Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Terjebak


__ADS_3

Reka masih bermain-main dengan Argan, sebenarnya dia ingin cepat membunuh anak itu, tapi dia ingin melihat Argan menderita dulu. Argan sudah lemah karena terus di serang Reka. Bahkan dia sudah tergeletak tak berdaya.


Penty menangis melihat Argan sudah tak berdaya, meski lemas dia berusaha bangkit dan ingin menolong Argan. Namun saat dia menggeser tubuhnya ketepi dia malah terjatuh dari tempat tidur. Argan menatap lirih Penty, dia juga berusaha menghampiri Penty.


Reka hanya menatap sambil tertawa, dia seolah sedang melihat drama yang begitu menggelikan. Reka membiarkan dua sejoli itu untuk saling bertemu.


Argan menyeret tubuhnya untuk menghampiri Penty, tubuhnya sudah di penuhi darah, karena dia terus memuncratkan darah dari mulutnya setiap di serang Reka.


Penty meringis kesakitan, karena lumayan keras dia terjatuh dari tempat tidur yang lumayan tinggi. Argan masih terus berusaha menghampiri Penty.


Reka hanya terduduk sambil menonton, terkadang dengan tatapan iblisnya. Sedikit lagi Argan mendekati Penty namun Reka menyerang Argan lagi, hingga dia terseret hingga membentur tembok.


"Argan!" Penty menangis melihat penderitaan Argan. Sekarang dia yang berusaha menghampiri Argan dengan menyeret tubuhnya. Lagi-lagi Reka tertawa melihat tingkah dua sejoli itu.


Ditempat lain Inas terkejut saat melihat orang yang menariknya.


"Marvel!!" dia melupakan anak itu, saking paniknya dia, dia tidak menyadari saat mereka di ikat disana tidak ada Marvel.


"Iya tante! tante gak apa-apa? dedek juga gak apa-apa?" tanya Marvel.


"Kami baik-baik aja, tapi Argan dan yang lainnya masih di rumah itu!"


"Maaf ya tante aku malah ninggalin kalian, karena aku di kejar para penjaga saat ketahuan mau menolong Argan, jadinya aku lari kesini!"


"Gak apa-apa nak, tante senang kamu baik-baik aja!" ucap Inas sambil mengusap pipi Marvel. Marvel terenyuh dengan perlakuan baik Inas. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari ibunya, bahkan dari kecil. Karena ibunya hanya sibuk dengan pekerjaannya.


"Tante cuma berdua aja?" Inas mengangguk.


"Tadi tante bareng Shina dan Teh Widia, tapi kami terpisah!"


"Jadi mereka juga ada di hutan ini?" Inas mengangguk.


"Kita cari mereka tante!" Inas mengangguk lagi.


Mereka pun berjalan lagi menyusuri hutan untuk mencari Shina dan Widia.


"Marvel bagaimana kamu bisa lolos?" tanya Inas. Marvel menghela nafas dan mulai bercerita.


*flasback on


"Semua orang pada dansa dan punya pasangan, lah gue heuhh nasib jomblo!" gerutu Marvel. Marvel melihat Argan yang sedang termenung tadinya dia ingin menghampirinya tapi dia tak ingin mengganggunya.


Akhirnya Marvel menghampiri Inka yang sedang duduk melihat kedua orang tuanya berdansa.


"Hai cantik!" sapa Marvel pada Inka.


"Hai kak!" balas Inka.


"Mau dansa sama kakak gak?" bukannya menjawab Inka malah tertawa, membuat Marvel bingung.


"Kenapa dedek ketawa?" tanya Marvel bingung.


"Makanya kakak jangan jomblo, masa aku yang di ajak dansa!" kekeh Inka. Wajah Marvel memerah dia sangat malu di ledek sama anak kecil.


"Udah ayo!" ajak Marvel. Inka pun menurut mereka berdansa asal-asalan saja karena tubuh Inka kecil sedangkan dia tinggi. Sesekali mereka tertawa karena mereka dansa asal-asalan.


Sesekali Inas dan Ares menoleh dan ikut tertawa melihat Marvel dan Inka.


Tak lama Marvel melihat Argan berjalan menuju luar. Marvel pun izin keluar untuk menyusul Argan.


"Yahh masa tuan putri di tinggalin!" ledek Inas saat Marvel meninggalkan Inka. Inka cemberut dan mematut karena di ledek Inas.


Marvel pun keluar menyusul Argan, namun saat dia keluar dia melihat Argan di papah dua orang dan satu orang berjalan di depannya. Karena Marvel penasaran dia pun ikutin mereka sampe di sebuah pintu besar, namun Marvel tidak bisa ikut kedalam karena banyak penjaga di luar.

__ADS_1


Marvel pun hanya melihat dari tempat persembunyiannya, dia bingung kenapa Argan di bawa kesana. Akhirnya dia kembali lagi dan ingin memberi tahukan pada Inas dan Ares, tapi mereka sedang mengobrol dengan yang lainnya dia tak enak untuk mengganggu. Akhirnya dia kembali menghampiri Inka yang sedang bersama Penty.


Tak lama pesta selesai Inas dan yang lainnya mencari Argan. Tapi saat itu Marvel sedang ke toilet jadi dia tak sempat memberitau, saat dia kembali mereka sudah berniat akan menginap karena mereka kelelahan. Akhirnya Marvel akan menemui Argan sendiri karena tidak tega melihat semuanya kelelahan.


Saat di kamar, Fahri langsung terlelap karena mungkin kelelahan, sedangkan Sandi dia masih memainkan ponselnya. Marvel pura-pura tidur sampe Sandi sudah tidur. Namun tak lama dia ingin buang air, dia pun berlalu ke kamar mandi. Saat keluar Sandi pun sudah terlelap Marvel perlahan keluar kamar dan mengendap-endap mencari Argan dia kembali ke tempat yang tadi namun masih ada yang menjaga. Tak sengaja dia melihat Reka masuk ke ruangan itu.


Marvel penasaran ruangan apa itu, karena pintunya tidak sama dengan ruangan-ruangan lainnya. Beberapa saat Marvel menunggu justru dia melihat Ares dan yang lainnya di bawa kesana dalam keadaan tidur.


Marvel kaget dia langsung menutup mulutnya karena hampir mengeluarkan suara. Namun tak sengaja dia menendang sesuatu hingga terdengar bunyi dan membuat para penjaga mendengarnya.


Langsung saja Marvel berlari takut ketahuan, namun para penjaga itu melihatnya dan mengejarnya. Akhirnya Marvel lari ketengah hutan dan bersembunyi sampai situasi aman dan ponselnya malah tertinggal di kamar itu.


*flasback off


Inas mendengarkan cerita Marvel dan membuat dia merasa bersalah.


"Maafin tante ya, tante udah buat kamu hampir celaka!" ucap Inas sedih.


"Gak tante, yang penting sekarang aku gak apa-apa! sekarang kita harus selamatin Argan tante!" balas Marvel. Inas terharu melihat kepedulian Marvel pada anaknya dia memeluk Marvel.


"Makasih karena kamu mau jadi teman Argan nak!" isak Inas. Sungguh Marvel bahagia banget bisa merasakan pelukan hangat seorang ibu.


"Elo beruntung gan! punya ibu sebaik dan sehebat tante Inas, gue juga pengen punya ibu kaya tante Inas!" ucap Marvel dalam hati. Lalu Inas pun melepaskan pelukannya.


"Tante juga seneng kamu baik-baik aja dan tidak apa-apa!" Marvel mengangguk.


"Tante!"


"Iya nak!"


"Boleh gak kalo aku-" Marvel menjeda ucapannya karena ragu.


"Kenapa sayang?"


"Boleh gak kalo aku panggil tante bunda kayak Argan?" Marvel menunduk. Inas tersenyum dan mengelus kepala Marvel.


"Makasih tante eh bunda!" ucap Marvel, Inas mengangguk.


Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mencari Shina dan Widia, namun mereka malah bertemu para penjaga, sehingga mereka harus kembali lari. Saat berlari ada seseorang yang menarik Inas dan Marvel, membuat mereka kaget. Inas dan Marvel menoleh ke arah orang itu.


"Ayah!" Inas langsung memeluk Ares.


"Bunda gak apa-apa? Dedek gak apa-apa?" tanya Ares lalu dia memeluk Inka.


"Ayah dedek takut!" isak Inka.


"Dedek jangan takut ya! ada ayah disini!" ucap Ares sambil memeluk putrinya.


"Syukurlah kalian tidak apa-apa! Marvel kamu tidak apa-apa?" Marvel mengangguk.


Ares bernafas lega karena anak dan istrinya baik-baik saja dan melihat Marvel pun baik-baik saja. Dia pun sama melupakan Marvel saat di sana karena saking panik dan emosinya.


"Kita harus selamatin Argan yah, bunda gak mau anak kita kenapa-napa!"


"Iya sayang, bunda tenang ya!" Ares menenangkan istrinya.


"Loh Shina sama Widia mana?" tanya Ares.


"Kami terpisah yah, saat di kejar orang-orang itu!" jawab Inas. Ares menghela nafas kasar.


"Kita cari Shina dan Widia oke!" mereka mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan lagi untuk mencari Shina dan Widia.


Namun mereka malah di temukan para penjaga, yang ternyata sudah menangkap Shina yang sudah di ikat dan di sumpal mulutnya. Ares menyuruh Inas, Inka dan Marvel mundur, terpaksa Ares harus melawan mereka meski tubuhnya masih lemah.

__ADS_1


Perkelahian pun terjadi lagi di tengah hutan gelap. Inas dan yang lainnya khawatir melihat Ares melawan mereka, Marvel pun tak tinggal diam dia mencari sesuatu yang bisa di jadikan senjata untuk melawan mereka. Dia mendapat kayu yang lumayan besar. Dia membantu Ares melawan para penjaga itu, untunglah mereka bisa mengalahkan para penjaga itu.


Inas dan Inka menghampiri Ares yang sedang terkulai lemas, Marvel membuka ikatan Shina.


"Kamu gak apa-apa sayang?" tanya Inas pada Ares. Ares tersenyum.


"Ayah gak apa-apa sayang!" Inas memeluk suaminya.


"Bunda takut!" Ares melepaskan pelukannya dan mengecup kening Inas. Ares pun mengajak mereka untuk pergi mencari tempat aman.


Setelah dirasa sudah aman, mereka beristirahat sebentar. Mereka pun tidak bisa menemukan Widia, sepertinya Widia sudah di bawa kembali ke rumah itu.


"Om papa sama bang Sandi gimana?" tanya Shina. Dia tidak mau kehilangan kedua pria yang sangat dia sayangi itu.


"Fahri dan Sandi mereka baik-baik aja, mereka sudah keluar dari rumah itu!" Shina bernafas lega mendengar papa dan kekasihnya baik-baik saja.


"Kalian tetap disini, ayah bakal kembali kesana untuk tolong Argan dan Penty!" ucap Ares.


"Bunda ikut yah!"


"Marvel juga ikut om!" Ares menggeleng.


"Kalian tetap di sini, ayah gak mau kalian ada yang ikut lagi kesana, itu berbahaya. Marvel om percayakan istri, anak om dan Shina sama kamu, jaga mereka baik-baik, kamu bisa?"


"Tapi aku pengen nyelamatin Argan om!" jawab Marvel. Ares mengusap kepala Marvel, lagi-lagi Marvel tersentuh dengan sikap orang tua Argan, sungguh dia tidak pernah merasakan kasih sayang seperti ini dari kedua orang tuanya.


"Marvel dan yang lainnya doain om, biar om dan yang lainnya selamat! om minta Marvel jagain istri om, Inka dan Shina. Om mohon Marvel!" akhirnya Marvel pun mengangguk.


"Terima kasih Marvel!"


"Pokoknya kalian harus saling menjaga, jika tidak ada bahaya kalian tetaplah di sini, biar nanti kalo om sudah menyelamatkan Argan, om bisa susul kalian, nanti om akan suruh Sandi dan Fahri menyusul kesini!" ucap Ares. Semuanya mendengarkan dengan baik dan menurut. Inas dan Inka memeluk Ares sebelum pergi.


"Ayah harus cepet kembali, bawa kak Argan dan Kak Penty!" isak Inka.


"Iya sayang! dedek nurut sama bunda kak Marvel sama kak Shina ya!" Inka mengangguk lalu Ares mencium kening dan pipi anaknya. Lalu dia mencium kening istrinya.


"Ayah hati-hati, kami menunggu ayah!"


Setelah selesai Ares pun pamit dan meninggalkan mereka dan kembali ke rumah itu. Setelah sampai di rumah itu Ares menemui Sandi dan Fahri, untung saja Fahri sudah sadar meski masih lemas.


"Kak Ares!" ucap Sandi. Lalu Ares membisikan sesuatu pada Sandi. Sandi nampak ragu.


"Biar Penty dan Argan urusan saya, sebaiknya kamu cepat pergi susul mereka dan saya titip anak dan istri saya!" ujar Ares. Sandi pun mengangguk setuju. Akhirnya Sandi dan Fahri meninggalkan rumah itu dan menuju hutan untuk menyusul Inas dan yang lainnya.


Sedangkan Argan dan Penty masih terkulai lemah. Tak lama seseorang masuk ke kamar itu.


"Maaf tuan, bagaimana dengan sandera yang lainnya mereka kabur!" Reka tersenyum.


"Biarkan mereka! karena mereka tidak akan bisa keluar dari tempat ini!" ucap Reka.


"Satu lagi tuan! ada orang asing yang membantu mereka!" Lagi-lagi Reka tersenyum.


"Menarik!" gumamnya. Lalu dia mengusir orang itu.


Reka menghampiri Argan dan Penty yang sedang tergeletak tak berdaya. Nafas Argan sudah terengah-engah, bahkan badannya pun terasa remuk.


"Boy! bagaimana kalo kita berburu dihutan?" ucap Reka tersenyum Smirk. Argan hanya meringis sambil menatap tajam Reka. Argan paham maksud Reka, dia ingin berburu namun buruannya itu adalah keluarganya.


Argan benar-benar ingin menghancurkan iblis itu.


Reka tau keluarga Argan tidak akan bisa keluar dari hutan ini, karena sebenarnya mereka sudah masuk di dunia gaib dan terjebak di sana, namun mereka tidak ada yang menyadarinya.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2