Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Mengungkap


__ADS_3

Sudah seminggu lebih pertengkaran Argan dan Inka belum membaik, Inka masih enggan bicara dengan Argan dan membuat Argan kesulitan untuk menjelaskan pada Inka. Saat di rumah Inka selalu menghindarinya.


Pertengkaran mereka tak luput dari perhatian kedua orang tuanya. Karena mereka biasanya sangat dekat sekarang terlihat diam-diaman.


"Yah, kakak sama dedek kenapa ya?" Ares menggeleng.


"Coba bunda tanyain, mungkin mereka sedang berantem!" Inas mengangguk.


"Iya nanti bunda tanyain sama mereka yah!"


Tak lama Argan keluar dari kamarnya dan dia melihat kedua orang tuanya sedang duduk diruang tv.


"Kak sini bunda mau bicara!" ucap Inas. Seketika membuat Argan tegang dia takut kalo orang tuanya sudah tau dari Inka tentang dirinya. Argan melangkah ragu ke arah Inas dan Ares. Namun tetap dia menghampiri kedua orang tuanya, meski jantungnya berdegup sangat kencang. Argan duduk di sofa samping kedua orang tuanya.


"A-ada apa bun?"


Argan merasa panas dingin dia benar-benar ketakutan bagaimana orang tuanya akan marah dan membencinya seperti adiknya. Dia menunduk takut.


"Kakak sama dedek lagi berantem?" Argan mendongak menatap bundanya.


"Gak kok bun!" Argan berusaha bersikap tenang meski tak dipungkiri dia sangat tegang dan gugup.


"Jangan bohong kak, bunda tau-"


"Bunda tau apa?" tanya Argan terkejut memotong ucpan Inas dia sangat takut. Inas dan Ares berpandangan melihat reaksi berlebihan anaknya. Dan membuat Argan semakin menunduk lebih dalam.


"Kakak cerita sama bunda, ada apa? apa yang kalian ributkan? bunda tau kalian sedang bertengkar." Argan terdiam ternyata dia salah orang tuanya belum mengetahui masalahnya.


Argan menggeleng dan masih menunduk, dia tidak mungkin menceritakan masalahnya. Tapi dia juga takut ayah dan bundanya akan bertanya pada Inka dan Inka akan memberitahukannya.


"Aku sama Inka ada kesalahpahaman aja bun!" ucap Argan.


"Kesalahpahaman apa?" tanya Inas. Ares hanya terdiam melihat istrinya sedang menginterogasi putranya.


Argan kebingungan harus jawab apa, dia kembali terdiam.


"Kakak!"


"A-anu bun, itu.." balas Argan gugup.

__ADS_1


"Dia bukan kakakku!" ucap Inka tiba-tiba. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Apa maksud dedek? dedek gak boleh ngomong kaya gitu!" Inka masih berdiri di tempatnya sambil menatap tajam Argan. Inas dan Ares bingung melihat sikap putrinya.


"Sayang duduk sini, jelasin sama ayah dan bunda, ada apa? dan kenapa?" ujar Ares membuka suara.


Inka pun duduk di samping Inas, sedangkan Argan sedang ketar-ketir ketakutan, wajahnya pucat seketika dia benar-benar merasakan panas dingin, dia ingin sekali membawa Inka untuk pergi dari tempat itu agar Inka tidak memberitahukan orang tuanya. Tapi tubuhnya terasa kaku untuk bergerak.


"Ada apa dek? bisa dedek jelasin sama ayah dan bunda!" Inka masih terdiam dan menatap tajam Argan.


Saat Inka mau bicara lidahnya terasa kelu, ada rasa tidak tega pada kakaknya tapi dia tidak mau menyimpan rahasia itu sendirian dia terlalu capek menyimpan itu sendirian, dia sering bermimpi buruk kalo kakaknya banyak menghisap darah manusia termasuk darah dirinya.


Argan sudah pasrah jika adiknya memberitahu orang tuanya. Dia sudah siap menerima apa pun yang akan di lakukan orang tuanya, termasuk jika ingin membuangnya. Entahlah rasanya dia tidak punya tenaga untuk menghentikan adiknya dia benar-benar sudah pasrah.


Inka masih terdiam dia takut orang tuanya akan kaget jika mendengar semuanya. Membuat Inas dan Ares gemas melihat anak-anaknya cuma bisa terdiam.


"Jadi kalian tidak ada yang mau menjelaskan dan cuma mau diam-diaman kaya gini, apa bunda pernah ngajarin kalian untuk tidak sopan sama orang tua, bunda tanya tapi kalian diam saja, kalo ada masalah itu di bicarakan baik-baik jangan cuma di diemin aja, yang ada gak bakalan kelar masalah kalian!" ujar Inas tegas pada anak-anaknya.


"Sabar bun!" Ares menenangkan Istrinya yang sudah mulai emosi. Argan dan Inka semakin menunduk mereka tidak berani kalo bundanya sudah berbicara tegas seperti itu.


"Argan kamu sudah besar kamu harus bisa memberi contoh pada adikmu!" Semuanya terdiam mereka tidak berani menimpali ucapan ibu negaranya kalo bicaranya sudah tegas dengan tatapan tajam.


Ares hanya mengelus punggung istrinya untuk menenangkan istrinya.


Argan menghela nafas. "Bun apa aku anak bunda dan ayah?"


"Argaann..!" sentak Inas.


Membuat semua orang disana terdiam. Apa lagi Argan dia menyesali pertanyaannya dia semakin menunduk. Suasana malam itu semakin tidak kondusif.


"Kenapa kamu bilang seperti itu? Siapa yang bilang kamu bukan anak ayah dan bunda?" Argan terdiam dia takut salah ngomong lagi.


"Bilang Argan!" pekik Inas dia benar-benar kesal. Dia yang sudah mengandung dan melahirkan anaknya dengan susah payah tapi justru ada yang mengatakan Argan bukan anaknya dan membuat Argan mempertanyakan itu.


"Sabar sayang!" Ares mengusap dada istrinya agar tenang. Ares pun kaget kenapa Argan menanyakan itu sama seperti Inka menanyakan hal yang sama padanya sekitar seminggu yang lalu di mobil.


"Kalian tau, kalian adalah anak-anak bunda yang bunda lahirkan dari rahim bunda, tidak ada yang berhak bilang kalo kalian bukan anak bunda!" ucap Inas mulai terisak Ares memeluk istrinya yang mulai menangis.


Argan merasa bersalah menanyakan itu. Inka ikut menangis melihat bundanya menangis.

__ADS_1


"Argan apa yang sebenarnya terjadi kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Ares masih sambil memeluk Inas.


Argan terdiam dia memikirkan apa harus dia sendiri yang mengatakannya, tentang perbedaan dirinya kepada orang tuanya. Setelah berfikir sesaat, Argan menghela nafas dan dia memulai cerita yang sebenarnya tentang apa yang terjadi dengan dirinya selama ini, hingga Inka yang memergokinya di hutan.


Inas dan Ares terbelalak kaget, serasa ada yang menghantam jantung mereka mendengar penuturan anaknya panjang lebar.


Inas terpaku lidahnya terasa kelu, Ares mengusap wajahnya kasar. Tak lama Inas tak sadarkan diri setelah dia mencerna perkataan Argan.


"Bundaaa.." teriak semuanya.


"Sayang, bangun!" Ares menepuk pipi Inas dan berusaha membangunkan istrinya. Inka menangis melihat bundanya pingsan. Argan terlihat terkulai lemas melihat reaksi bundanya.


"Bunda.." lirih Argan. Saat dia mau mendekati Inas, Inka mendorong Argan agar tidak mendekat.


"Jangan sentuh bundaku!" teriak Inka. Membuat hati Argan teriris.


Lalu Ares membawa Inas ke kamar di ikuti Inka dan Argan tapi saat didepan pintu kamar, Inka melarangnya lagi.


"Lihat gara-gara kamu, bundaku jadi pingsan! kamu pergi jangan sentuh bundaku, kamu bukan anak ayah dan bunda! sebaiknya kamu pergi jangan temui ayah dan bunda, pergi dari rumah ini!!" ucap Inka sambil menangis lalu dia masuk ke kamar bundanya.


Ares terlalu fokus sama istrinya sehingga dia tidak menghiraukan anak-anaknya yang sedang bertengkar.


Argan terduduk lesu di lantai, dia menyesali karena sudah mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya.


"Seharusnya aku tidak perlu menceritakannya, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Maafin aku bunda, Inka benar aku gak mungkin anak ayah dan bunda, kalian ada seorang manusia sedangkan aku manusia setengah iblis!"


Argan beranjak lalu ke kamarnya, dia sangat mengkhawatirkan bundanya. Tapi kalo dia ada di dekat bundanya Inka pasti akan marah, mungkin ayahnya juga, itu pikirnya.


Dia duduk di meja belajarnya dan menulis sesuatu. Lalu dia ke lemarinya dan memasukan beberapa baju pada ranselnya. Lalu tanpa sepengetahuan keluarganya dia pergi dari rumah itu, tanpa pamit.


"Sebelum aku di buang, lebih baik aku membuang diri, mungkin rasanya tidak akan terlalu menyakitkan, jika harus mendengar ucapan mereka saat mereka membuangku!"


Argan keluar rumah itu, untuk sesaat dia memandang rumahnya dan menatap lirih.


"Ayah, bunda, Inka aku sayang kalian, maafkan aku!" lirihnya.


Lalu dia meninggalkan rumahnya.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2