Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Dilema


__ADS_3

Sore itu Argan sudah di perbolehkan pulang. Tapi sejak kejadian tadi siang Penty tak banyak bicara dia lebih banyak diam dan itu membuat Argan gelisah, karena di tanya Penty hanya diam. Kecuali jika Ares yang bertanya.


"Dia marah?" tanya Argan dalam hati sambil terus melirik ke arah belakang karena Penty sedang duduk di belakang.


Sampai rumah Penty langsung pamit untuk ke kamar dan itu membuat Inas bingung.


"Ada apa yah?" tanya Inas. Ares hanya mengendikan bahu. Argan pun langsung ke kamarnya.


"Mereka lagi berantem?"


"Kayaknya bun? pas ayah balik ke rumah sakit mereka diem-dieman!" Inas hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya udah sana ayah mandi dulu!"


"Iya sayang!" Sebelum pergi masih sempatnya Ares mengecup bibir istrinya, lalu segera berlari agar tidak di omeli istrinya.


"Ya ampun ayah!" Inas hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya.


Inas menghampiri Argan di kamarnya. "Bunda!" ucap Argan saat melihat bundanya masuk.


Inas duduk ditepi kasur dan Argan duduk bersila menghadap Inas.


"Ada apa?" tanya Inas.


"Ada apa gimana bun?" tanya Argan balik.


"Lagi berantem sama Penty?" Argan menunduk.


"Dia marah bun!"


"Kenapa?" Inas mengusap kepala Argan.


"Maaf ya bun aku udah ingkar janji!"


"Maksdunya?" tanya Inas bingung.


"Aku udah nyakitin Shina dan Penty!" Inas semakin bingung.


"Kenapa bisa sih kak?" tanya Inas penasaran.


"Aku suka sama mereka bun dan tadi Penty marah karena aku gak ngasih kepastian!"


Inas menahan tawa, sebenarnya dia agak kecewa karena Argan ingkar janji dan malah fokus mikirin cewek, padahal Inas pengen Argan fokus sama sekolah dulu.


Tapi denger cerita Argan menurutnya lucu, sekuat tenaga Inas menahan tawa.


"Anak bunda udah gede ya, di rebutin sama cewek-cewek cantik!" goda Inas sambil terus mengulas senyum.


"Ahh bunda pasti deh kaya gitu, bukannya bantuin malah ledekin!" ucap Argan sebal.


"Terus bunda harus gimana? keputusannya ada di kamu sayang, kamu harus bisa memilih!"


"Aku bingung!" ucap Argan sambil menyenderkan kepalanya di bahu Inas.


"Apa bunda bilang, jangan pacaran pusingkan?"


"Aku gak pacaran bun! aku cuma suka aja, tapi gak mau pacaran!"


"Masa?" tanya Inas tak percaya. Argan mengangguk.


"Udah pikirin itunya nanti lagi, sekarang mandi karena ini udah sore!"


"Iya bunda!" sahut Argan sambil mencium pipi Inas. Lalu Inas pun beranjak dan keluar kamar.

__ADS_1


Lalu Inas ke kamarnya ternyata suaminya baru selesai mandi. Inas langsung menyiapkan baju untuk suaminya. Seperti biasa Ares akan mengganggu istrinya. Dia memeluk Inas dari belakang saat dia sedang mengambil baju di lemari.


"Ayah jangan gangguin bunda, udah cepet pake bajunya!" Ares tak menghiraukannya dia mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di leher Inas sambil menciumi leher Inas.


"Ayah geli!" Ares masih saja tak mempedulikannya. Lalu ciuman itu beralih ke pipinya.


"Biarin bun ayah kangen!"


"Tiap hari ketemu, kangen apanya?" sebal Inas. Ares hanya terkekeh.


Ares pun melepaskan pelukannya dan memakai baju yang sudah di siapkan Inas. Lalu Inas membantu mengeringkan rambut Ares pakai handuk.


"Bunda masih inget Fahri gak?" tanya Ares saat Inas sedang mengeringkan rambutnya.


"Fahri?" Inas nampak berfikir.


"Gak inget yah, emang kenapa?"


"Berarti bunda udah tua!" ledek Ares.


"Iihh ayah nyebelin banget sih!" ucap Inas sebal sambil menjambak rambut Ares.


"Ampun bun, sakit sayang!"


"Makanya jangan nyebelin!" Lalu Ares menepuk pahanya agar Inas duduk di pangkuannya. Inas pun menurut dia duduk di pangkuan Ares dan menghadap Ares lalu dia melanjutkan mengeringkan rambut suaminya.


"Itu loh sayang, Fahri yang dulu pernah bunda tolongin waktu di rumah sakit Pelita!" ucap Ares. Inas menghentikan aktivitasnya lalu nampak berfikir.


"Ohh yang itu, iya yah bunda inget, emang kenapa?" tanya Inas lalu dia menyisir rambut suaminya.


"Waktu kemarin di rumah sakit ayah ketemu sama dia! dia masih inget sama ayah padahal ayah gak inget untung dia ngingetin!" Inas mengangguk.


"Ngapain dia di rumah sakit yah?"


"Ohh syukurlah kalo udah sehat!" Ares membenamkan wajahnya di dada Inas.


"Udah yah bunda mau siapin buat masak nanti!" Ares menggeleng dia memeluk Inas erat. Lalu Ares mengangkat kepalanya dan menatap istrinya.


"Kiss!" pinta Ares.


Cup


Inas menuruti apa mau suaminya. "Lagi bun!"


"Iihh kamu kebiasaan deh, kalo bunda mau ngerjain sesuatu gangg-" Ares langsung menghentikan ocehan istrinya dengan mencium bibirnya. Inas hanya pasrah menghadapi suami mesumnya ini.


Ares ******* lembut bibir istrinya, Inas membalas. Tak lama Inas melepasakannya.


"Udah yah, bunda mau masak buat makan malam!"


"Beli aja sayang, sekarang temenin ayah, please!" ucap Ares memohon. Inas menggelengkan kepalanya melihat sikap suaminya, tapi tetap saja dia menuruti kemauan suaminya. Mereka pun melanjutkan apa yang ingin mereka lakukan.


...***...


Pagi hari semua sudah berkumpul untuk sarapan.


"Oh iya san, hari ini kamu mulai kerja di kantor saya ya!"


"Siap kak!" jawab Sandi. Ares menawarkan pekerjaan pada Sandi dan dia juga menyuruh Sandi agar tinggal di Bandung biar mereka bisa kumpul. Sandi pun setuju dan dia berniat menjual rumah bapaknya dan akan membeli rumah di sini dan itu pun sudah atas persetujuan Sakti.


Penty masih banyak diam bahkan dia mengabaikan Argan. Argan terus mencuri pandang pada Penty tapi Penty terus mengacuhkannya. Setelah sarapan mereka bergegas berangkat.


"Ayah aku ikut di mobil ayah ya!" pinta Penty. Argan terhenyak Penty tak mau berangkat dengannya lagi.

__ADS_1


"Boleh ayo kita berangkat!"


Penty pun segera menggandeng Inka dan mereka berpamitan pada Inas, Penty tak menoleh sedikit pun pada Argan. Ares, Inas dan sandi saling berpandangan melihat sikap Penty.


"Ya udah bun, ayah berangkat ya!"


"Iya yah!" Inas menyalami Ares.


"Aku juga kak!"


"Iya san!"


"Aku berangkat bun!" Inas mengangguk dan mengelus kepala Argan yang terlihat tak semangat, dia tau anaknya sedang dilema.


Mereka pun berangkat, akhirnya Argan ikut berangkat di mobil juga. Sampainya di sekolah Penty langsung masuk ke kelasnya dan tak mempedulikan Argan yang memanggilnya.


Argan menyusul Penty ke kelasnya, tapi terlihat Penty sedang mengobrol dengan teman laki-laki sekelasnya bahkan mereka terlihat sangat akrab. Argan kesal melihat Penty dekat dengan cowok lain dia menghampiri Penty dan menarik tangan Penty.


"Apaan sih gan, lepasin gue!" pekik Penty kesal.


"Aku mau ngomong sama kamu!"


"Gue gak mau!" ketus Penty. Argan tak peduli dia menarik Penty, mau tak mau Penty mengikutinya. Sikap mereka tak luput dari perhatian para siswi dan menjadi gosip terhangat pagi itu.


Mereka mengira Penty dan Argan sedang berantem, banyak yang berspekulasi gak jelas tentang mereka.


Argan membawa Penty ke belakang sekolah, dia langsung menyudutkan Penty ke dinding dan dia mengungkung Penty agar tidak lepas.


"Minggir gue mau pergi!" pekik Penty kesal. Argan tak melepaskan Penty dia tetap mengurung Penty dengan kedua tangannya.


"Gue gak suka lo deket sama cowok lain!" ucap Argan. Penty terkekeh.


"Apa hak lo larang gue, elo bukan siapa-siapanya gue!" pekik Penty kesal dan menatap tajam Argan.


Banyak murid yang mengintip pertengkaran mereka bahkan ada yang mengabadikannya dengan Video. Ada Shina dan Marvel juga. Saat Marvel ingin melerai mereka, Shina melarangnya.


"Jadi sekarang apa hak lo ngelarang gue?" tanya Penty kesal melihat Argan hanya terdiam.


"Gue-" Argan bingung dia harus jawab apa, sungguh dia benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya. Dia tidak ingin melihat Penty dekat dengan cowok lain. Tapi dia juga tidak bisa memberi kepastian pada Penty tentang perasaannya. Karena dia masih dilema tentang perasaannya.


"Cukup gan! kalo elo suka sama Shina berhenti ngejar gue dan jangan beri harapan ke gue!" teriak Penty tak terasa air matanya menetes.


Argan terdiam dia benar-benar membenci dirinya karena tak bisa memilih dan tegas.


Shina hanya menatap lirih, dia juga merasakan apa yang Penty rasakan. Karena Argan memberi harapan padanya dan juga Penty.


Penty mendorong Argan agar dia lepas dari kungkungannya. Setelah lepas dia segera pergi meninggalkan Argan yang masih saja terdiam.


Penty menangis dan berlari hatinya terasa sakit. Andai saja dia tidak terbawa perasaan, dia tidak akan merasakan sakit ini.


"Gue kejar Penty dulu!" ucap Marvel. Marvel mengejar Penty. Dan Shina menghampiri Argan.


"Maaf!" lirih Argan saat Shina menghampirinya.


Shina terdiam dia tak bisa berkata apa-apa. Dia tau Argan menyukainya tapi dia juga tau Argan menyukai Penty.


Rumit memang, jika Argan memilih salah satu dari mereka yang satunya akan terluka. Argan tak ingin menyakiti wanita. Tapi dengan sikapnya yang sekarang malah menyakiti mereka berdua.


"Benar kata bunda seharusnya aku lebih baik fokus belajar dan sekolah dari pada mikirin cinta, sekarang aku seperti orang bodoh karena mikirin cinta!"


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2