
Sudah tiga hari Faris terbaring dirumah Sakit, tapi dia belum juga sadarkan diri. Sakti sudah bolak-balik rumah sakit agar dia bisa mendapatkan informasi tentang Ares. Dia sudah lelah terus berbohong pada Inas dan bingung bagaimana mencegah Inas yang terus minta menyusul Ares ke Bandung.
Sakti berdiri mematung disamping Faris yang sedang terbaring dengan mata yang terus terpejam.
"Kapan kamu sadar? Saya harus menanyakan keberadaan Ares!" gumam Sakti.
Tiba-tiba seorang pemuda berdiri dibelakang Sakti.
"Dia tidak akan bangun, karena jiwanya sedang dijerat oleh setan, termasuk saudaramu!!" ucap Pemuda itu.
Sakti mendengar suara itu namun dia tidak menemukan siapa pun, di menoleh ke sekeliling mencari siapa yang berbicara kepadanya.
"Siapa kamu?" Sakti terus menilik ke sekeliling tapi tak ditemuinya siapa pun diruangan itu kecuali dirinya dan Faris yang sedang terbaring.
"Cari kyai Hasan Abdullah, semoga dia bisa melepaskan jiwa saudaramu!" ucap Pemuda itu lagi. Tapi Sakti masih tidak menemukan keberadaan sosok yang berbicara padanya.
"Kyai Hasan Abdulllah!" gumam Sakti.
"Sepertinya saya pernah dengar nama itu?" pikirnya. Lalu Sakti pun bergegas pergi dari rumah Sakit.
Pemuda itu tersenyum. "Semoga kamu secepatnya menemukan kyai Hasan, karena waktunya tidak banyak atau dia tidak akan kembali lagi ke raganya!!" ucap Pemuda itu. Lalu dia menghilang.
...***...
Sakti mengingat kyai Hasan yang dimaksud suara yang berbicara dirumah Sakit. Tapi berarti dia harus berbicara jujur pada Inas. Apa dia akan jujur pada Inas?
Sakti sudah sampai dirumahnya, wajahnya terlihat lelah dan lesu, belum lagi ditambah masalah Ares, menambah beban pikirannya, tapi dia harus menemukan Ares, karena dia tidak mau kalo Inas akan terluka.
Sakti menatap Inas yang sedang bermain dengan Argan, tapi terlihat raut wajahnya tidak ada semangat.
"Apa saya harus mengatakannya? Tapi kalo tidak, saya tidak bisa menemukan Ares!" ucapnya dalam hati.
Sakti meragu untuk menghampiri Inas, dia membayangkan bagaimana paniknya Inas, jika tau suaminya tidak ada.
Sakti hanya berdiri mematung menatap Inas, membuat Inas bingung saat melihat Sakti terdiam mematung.
"Bang!" panggil Inas. Sakti terkesiap dengan panggilan Inas. Entah kenapa perasaannya berkecamuk, harus jujur atau tidak. Hati kecilnya dia tidak mau bicara tapi disisi lain dia harus bicara, agar bisa menemukan Ares.
"Abang kenapa?" tanya Inas sambil berdiri dihadapan Sakti.
"Abang mau bicara sama kamu!" Inas mengangguk sambil kembali duduk bersama Argan.
"Bicara aja bang." ucap Inas.
"Nda ayah kapan pulang?" tanya Argan tiba-tiba membuat Sakti tercekat, dan membuat Inas semakin sedih, karena dia belum mendapatkan kabar dari suaminya.
Sakti yang mendengar pertanyaan Argan, semakin gak tega dia terus menanyakan ayahnya.
"Nda semalam agan liat ayah diiket dipohon besar!" ucap Argan sambil merentangkan kedua tangannya menggambarkan pohon itu.
"Adek cuma mimpi!" ucap Inas. Argan menggeleng.
"Gak nda ayah di iket, terus banyak olang jelek disana!" ucap Argan lagi.
Inas hanya menatap sedih anaknya, Inas berpikir mungkin itu hanya mimpi buruk Argan karena sangat merindukan ayahnya. Karena dirinya pun sering bermimpi tentang suaminya.
Sakti yang mendengar itu semakin tegang dan tercekat, dia yakin itu bukan hanya mimpi semata, dia yakin Ares sedang dalam bahaya.
"Dek abang ingin bicara empat mata!" ucap Sakti dengan wajah yang sangat serius. Inas yang melihat wajah serius sakti menjadi tegang, ditambah perasaannya semakin tidak enak.
__ADS_1
Sakti menitipkan Argan dan Penty pada bibi, karena Inas akan berbicara empat mata dengan Sakti diruang kerjanya.
Inas menghampiri Sakti yang sudah dulu datang, lalu Inas duduk didepan Sakti dengan tubuh yang menegang, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan itu berhubungan dengan Ares suaminya.
"Ada apa bang?" tanya Inas hati-hati. Meski perasaannya berkecamuk dan berharap tidak ada kabar buruk dengan suaminya. Bahkan dia berharap ini bukan masalah suaminya.
"Kamu tau alamat kyai Hasan Abdullah?" tanya Sakti Inas mengernyit bingung. Kenapa Sakti menanyakan kyai Hasan yang dulu pernah menolong anaknya.
"Kenapa abang nanyain kyai Hasan?"
Sakti menunduk, dia ragu tapi dia harus mengatakannya. Dia harus memilah perkataannya agar tidak membuat Inas syok dan panik.
"Ini-" ucapan Sakti terjeda. Inas manunggu kelanjutan ucapan Sakti dengan penasaran.
"Ini ada hubungannya dengan Ares!" Inas mengernyit.
"Maksud abang?" sebenarnya dada Inas bergemuruh tatkala Sakti menyebut nama suaminya, dia yakin Sakti tau sesuatu mengenai suaminya. Apa lagi semenjak kepergian suaminya, hati Inas selalu gelisah dan tidak tenang, belum lagi dia selalu mimpi buruk tentang suaminya.
Sakti menghela nafas dia menatap Inas wanita yang pernah dicintainya, mungkin rasa itu masih ada meski hanya sedikit, dia tidak akan pernah tega menyakiti wanita yang pernah ada di dalam hatinya, di tambah wanita itu adalah cinta pertamanya.
"Ada apa sebenarnya bang? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kak Ares?" mata Inas mulai berembun, hatinya merasa tidak tenang, dia belum siap mendapat kabar buruk dari pria yang sangat di cintainya. Tapi dia juga penasaran apa yang terjadi dengan suaminya.
Tiba-tiba saja memori sebelum Ares pergi, terlintas di otak Inas, saat dirinya mencium Ares malam itu, mereka harus menahan hasratnya demi anak mereka. Lalu malam saat dirumah Sakti, Ares terus bermanja-manja padanya, seolah tak ingin berpisah.
*flasback on
"Sayang besok berangkat jam berapa?" tanya Inas saat itu Argan sudah terlelap.
"Pagi sayang!" jawab Ares sambil memeluk Inas dari belakang dagunya dia senderkan di pundak Inas.
"Kenapa pagi sekali?" tanya Inas sedih.
Cup
Kecupan hangat mendarat di bibir Ares. "Jangan lama-lama ya, nanti aku rindu sama kamu!" ucap Inas. Ares tersenyum dan menatap wajah istrinya.
"Kamu cantik sekali, saya beruntung memiliki kamu, saya sangat mencintai kamu istriku!" ucap Ares membuat Inas tersipu meski ucapan itu sering dilontarkan oleh Ares.
Lalu Inas membalikkan tubuhnya dan menghadap Ares, Ares masih memeluk tubuh Inas, tangannya memegang pinggang Inas.
"Aku juga beruntung memiliki kamu, kamu adalah pria tampan yang paling aku cintai dan satu-satunya yang aku cinta, aku sangat-sangat mencintai kamu suamiku!" ujar Inas sambil membelai pipi Ares.
Ares tersenyum lembut menatap istrinya, lalu dia mengecup lembut bibir istrinya, entah kenapa ada yang mengganjal di hati Ares, dia merasa tidak akan bertemu anak dan istrinya lagi. Lalu Ares membisikkan sesuatu di telinga Inas.
"Sayang bolehkan malam ini?" tanyanya. Inas yang mengerti hanya mengangguk, Ares tersenyum lalu menggendong istrinya ke sofa, karena di ranjang ada Argan.
Ares langsung menciumi istrinya dan akhirnya mereka menuntaskan hasrat mereka yang sempat tertunda.
Setelah selesai mereka menghampiri anaknya di ranjang dan tidur menyusul anaknya.
*flashback end
Inas masih termenung dengan memori bersama suaminya, sampai dia tak menghiraukan panggilan Sakti.
Nafas Sakti terasa berat, bagaimana caranya menyampaikan tentang Ares pada Inas. Dia tidak tega, tapi dia harus mengatakannya, karena cuma Inas yang tau tentang kyai Hasan.
Berkali-kali Sakti menghembuskan nafas, membuat Inas semakin penasaran dan khawatir.
"Ada apa bang? Tolong abang jangan rahasiain sesuatu dari aku, apa lagi tentang kak Ares!" ucap Inas.
__ADS_1
Sakti menatap lirih pada Inas. Dengan berat hati Sakti menceritakan semuanya pada Inas, semua yang dia dengar dari Ares dan menceritakan dirinya saat menyusul Ares ke rumah, hingga bertemu Faris dan membawanya ke rumah sakit, serta kejadian yang baru dia alami, yang harus mencari kyai Hasan.
Air mata Inas mengalir deras kala mendengar semua cerita Sakti, tapi dia berusaha menampiknya bahwa semua itu tidak benar.
"Abang bohong kan, abang lagi becandakan?" Inas berusaha tidak mempercayai cerita Sakti.
Sakti hanya menatap lirih wanita yang pernah hadir dihatinya.
"Jawab bang, abang bohongkan?" pekik Inas. Sakti menghampiri Inas dan menenangkannya.
"Kamu harus sabar dek, ayo kita selamatin Ares!" ucap Sakti sambil memeluk Inas.
"Kenapa abang baru ngomong sekarang? Kenapa abang baru cerita sekarang? Bagaimana kalo kak Ares ketakutan disana!" isak Inas, sambil memukul-mukul dada Sakti.
"Maafin abang, tapi ini permintaan Ares!" sahut Sakti.
"Abang jahat, aku gak mau kehilangan kak Ares!" ucap Inas, suaranya mulai melemah serta pukulan didada Sakti pun melemah, tak lama Inas tak sadarkan diri.
Sakti panik dan berusaha menyadarkan Inas, tapi Inas tidak terbangun. Akhirnya Sakti menggendong Inas dan membawanya ke kamar. Argan yang melihat bundanya di gendong, menghampirinya.
"Papa Sakti, nda kenapa?" tanya Argan bingung.
"Gak apa-apa sayang, nda lagi bobo!" jawab Sakti.
Argan menatap bundanya lekat. "Nda pengen ketemu ayah ya?" tanyanya sambil naik ke atas ranjang dan membelai pipi Inas.
"Nda bobo, biar bisa ketemu ayah?" tanyanya masih dengan mengelus pipi Inas.
Sakti merasa terenyuh, dengan perkataan Argan, membuatnya merasa bersalah, andai saja dia tidak membiarkan Ares menyelesaikan masalahnya sendirian.
"Agan juga mau bobo, biar bisa ketemu ayah!" ucap Argan sambil terbaring di samping bundanya dan memeluk bundanya.
"Bodoh kenapa saya biarkan dia pergi sendiri, sekarang yang menderita Inas dan Argan, saya gak tega melihat mereka seperti itu!" gumamnya dalam hati.
Tangannya mengelus pipi Inas, entah kenapa perasaan yang dulu pernah ada tiba-tiba muncul dan membuat Sakti tersentak.
Sakti menggelengkan kepalanya. "Tidak.. tidak apa yang saya lakukan?" akhirnya Sakti membiarkan Inas terlelap dalam ketidak sadarannya dan menyelimuti Inas dan Argan.
Sakti beranjak dan berlalu meninggalkan kedua orang yang disayanginya. Sebelum menutup pintu dia menoleh.
"Abang janji akan bawa Ares kembali!" gumamnya. Lalu dia menutup pintu.
Sedangkan Braga dan Tio hanya menatap sendu kepada dua tuannya itu.
"Om kenapa ayahnya Argan gak dibawa?" tanya Tio.
"Saya tidak bisa melakukannya sendiri, harus ada bantuan manusia, agar bisa mengembalikan jiwa ayahnya Argan ke raganya, dan itu pun hanya manusia yang mengerti hal gaib, karena Nyai Kelana siluman yang kuat!" jawab Braga namun jawaban Braga malah membingungkan Tio, dia tidak paham dengan penjelasan Braga.
"Om ngomong apa sih aku gak ngerti?" celetuk Tio membuat Braga kesal.
"Ck..dasar bocah, kalo gitu ngapain saya jelasin?" geram Braga, Tio hanya menyengir.
Terlihat Argan belum terlelap, dia membuka matanya kembali.
"Nda agan gak bisa bobo, agan takut liat ayah di iket lagi sama orang jelek itu!" ucap Argan sambil memeluk erat bundanya.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....