kali ini mereka ada dua.


Ares semakin bingung siapa sebenarnya mereka?


Salah satu dari mereka menyuruh Ares dan yang satunya pergi, sedangkan yang satunya melawan para mayat hidup itu. Ares dan pria bertopeng itu segera berlari dan mencari Argan dan Penty.


Namun tak mudah untuk mereka kali ini, banyak para penjaga yang menghalangi mereka namun mereka bukanlah manusia tapi makhluk-makhluk seram bertubuh besar dan tinggi, yang tingginya bahkan melebihi atap sampai makhluk itu membungkuk, matanya putih sebesar telur rebus, mulutnya robek sampai ke pipi, darah menetes dari mulutnya. Kuku-kuku tangannya panjang dan tajam, rambutnya kusut dan berantakan.


Tiba-tiba pria bertopeng itu mengeluarkan sesuatu dan memberikannya pada Ares. Ares terkejut dan menatap pria itu.


"Siapa kamu?" tanya Ares.


"Tidak ada waktu untuk berkenalan! cepat serang mereka atau kita semua bakal terjebak di sini selamanya!" jawab pria itu.


Ares masih bingung bagaimana pria itu memiliki cambuk kakeknya yang dulu pernah dia gunakan untuk menolong Inas.


Tanpa pikir panjang Ares pun melawan mereka sambil terus berdoa, karena dia tau cambuk itu bisa digunakan jika di sertai doa.


Pria bertopeng itu pun melawan makhluk itu menggunakan sebuah keris. Ares benar-benar bingung siapa sebenarnya kedua pria bertopeng itu.


Ares masih melawan makhluk menyeramkan itu, namun mereka cukup kuat jadi tidak mudah pula Ares dan pria bertopeng itu melawannya.


Di tempat lain Inas dan yang lainnya sudah berkumpul termasuk Sandi dan Fahri, mereka senang karena bisa berkumpul dan baik-baik saja.


Namun Inas merasakan perasaan yang tidak enak, dia terus memikirkan suami dan kedua anaknya. Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba ada suara langkah kaki banyak orang. Mereka pun langsung terdiam dan saling berpandangan satu sama lain. Mereka saling menjaga, apa lagi keadaan Fahri masih lemah dan Sandi pun masih belum pulih.


"Abang apa itu?" tanya Shina ketakutan dan mendekat ke Sandi.

__ADS_1


"Abang gak tau, pokoknya kita harus tetap berdoa dan memohon perlindungan!" jawab Sandi.


"Iya bang!"


"Sayang kamu jaga papa dan yang lainnya di sini, abang mau ngecek, kalo ada apa-apa kalian teriak!" ucap Sandi.


"Tapi bang-" Sandi menangkup pipi Shina.


"Abang mohon tetap disini abang harus periksa ada apa di sana, takutnya mereka menyusul dan menyerang kita!" Shina berat untuk berpisah dengan Sandi. Tapi dia pun tak bisa menolak.


"Abang hati-hati!" Sandi mengangguk dan tersenyum.


"Kak, kalo ada apa-apa kakak juga teriak ya!" ucap Sandi pada Inas. Inas pun berat melepas Sandi. Tapi kali ini hanya Sandi yang bisa di harapkannya.


"Marvel saya titip semuanya sama kamu!" Marvel mengangguk.


Sandi pun meninggalkan mereka dan menuju arah suara. Angin di hutan itu semakin dingin dan menusuk tulang. Inas, Inka dan Shina saling berpelukan untuk mendapatkan kehangatan. Marvel memeluk tubuhnya, sedangkan Fahri memakai jaket Marvel.


Sandi berjalan perlahan ke arah suara yang bergitu banyak, namun dia bingung dia mendengar suara kuda yang banyak.


"Apa langkah kaki itu langkah kaki kuda?" pikir Sandi. Sandi terus berjalan mendekati arah itu, untung saja gelap jadi tidak akan ada yang melihatnya.


Saat sudah mulai mendekat ke asal suara itu tiba-tiba Sandi mendengar teriakan.


"Aaaaa.."


Tapi suasana di hutan itu tiba-tiba hening, hanya terdengar suara dirinya dan suara nafasnya yang terengah, bahkan suara hewan malam dan angin pun tidak ada.


Sandi berlari mencari mereka, kesana kemari namun dia tak menemukan siapa pun.


Sedangkan suara teriakan itu berasal dari Shina karena dia melihat ular melata di atas pohon, tapi Marvel berhasil mengusirnya. Bahkan mereka tidak beranjak dari tempat itu, mereka masih di tempat yang sama.


Mereka pun tak mendengar suara teriakan Sandi dan mereka pun tak melihat Sandi yang menghampiri mereka, bahkan mereka khawatir karena Sandi tak kunjung datang. Padahal dia bilangnya cuma mau ngecek.


Padahal Sandi ada di depan mereka dan sedang memanggil-manggil nama mereka, mereka berada di tempat yang sama tapi di dimensi yang berbeda.


Ares masih bergelut dengan makhluk itu setiap dia berhasil melumpuhkannya muncul lagi makhluk lainnya. Terus saja seperti itu begitu juga pria bertopeng itu. Sampai mereka kelelahan sendiri.


Ares berusaha fokus dan berdoa dalam hati, dia memohon dan memasrahkan hidupnya pada sang pencipta. Dia menutup mata dan mulutnya merapalkan doa.


"Tidak ada yang bisa menolong kami, selainmu ya Rabb!!" Ares berteriak kencang.


"Allahu Akbar!!" teriaknya sambil mengarahkan cambuk pada mereka.


Seketika suara guntur menggelegar dan menghancurkan para makhluk yang ada di sana, bahkan rumah itu sampai bergetar, Ares dan pria bertopeng pun sampe terpental saking dahsyatnya kekuatan cambuk itu.

__ADS_1


Inas dan yang lainnya mendengar suara guntur itu, mereka mengira akan turun hujan, tapi langit malam sangat cerah dengan bertaburan bintang dan bulan sabit yang memancar.


Inka sampai ketakutan mendengar suara guntur itu. Bahkan semua makhluk yang ada disana pun mendengarnya.


Ares tersenyum akhirnya dia bisa mengeluarkan kekuatan cambuk itu, meski dia harus terkena imbasnya juga. Pria bertopeng itu membantu Ares berdiri.


"Bagus!!" ucapnya.


Ares dan pria itu masuk kedalam lagi untuk mencari Argan dan Penty, akhirnya mereka sampai di sebuah pintu besar. Mereka langsung membuka pintu itu namun tak ada siapa pun di sana kosong.


Ares mencari ke ruangan lain, namun masih tidak di temukan anaknya itu, dia hampir putus asa mencari anaknya, dia sudah mencari ke seluruh rumah itu, tapi tetep tidak ada.


"Kemana iblis itu membawa anakku?"


Tiba-tiba salah satu dari pria bertopeng menghampiri, dia menyuruh Ares dan temannya itu keluar dari rumah itu. Tapi Ares menolak karena belum menemukan anaknya.


"Ayo cepat kita harus segera keluar, atau kita akan terjebak di sini!"


"Tidak!! bagaimana dengan anak saya?" pekik Ares.


"Tidak ada waktu atau kau akan terjebak di sini!"


"Saya tidak peduli saya akan mencari anak saya!" pekik Ares lagi.


Tiba-tiba rumah itu bergetar dan bergoyang seperti gempa, kedua pria itu memaksa Ares keluar tapi Ares terus menolak karena dia ingin mencari Argan. Rumah itu bergetar semakin kencang, rupanya kekuatan cambuk itu menyebabkan rumah itu akan roboh.


"Seret dia!" pekik pria bertopeng itu pada temannya. Tapi Ares tetap menolak dan dia malah melawan pria itu dan mereka malah berkelahi. Ares tetap menolak keluar dari rumah itu karena ingin mencari Argan.


"Ikhlaskan anakmu!" ucap pria itu.


Ares menggeleng dia tetap ingin menyelamatkan anaknya. Dia terus melawan pria itu bahkan dia hampir menggunakan cambuknya untuk melawan pria itu, namun rumah itu perlahan roboh bahkan dari atas reruntuhan mulai berjatuhan. Ares panik dia mengkhawatirkan anaknya.


"Tunggu ayah nak! ayah pasti tolong kamu!" ucapnya. Saat dia akan menggunakan cambukanya seseorang memukulnya dari belakang hingga dia jatuh tersungkur. Segera kedua pria itu memapah Ares keluar dari rumah itu. Bahkan reruntuhan semakin berjatuhan menghalangi mereka keluar. Tapi mereka tak menyerah, mereka melewati reruntuhan itu agar bisa keluar, tepat mereka keluar rumah itu, rumah itu ambruk bagaikan habis terkena gempa.


Ares terkulai lemas dia tidak bisa menyelamatkan anaknya. Dia menangis dan menyesali semua kebodohannya.


"Maafin ayah nak! maafin ayah!"


"Aaaaaa... Argan!" teriaknya.


Rumah itu seketika hangus terbakar. Ares semakin terkulai lemas, karena tak berhasil menyelamatkan anaknya yang mungkin masih di dalam rumah itu.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2