Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Mengamankan Inas dan Argan


__ADS_3

Malam itu Inas sedang terbaring bersama Argan di kamarnya dia sedang membacakan buku cerita untuk Argan sebelum tidur. Ares yang sedang terduduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaannya, hanya tersenyum menatap anak dan istrinya.


Tak lama Argan terlelap, Inas menghentikan ceritanya dan mengecup kening Argan. Lalu Inas melihat suaminya yang sedang bekerja, ingin menghampirinya tapi dia takut mengganggu suaminya, akhirnya dia hanya memainkan ponselnya hingga dia terlelap.


Tak lama Ares menyelesaikan pekerjaannya, dia langsung menghampiri anak dan istrinya yang sudah terlelap. Dia mencium kening Argan.


"Mimpi indah jagoan ayah!" gumamnya.


Lalu dia mengecup kening istrinya dan terbaring disamping istrinya.


Sesaat matanya tidak bisa terpejam, dia memikirkan perkataan mantan pembantunya, yang membuatnya sangat penasaran.


flashback on


*Ares POV


Aku senang anakku sudah sehat lagi dan ceria lagi, jangan sakit lagi ya nak, ayah khawatir banget sama kamu sayang.


Aku menatap putra ku yang sedang bermain robot mainannya.


"Ayah, kemana kakak iyo?" tanya anakku. Apa maksudnya temen gaibnya, emang dia tidak adakah? Lalu kemana dia?


"Emang temen Argan gak ada?" tanyaku. Argan mengangguk, aku pun tidak tau kemana perginya hantu itu, karena aku tidak bisa melihatnya.


"Ayah tau?" tanya Argan.


"Mungkin kakaknya lagi pulang dulu sayang, lagi ketemu ayah sama bundanya!" jawabku. Semoga dia tidak menanyakannya lagi.


"Ohh kakak lagi pulang!" ucapnya.


"Iya sayang!" balasku sambil mengusap kepalanya


"Entar kita main ke rumah kakak ya ayah!" ucap Argan sambil menatapku, aku hanya mengangguk dan tersenyum untuk membalasnya.


Tak lama terdengar suara ponsel berdering, ternyata punya bunda. Aku mengambilnya di meja, siapa yang menelpon? Ternyata nomor baru.


"Bun ada yang nelpon!!" teriakku karena Inas sedang berada di dapur.


"Angkat aja yah.." sahutnya berteriak juga. Aku pun mengangkatnya.


📞 "Hallo Assalamualaikum.." sapaku saat mengangkat panggilannya.


📞 "Waalaikumsalam, maaf pak ini saya Ega!" jawab suara disebrang sana. Ternyata mbak Ega.


📞 "Ohh mbak Ega, ada apa mbak?"


📞 "Ini pak saya mau minta maaf, sodara saya gak jadi kerja dirumah bapak, karena tiba-tiba dia masuk rumah sakit!!" Aku mengernyit mendengar ucapan mbak Ega, maksudnya apa? bukannya sodaranya sudah ada disini.


📞 "Maksudnya mbak, gimana?"


📞"Sodara saya gak bisa kesana untuk kerja pak, karena tiba-tiba penyakitnya kambuh jadi dia harus dibawa ke rumah sakit, maaf juga karena saya baru ngabarin, soalnya hape saya hilang ada yang nyopet, jadi saya baru bisa ngabarin!" ujarnya.


📞"Loh gak mungkin mbak!" ucapku tak percaya.


📞"Maksud bapak gak mungkin gimana?" tanya mbak Ega bingung. Aku menutup telponnya dan tidak mempedulikan mbak Ega, yang terus berbicara.


"Gak mungkin dia pasti orang iseng, tapi itu suaranya mbak Ega!" gumamku.


Lalu kalo sodaranya mbak Ega gak kesini, terus bi Wati itu siapa? kata Inas kan dia sodaranya mbak Ega.


Aku menelan ludah mendengar penuturan mbak Ega. Jangan-jangan bi Wati yang udah membuat anakku sakit dan yang menggangguku malam itu, tapi siapa dia? Manusia atau setan?


Jika orang jahat aku harus segera menelpon polisi, tapi gimana jika dia setan yang menginginkan darah Argan, Astaghfirullah..


Aku tersentak dengan pikiranku sendiri, jangan-jangan benar dia yang sudah membuat Argan sakit, sampai Argan harus kehilangan banyak darah.


Apa benar? Kalo iya ini sangat berbahaya.


*Ares POV end


flashback off


Ares menatap langit-langit kamarnya, dia terbaring dengan kedua telapak tangan yang ditaruh dibawah kepalanya. Ares yakin kalo bi Wati yang sudah membuat anaknya sakit.


"Saya harus melakukan sesuatu, saya gak mau keluarga saya kenapa-napa!" gumamnya dalam hati.


Inas terbangun dan melihat suaminya yang masih membuka matanya dan melamun, lalu dia memeluk suaminya hingga membuat Ares terkesiap, lalu Ares memiringkan tubuhnya dan membalas pelukan istrinya serta menatap istrinya dan tersenyum lembut.


"Ayah kok belum tidur? Ayah lagi mikirin apa?" tanya Inas.


"Gak apa-apa sayang!" jawab Ares sambil mengusap pipi istrinya.

__ADS_1


"Ayah jangan bohong, ayah ada masalah?" tanya Inas sambil membalas belaian pipi Ares.


"Cerita sama bunda yah, mungkin aja bunda bisa bantu." lanjut Inas.


"Gak sayang, cuma masalah kerjaan, ayah bisa atasi kok!" jawab Ares.


"Beneran?" Ares mengangguk. Lalu Ares mencium bibir Inas dan Inas pun membalas ciuman Ares, beberapa saat mereka berciuman, sampai Ares membuka kancing piyama Inas, tapi Inas menahannya, membuat Ares heran dan melepaskan ciumannya.


"Kenapa sayang?" tanya Ares bingung.


"Jangan sekarang yah, ada Argan nanti kebangun, kasian!!" jawab Inas.


"Tapi ayah kangen sama bunda, ayah kangen banget sayang!!" ucap Ares sambil mengeratkan pelukannya.


"Iya, bunda juga kangen banget sama ayah." ucap Inas. Lalu Ares melanjutkan ciumannya, Inas membalasnya penuh cinta, mereka berciuman cukup lama, menuntaskan hasrat yang tertunda lagi.


Sebenarnya Ares pengen pindah ke kamar sebelah, untuk menuntaskan hasrat yang sudah tidak bisa ditahan, tapi dia juga tidak mau meninggalkan Argan sendirian, jadi terpaksa dia harus menahannya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa lagi dengan anaknya.


Akhirnya dia hanya melampiaskan hasratnya dengan ciuman saja. Lalu Inas melepaskan pagutan bibir mereka untuk mendapatkan udara agar bisa bernafas.


"Sabar ya sayang." ucap Inas sambil membelai pipi Ares. Ares mengangguk dan tersenyum dan juga membelai pipi Inas. Lalu Ares mengecup kening Inas.


"Saya sangat mencintaimu!!" ucap Ares. Membuat Inas tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu sampai kapanpun akan selalu seperti itu!" balas Inas. Lalu Inas mencium bibir Ares lagi untuk beberapa saat.


Lalu Inas merebahkan kepalanya didada Ares sambil memeluknya dan Ares membelai kepalanya. Tak lama mereka pun terlelap.


...***...


Pagi itu Sakti yang sedang membantu memakaikan baju pada anaknya tiba-tiba ponselnya berdering.


"Sebentar ya sayang papa angkat telpon dulu!" ucap Sakti.


"Iya pah!" balas Penty.


📞"Hallo Assalamualaikum, ada apa res?"


📞"Waalikumsalam, Sak Inas sama Argan saya titip dirumah kamu ya!" jawab Ares.


📞"Emang ada apa, ada masalah lagi?"


📞"Oke biar Penty ada temennya juga."


📞"Iya makasih sak mungkin nanti siang kami kesana, Assalamualaikum.."


📞"Iya sama-sama, Waalaikumsalam.."


Sakti pun menutup telponnya, lalu dia kembali memakaikan baju Penty yang bersiap mau sekolah.


"Udah siap, sekarang kita sarapan!" ucap Sakti.


"Oke pah." ucap Penty.


Lalu mereka menghampiri Intan yang sedang menyiapkan sarapan.


"Pagi sayang, udah siap aja nih!" ucap Intan.


"Pagi juga mah, iya dong kan ada papa!" ucap Sakti. Intan hanya tersenyum. Intan menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya.


"Ohh iya mah, hari ini ada tugas dirumah sakit?" tanya Sakti.


"Ada pah, cuma periksa pasien aja!" jawab Intan. Mereka pun sarapan bersama, Intan menyuapi Penty.


"Sayang!" panggil Sakti.


"Iya pah." balas Intan.


"Nanti Inas dan Argan mau nginep disini." ucap Sakti.


"Ohh beneran pah, wahh.. syukur deh aku seneng!"


"Bunda sama agan mau kesini mah?" tanya Penty yang mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.


"Iya sayang, mau nginep disini." jawab Intan.


"Yeee.." Penty terlihat girang mendengar Argan mau nginap dirumahnya.


"Emang kenapa mas, kok Inas mau nginep disini?" tanya Intan. Sakti hanya mengendikan bahunya.


"Kapan mereka kesini?" tanya Intan lagi.

__ADS_1


"Mungkin siang mah." jawab Sakti.


"Ya udah nanti siang mama pulang!" lanjut Intan. Lalu mereka melanjutkan sarapannya dan sesekali bercanda dengan Penty.


...***...


Sedangkan dirumah Ares, dia sedang membereskan pakaian yang akan di bawa Inas menginap dirumah Sakti.


"Ayah belum jawab pertanyaan bunda, kenapa bunda dan Argan harus nginep dirumah bang Sakti?" tanya Inas menghampiri Ares.


"Tadinya mau dirumah ibu, tapi kalo ke rumah ibu jauh, jadi ke rumah sakti aja yang deket!"


"Iihh ayah bunda nanya apa, jawabnya apa." ucap Inas sebal.


Ares pun menghentikan aktivitasnya dan duduk di tepi ranjang, lalu dia menarik Inas, tangannya memegang pinggang Inas.


"Nanti ayah ceritain, tapi gak sekarang, bunda percaya aja sama ayah dan turuti perkataan ayah, oke sayang?" ucap Ares sambil menarik Inas hingga kepelukannya.


"Iya sayang, bunda percaya sama kamu!" ucap Inas.


"Makasih ya sayang!" ucap Ares. Inas mengangguk dan tersenyum.


"Bunda bantuin ya!"


"Boleh, Argan dimana sayang?"


"Lagi main didepan!" jawab Inas.


"Sama siapa?"


"Bi Wati!!"


Deg!!


Seketika jantung Ares berhenti berdetak lalu berdetak lagi dengan kencang.


"Ya udah kalo gitu ayah temenin Argan dulu!" ucap Ares.


"Iya sayang, biar bunda yang beresin!" balas Inas.


Ares pun beranjak dan ke depan, untung saja Argan sedang sendiri dan tidak bersama bi Wati. Ares bergegas membawa Argan dan mainannya ke kamar.


"Loh kok malah di bawa ke kamar sih yah?" tanya Inas saat Ares membawa Argan ke kamar.


"Pengen main di kamar aja bun, ayah pengen bertiga aja di kamar sama kalian!" jawab Ares sambil menutup pintu kamar.


"Argan tidak boleh berdekatan dengan bi Wati itu sangat berbahaya, saya harus selidiki bi wati, yang terpenting sekarang saya harus mengamankan anak dan istriku dulu!" ucapnya dalam hati.


"Yah emang berapa hari kita menginap? Kok bawa bajunya banyak!" tanya Inas.


"Beberapa hari bun, soalnya ayah ada kerjaan di Bandung." jawab Ares.


"Ohh jadi ayah nyuruh bunda sama Argan nginep, karena ayah mau ninggalin kita lagi!" ucap Inas sedih.


"Gak gitu sayang, ayah cuma gak mau kamu dan Argan dirumah berdua aja, kalo dirumah Sakti kan, ada Intan sama Penty yang nemenin kalian!" ujar Ares.


Tapi Inas menekuk wajahnya kesal karena akan ditinggal lagi sama suaminya. Sepertinya dia masih trauma dengan kejadian kemarin.


"Ayah kan udah janji gak bakal ninggalin kita lagi!"


"Sayang ayah kerja buat kalian, buat masa depan kalian, ayah mohon bunda jangan marah ya!" ucap Ares sambil mengelus kepala Inas.


"Iya yah, maaf bunda cuma takut kaya kemarin lagi!" ucap Inas.


"Makanya ayah titipin kalian dirumah Sakti, biar ada yang nemenin dan jagain kalian!"


Inas mengangguk mengerti. "Lalu bi Wati gimana? Apa dia ikut?" tanya Inas.


"Bi Wati gak usah ikut, biar dia jaga rumah, biar gak kosong." jawab Ares.


"Tapi kasian yah dia sendirian!"


"Gak apa-apa biar nanti ayah tambahin bonus buat dia!" Inas pun mengangguk dan menurut apa kata suaminya.


Akhirnya mereka pun bermain bersama.


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2