
Malam itu terlihat seorang pemuda yang sedang tergeletak dipinggir jalan. Lalu seorang pria menghampirinya, dia menatap pemuda itu untuk sesaat lalu tersenyum. Pria itu membopong tubuh pemuda itu dan membawanya masuk kedalam mobil. Selama satu jam perjalanan mereka sampai di sebuah rumah mewah yang berada ditengah hutan.
Pria itu membawa pemuda itu dan menaruhnya dikamar. Tak lama pemuda itu tersadar dan dia langsung merintih dan mengerang kesakitan, merasakan panas terbakar ditubuhnya, belum lagi rasa haus dan perih ditenggorokan membuatnya tak bisa berteriak hanya bisa meringis dan menggelepar.
Tak lama datang seorang pria tampan menghampiri pemuda itu.
"To-tolong.. ha-haus.." rintih pemuda itu dengan suara yang tercekat karena tenggorokan yang teramat sangat perih dan sakit. Namun dia sudah merasa lebih tenang setelah tadi dia merasa kepanasan dan menggelepar bak ayam baru dipotong saat menatap pria itu.
Pria itu tersenyum dan mengangguk, lalu dia memberikan sebuah cawan dan memberikannya pada pemuda itu dia langsung menenggak isi cawan itu. Seketika tenggorokan pemuda itu merasa sangat segar dan sejuk, rasa panas itu pun hilang seketika. Wajahnya yang pucat pun seketika menjadi segar dan menjadi berseri. Tenaganya pun menjadi pulih dan segar.
Dia merasa sangat senang karena ada yang menolongnya.
"Terima kasih, karena om sudah menolong saya!" ucap pemuda itu.
Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu dia mengelus kepala pemuda itu.
"Biar asisten saya yang mengantarmu pulang." ucap pria itu.
Seketika pemuda itu tersadar bahwa dia sedang tidak berada dikamarnya melainkan di kamar orang lain. Dia menilik sekeliling kamar itu.
Dia mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, terima kasih!" ucap pemuda itu. Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum.
Lalu seorang pria masuk dan memberi hormat pada pria tampan yang sedang duduk didekat pemuda itu.
"Antarkan dia pulang!"
"Baik tuan!" ucap pria itu sambil memberi hormat kembali.
Lalu pria itu mengajak pemuda itu pulang, pemuda itu pun mengikuti pria itu dia menilik kesekeliling rumah mewah itu, terlihat banyak orang dengan pakaian yang sama, pemuda itu mengernyit bingung.
"Seperti pernah melihat mereka!" pikirnya.
Lalu mereka masuk mobil dan meninggalkan rumah mewah yang ada ditengah hutan itu.
Pemuda itu sempat bingung karena dia berada ditengah hutan karena seingat dia. Dia sedang berada di kamarnya sedang tertidur lalu dia terbangun dan tiba-tiba tubuhnya terasa panas dan serasa terbakar ditambah tenggorokannya terasa kering dan panas. Belum lagi orang-orang yang ada disana, sepertinya pemuda itu mengenal mereka namun dia tidak ingat.
Pemuda itu ingin bertanya namun entah kenapa dia tidak berani karena pria yang sedang mengemudikan mobil itu bersikap dingin dan datar bahkan malah terlihat menyeramkan dengan sikapnya itu. Berbeda dengan pria yang ada dirumah mewah itu yang lebih ramah dan selalu tersenyum, bahkan dia sudah menolongnya dari siksaan yang menimpa dirinya.
"Ma-" belum sempat pemuda itu bertanya pria itu sudah menatap tajam kearahnya, sehingga membuat pemuda itu terdiam dan tertunduk. Dan semakin tidak berani untuk bertanya.
Tak lama mereka sampai dirumah pemuda itu. Sebelum pemuda itu keluar dari mobilnya pria itu berkata.
__ADS_1
"Jangan bicara apa pun, tentang apa yang terjadi dan yang kamu lihat!" ucapnya dengan suara tegas dan seperti mengancam. Pemuda itu hanya mengangguk lalu keluar dari mobil itu.
Mobil itu pun melaju meninggalkan pemuda itu, lalu tiba-tiba pemuda itu merasa pusing dan kepalanya terasa berat. Dia masuk ke rumahnya yang tidak terkunci saat dia baru masuk kerumahnya dia tergeletak tidak sadarkan diri lagi.
...***...
Pagi itu seorang gadis sedang terbaring lemah di kamarnya, wajahnya terlihat pucat pasi, tenaganya pun sangat lemah. Lalu seorang dokter sedang memeriksanya dan jarum infus terpasang dilengannya.
Dan seorang pria menatap sendu ke arah putrinya yang sedang terbaring lemah, terlihat matanya sangat bengkak dan sembab, karena terlalu banyak menangis.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Dia sangat lemah pak Rijal, tapi saya sudah memberinya obat penenang dan infus sehingga bisa memulihkan tenaganya, dia hanya perlu banyak istirahat untuk memulihkan tenaganya." jawab dokter.
"Makasih dok!" Lalu pria yang bernama Rijal itu mengantar dokter hingga depan rumah.
Lalu dia kembali ke kamar putrinya setelah mengantar dokter dan duduk disampingnya sambil meneteskan air mata.
"Papa janji akan segera mencari obat buat kamu nak! papa akan terus berusaha, kamu harus tetap kuat ya sayang. Papa gak mau kehilangan kamu Shina!" ucapnya sambil mengelus kepala putrinya.
...***...
"Elo mau ngasih pelajaran apa anak itu jo?" tanya anak yang bernama Ivan.
"Pelajaran yang membuat dia bertekuk lutut sama kita dan tidak songong lagi sama kita!" jawab anak yang bernama jo, sambil sesekali menghisap rokoknya.
Sedangkan yang lainnya hanya mengangguk-ngangguk dan tertawa.
"Entar pulang sekolah dia pasti dihalte nunggu angkot, gue suka liat disana. Gimana kalo nanti kita seret dia dan kita bawa dia ke gudang kosong dekat kebun singkong, kita kasih pelajaran dia disana!" ucap anak yang bernama Andi.
Mereka mengangguk lagi tanda setuju. Anak yang bernama jo hanya tersenyum Smirk.
"Liat aja apa dia masih bisa songong, setelah kita kasih pelajaran!" ucapnya. Lalu di balas dengan tertawaan mereka.
Tak lama terdengar bel masuk, mereka pun membubarkan diri.
Saat pulang sekolah mereka sudah sepakat akan menunggu Argan dihalte. Tak lama mereka menunggu datanglah seseorang yang di tunggu mereka.
Argan berjalan gontai menuju halte, dengan raut wajah yang nampak ambigu. Lalu dia duduk dihalte sambil menundukan kepalanya.
Saat Jo menginstruksi kepada teman-temannya untuk menghampiri Argan tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat didepan Argan. Mereka pun menghentikan langkahnya. Lalu keluarlah beberapa orang dari mobil itu dengan memakai jas hitam dan juga kacamata hitam.
__ADS_1
Jo dan yang lainnya saling berpandangan saat melihat mereka.
"Mereka siapa Jo?" tanya Ivan. Jo justru malah menoyor kepala Ivan.
"Be*o ya mana gue tau, emang gue bapaknya!" jawab Jo kesal.
Lalu Argan yang tertunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya. Saat dia menadahkan kepalanya tiba-tiba salah satu dari mereka membekap mulut Argan hingga Argan tidak sadarkan diri lalu mereka membawa Argan kemobil mereka.
kebetulan jalanan itu sepi, jadi tidak ada yang tau Argan diculik kecuali, gerombolan anak nakal itu. Jo dan yang lainnya terkejut saat melihat Argan diculik oleh mereka.
"Wahh Jo, tuh bocah diculik!" ucap Ivan. Lagi-lagi Jo menoyor kepala Ivan dan membuat Ivan kesal.
"Gue juga liat kamp*et gak usah dibilangin!" Akhirnya mereka pun keluar dari persembunyiannya.
"Siapa mereka? kenapa mereka menculik si Argan?" batin Jo.
Tapi mereka pun tak mempedulikannya, meski pun Jo kesal karena tidak bisa mengerjai Argan. Tapi mau gimana lagi Argannya pun malah diculik lalu mereka kembali nongkrong dibasecampe mereka.
...***...
Argan terbangun dia mengerjapkan matanya berkali-kali, agar bisa melihat dengan sempurna. Saat dia sudah bisa membuka mata dengan sempurna, dia melihat seseorang yang sedang duduk dihadapannya, seorang pria tampan sedang tersenyum padanya. Argan terduduk disofa sebrang pria itu duduk.
"Hai boy, kau sudah bangun!" ucap pria itu tersenyum.
Argan terlihat bingung, dia menilik kesekeliling ternyata dia sedang berada disebuah rumah mewah dan banyak sekali orang dengan pakaian yang sama berjas hitam, celana hitam dan juga memakai dasi hitam. Argan memutar otak karena dia merasa pernah melihat mereka, namun dia tidak mengingatnya.
"Dimana ini?"
"Di rumahku keponakanku!" jawab pria itu. Dan membuat Argan terbelalak kaget.
"Ke-keponakan?" tanya Argan tak percaya, pria itu hanya tersenyum. Argan semakin terlihat bingung dia menggeleng-gelengkan kepalanya, karena terasa pusing.
Tak lama datang seseorang yang membuat Argan lebih terbelalak kaget lagi. Matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga.
"pak Rendi!!"
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1