
"Argan stop!" pekik Penty sambil berusaha melepaskan tangannya. Tapi Argan memegang kuat tangan Penty dan terus menghisap darah Penty. Argan tak mempedulikan teriakan Penty yang terus memintanya untuk berhenti. Tapi Argan tak menghiraukannya jiwa iblisnya tak bisa dikendalikan, dia terus menghisap darah Penty hingga Penty terkulai lemas dan Brukk..
Penty jatuh tergeletak dengan kulit tubuh yang memucat. Argan terpaku dia masih belum sadar apa yang sudah dia lakukan. Lalu tak lama dia tersadar dan melihat Penty sudah tak sadarkan diri.
"Peniti.." pekiknya.
Dia langsung memangku kepala Penty dan berusaha membangunkannya.
"Peniti bangun.. Please bangun peniti, jangan bikin gue takut!" ucapnya sambil menepuk pipi Penty.
"Peniti maafin gue, gue gak sengaja!" Air matanya mulai menetes karena Penty tak bangun-bangun.
"Peniti bangun, Penitiiiiii..."
Argan terperanjat dia terbangun dari tidurnya ternyata dia hanya mimpi. Nafasnya terengah-engah dengan keringat yang bercucuran.
"Gan elo kenapa?" tanya Penty yang melihat Argan ngos-ngosan seperti habis dikejar setan.
Argan menoleh dan langsung beranjak lalu memeluk Penty, membuat Penty bingung dengan sikap Argan.
"Elo gak apa-apa kan? Elo baik-baik aja kan? maafin gue peniti gue gak sengaja." Argan mengoceh dan membuat Penty semakin bingung.
"Elo kenapa sih? kok aneh banget!" Bukannya menjawab Argan malah semakin erat memeluk Penty. Jantung penty berdebar kencang saat Argan memeluknya.
"Gan gue gak bisa nafas, meluknya jangan kenceng-kenceng!" Argan pun melepaskan pelukannya.
"Sorry!"
"Elo kenapa sih?"
"Gue gak apa-apa!" lalu Argan kembali ke sofa. Penty menatap pria itu lekat, jantungnya selalu berdebar kencang setiap didekat Argan.
"Apa gue jatuh cinta sama Argan?" tanyanya dalam hati. Penty memegang dadanya yang berdebar.
...***...
Ares sedang menyuapi Inas tubuh Inas masih lemah, sepertinya memang hanya kehadiran Argan yang bisa mengobati Inas.
"Nanti siang ayah akan ke Tangerang, bunda doain ya, mudah-mudahan Argan ada disana!" Inas mengangguk pelan.
"Bawa pulang Argan yah, bunda kangen, bunda gak mau anak kita kenapa-napa!"
"Iya sayang, makanya bunda doain terus ya!" Inas memeluk suaminya dan menangis tersedu-sedu.
"Nanti Shina dan Marvel kesini, nemenin bunda ayah janji kalo udah ketemu Argan, ayah langsung pulang!" Inas mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Bunda harus makan dan minum obat oke, bunda gak mau kan Argan sedih liat bunda sakit!" Inas melepaskan pelukannya dan menatap suaminya.
"Iya ayah!" Ares tersenyum dan menyeka air mata istrinya. Lalu mengecup kening Inas.
"Ya udah bunda istirahat ya!" Inas mengangguk lalu merebahkan tubuhnya.
"Ayah!"
"Hm!"
"Nanti dedek siapa yang jemput?"
"Ayah udah minta tolong sama Marvel buat jemput dedek!" Inas pun mengangguk dan tersenyum lalu dia memejamkan matanya.
Ares keluar dari kamar lalu dia bersiap untuk berangkat mencari Argan.
...***...
"Marvel!" Marvel menoleh dan ternyata Shina yang memanggil.
__ADS_1
"Ada apa Shin?"
"Elo mau ke rumah Argan?"
"Iya tapi gue mau jemput Inka dulu nanti, om Ares minta tolong tadi!"
"Oh, tadinya gue mau ikut sekalian! tapi ya udah gue naik taksi aja!"
Mereka pun melangkah masuk kelas bersama.
...***...
Pagi itu Argan mengantar Penty ke sekolahnya, tapi kali ini mereka saling terdiam. Beberapa saat kemudian mereka sampai di sekolah Penty.
"Makasih!" Argan hanya mengangguk lalu dia melajukan motornya. Penty menatap kepergian Argan.
"Kenapa gue harus jatuh cinta sama elo!" ucapnya lirih dia menyadari kalo dia menyukai Argan lebih dari sekedar saudara. Tapi dengan kejadian kemarin sore saat Argan bilang tidak mungkin menyukainya. Penty sadar bahwa Argan hanya menganggapnya sebagai saudara.
Dia pun masuk ke sekolah dengan langkah yang lesu. Argan adalah cinta pertamanya dan dia juga yang udah mengambil first kissnya. Penty memegang bibirnya yang dulu pernah di cium Argan.
"Kenapa lo lakuin itu sih gan, kalo lo gak suka sama gue!" ucapnya dalam hati.
Sedangkan Argan dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang, dia sedang bergelut dengan pikiran dan hatinya. Argan pun merasakan hal yang sama ke Penty namun dia merasa ragu, karena di sisi lain dia juga menyukai Shina.
Dia melajukan motornya dan berhenti di sebuah warung. Dia mampir di warung, karena kalo pulang pun tidak ada siapa-siapa. Dia duduk di warung sambil memesan teh anget.
Argan nongkrong disana cukup lama sambil menunggu siang biar sekalian nanti jemput Penty.
Hari semakin siang Argan bergegas Pergi untuk ke sekolah Penty dan menjemputnya karena sebentar lagi pasti bel pulang.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Penty pulang. Argan menunggunya di depan sekolah. Penty langsung menghampiri Argan saat melihat Argan.
"Langsung pulang?" Penty mengangguk. Tapi dia kesusahan untuk memasang tali helmnya. Argan pun membantunya, namun dia juga kesusahan. Argan mendekatkan wajahnya untuk melihat apa ada yang rusak dengan tali helm itu dan ternyata benar ada rusak.
Sedangkan jantung Penty lagi-lagi berdebar kencang saat wajah Argan sangat dekat dengan wajahnya.
"Lo pake punya gue aja!" ucapnya sambil melepaskan helm Penty, lalu memasangkan helmnya ke kepala Penty, namun saat Argan sedang mengaitkan tali helmnya. Mata mereka bertemu dan saling menatap. Sesaat mereka tersadar dan salah tingkah.
"Cepet naik!" Penty pun naik dan mereka hanya saling terdiam saat di motor, Penty terus memegangi dadanya yang terus berdebar.
Mereka sampai di rumah namun mereka melihat ada seseorang sedang berdiri di depan rumah. Mereka melangkah maju.
"Bapak siapa?" Orang itu pun menoleh, Argan terkejut melihat orang itu yang ternyata ayahnya.
"Ayah!"
"Argan!" Ares langsung menghampiri Argan dan memeluknya.
"Bagaimana kabarmu nak?" bukannya menjawab Argan malah balik bertanya.
"Ayah ngapain disini?"
"Tentu saja jemput kamu, ngapain lagi ayah kesini!"
Saat Ares menatap Penty. Penty memalingkan wajahnya dan berlalu ke dalam. Membuat Ares terkejut dengan sikap Penty.
"Dia marah sama ayah, karena ayah udah memenjarakan papa Sakti!" ucap Argan yang mengerti keterkejutan Ares. Ares mengangguk mengerti.
Ares dan Argan pun masuk. Awalnya Ares akan berangkat siang tapi Inas menyuruhnya untuk berangkat lebih cepat agar bisa cepat membawa pulang Argan.
"Argan ayo kita pulang!" ucap Ares saat sudah berada didalam.
"Pulang kemana yah? aku bukan anak ayah dan bunda, aku bukan bagian dari kalian!" Ares menghela nafas mendengar ucapan anaknya.
"Jangan pernah bilang begitu Argan, kamu adalah anak ayah dan bunda, kamu lahir dari rahim bunda, kamu anak kami!"
__ADS_1
"Pulang ya nak, bunda sakit dia terus memikirkan kamu!" Argan terkejut mendengar bundanya sakit.
"Bunda sakit apa yah?"
"Makanya kamu pulang kasian bunda dia terus memikirkan kamu sampai dia sakit!" Argan menunduk dia menyesal karena udah buat bundanya sakit.
"Maafin aku yah, gara-gara aku bunda jadi sakit!"
"Makanya ayo kita pulang, bunda udah nungguin kamu dia sangat merindukan kamu!" air mata Argan menetes lalu dia menatap ayahnya.
"Ayah, kenapa aku berbeda? kenapa aku begitu mengerikan, aku gak mau seperti ini yah!" Argan terisak saat mengingat siapa dirinya.
"Ayo kita pulang, ayah dan bunda akan memberitaukan sesuatu!"
"Maksud ayah, memberi tau apa?"
"Tentang pertanyaan mu!" Argan bingung dengan perkataan Ares.
"Bukankah kamu ingin tau kenapa kamu berbeda?" Argan mengangguk.
"Makanya ayo kita pulang, karena perbedaan kamu ada hubungannya dengan masa lalu ayah dan bunda!" Argan terkejut.
"A-ayah tau!" Ares mengangguk.
"Kita pulang ya!"
"Iya yah aku juga kangen sama bunda!" ucap Argan antusias. Ares tersenyum mendengar anaknya mau pulang.
Penty yang sedari tadi mendengarkan di balik pintu kamarnya merasa sedih, karena Argan akan kembali pulang. Air matanya menetes.
"Aku sendiri lagi!" isaknya sambil menyenderkan tubuhnya dipintu.
"Kenapa aku gak rela Argan pergi!" Penty memegang dadanya yang terasa sakit.
"Aku sayang sama kamu gan, lebih dari saudara!" Penty menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan terisak pelan.
Argan membereskan bajunya. Ares sedang berkeliling rumah itu untuk mengingat masa lalu. Saat Ares sedang didepan rumah, Sandi datang.
"Kak Ares!" Ares menoleh dan tersenyum pada Sandi. Sandi menghampiri Ares dan menyalami Ares.
"Mau jemput Argan?" Ares mengangguk.
"Kamu kok udah pulang San?" Sandi menunduk lalu dia berlalu kedalam diikuti Ares. Sandi duduk di sofa di ikuti Ares.
"Aku ada masalah kak dikantor!" ucap Sandi lesu.
"Masalah apa?"
"Aku difitnah dan di tuduh korupsi!"
"Astaghfirullah, siapa yang tega lakuin itu San?" Sandi menggeleng lesu.
"Kak kalo Argan pulang, boleh gak Penty dibawa!"
"Kenapa?"
"Penty pasti bakal sendirian disini, apa lagi sekarang aku lagi ada kasus, meski ini baru dugaan dan sekarang sedang mencari buktinya. Aku bakal jarang dirumah, kasian Penty sendirian, kalo disana ada kak Inas dan juga dedek!" ucap Sandi panjang lebar.
"Boleh aja, tapi sekolahnya?"
"Entar aku urus kepindahannya!" Ares mengangguk. Meski dia benci sama papanya tapi dia tak membenci Penty.
"Makasih kak, ya udah kalo gitu aku mau ngomong sama Penty dulu!" Ares mengangguk Sandi pun beranjak dan menuju kamar Penty.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....