Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Ada apa dengan Argan?


__ADS_3

Ares dan Inas terkejut saat mendengar sesuatu yang terjatuh, Ares segera keluar kamar untuk mencari tau apa yang sedang terjadi. Namun saat dia keluar kamar dia kejutkan dengan sosok anaknya yang sedang tergeletak di dekat meja makan.


"Argan!" Ares langsung berlari menghampiri anaknya. Inas yang mendengar teriakan suaminya pun langsung keluar dan dia pun terkejut melihat anaknya tak sadarkan diri.


"Argaaann!!" Inas berlari menghampiri anaknya.


"Yah Argan kenapa?" air mata Inas mengalir deras tanpa perintah.


"Gak tau bun ayo kita bawa ke kamar!" Ares dan Inas memapah anaknya ke kamar dan membaringkan Argan di kasur.


"Ya ampun sayang kamu kenapa nak?" Inas sangat panik melihat kondisi anaknya yang sangat pucat dan badannya pun panas.


Inas terus mengelus kepala anaknya. "Ayah ayo bawa Argan kerumah sakit, bunda gak mau Argan kenapa-napa!"


"Iya bun ayah siapin mobil dulu." Ares pun berlalu dan menyiapkan mobil untuk pergi kerumah sakit.


Setelah selesai memanaskan mobil Ares segera membawa Argan ke rumah sakit karena badan Argan semakin panas dan juga pucat, membuat Ares dan Inas semakin khawatir.


"Bangun sayang, kamu kenapa nak?" Inas yang duduk dibelakang sambil memangku kepala Argan terus terisak melihat kondisi anaknya.


Tak lama mereka sampai dirumah sakit tedekat, karena hari memasuki tengah malam, rumah sakit terlihat sangat sepi.


Ares terus berteriak untuk memanggil suster atau pun dokter. Tak lama seorang suster datang membawa brankar. Argan segera dibawa ke ruang ICU karena melihat kondisi Argan yang sangat pucat diperkirakan dia mengalami penyakit yang serius, itulah pikir suster.


Ares dan Inas menunggu diruang tunggu ICU. Inas terus terisak dalam pelukan Ares dia sangat takut terjadi sesuatu dengan anaknya.


Sedangkan sosok wanita cantik terlihat panik dan juga cemas, dia tidak tau apa yang terjadi dengan pria yang sangat dikaguminya itu. Karena saat kejadian dia tidak ada sisinya.


"Duhh Argan kenapa ya? untung aja tadi aku cepet datang dan memberi tahu orang tuanya!" yah suara berisik yang di dengar Ares dan Inas itu ulah Tamara, dia panik melihat Argan tergeletak tak sadarkan diri.


Karena dia bingung harus bagaimana, akhirnya dia melempar panci di dapur sehingga suara itu mengagetkan Ares dan Inas.


Argan diperiksa dokter, tapi dokter bingung karena dia tidak menemukan penyakit di tubuh Argan. Fisik Argan baik-baik saja, semuanya normal dan tidak ada yang dikhawatirkan. Tapi kondisi Argan sangat pucat membuat dokter semakin bingung karena tidak ditemukan penyakit apa pun, tubuh Argan baik-baik saja dan sangat sehat. Bahkan penyakit dalam pun tidak ada.


Tak lama dokter pun keluar. "Dok, gimana keadaan anak saya?" tanya Ares.


"Sebaiknya kita tunggu hasil lab besok pak, untuk sementara ini anak bapak baik-baik saja, tidak ada penyakit apa pun, bahkan demamnya sudah turun!" mendengar penuturan dokter Ares dan Inas merasa lega. Meskipun dokter sudah memastikan Argan baik-baik saja, tapi dia berusaha memeriksa Argan lagi untuk benar-benar memastikannya dengan pemeriksaan darah Argan di lab, takut ada penyakit yang tidak terdeteksi.


"Apa kami boleh menemui anak saya dok?"


"Boleh, tapi tunggu kami akan memindahkan keruang perawatan!" Inas dan Ares mengangguk.


"Kalo gitu saya permisi!"


"Iya dok terima kasih.."


"Alhamdulillah, anak kita baik-baik saja sayang, kamu gak usah khawatir ya!" ucap Ares sambil memeluk istrinya lalu dia menyeka air mata istrinya.

__ADS_1


"Bunda takut banget yah, bunda gak mau kehilangan anak kita!" Isak Inas.


"Iya ayah tau, ayah juga gak mau kehilangan anak kita!" tak lama Argan di bawa oleh dua suster untuk dipindahkan keruang perawatan.


Setelah sampai diruang perawatan, Inas terus disamping Argan dan memegang tangan Argan.


"Bangun sayang!" ucap Inas sambil membelai kepala Argan.


"Bun ayah mau pulang dulu ya, kita sampai lupa kalo kita ninggalin Inka dirumah, takut dia bangun dan nyariin kita!"


"Astagfirullah bunda juga lupa yah!"


"Ya udah nanti ayah kesini lagi, bunda istirahat ya!" ucap Ares sambil mengecup kening istrinya dan mengusap kepala Argan.


Ares pun berlalu meninggalkan Inas. Di sisi lain terlihat seorang pria berkacamata hitam terus memperhatikan gerak-gerik Ares dan Inas di mulai dari rumah mereka.


Lalu dia menelpon seseorang.


📞"Mereka ada dirumah sakit!"


📞"...."


📞"Siap tuan!!"


Lalu dia menutup telponnya dan berlalu meninggalkan tempat itu.


"Tunggu saatnya, saya akan mengambilmu dan kau akan menjadi milikku!" ucapnya sambil tersenyum smirk.


Tepat pukul dua dini hari Argan sadar dari pingsannya, namun dia masih merasakan panas disekujur tubuhnya, dia merintih dan mengerang karena kepanasan dan kesakitan, tenggorokannya pun kembali kering dan panas juga sakit dan perih.


Inas yang sedang terlelap disampingnya terbangun, dia panik melihat anaknya sedang menggelepar seperti ayam baru dipotong.


"Sayang kamu kenapa nak?"


"Dokter.. dokter.." Inas terus berteriak memanggil dokter dia sangat panik dan ketakutan melihat kondisi anaknya.


"Pa-pa-nas!" Argan terus bergumam karena merasakan kepanasan.


"Sayang kamu kenapa nak?"


"Ha-ha-us!" Argan berucap terbata dengan suara yang hampir tercekat. Mendengar kata haus Inas langsung memberi Argan minum, namun Argan malah menampik air dalam botol itu sehingga terjatuh. Karena dia tau air tidak akan membuat tenggorokannya segar.


"Ha-us!" Argan terus berucap haus, dia benar-benar merasakan tenggorokan yang sangat kering dan panas. Dia benar-benar sangat dahaga, namun dia tidak membutuhkan air untuk menghilangkan dahaganya.


Inas bingung Argan mengatakan haus tapi dia tidak mau minum.


Tak lama dokter dan suster datang. "Ibu tunggu di luar ya!" ucap Suster.

__ADS_1


"Tapi sus saya mau menemani anak saya!"


"Iya bu tapi dokter akan memeriksanya, jadi ibu tunggu diluar ya!" Inas pun menurut dia keluar dan menunggu dengan hati yang sangat khawatir dan gelisah.


Dokter memeriksa Argan namun Argan semakin menggelepar karena kepanasan, tubuhnya serasa terbakar dan juga remuk.


"Pa-nas, ha-us!" ucapnya berkali-kali.


Dokter yang memeriksa pun bingung karena Argan sudah diberi obat penenang tapi tidak berpengaruh sama sekali, Argan masih terus merintih dan mengerang kesakitan, wajahnya semakin pucat bak mayat.


Inas yang menunggu diluar sangat panik dan cemas dia mondar-mandir didepan ruang perawatan Argan. Air matanya terus mengalir melihat kondisi anaknya.


"Kamu kenapa sayang, apa yang terjadi?" Inas benar-benar takut terjadi sesuatu dengan anaknya.


"Panaass, hauss!" Argan terus merintih dalam hati dia sangat kepanasan dan haus. Dia terus menggelepar bak ayam baru dipotong.


Meski dokter sudah memberinya minum namun percuma Argan tidak mendapatkan kesejukan. Tak lama tubuh Argan yang menggelepar berhenti, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran dia terdiam sesaat, lalu tiba-tiba dia bangkit dan memaksa turun dari ranjang meski suster dan dokter sudah menahannya. Sekuat tenaga Argan mendorong suster dan dokter hingga mereka terjengkang. Argan segera mencabut infus yang menancap dilengannya.


Dengan tubuh yang lemah dan dia berjalan terseok-seok keluar kamar. Inas yang melihat Argan keluar kaget.


"Sayang kamu mau kemana?" Inas menghampiri anaknya dan memegang tangan anaknya.


Argan tak menghiraukan bundanya, dia menepis tangan bundanya. Argan berusaha berlari dia mencari sesuatu yang bisa menghilangkan dahaganya, karena semenjak dia berhenti menggelepar dia mencium bau yang sangat menyegarkan, sehingga dia bisa bangkit dari tubuhnya yang sangat lemah.


Inas, dokter dan suster berusaha mengejar Argan, namun semakin Argan berlari bau yang sangat menyegarkan itu sangat kuat, Argan terus mengikuti bau itu, sehingga tenaganya lumayan kuat untuk berlari dan menghindari kejaran Inas dan dokter.


Tak lama Argan sampai disebuah ruangan, Argan menatap pintu ruangan itu, baunya semakin tercium. Beberapa kali dia menenggak salivanya. Argan celingak-celinguk sebelum dia masuk, untung saja keadaan di sana sangat sepi karena masih tengah malam, dia masuk ke ruangan itu, untung saja penjaga ruangan itu tidak ada.


Mata Argan berbinar saat melihat sesuatu yang pasti sangat menyegarkan tenggorokan dan tubuhnya yang sangat panas dan kering itu. Argan terus menenggak salivanya menatap sesuatu itu. Tak buang waktu Argan segera mengambilnya dan langsung menenggaknya sampai habis beberapa kantong.


Setelah menghabiskan beberapa kantong, tenggorokan Argan benar-benar merasakan sejuk dan segar, dia seperti mendapatkan air setelah berjalan lama digurun pasir. Dahaganya benar-benar terobati, bahkan rasa panas yang menjalar ditubuhnya hilang seketika.


Argan terduduk dia benar-benar telah menuntaskan rasa dahaganya, rasanya dia sangat senang dan puas tenggorokan yang sangat perih dan panas langsung sejuk seketika setelah menenggak itu.


Bahkan tenaganya pulih kembali, yang tadinya sangat lemah dan lemas, wajahnya pun kembali segar dan tidak pucat lagi.


Setelah beberapa saat Argan termenung dan menatap sesuatu yang ada didepanya.


Entah lah pikirannya belum bisa mencerna apa yang sudah terjadi, dia masih bingung dan tidak mengerti. Dia antara sadar dan tidak sadar.


Ada apa dengan Argan?


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2