
Inas termenung sendiri dihadapan jendela menghadap keluar, pikirannya melanglangbuana, memikirkan keselamatan suaminya setelah mendengar cerita Sakti semalam.
Hati dan pikirannya benar-benar kacau, dia ingin menyusul suaminya, tapi dia tidak tau harus kemana, sekarang dia tau kenapa suaminya menitipkan dia dan anaknya dirumah Sakti, Karena suaminya ingin melindungi dirinya dan anaknya.
Tiba-tiba seseorang masuk ke kamarnya tapi dia tidak menghiraukannya, dia masih terpaku menatap keluar jendela.
Tiba-tiba seseorang itu memeluknya dari belakang membuatnya terkesiap, nafasnya terdengar ditelinganya, dia juga mengenali aroma harum tubuh seseorang yang memeluknya.
"Sayang itukah kamu?" tanyanya. Tidak ada jawaban hanya terdengar suara nafas yang teratur.
Inas berusaha melepaskan pelukannya dan menatap, benarkah seseorang yang memeluknya adalah pria yang sangat dicintainya.
Saat tubuhnya berbalik seketika air matanya mengalir melihat pria yang dicintainya ada dihadapannya. Hatinya merasa bahagia dan tidak percaya, rasa takut akan kehilangannya sirna, setelah dia ada dihadapannya dan terlihat baik-baik saja.
Hatinya berbunga-bunga seperti seseorang yang sedang kasmaran, sangat bahagia. Rasa rindunya terobati, rasa khawatir dan takut lenyap bak tersapu angin.
Tangannya mengusap lembut kedua pipinya.
"Jangan tinggalin aku, jangan pergi lagi aku takut!" ucapnya dengan berderai air mata.
Pria itu tersenyum meraih kedua tangan wanitanya, mengecup tangannya berkali-kali, lalu diletakkan dipinggangnya. Kedua tangannya menangkup kedua pipi Wanitanya, kecupan hangat dia berikan pada wanita tercintanya.
Inas menutup mata menikmati kecupan yang selalu dia rindukan dikala raga mereka sedang berpisah. Untuk beberapa saat mereka menikmatinya, lalu mereka melepaskannya.
"Sangat manis!" ucap pria itu.
Wanitanya tersenyum lalu mengeratkan pelukannya. "Aku mohon jangan pergi lagi!" ucapnya.
Si pria menggeleng. "Jangan menangis, tersenyumlah berbahagialah, saya sangat mencintai kamu!" ucapnya.
"Aku juga sangat mencintai kamu!" ucap wanita itu. Mereka berpelukan menikmati momen yang seolah sangat berharga.
Rasa bahagia dan berbunga menyelimuti hatinya, namun tiba-tiba hatinya bergemuruh, jantungnya berdebar sangat kencang, kala dia merasa tidak ada seseorang dipelukannya, dia seperti memeluk angin.
Dia membuka mata, dia takut dia sangat takut, kemana pria yang dicintainya pergi. Kenapa dia menghilang. Rasa takut, khawatir semakin merasuki relung jiwanya.
"Jangan pergi, jangan pergi!" isaknya.
Matanya menilik ke sekeliling mencari keberadaan di mana pria tercintanya. Namun tidak di temuinya. Lalu apakah tadi hanya ilusi, karena kerinduannya yang mendalam.
"Jangan pergi, jangan pergi, jangaaannn..." teriaknya, dia terperanjat dan terbangun dari alam bawah sadarnya, ternyata semua itu hanya mimpi belaka.
Terlihat nafasnya tak beraturan, wajahnya menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran. Dia terduduk memeluk lututnya, memikirkan mimpi yang baru di alaminya. Ketakutan itu semakin besar dia rasakan.
"Jangan tinggalin aku, aku mohon!" gumamnya dalam isak tangisnya.
Lalu dia melirik ke sampingnya melihat sang putra sedang terlelap, dia mencium kening putranya dan mengusap kepalanya.
"Aku mohon jangan tinggalin kami, kami sangat membutuhkan kamu!" gumamnya lagi.
Air matanya menetes terjatuh mengenai pipi anaknya, membuat anaknya merasakan tetesan yang terjatuh ke pipinya. Dia terbangun dan melihat bundanya yang sedang menangis.
"Nda jangan nangis, nda rindu ayah ya?" tanyanya seolah mengerti apa yang sedang dirasakan bundanya.
Dia terkesiap mendengar penuturan anaknya dia mencium lagi kening anaknya.
"Bobo lagi sayang masih malam!" ucapnya.
Namun anaknya menggeleng. "Nda tadi agan ketemu ayah, tapi ayah dibawa kakek putih!" ucapnya. Membuat dia terkesiap, entah kenapa hatinya semakin takut, dia memeluk anaknya dan mengusap kepala anaknya.
"Nda, ayah bilang nda sama Agan jangan nangis, kata ayah Agan harus jaga nda!" ucap anaknya lagi.
Seketika membuat dadanya sesak, sakit dan terasa ada yang menghantam dadanya. Bahkan suara tangisnya tertahan karena begitu sesak di dadanya.
"Aku mohon tetaplah bersama kami, jangan pernah kamu berkata seperti itu, kamu yang harus menjaga aku dan anak kita!" batinnya berkecamuk, menepis segala kemungkinan buruk.
__ADS_1
"Dia tidak akan pernah meninggalkan aku dan anakku!" lagi-lagi pikiran buruknya dia tepis. Rasa takutnya semakin menyeruak didalam hatinya.
Lalu akankah pria yang sangat di cintainya kembali pada kehangatan keluarga kecilnya, yang sudah mereka perjuangkan susah payah untuk membangunnya.
Atau dia akan melupakan janji yang sering dia ucapkan untuk selalu berada disamping wanitanya dan selalu menjaganya.
...***...
Sakti dan seorang pria sedang berada di rumah Ares, pria itu melihat ke sekeliling, dia merasakan aura negatif yang sangat kuat.
Mata batinnya menangkap makhluk-makhluk yang berkeliaran dirumah itu, entah bagaimana bisa sebanyak itu makhluk yang menempati rumah ini, pikir si pria. Dia adalah anaknya kyai Hasan, karena beliau sedang tidak ada dikota ini, jadi beliau mengutus anaknya untuk membantu Inas.
"Maaf mas kita harus bagaimana?" tanya Sakti.
Pria bernama Ayub itu, duduk bersila lalu memejamkan mata, dan tak lama mulutnya komat-kamit merapalkan doa. Meski gayanya seperti pria biasa, tapi ilmu kebatinanya lumayan tinggi, hampir setara dengan ayahnya.
Sakti mengikuti Ayub duduk bersila dan berdoa, setelah tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Tak lama Ayub sudah berada ditempat asing, dia membuka matanya, dia berada dihutan bambu yang sangat lebat dan rimbun. Tak lama datang seorang pemuda menghampirinya.
"Assalamualaikum.." sapa Ayub.
"Waalaikumussalaam.." jawab Pemuda itu.
"Pasti kamu yang akan menolong tuan saya?" tanya Pemuda itu.
Ayub menggeleng lalu tersenyum. "Saya tidak bisa menolong siapa pun dan jangan pernah berharap pertolongan kepada siapa pun kecuali Allah, Dialah tempat kita meminta pertolongan dan hanya kepadanya kita memohon pertolongan!" ujar Ayub.
Pemuda itu tersenyum. "Baik lah mohonkan pertolongan untuk tuan saya, waktunya tidak banyak atau dia tidak akan selamat!" balas pemuda itu.
Ayub tak menjawab, dia memejamkan matanya dia melihat semakin kedalam auranya sangat kuat, setan itu punya kekuatan yang kuat.
Tapi tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan sang pencipta. Sekuat apa pun setan itu dia tidak akan mampu melawan penciptanya.
Saat dia membuka mata, dia sudah tidak berada dihutan bambu lagi. Tapi dia berada di hutan dengan pohon-pohon yang sangat besar dan lebat, meski pohon itu tidak menjulang tinggi, tapi cukup menyeramkan.
Ayub dan pemuda itu berkeliling hutan itu, mencari keberadaan orang yang sedang di carinya.
"Aresta Atmaja Wijaya bin Fardi Kusumo, saya datang untuk mencarinya." gumam Ayub dalam hati.
Seketika makhluk tinggi dengan tangan yang sangat panjang dan kaki panjang dan tubuhanya sangat ramping, tingginya melebihi pohon yang ada didekatnya. Matanya merah menyala seperti api, mulutnya lebar, kulitnya kering, kuku tangan dan kakinya panjang-panjang, bagian batok kepalanya membesar tapi kebawah sampai dagunya kecil.
Namun tak membuat Ayub takut ataupun gentar.
"Ada apa kau manusia masuk kewilayahku?" tanya makhluk itu menggema.
"Maaf saya tidak bermaksud mengganggu, saya ingin menjemput saudara saya yang kalian ambil!" jawab Ayub tenang, tak ada rasa takut sedikit pun darinya.
"Itu bukan urusanku, cepat pergilah, jangan ganggu atau kau akan mati!!" pekik Makhluk itu.
Ayub tersenyum sedangkan pemuda yang disampingnya hanya, menatap tajam kearah mereka bergantian.
"Kalo mereka cuma saling berbicara seperti ini, waktu tuan semakin sedikit, bisa-bisa dia tidak bisa kembali ke raganya!" gumam pemuda itu dalam hati.
Secepat kilat pemuda itu mengerahkan kekuatannya untuk menyerang makhluk itu. Tapi seketika Ayub menahannya dan membuat pemuda itu kesal.
"Waktu tuan tinggal sedikit jangan buang waktu!" pekik Pemuda itu. Ayub tersenyum dan menutup matanya lagi.
...***...
Inas menunggu dengan perasaan gelisah dan khawatir, namun hatinya terus merapalkan doa untuk keselamatan suaminya. Dia mondar-mandir diruang tamu berharap Sakti membawa suaminya pulang. Argan sudah terlelap.
Dia menunggu dengan cemas. Intan yang melihat menghampirinya.
"Nas, kenapa belum tidur?"
__ADS_1
"Gak apa-apa kak, aku nungguin abang."
"Aku tau kamu khawatir, tapi ini sudah malam kamu harus tidur, nanti kamu sakit!" Namun Inas masih kekeuh untuk menunggu.
"Kalo kamu sakit, kasian Argan nanti siapa yang akan jagain dia!" ucap Intan. nyes! benar apa yang di katakan Intan, kalo dirinya Sakit, kasian Argan. Tapi rasa khawatirnya pada suami, tidak bisa tertahankan.
"Kakak tidur aja dulu!" ucap Inas. Intan menyerah, Inas memang keras kepala, susah sekali dibilangin, Intan kembali ke kamar karena dia merasa tubuhnya sangat lelah setelah bekerja.
Inas masih berdiri dekat jendela, berharap suara mobil Sakti datang dan membawa suaminya. Namun sudah selarut ini, belum ada tanda-tanda mereka pulang. Inas kembali duduk disofa, ketika mendengar deru suara mobil Inas berdiri menilik dibalik tirai berharap itu adalah Sakti bersama suaminya, namun itu mobil orang lain.
Inas melakukan itu berkali-kali, kembali duduk namun saat mendengar suara mobil dia kembali berdiri menilik dibalik tirai dan berharap itu adalah orang yang sedang di nantinya, namun lagi-lagi itu mobil orang lain. Sampai akhirnya dia terlelap disofa.
...***...
Inas terbangun saat seseorang memeluknya, Inas membuka mata dia melihat anaknya yang sedang memeluk.
"Nda kenapa tidur disini? Agan sendirian dikamar!"
"Maaf ya sayang nda ketiduran." ucapnya sambil mengelus kepala anaknya.
Tak lama terdengar suara mobil diluar, Inas terkesiap dan langsung beranjak berharap itu adalah suaminya, dia langsung membuka pintu dan berlari kecil.
Matanya menilik mencari seseorang yang sedang dia nantikan, tapi tidak ada hanya ada Sakti sendirian. Terlihat raut wajah yang sangat lelah bahkan tidak tergurat raut bahagia. Apa itu artinya Ares belum ditemukan?
Inas menatap nanar kearah Sakti, memohon penjelasan bagaimana keadaan suaminya.
Sakti menatap lirih Inas, dia tau wanita itu sedang menantikan kedatangan suaminya, hatinya semakin merasa bersalah, belum bisa menepati janji untuk membawa suaminya.
Entah kenapa tidak satupun yang memulai berbicara, mereka hanya berdiri mematung saling berhadapan.
Sakti menatap lirih dan Inas menatap nanar. Sakti menunduk dia tidak sanggup melihat kesedihan di wajah wanita yang pernah mengisi hatinya, bahkan rasa sakit itu masih ada saat melihat dia menangis, bersedih, dia gak sanggup melihatnya, dia tidak ingin melihat wanitanya meneteskan air mata, apakah dia masih mencintainya?
"Maaf!" ucapnya tercekat, bahkan suaranya nyaris tak terdengar.
Sesak, sangat sesak saat mendengar kata yang tak ingin dia dengar, kata maaf itu berarti ada suatu hal yang tak diinginkan terjadi, bukan maaf untuk suatu kesalahan.
Hanya air mata yang membalas ucapan itu, rasanya ada beban yang menghantam dada.
Dia ingin pria yang dicintainya kembali, bukan kata maaf yang dia harap.
Angin di waktu Fajar menerpa, entah kabar apa yang sebenarnya terjadi. Namun melihat raut wajah Sakti, itu sudah menandakan bukan kabar baik.
"Apakah dia benar-benar pergi? Meninggalkanku dan buah hatinya, kenapa? kenapa dia mengingkari janji?"
Bahkan dia berspekulasi sendiri tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Tubuhnya lemas jatuh kelantai air matanya mengalir, lidahnya kelu, kerongkongannya terasa tercekat, dadanya terasa penuh dan rasanya akan meledak.
Sakti masih menunduk, hatinya teriris melihat wanita itu terluka, bahkan hatinya lebih terluka ketika melihatnya terluka. Dadanya pun terasa sesak.
"Kenapa ini, kenapa begini? Apa saya masih mencintainya?" Entah kenapa batinnya berkata seperti itu.
Lalu bagaimana dengan Ares apakah dia selamat atau tidak?
.......
.......
...Bersambung.....
Tadinya Author mau hapus karakter Ares, tapi kok gak tega ya sama Inas dan Argan.
Jadi setuju tidak kalo Ares gak ada?
Ikuti terus ceritanya ya. Jangan lupa dukung terus. Dukungan kalian sangat berarti buat Author. Dukungan kalian penyemangat Author buat lanjutin cerita..
...-TERIMA KASIH-...
__ADS_1