
Inas termenung dikamar, dia terduduk sambil memeluk lututnya bersender dipinggiran ranjang. Pandangannya kosong menatap ke arah luar jendela. Pikirannya hanya tertuju pada Ares suaminya.
Sakti masuk ke dalam menghampiri Inas, bahkan kehadirannya tak membuat Inas menoleh. Hati Sakti terasa sakit saat melihat Inas seperti itu, membuat hatinya sangat terluka.
Cinta yang sudah lama terkubur, entah kenapa dia hadir lagi, meski Sakti sudah berusaha menguburnya lagi, tapi justru membuat cinta itu semakin besar.
"Kenapa seperti ini? Saya tidak ingin menyakiti hati seorang wanita lagi, apa lagi sekarang kami sudah memiliki anak, kenapa perasaan ini tidak bisa dikendalikan?"
Semakin hari cinta itu makin tumbuh lagi, setelah sekian lama terkubur. Sakti menghampiri Inas dan duduk disampingnya. Dia mengusap kepala Inas, tapi Inas masih tetap tak bergeming.
"Nanti malam abang akan kembali ke rumah, doain abang, biar bisa bawa pulang Ares!" perkataannya mampu mengalihkan pandangan wanita yang ada dihadapannya. Air matanya mengalir, lalu dia memeluk pria yang sudah dia anggap abangnya sendiri.
"Kembalikan kak Ares, bawa dia pulang, aku mohon, aku gak mau kehilangannya, aku sangat mencintainya!" ucapnya terisak.
Setiap isak tangis yang dikeluarkan wanitanya selalu menyayat hatinya, dia tidak mau melihat wanita yang dicintainya terluka dan menangis.
"Iya, kamu jangan nangis lagi, berdoalah semoga saya bisa membawa suamimu pulang!" ucapnya sambil mengelus kepala Inas, dia mengelus dan mencium kepalanya penuh cinta. Dia selalu tidak bisa mengendalikan diri saat bersamanya.
Diluar terlihat Intan menatap suami dan adik iparnya, dia merasa iba dan kasian akan nasib adik iparnya. Tapi akankah dia masih merasa seperti itu lagi, jika dia tau hubungan mereka yang sebenarnya, yang ternyata bukan saudara kandung, bahkan mereka pernah menjalin kasih dan hampir menikah.
Apakah dia akan bersikap seperti itu?
Intan taunya Inas adik Sakti, tapi dia tidak pernah tau kalo mereka tidak sedarah. Setelah memastikan keduanya, dia berlalu mengistirahatkan tubuhnya sejenak, karena rutinitas hariannya membuat penat dan lelah.
Sedangkan Argan dan Penty dia sedang bermain dengan pembantunya.
"Aku mohon bawa dia kembali, kembalikan suamiku!" Inas terus meracau. Sakti terus menenangkannya.
"Saya akan berusaha, tapi maaf saya tidak bisa janji, karena saya tidak tau apakah saya bisa atau tidak membawa suamimu kembali. Berdoalah sebanyak mungkin, semoga suamimu kembali!" batin Sakti.
Dia tidak berani mengatakannya langsung, karena takut akan membuat Inas semakin down.
...***...
Seperti biasa malam itu Sakti dan Ayub kembali ke rumah Ares, untuk membawa Ares kembali. Braga sudah menunggu mereka.
"Waktu kita cuma sampe Fajar, kalo tidak tuan tidak akan selamat, karena jika jiwa terlalu meninggalkan raganya terlalu lama, itu tidak baik!" ucap Braga. Ayub mengangguk mengerti hanya dia yang bisa melihat dan mendengarkan Braga.
Waktu kemarin mereka gagal membawa jiwa Ares, karena mereka tidak menemukan raganya, karena iblis itu menyembunyikannya. Tapi sekarang raganya sudah ada didepan mereka, sekarang dengan adanya raga Ares memudahkan untuk membawa Ares kembali ke raganya.
"Baik mas Sakti mari kita mulai berdoa, memohon pertolongan Allah semoga kita bisa membawa Mas Ares pulang!" ucap Ayub. Sakti mengangguk.
Mereka mulai berdoa, Ayub dan Sakti duduk bersila lalu memejamkan mata dan berdoa.
Braga langsung menyusul ke alam gaib, bahkan kali ini Sakti pun ikut dalam perjalanan mereka di alam gaib.
Mereka sudah berada dihutan kemarin, kemarin mereka sudah berhasil melumpuhkan makhluk itu. Kali ini mereka berjalan masuk lebih dalam kedalam hutan.
Terlihat jiwa-jiwa yang tersesat dan jiwa yang telah tergadaikan berseliweran. Tapi mereka tidak mengganggu ketiga pria yang sedang berjalan ditengah hutan. Suasana disana tidak gelap tapi juga tidak terang, suasana disana seperti saat sendakala, antara siang dan malam.
Semakin masuk kedalam auranya semakin hitam pekat. "Jangan berhenti berdzikir!" ucap Ayub.
Sakti dan Braga hanya mengangguk, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Terlihat makhluk tinggi besar dan hitam legam, dengan dua tanduk diatas kepalanya, matanya kuning menyala menghadang mereka, Braga dan Ayub terlihat tenang, tapi tidak dengan Sakti dia terlihat pucat dan gemetar, karena ini pertama kalinya dia menjelajah di alam gaib dan dia bisa melihat semua makhluk menyeramkan yang beraneka ragam.
Ada yang tangannya buntung, kepalanya lepas, ada yang matanya bolong dan masih banyak lagi yang lebih menyeramkan.
"Mau apa kau manusia masuk ke wilayahku? dan kau jin bodoh apa yang kau lakukan?" tanya makhluk itu menggema.
Braga kesal karena disebut bodoh. "Enak saja kau sebut saya bodoh, mau saya lempar kau neraka sekarang juga!!" geram Braga.
"Hua ha ha ha ha..." makhluk itu tertawa menggelegar.
__ADS_1
Ayub langsung melantunkan doa dan memanggil-manggil nama Ares.
"Aresta Atmaja Wijaya bin Fardi kusumo saya datang untuk mencarinya!" ucapnya ditengah doa yang dia lantunkan.
Ayub terus membaca doa begitu juga Sakti, sedangkan Braga dia melawan makhluk itu. Kekuatan Braga bertambah karena bantuan doa dari Ayub dan Sakti, dan dengan mudah dia mengalahkan makhluk itu.
Makhluk itu lenyap menjadi asap hitam dan menghilang bak tersapu angin. Tak lama datang makhluk lain mencoba menyerang mereka, tapi Braga pun berhasil menghalaunya. Braga tersenyum puas setelah mengalahkan beberapa makhluk yang mencoba menghadang mereka.
"Enak saja saya dibilang bodoh, saya ini jin ganteng dan pintar, emangnya kalian sudah bodoh jelek lagi!" gerutunya masih belum terima dengan perkataan makhluk yang pertama tadi.Tak lama terdengar suara menggema.
"Beraninya kalian mengacaukan kediamanku!!" ucapnya murka.
"Kembalikan Ares dia bukan milikmu!" Ayub berusaha berkomunikasi dengan makhluk itu lewat batinnya.
"Ha ha ha jangan harap, jika kalian ingin mengambilnya kalian harus menukarnya!" ucap suara itu menggema lagi.
"Maksudnya?" seru mereka bertiga.
"Kalian harus menukarnya dengan anak yang memiliki darah iblis jika tidak dia akan menjadi budakku disini Ha Ha Ha..."
Sakti terperangah, dia tau yang dimaksudnya adalah Argan, jadi karena waktu itu dia gagal membawa Argan, sekarang menculik Ares untuk dijadikan Sandera agar bisa menukarnya dengan Argan. Dasar licik!
Sakti geram begitu juga Braga, sedangkan Ayub dia masih tenang membaca doa dan berdzikir, dan terus mencari dimana iblis itu menyembunyikan Ares. Ayub menerawang melalui mata batinnya. Dia melihat Ares sedang terikat dipohon besar dengan tali api, tapi Ayub belum tau pohon besar yang mana, karena semuanya nampak sama.
Braga terus menimpali perkataan Setan itu, dengan sangat geram.
"Hehh Setan jelek, kembalikan tuan saya, licik sekali kau menculik tuan saya!!" geram Braga.
Namun makhluk itu hanya menyahuti dengan gelak tawanya.
"Baiklah, silahkan kalo kalian bisa, ambil saja!" Braga ingin menyerang setan itu, tapi bahkan setan itu tidak menampakan wujudnya. Dasar pengecut!!
Sakti pun hanya terdiam melantunkan dzikir dan doa, hati dan pikirannya di penuhi Inas, dia hanya ingin wanitanya tersenyum lagi, karena melihatnya tersenyum itulah kebahagiaanya, meski bukan dia yang membuatnya tersenyum.
"Kenapa rasa itu muncul lagi, dan saya harus menahannya, sampai kapanpun rasa ini tidak akan pernah terbalaskan. Sadarlah!! dia tidak akan mencintaimu dan Sadarlah kau bahkan sudah memiliki kehidupanmu dengan keluarga kecilmu, sadarlah hati jangan berkhianat lagi!" batinnya terus berkecamuk untuk menyadarkannya meski semua itu sia-sia. Semakin dia berusaha membuang perasaan itu, semakin besar rasa itu.
...***...
Setelah menyelesaikan pertarungan di alam gaib, akhirnya mereka bisa membawa pulang Ares dan mengembalikan ke raganya. Meski saat ini Ares tidak sadarkan diri, begitu juga Faris dia sudah kembali ke ragannya. Untung saja mereka menyelesaikan sebelum fajar menyingsing.
"Mas Ayub, kenapa Ares belum sadar?"
"Tidak apa-apa mas Sakti, dia perlu menyesuaikan diri, karena sudah cukup lama meninggalkan raganya, jadi jiwanya masih merasa asing dengan raganya!" jawaban Ayub membuat Sakti tidak terlalu paham tapi dia tidak ingin terlalu banyak tanya. Bersyukur Ayub sudah bisa menolongnya.
"Mas Sakti pasti tau sesuatu?" tanya Ayub.
"Maksudnya, tau apa?" Ayub tersenyum dia tidak bertanya lagi.
Lalu dia memejamkan mata berdoa dan memagari rumah Ares agar tidak ada makhluk halus yang masuk ke rumah ini, dengan seizin Allah. Karena dia tau setan itu pasti akan kembali untuk mengambil apa yang dia mau.
"Sebaiknya istri dan anak mas Ares, cepat dibawa pulang!" ucap Ayub tiba-tiba membuat Sakti terkesiap. Lalu dia mengangguk cepat.
"Untung saja bapak bantuin aku, dan siapa kakek yang memberikanku kalung ini, ahh aku hampir saja lupa menyampaikan amanah ini!" batin Ayub.
"Maaf mas Sakti tolong berikan ini kepada anaknya mas Ares." ucap Ayub sambil menyerahkan sebuah kalung hitam berbandul belati.
"Untuk apa?"
"Berikan saja itu haknya." jawab Ayub tersenyum. Sakti mengangguk mengerti.
...***...
__ADS_1
Seperti biasa Inas menunggu kedatangan Sakti dan berharap dia kembali bersama suaminya. Dia menanti dengan hati yang penuh harap, semoga doanya terkabul agar suaminya kembali bersamanya.
Tak lama suara deru mobil terdengar memasuki halaman rumah, Inas bergegas membuka pintu dengan raut penuh harap. Lagi-lagi dia merasa kecewa karena Sakti datang sendiri.
Tak terasa air matanya menetes, Sakti langsung menghampirinya, dia tau Inas pasti kecewa dan sedih.
"Kenapa menangis? Abang kan sudah bilang jangan menangis!" ucapnya sambil menyeka air mata wanitanya itu.
Entah kenapa dia merasa wanita yang ada dihadapannya itu adalah wanitanya. Jelas-jelas dia milik orang lain.
"Ayo kita pulang!" ucap Sakti membuat Inas terperangah dan menatap Sakti.
"Maksud abang?"
"Suamimu menunggumu!"
Rasa bahagia terpancar diwajah Inas, dia sangat bersyukur suaminya kembali. Bahkan rasa bahagianya tidak bisa digambarkan.
Tapi kenapa dengan Sakti seharusnya dia ikut bahagia melihat senyum Inas lagi, tapi kenapa dia merasa tidak rela, melihat senyuman Inas disebabkan dengan orang lain. Cemburukah?
...***...
Inas dan Argan sudah kembali ke rumah, mereka merasa bahagia karena orang yang sangat dirindukannya kembali. Inas dan Argan langsung memeluk tubuh Ares yang masih belum sadarkan diri.
Intan memasang infus untuk Ares selama dia tidak sadarkan diri. Untuk mengganti asupan selama dia tidak sadarkan diri.
"Pah, ayah Ares kenapa?" tanya Penty yang sedang digendong Sakti.
"Ayah Ares lagi sakit sayang!" jawab Sakti.
"Aku juga mau peluk ayah Ares!" Sakti tersenyum lalu dia mendekatkan Penty dengan Ares disamping Argan.
"Ayah Ares cepet sembuh ya, biar agan dan bunda gak nangis lagi!" ucap Penty.
Inas tersenyum. "Makasih ya sayang!" ucap Inas sambil mengelus kepala Penty.
"Peniti sekarang ayah aku udah kembali!" ucap Argan pada penty.
"Iya aku tau, sekarang kamu jangan nangis lagi ya!" ucap Penty sambil menepuk bahu Argan kaya orang gede aja. Argan mengangguk.
"Nanti kamu boleh digendong ayah aku!" ucap Argan. Penty tersenyum senang.
Akhirnya mereka tersenyum bahagia, terutama Inas dia sangat bahagia dan bersyukur suaminya selamat dan kembali.
"Terima kasih sayang kamu sudah kembali!" ucapnya sambil mengecup kening Ares.
"Kenapa hati saya seperti ini? Kenapa rasanya saya tidak rela melihat Inas bersama Ares. Sadar Sakti sadar, kamu harus bisa kendaliin diri, kamu sudah punya istri dan anak!" batinnya namun dia tidak sadar tangannya sudah mengepal kuat.
"Kenapa dengan mas Sakti? kenapa dia seperti tidak suka melihat Ares dan Inas?" pikir Intan.
Intan langsung menggelengkan kepala ketika menyadari pikirannya.
"Apa juga yang aku pikirkan?" pikirnya lagi.
Braga pun tak luput, dia bahagia tuannya sudah berkumpul lagi.
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1