Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Keputusan Bijak


__ADS_3

Argan sudah memutuskan untuk mengubur perasaannya dan fokus pada Sekolah dan belajar. Dia tidak akan memilih siapa pun, dia menyerahkan semuanya pada takdir, kemana takdir itu akan menuntunnya, kepada siapa takdir itu akan membawanya pada Shina atau Penty, atau mungkin jodohnya orang lain bukan di antara kedua gadis itu.


Argan sudah menceritakan keputusan itu pada bundanya. Inas bangga anaknya bisa mengambil keputusan yang bijak. Dia mendukung segala keputusan anaknya.


Inas juga memberi penjelasan pada Penty dan meminta maaf atas sikap Argan yang udah menyakitinya. Penty hanya membalas dengan senyuman. Seperti Argan, Penty pun sama dia tidak ingin memikirkan tentang cinta dulu dia ingin fokus belajar dan menggapai cita-citanya.


Cukup kejadian ini menjadi pelajaran untuknya. Dia membiarkan kehidupannya mengalir seperti air. Dia akan mengikuti arusnya dan akan bermuara pada siapa dia akan menerimanya.


Hari-hari mereka lewati mereka tak banyak bicara satu sama lain, mereka menjaga agar perasaan mereka tidak terus berkembang.


Hari ini Sandi sudah mendapatkan rumah barunya di Bandung dan rumahnya juga tidak terlalu jauh dari rumah Ares, hanya sekitar seratus meter dari rumah Ares.


Sandi dan Penty pindah ke rumah barunya di bantu Ares dan keluarga termasuk Argan. Semenjak mengambil keputusan itu Argan dan Penty jarang bicara bahkan hampir tak pernah.


Mereka malah seperti orang asing satu sama lain.


Mungkin mereka sudah melupakan perasaan mereka atau mungkin mereka masih menyimpannya, cukup mereka sendiri yang tau.


Sedangkan Shina dia masih bersikap seperti biasa dan Shina pun tak lagi memikirkan perasaannya pada Argan.


Akhirnya mereka memilih menyerahkan semuanya pada takdir, kemana pun takdir akan membawa, mereka akan mengikutinya.


Hari demi hari bulan demi bulan dan berganti tahun. Mereka menjalani kehidupannya, setiap malam jumat kliwon Argan mulai tidak bisa mengendalikan diri. Dia tidak bisa menahan rasa dahaganya. Otomatis korban berjatuhan lagi.


Ares dan Inas kelimpungan menghadapi Argan yang bahkan sekarang bukan hanya malam jumat kliwon saja dia menginginkan darah. Ada malam-malam tertentu Argan merasakan dahaga.


Inas dan Ares berusaha melindungi anaknya agar tidak tertangkap polisi atau para warga. Karena Argan pernah hampir kepergok oleh warga saat dia akan menghisap darah.


"Ayah apa yang harus kita lakukan? apa kita harus membiarkan anak kita seperti ini?" Inas sudah merasa lelah menghadapi Argan yang tak bisa terkendali, hampir saja adiknya jadi korban saat Ares menahan Argan untuk meminum darah.


"Kita harus segera cari pemilik darah suci itu bun!"


"Tapi siapa yah? dan cari kemana? apa mungkin Shina?"


"Entahlah bun ayah juga gak tau, sudah lama ayah gak pernah dapat petunjuk dari kakek!"


"Oh iya bun, kemarin Fahri telpon dia pengen makan malam bersama keluarga kita dan dia juga akan ajak keluarganya!" ucap Ares mengalihkan pembicaraan agar Inas tidak terus memikirkan tentang Argan.


"Udah lama gak denger kabar dia yah!"


"Iya katanya beberapa bulan terakhir ini dia sibuk dengan kerjaan dan sering bolak balik keluar kota, jadi gak sempet buat ketemu apa lagi kasih kabar!" Inas mengangguk.


"Anaknya cewek apa cowok si yah?"


"Katanya cewek bun!"


"Nanti mau makan malam di mana yah?"


"Gimana kalo di rumah kita aja bun, nanti ayah undang mereka buat makan malam disini!"


"Boleh yah, nanti bunda minta bantuan Penty buat bikin acaranya!" Ares mengangguk.

__ADS_1


Mereka pun membaringkan tubuhnya untuk beristirahat. Mereka sudah sangat lelah menghadapi Argan. Tapi mereka berusaha kuat dan Sabar, karena apa yang terjadi dengan anaknya merekalah penyebabnya.


...***...


"Sedikit lagi, saya akan mendapatkannya!" ucap seorang pria tampan.


"Hanya tinggal beberapa nyawa lagi, saya bisa mendapatkan jantungnya dan saya akan mendapatkan kekuatan seperti dulu lagi! gara-gara belati dan darah sialan itu kekuatanku melemah dan semakin menurun, aku harus segera memakan jantung iblis kecil itu!" ucapnya tertawa terbahak.


"Maaf tuan bagaimana dengan gadis itu?" tanya salah seorang pria.


"Saya hampir melupakannya!" gumamnya.


"Lenyapkan dia!" perintah pria tampan itu.


"Baik tuan!" pria itu pun pergi dari hadapan tuannya.


"Tidak di sangka darah suci itu masih ada, untung saja saya segera mengetahuinya, dia harus segera lenyap sebelum mereka mengetahuinya! aku terlalu sibuk dengan iblis kecil itu sampai melupakan gadis sialan itu!"


Lalu dia kembali tertawa terbahak.


...***...


Hari ini Inas dan keluarga sedang sibuk mempersiapkan acara makan malam mereka bersama Fahri dan keluarga.


Penty dan Inka sibuk membantu Inas di dapur sedangkan para pria sedang membereskan meja makan untuk mereka makan malam nanti.


"Berapa orang si yah yang datang?" tanya Argan.


Setelah selesai Argan dan yang lainnya beristirahat. Tiba-tiba ponsel Ares berdering.


Ares pun menerima telpon di luar. Argan merebahkan tubuhnya di sofa sedangkan Sandi dia ke kamar mandi, kebetulan Penty datang menghampiri membawa minuman.


"Ini di minum dulu!" Argan menoleh dan tak sengaja mata mereka bertemu. Sudah cukup lama mereka tak saling pandang sedekat ini.


Penty segera tersadar dia tidak ingin larut dengan perasaannya dan dia segera meninggalkan Argan.


"Makasih!" ucap Argan. Penty tak menghiraukannya dia berlalu kembali ke dapur.


Tak lama Ares selesai menelpon, lalu dia menghampiri Inas yang sedang di dapur.


"Bun ayah mau ngomong!" ucap Ares wajahnya terlihat tegang dan itu membuat Inas cemas.


"Ada apa yah?"


"Kayaknya kita gak jadi makan malam bersama!"


"Kenapa yah? ada apa?" tanya Inas panik.


"Anaknya Fahri, dia hilang!"


"Hilang gimana yah?" tanya Inas semakin panik.

__ADS_1


"Entar ayah ceritain, ayah mau bantuin Fahri mencari anaknya!"


"Iya yah, ayah hati-hati ya!" Ares mengangguk. Lalu dia mengecup kening Inas.


Ares bergegas pergi bersama Sandi menuju lokasi yang di beri tahukan Fahri.


Inas nampak cemas dan khawatir, entahlah perasaannya tidak enak. Semoga tidak terjadi hal yang buruk.


"Ada apa bun?" tanya Penty yang melihat Inas gelisah.


"Gak apa-apa sayang, kayaknya kita gak jadi adain makan malamnya, temannya ayah ada masalah jadi gak bisa dateng!"


"Ya udah sayang, kita masak buat kita aja!"


"Iya bun!" Mereka pun melanjutkan memasak, namun hanya masak untuk mereka saja.


Ares dan Sandi menemui Fahri di sebuah cafe, Fahri sudah ada di sana bersama wanita.


"Mas Fahri!" sapa Ares.


"Mas Ares, terima kasih sudah mau membantu saya!" jawab Fahri sambil menyalami Ares.


"Sama-sama mas Fahri, ini istrinya mas?" tanya Ares. Fahri menggeleng.


"Calon istri mas! perkenalkan namanya Widia!" Ares mengernyit tapi dia pun menyalami Widia.


"Istri saya yang dulu pernah mas tolong, dia meninggal saat melahirkan anak saya!" ucap Faris yang mengerti kebingungan Ares.


"Innalillahi, maaf mas saya tidak tau!"


"Tidak apa mas Ares!" lalu Fahri menatap Sandi.


"Ini adik ipar saya mas!" ucap Ares yang mengerti pandangan Fahri. Fahri mengangguk dan tersenyum lalu mereka pun bersalaman.


"Nah sekarang gimana kejadiannya anak mas Fahri bisa hilang?" tanya Ares.


"Awalnya dia pamit buat ke minimarket buat beli sesuatu, karena pembantu saya waktu itu sedang sibuk jadi tidak bisa menemaninya, jadi dia pergi sendiri, tapi sudah hampir satu jam belum pulang juga, lalu ada orang yang datang ngasih kabar kalo dia liat anak saya di bawa orang ke dalam mobil!" jelas Fahri.


"Jadi anak mas Fahri di culik? mas sudah lapor polisi?" Fahri mengangguk lesu.


"Tapi polisi belum bisa memprosesnya karena belum satu kali dua puluh empat jam!" Ares mengangguk mengerti.


"Boleh mas saya lihat fotonya, biar tau wajah anaknya mas, nanti kita berpencar nyarinya!" Fahri mengangguk dan memperlihatkan foto anaknya di ponselnya.


Ares melihat foto itu namun dia terbelalak kaget saat melihat foto itu. Fahri, Sandi dan Widia bingung melihat ekpresi kaget Ares.


"Ada apa mas?" tanya Fahri.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2