
Pagi hari semua sudah berkumpul bersiap untuk sarapan kecuali Ares.
"Bun ayah mana?"
"Ayah masih tidur kak!"
"Tumben banget, emang ayah gak ke kantor?"
"Gak tau kak, tadi sih udah bunda bangunin, tapi tidur lagi!" Argan hanya menganggukan kepalanya.
"Tumben banget ayah tidur sampe siang, biasanya ayah yang selalu bangunin kami untuk sholat!" pikir Argan.
Akhirnya Argan dan Inka melanjutkan sarapannya sedangkan Inas kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya.
"Yah bangun udah siang!" Inas menepuk pipi Ares, tapi Ares tidak terbangun juga.
"Ayah, ayok bangun itu dedek udah mau berangkat sekolah!"
Ares tak bergeming dia hanya menggerakan tubuhnya sedikit. Inas menggeleng tidak biasanya suaminya susah dibangunin.
"Ayah ba-"
"Berisik banget sih!! gak liat apa orang lagi tidur!" bentak Ares lalu menarik selimut dan tidur lagi.
Baru kali ini Ares membentak Inas seperti itu dan itu membuat Inas kaget, dia sampai speechles mendengar suaminya membentak dia.
"Ayah tapi ini udah siang!" Inas memelankan suaranya tapi sambil terus mengguncang tubuh Ares. Ares beranjak dan menatap Inas penuh amarah.
"Maaf yah, bunda ganggu ayah tidur!" Inas menundukan kepalanya saat melihat tatapan marah Ares. Ini pertama kalinya Ares menatap seperti itu.
"Udah tau ganggu, kenapa masih ganggu?" bentak Ares lagi. Inas hanya menundukan kepalanya mendengar bentakan suaminya.
Ares pun beranjak dengan rasa dongkol dia ke kamar mandi dan dia membanting pintu kamar mandi, lagi-lagi membuat Inas kaget.
"Ayah kenapa? kok jadi kasar, bahkan dari subuh di bangunin ayah marah-marah!"
Inas merasa sangat sedih, melihat perubahan suaminya. Ini pertama kalinya saat Inas mengenal Ares, Ares berkata kasar, meski dulu Ares pernah mengkhinatinya tapi Ares tidak bersikap atau berkata kasar. Bahkan saat pertama kali mereka ketemu, Ares tidak pernah bersikap kasar hanya saja sikapnya dingin.
Tak terasa air mata Inas menetes, mengingat Ares membentak dirinya.
"Aku gak boleh nangis dan jangan sampe anak-anak tau soal ini!" Inas menghapus kasar air matanya dia kembali ke dapur.
"Bun aku berangkat dulu ya, salamin sama ayah! Assalamualaikum.." Argan berpamitan sambil menyalami Inas.
"Waalaikumsalam, hati-hati sayang!" Argan berangkat lebih dulu karena dia sudah terbiasa naik angkot jadi dia gak harus nunggu ayahnya.
__ADS_1
"Bun kok ayah lama nanti dedek kesiangan!"
"Iya sayang, tunggu sebentar ya, bunda panggilin ayah!"
Inas kembali ke kamar, suaminya sedang berganti baju, sudah bersiap untuk ke kantor.
"Kenapa kamu bangunin saya siang, saya jadi kesiangan ke kantor!" sentak Ares membuat Inas terkesiap.
"Tapi tadi bunda udah bangunin yah!"
"Berisik!"
"Iya maaf yah!" Inas membantu merapihkan dasi Ares tapi Ares menepis tangan Inas.
"Gak perlu!" ketus Ares. Membuat Inas semakin bingung dan juga terasa sesak di dada. Lalu Inas mengikuti Ares keluar kamar dan membawakan tasnya.
"Ayo dek ini ayah udah siap!"
"Iya bun!" Inka berpamitan pada Inas dan menyalami Inas.
"Assalamualaikum bun!"
"Waalaikumsalam, hati-hati sayang." Inka lebih dulu masuk ke mobil sambil nunggu ayahnya pakai sepatu.
Setelah selesai Ares segera beranjak, Inas menyalami Ares lalu pergi begitu saja.
Air matanya menetes, kenapa suaminya tiba-tiba berubah seperti itu. Bahkan kebiasaan suaminya sebelum berangkat tidak dia lakukan yaitu mencium keningnya, biasanya dia tidak pernah melupakan itu. Tapi yang membuat Inas sedih adalah sikap dan perilakunya berubah 180°.
Inas merenung apa ada kesalahan yang membuat suaminya marah, tapi biasanya meskipun marah Ares tidak pernah bersikap atau berkata kasar, paling dia hanya diam saja.
"Mungkin ada masalah lain, aku yakin nanti juga pasti akan mereda dan ayah akan meminta maaf!" Inas terus berpikir positif lalu dia melanjutkan membereskan meja makan.
...***...
Argan sedang beristirahat dibawah pohon besar dibelakang sekolah, dia menyenderkan tubuhnya di pohon. Dia mengabaikan mbak kunti yang sedang bertengger dipohon dan dia juga mengabaikan hantu-hantu yang sedang berkeliaran disekitarnya, karena memang dia selalu berpura-pura tidak melihat mereka. Entah kenapa hari ini dia ingin menyendiri tak ingin ada manusia yang mengganggunya, mungkin saat ini Guntur sedang mencarinya.
Dia masih memikirkan kalung belati itu dan sejak tadi pagi perasaannya tidak enak. Argan memejamkan matanya, menikmati lantunan suara merdu mbak kunti yang selalu terdengar bahagia.
"Aargh.." tiba-tiba dada Argan terasa sakit. Argan menekan dadanya.
"Kenapa dada gue sakit, perasaan gue juga semakin gak enak!" Argan terus menekan dadanya. Setelah merasa lebih baik Argan melanjutkan memejamkan mata.
"Wahhh aku cari-cari ternyata kakak disini!" ucap Seorang anak kecil. Meski Argan mendengarnya dia tidak mempedulikannya, karena dia tau itu adalah hantu anak kecil yang selalu mengganggunya.
"Kakak ayo bangun, kakak harus bantu aku, ayo kakak bangun!" Reno terus merengek di depan Argan meski Argan terus mengabaikannya.
__ADS_1
"Kalo kakak gak mau bantu, aku bakal ganggu terus!" Reno tak menyerah dia terus mengganggu Argan sampe Argan kesal dibuatnya.
"Kamu lagi ngapain?" tanya seseorang.
Argan membuka mata dia langsung beranjak saat melihat pak Rendi ada dihadapannya. Argan menundukan kepalanya tanda hormat.
"Kamu ngapain disini?" tanya pak Rendi lagi.
"Aku cuma lagi cari angin aja pak!"
Entah kenapa semua hantu yang tadi berkeliaran tiba-tiba menghilang begitu saja, yang tadinya ramai dengan para hantu tiba-tiba hening. Dan itu membuat Argan bingung dan juga kalung Argan bergetar.
"Sebentar lagi bel masuk, sana kembali!"
"Baik pak!" Argan berlalu meninggalkan pak Rendi. Terlihat pak Rendi menatap tidak suka pada Argan. Dan ternyata benar setelah Argan masuk kekelas bel masuk berbunyi.
"Elo kemana aja, gue cariin?"
"Pacaran sama mbak kunti!" jawab Argan asal.
"Waduhhh gila selera loh mantep bro!"
Argan memutar bola mata malas. "Elo mau gue kenalin?"
"He he he, jangan gitu lah bro, gue cuma becanda!" Guntur begidik ngeri membayangkan pacaran sama mbak kunti. Bahkan dia membayangkan pacarannya di atas pohon, lagi-lagi Guntur begidik ngeri.
"Kenapa juga gue bayangin." Argan hanya tersenyum melihat tingkah temannya.
Tak lama pelajaran di mulai dan sekarang pelajarannya pak Rendi yaitu matematika.
Pak Rendi adalah guru baru dan guru paling muda, dia juga punya paras yang tampan, membuat para wanita terpesona melihat ketampanannya.
Entah kenapa tatapan pak Rendi pada Argan sangat tajam, ini pertama kalinya pak Rendi mengajar di kelas Argan. Dan kalung Argan lagi-lagi bergetar.
Argan bingung kenapa kalungnya bergetar sama persis saat dia bertemu Sakti kemarin, padahal biasanya tidak.
Namun Argan merasa tenang karena tidak ada Reno yang selalu mengganggunya, tiba-tiba Argan mengingat saat dibelakang sekolah, hantu-hantu menghilang tepat saat pak Rendi datang.
"Aneh!" pikir Argan.
Pak Rendi terus menatap ke arah Argan dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti membuat Argan bingung. Apa ada yang salah dengan dirinya, apa karena tadi dia berada dibelakang sekolah, tapi emang salah kalo Argan disana.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....