Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Berburu


__ADS_3

Ares masih terkulai lemas menyaksikan rumah itu sudah rata dengan tanah, dia menyesal tidak bisa menyelamatkan anaknya, dia tidak tau harus berkata apa pada istrinya. Inas pasti akan sangat terpukul jika tau anaknya tidak selamat.


Tiba-tiba memori tentang Argan berputar di otaknya, di saat kehamilannya betapa Inas selalu ingin di manja olehnya, saat kelahirannya betapa bahagianya dia dan keluarganya menyambutnya, hari-hari bersamanya saat bermain dengannya, saat dia mulai beranjak remaja, bahkan saat dia harus mengalami hal pahit karena harus menerima kutukan iblis itu, semua berputar di otaknya. Air matanya menetes, mengingat buah cinta dari wanita yang paling dia cintai itu.


"Maafin ayah! maaf nak!" hanya kata itu yang bisa dia ucapkan. Ares masih meratapi anaknya yang tak bisa dia selamatkan.


"Aaaaa.." tiba-tiba terdengar suara teriakan. Ares terkejut dan langsung menoleh ke arah hutan. Dia panik anak dan istrinya masih ada di sana. Ares bergegas langsung berlari ke arah hutan takut terjadi apa-apa pada keluarganya.


Kedua pria bertopeng itu pun mengikutinya. Sedangkan Inas dan yang lainnya sedang ketakutan tiba-tiba seseorang berjubah datang membawa sebuah kapak, entah siapa orang itu, suasana gelap tak bisa melihat wajahnya.


Dia terus menyerang Inas dan yang lainnya, Inka sudah menangis histeris melihat orang itu menyerang membabi buta, mengarahkan kapak itu pada mereka.


"Bunda dedek takut!" isak Inka.


Inas menyuruh Inka dan yang lainnya berlari sementara dia menghalangi orang itu. Dia yakin orang itu adalah salah satu pengikut Lakhuds.


Shina dan yang lainnya berlari namun mereka pun di hadang dengan orang yang berjubah pula. Sehingga mereka di kepung dan tak bisa lari lagi.


Inka sudah sangat ketakutan dia bersembunyi di belakang Inas. Beberapa orang berjubah mengepung Inas dan yang lainnya.


Lalu salah satu dari mereka membuka tudungnya dan ternyata dia Reka.


"Jangan sentuh keluargaku!" pekik Inas.


Reka tersenyum dan tertawa melihat wajah ketakutan dari mereka, sungguh dia ingin sekali menghabisi mereka semua, tapi dia ingin bermain-main dulu dengan mereka.


"Larilah, kami tidak akan menghalangi kalian!" ucap Reka.


Semua orang berjubah itu minggir dan memberi jalan pada Inas dan yang lainnya. Inas mengernyit bingung, kenapa Reka melepaskan mereka. Tapi Inas tak ingin buang waktu dia cepat membawa keluarganya lari dan segera menghindar dari orang-orang itu.


"Larilah sejauh mungkin, aku akan tetap mendapatkan kalian!" ucap Reka menyeringai.


"Mari kita berburu!" pekik Reka.


Setelah di rasa Inas dan yang lainnya pergi menjauh. Reka menyuruh anak buahnya mengejar mereka dan memburunya. Seketika mereka pun berlari dan mengejar Inas dan yang lainnya.


"Bagaimana boy? seru bukan perburuan kita?" ucapnya pada salah seorang yang sedang berdiri di dekatnya.


Dia hanya menggeram kesal melihat keluarganya jadi buruan Iblis itu. Lalu Reka pun ikut mengejar mereka dia ingin ikut berburu bersama anak buahnya.


Argan yang tak bisa melawan hanya bisa ikut perintah Reka. Karena dia sudah di kendalikan oleh Reka.


Setelah kepergian Reka menyusul anak buahnya. Ares dan kedua pria bertopeng itu muncul. Ares mencari istri dan keluarganya, tapi mereka sudah tidak ada. Ares frusrasi dia sudah kehilangan anaknya dan dia tidak ingin kehilangan istri dan anaknya lagi.


Ares terus berlari mencari keluarganya, dia berharap mereka baik-baik saja.


Sedangkan Inas dan yang lainnya terus berlari karena orang-orang berjubah itu terus mengejarnya. Nafas mereka sudah terengah-engah, badan pun terasa lemas, apa lagi Fahri dia tidak sanggup lagi buat berlari, tubuhnya sangat lemah. Dia terus terjatuh.


"Papa!!" Shina terisak melihat papanya tak berdaya.


"Pergi nak! biarkan papa, selamatkan dirimu!" Shina menggeleng.

__ADS_1


"Aku gak akan ninggalin papa, aku gak mau kehilangan papa, aku sayang papa!" Shina dan Marvel membantu memapah Fahri membuat mereka tak bisa berlari kencang lagi.


Inas pun sama dia tidak bisa berlari lagi karena dia harus menggendong Inka, yang sudah sangat kelelahan. Suara langkah orang-orang itu semakin mendekat.


Inas dan yang lainnya semakin panik. Mereka harus cepat dapat tempat persembunyian. Sekuat tenaga mereka terus berlari.


Ares dan dua pria itu belum bisa menemukan Inas dan yang lainnya. Tiba-tiba dia di hadang orang-orang berjubah itu. Perkelahian pun tak bisa di hindari.


Ares melawan orang berjubah itu, namun kekuatan mereka tidak bisa di remehkan karena mereka bukan manusia biasa. Namun mereka serupa dengan makhluk-makhluk sebelumnya, hanya saja mereka berbentuk manusia.


Ares terus tersungkur karena tidak bisa mengimbangi, kekuatan mereka.


"Cepat cari keluargamu, mereka biar kami yang urus!" ucap pria bertopeng itu.


Ares pun mengangguk dan secepat mungkin berlari mencari keluarganya. Dia terus menelusuri hutan yang gelap dan membuat dia kesulitan mencari keberadaan keluarganya.


"Tolooongg.." tiba-tiba dia mendengar seseorang meminta tolong. Ares segera mencari orang itu.


"Tolooongg.." Ares menuju asal suara, tak lama dia melihat seorang pria berjubah ingin memenggal kepala Sandi yang sudah terikat di pohon. Secepat mungkin dia menyelamatkan Sandi yang hampir saja kena tebasan kapak itu.


Bugh..


Tepat waktu, Ares menggagalkan orang itu membunuh Sandi. Orang itu tersungkur karena mendapat tendangan dari Ares. Orang itu murka dan dia melawan Ares dan terus mengarahkan kapaknya ke arah Ares, meski Ares bisa menghindar, namun serangan berikutnya tanganya terluka karena terkena kapak itu.


Orang itu senang dan tersenyum, lalu dia menatap ke arah Ares betapa terkejutnya dia, mengetahui siapa orang itu, begitu juga Sandi dia sangat terkejut sampai dadanya terasa sesak.


"Penty!" pekik Ares dan Sandi.


Saat Ares sedang melamun Penty segera menyerang Ares.


"Kak Ares awas!" teriak Sandi. Ares pun segera menghindar dan dia terhindar dari serangan Penty. Ares tau dia bukan Penty sebenarnya pasti ada yang sedang merasukinya hingga dia seperti itu.


Penty tak menyerah dia terus melawan Ares, kali ini dia melawan dengan tangan kosong, kekuatannya seperti laki-laki, Ares bahkan sampai kewalahan melawan Penty.


Sandi terus berusaha melepaskan ikatannya, dia ingin segera menolong Ares dan keponakannya itu. Sandi pun merasa aneh kenapa Penty bisa berkelahi seperti itu, padahal dia tau Penty adalah wanita yang lembut.


Setelah susah payah dia melepaskan ikatannya, akhirnya terlepas dia segera menolong Ares. Namun saat dia akan mendekat dia malah terpental, membuat dia semakin heran.


Ares sudah kewalahan melawan tenaga Penty yang di luar batas, Ares yakin dia sedang di kendalikan sesuatu. Ares terpaksa mengeluarkan cambuk kakeknya, karena dia tau, dia tidak sedang melawan manusia tapi setan.


Sandi masih tergeletak dan memegangi dadanya yang terasa sakit. Sandi semakin bingung dengan keadaan saat ini. Sudah cukup lama dia ada di hutan ini, tapi kenapa belum pagi juga, bahkan saat dia menatap langit, bintang bertebaran di langit dan bulan pun masih memancar dengan indahnya.


Padahal seharusnya, sudah selama ini seharusnya ini sudah pagi mungkin menjelang siang. Sandi masih belum menyadari sedang berada di mana dia sekarang. Saat sedang melamun dia di kejutkan dengan suara guntur yang menggelegar membuat dia kaget bukan kepalang dan dia melihat Penty sudah tergeletak.


"Penty!" Sandi mendekati Penty. Tapi Ares menahannya.


"Jangan dulu! kita periksa dulu!" Ares pun mendekati Penty, namun Penty sudah tidak sadarkan diri.


Sedangkan Inas dan yang lainnya masih berjuang untuk menghindari kejaran Reka dan pengikutnya.


Inas dan yang lainnya sudah tidak sanggup berlari lagi, mereka sudah terkulai lemas karena kelelahan.

__ADS_1


"Bunda aku sudah tidak kuat!" ucap Marvel dengan nafas yang terengah-engah.


Shina mengangguk membenarkan, dia sangat khawatir dengan keadaan papanya yang semakin lemah.


"Apa kita akan mati?" tanya Shina. Inas menatap lirih Shina. Ini semua adalah kesalahannya, tapi lagi-lagi orang lain yang harus mendapatkan akibatnya.


Dia tidak ingin kejadian dulu terulang lagi, saat dia harus kehilangan sahabatnya karena dia.


"Apa pun yang terjadi aku harus melindungi mereka, mereka tidak salah!"


Tak lama Reka dan rombongannya datang. Reka tersenyum melihat Inas dan yang lainnya sudah terkapar lemas. Semuanya merapat ke Inas sungguh mereka sangat takut melihat tatapan Reka.


Saat Reka akan mendekat, tiba-tiba dia merasakan panas sehingga dia mundur. Dia sadar ada gadis pemilik darah suci itu. Lalu dia menyuruh anak buahnya untuk mengambil Shina dan melenyapkannya.


"Lepasin!!" teriak Shina yang di seret sama dua orang berjubah.


"Jangan sakiti Shina!" pekik Inas.


"Shina!" air mata Fahri menetes melihat putrinya dalam bahaya, namun dia tak bisa apa-apa.


"Lepasin Shina!" pekik Marvel. Saat Marvel akan berusaha melepaskan Shina, Reka segera menyerangnya hingga Marvel terpental. Inka terus memeluk Inas dan sangat ketakutan.


Argan yang melihat keluarganya menderita dia sangat emosi dan murka tangannya sudah terkepal kuat, tapi dia tak bisa melakukan apa pun karena dia di bawah kendali Reka.


Marvel meringis kesakitan dia pun memuncratkan darah dari mulutnya.


"Marvel!!" lirih Inas.


"Bawa gadis kecil itu!" ucap Reka mengarah ke Inka. Inas panik.


"Jangan ambil anak saya!" teriak Inas sambil memeluk tubuh Inka.


"Bunda tolong aku! aku takut!!" Inka menangis histeris dan ketakutan saat dua orang berjubah itu menarik Inka dari Inas.


Reka menyerang Inas hingga Inas tersungkur dan melepaskan pelukannya.


"Bundaaaa.."


"Inkaaaa.." pekik Inas.


"Jangan sentuh anak saya! saya mohon!"


"Ha ha ha ha ha.." Reka tertawa melihat keluarga itu hancur berantakan.


Argan sudah tidak kuat melihat keadaan keluarganya. Sekuat tenaga dia melepaskan diri dari kendali Reka. Namun selalu gagal, dia sudah sangat kesal dan merasa tak berguna, karena tak bisa menyelamatkan keluarganya.


"Bundaaaa.." teriak Inka.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2