Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Kerinduan


__ADS_3

Siang itu Inas berencana akan main ke rumah bu Rini, karena sudah cukup lama dia tidak main ke rumah ibu angkatnya itu. Selain itu ibunya juga terus menelpon karena merindukan cucunya.


Dia pun sudah meminta izin sama Ares akan main ke rumah bu Rini.


"Mbak Ega!!" panggilnya.


"Iya bu." sahut Mbak Ega menghampiri Inas.


"Tolong bantuin bawain ini ke mobil ya," pinta Inas sambil menyerahkan tas keperluan Argan.


Mbak Ega pun menurut, lalu mereka turun dan menuju lobby apartemen karena sopir Ares sudah menunggu untuk mengantarkan Inas.


"Mbak mungkin aku pulangnya sore, nanti kalo mbak mau pulang, pulang aja ya gak usah nungguin aku!"


"Iya bu." jawab Mbak Ega.


Tak lama mereka pun sampai dan keluar dari lift dan berjalan menuju luar lobby.


"Siang bu!" sapa resepsionis apartemen.


"Siang juga mbak!" jawab Inas sambil tersenyum.


Lalu Inas berjalan keluar sambil menggendong Argan, pak Seno langsung membukakan pintu saat Inas datang, dia langsung masuk dan duduk di kursi tengah.


Pak seno pun langsung masuk dan menancap gas. Inas masih sibuk menatap putranya yang sedang terlelap, lagi-lagi raut wajahnya menjadi sedih jika menatap putranya.


"Bunda gak mau terjadi apa-apa sama kamu nak, semoga Allah selalu melindungi kamu!" ucapnya dalam hati. Lalu dia mencium Argan yang sedang terlelap.


Inas tidak tau dia sedang diperhatikan terus dengan sosok lain, yang sedang duduk disampingnya, sosok itu tersenyum dan mengusap kepala Argan, membuat Argan menggeliat.


"Kamu tenang aja, saya akan selalu jagain anak kamu." ucap sosok itu. Lalu dia menghilang.


Tak lama kemudian mereka sampai didepan gang rumah bu Rini. Inas keluar dan pak Seno ikut keluar dan memayungi Inas dan Argan karena cuaca saat itu sangat terik.


Setelah mereka sampai ke rumah bu Rini, terlihat bu Rini menyambut Inas dan Argan, dia sangat antusias dengan kedatangan cucunya itu. Dia langsung menggendong Argan dan membawanya masuk dan bermain.


Tak lama Sakti dan Intan pun ikut keluar, menyambut Inas.


Eeh.. ada bang Sakti sama kak Intan juga!" ucap Inas.


"Iya nas," sahut Intan mereka pun cipika-cipiki.


"Ya udah masuk yuk!" ajak Intan.


"Abang gak kerja?"


"Gak dek, kakakmu itu lagi manja pengen ditemenin terus."


"Ihh biarin sih, ini kan kemauan anak kamu!" sahut Intan sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.


"Hehe, dulu aku juga kaya gitu kak, waktu hamil Argan, aku pengen deket terus sama kak Ares," ujar Inas.


"Ya udah deh aku bikinin minum dulu ya!" ucap Intan sambil beranjak.


"Gak usah kak, aku bikin sendiri aja," Inas langsung beranjak.


"Abang mau di bikinin minum?"


"Ya dek bikin kopi ya!" Inas mengangguk lalu berlalu ke dapur.


Terlihat bu Rini sedang bermain dengan Argan diruang tengah. Setiap Argan datang meski sedang tidur pasti dibangunin, karena bu Rini sangat gemas pengen bermain dengan Argan.


Tak lama kemudian Inas selesai membuat minumnya. Dia langsung kembali ke depan dan menaruh minumnya di meja.


"Lho abang kemana kak?" tanya Inas saat tak melihat Sakti diruang tamu.


"Ke kamar nas!" Inas mengangguk dan duduk bersama Intan.


Lalu Inas mengelus perut Intan yang sudah membuncit karena usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan.


"Ponakan aunty, cepat keluar ya, biar Argan ada temennya!" ucap Inas sambil mengelus perut Intan.

__ADS_1


"Iya aunty doain ya, biar aku dan mama selamat dan sehat nanti!"


"Aamiin.." balas Inas.


Tak lama sakti keluar dari kamar dan bergabung lagi, duduk sama mereka.


"Oh iya abang udah nyiapin nama buat anak abang?" sakti mengangguk.


"Siapa namanya?" Inas penasaran.


"Penty Purnama Wiraguna." jawab Sakti namun membuat Inas tertegun dan terdiam seketika wajahnya sedih.


"Abang yakin?" Sakti mengangguk.


"Kenapa harus nama dia?"


"Apa gak boleh, kalo abang ngasih nama anak abang dengan nama dia?" Seketika air mata Inas menetes kala mendengar nama itu.


Memang tidak salah Sakti memberikan nama anaknya dengan nama itu. Tapi itu membuat Inas selalu teringat akan sahabatnya yang sudah menjadi korban iblis itu.


"Abang tau, kamu pasti bakal gak suka, tapi-"


"Aku suka kok bang!" ucap Inas memotong perkataan Sakti dan berusaha tersenyum, meski hatinya sakit kala mengingat sahabatnya itu. Sebab karena dia sahabatnya harus jadi korban.


"Maaf, abang gak bermaksud buat kamu sedih." Sakti merasa bersalah, dia tau Inas pasti teringat dengan sahabatnya itu. Sebenarnya dia pun merasa berat untuk memberi nama itu, untuk anaknya. Karena itu pasti akan terus membuatnya mengingat mantan kekasihnya itu.


Tapi sebagai tanda cinta pada kekasihnya, dia ingin memberi nama itu pada anaknya dan itu juga permintaan kekasihnya yang selalu datang dalam mimpinya.


"Udah lama banget bang, aku gak ke makam Penty, aku pengen kesana, tapi Argan gak ada yang jagain!" Inas sebenarnya sangat merindukan sahabatnya itu, ingin sekali dia bercerita pada sahabatnya, menceritakan semua kehidupan barunya, terlebih sekarang ada Argan.


"Ya udah kalian ke makam aja sekarang, biar Argan ibu yang jaga!" ucap bu Rini tiba-tiba dan duduk bersama mereka.


"Nanti aku ngerepotin ibu!"


"Enggak apa-apa, biar Argan sama ibu. Ibu juga udah kangen banget sama cucu ibu ini!"


"Iya Nas, biar aku juga jagain Argan, aku kan gak mungkin ikut kalian, lagi hamil begini." sahut Intan.


"Abang sih ayo aja. Abang juga udah lama gak kesana!" jawab Sakti.


Akhirnya mereka pun bersiap untuk ziarah ke makam Penty.


"Jangan nakal ya nak! bunda pergi sebentar." ucap Inas mencium anaknya sebelum pergi.


"Aku titip Argan ya bu, kak!" bu Rini dan Intan mengangguk.


"Assalamualaikum.." ucap Inas dan Sakti.


"Waalaikumsalam.." jawab Intan dan bu Rini.


Mereka pun berangkat dan naik mobil Sakti.


"Bang apa kak Intan gak marah? abang kasih nama anak abang itu!"


"Dia gak marah, dia juga setuju, karena namanya bagus katanya, yang penting ada nama dia juga." Inas mengangguk.


"Dek!!"


"Apa?"


"Soal mimpi kamu gimana?" Sakti tau soal mimpi Inas tentang anaknya, karena Inas menceritakannya pada Sakti.


"Aku gak tau bang. Tapi aku khawatir banget, sama Argan. Aku takut mimpi itu jadi kenyataan!" Inas terus dibayangi rasa takut, akan kutukan Lakhuds pada anaknya.


"Udah gak usah takut, Lakhuds kan udah musnah, yang penting kita doain aja, semoga Argan tidak kenapa-napa." Sakti berusaha menenangkan Inas yang sudah mulai cemas dan takut.


"Tapi bang, bukankah dulu juga saat Gayatri akan meninggal dia juga mengutuk kakek Nur Jagad dan semuanya jadi kenyataan. Apa lagi sekarang yang mengutuknya iblis itu sendiri. Aku takut bang, aku gak mau anakku kenapa-napa," Sakti menghela nafas sejujurnya dia pun khawatir dengan keponakannya itu.


"Udah sekarang kamu berdoa aja, semoga kutukan itu tidak pernah terjadi dan percaya Argan akan baik-baik aja. Ayo turun sudah sampe nih!" ucap Sakti. Inas sampe tidak menyadari kalo mereka sudah sampai.


Mereka pun turun dan menghampiri makam Penty, lalu mereka mendoakan Penty, tak lupa juga mereka mendoakan semua korban Lakhuds termasuk Salsa adik Sakti. Karena korban Lakhuds sebelumnya tidak dimakamkan semestinya, karena tulang belulang mereka sudah mulai hancur dan bercampur jadi satu, jadi sangat sulit untuk memisahkan satu-satu. Jadi terpaksa mereka di kubur dalam satu lubang. Setelah selesai berdoa dan menabur bunga dimakam Penty.

__ADS_1


Mereka beranjak dan pergi meninggalkan area makam. Tapi perasaan Inas tidak enak, seketika bulu kuduknya berdiri, dia merasa ada yang memperhatikannya, tapi saat dia menoleh ke sekeliling tidak ada siapa pun.


"Ini kan dikuburan pasti banyak hantu-hantu berkeliaran." pikirnya.


"Dek ayo!! kok bengong?"


"Iya bang," Inas segera berjalan menghampiri Sakti dan masuk mobil.


Sedangkan di kuburan itu banyak sekali sosok yang terus memperhatikan Inas dari awal dia datang. Mungkin darah Inas masih menarik perhatian mereka, meski darah itu bukan lagi darah Suci, tapi bau darahnya masih bisa menarik perhatian para makhluk halus.


Sakti melajukan mobilnya, tapi Inas sudah terlelap. Lalu Sakti mengusap kepala Inas.


"Kasian kamu dek, hidup kamu tidak pernah bisa tenang, baru juga bisa lepas dari iblis itu, sekarang kamu harus menghadapi kekhawatiran dan ketakutan karena kutukan itu. Maafin abang karena gak bisa bantu kamu, abang cuma bisa doain buat kamu dan keluarga kamu!" ucapnya sambil sesekali mengelus kepala Inas.


Hari sudah mulai sore, Inas dan Sakti pun sudah sampai dirumahnya, Inas terbangun saat sakti membangunkannya. Dan terlihat mobil Ares sudah bertengger di depan gang. Inas pun langsung turun dan segera berjalan cepat, baru sebentar meninggalkan putranya, dia sudah sangat rindu. Pasalnya dia tidak pernah meninggalkan putranya keluar rumah, biasanya dia akan selalu membawanya.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." jawab penghuni rumah. Disana juga sudah ada pak Zaki dan Sandi yang sedang bermain dengan Argan.


"Kalian udah pulang?"


"Iya bu, kak Ares kesini ya bu?"


"Dia lagi dikamar mandi, sebaiknya kamu mandi dulu, kamu kan habis dari makam, gak baik." Inas mengangguk dan berlalu kebelakang. Terlihat Ares juga sudah keluar dari kamar mandi, baru selesai mandi.


"Udah pulang sayang?"


"Kamu kok mandi disini emang bawa baju ganti?" tanya Inas.


"Dimobil kan ada!" jawab Ares.


"Ya udah aku mandi dulu ya." Ares mengangguk dan berlalu ke depan dia ikut bermain dengan Argan sama Sandi dan Pak Zaki.


...***...


Setelah Inas dan Ares makan dirumah bu Rini, mereka pamit pulang. Padahal bu Rini menyuruh mereka untuk menginap. Tapi Ares tidak mau, karena ada kerjaan yang harus dikerjakan dirumah.


"Sayang!!" panggil Ares. Saat sudah di mobil.


"Iya." jawab Inas tanpa menoleh ke Ares karena sibuk menyusui Argan.


"Kenapa?" tanya Inas karena Ares tidak melanjutkan ucapannya.


"Enggak apa-apa, hari ini Argan rewel gak?" tanya Ares mengalihkan pembicaraanya karena sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan namun dia ragu.


"Gak ayah aku gak rewel, aku kan anak pintar!" ucap Inas seolah Argan yang sedang berbicara.


"Duhh pinternya anak ayah!" ucap Ares gemes sambil mengelus pipi anaknya yang cubby itu.


Inas pun ikut gemas dan mencium pipi cubby Argan. Membuat Argan berkali-kali menggelinjang karena di ganggu tidurnya.


Saat sedang asyik menciumi Argan tak sengaja Inas melihat sebuah bayangan yang melintas didepan mobil mereka.


"Sayang awas!!" pekik Inas dan Bugg..


Ares menghentikan mobilnya, karena dia juga terkejut ada suara benturan dimobilnya, tapi dia tidak melihat apa yang Inas lihat. Sepertinya dia menabrak sesuatu.


"Kamu tunggu disini ya, saya mau periksa dulu!" ucap Ares seraya keluar.


"Kamu hati-hati!" Inas masih syok, sebenarnya apa yang mereka tabrak, suara benturan itu lumayan keras, apa mereka menabrak orang?


Terlihat Ares sedang melihat ke sekeliling dan melongok kebawah mobil, namun dia mengernyitkan dahi dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Sebenarnya apa yang mereka tabrak??


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2