Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Argan dan Shina 1


__ADS_3

Shina ketakutan dia tidak tau apa kesalahan dia sehingga mantan gurunya itu mau membunuhnya. Saat Rendi akan menarik pelatuknya tiba-tiba ada yang mendobrak pintu.


"Hentikan!!" teriaknya.


Semua orang menoleh termasuk Shina dan Shina terbelalak begitu juga Rendi.


"Argan." gumam Shina dalam hati. Shina hanya bisa menggeram kepada Argan. Shina tidak mau Argan juga akan di bunuh Rendi.


"Om Rendi!" ucap Argan kaget.


Rendi terlihat kesal saat melihat Argan. "Mau apa kamu kesini? pulang!" ucap Rendi.


Rendi adalah sepupu Reka, saat Argan bertemu Rendi dirumah Reka. Reka menceritakannya bahwa Rendi adalah sepupunya. Dia adalah anak dari adik ibunya Reka yaitu Riska.


"Ngapain om culik dia?"


"Om?" Shina bingung kenapa Argan memanggil Rendi om.


"Bukan urusanmu bocah, pulang sana atau kamu akan tau akibatnya!"


Argan menggeleng. "Lepaskan dia atau aku bilangin om Reka!" Rendi tertawa mendengar ucapan Argan.


"Ini urusanku dia mana peduli, urusanku dengannya hanya mencarikan dia makan!" ucap Rendi tergelak.


Argan kesal mendengar ucapan Rendi. Lalu Rendi mengisyaratkan anak buahnya untuk menangkap Argan. Mereka pun mengerti dan langsung menangkap Argan dan mengikatnya dikursi di sebelah Shina.


"Aku sudah berbaik hati, untuk menyuruhmu pulang, tapi kamu sok mau jadi pahlawan kesiangan!" ucap Rendi.


Argan tersenyum kecut. "Om pikir aku takut, akan aku pastikan om akan tau akibatnya jika menyentuhku dan dia!"


Kalung belati Argan selalu bergetar setiap berhadapan dengan Rendi, Argan belum tau kenapa itu bisa terjadi.


Rendi tertawa mendengar ancaman dari bocah ingusan itu. Lalu Rendi beralih kepada Shina dan menatap tajam Shina.


"Kamu pasti bingung kan, kenapa saya ingin membunuhmu?" Shina terdiam, matanya sembab karena menangis, dia emang bingung apa salahnya sehingga mantan gurunya itu ingin membunuhnya.


Lalu Rendi menunjukan sebuah Video di ponsel. Shina terbelalak melihat video itu dan Shina ingat sesuatu.

__ADS_1


*Flashback on


Hari itu hari minggu, Shina memutuskan untuk ikut dengan papanya untuk mengecek proyek pembangunan rumah sakit yang sedang dalam projeknya.


Meski papanya melarang tapi Shina memaksa. Sampai akhirnya papanya mengalah karena pasti Shina bosan di rumah hanya dengan pembantunya.


"Tapi jangan jauh-jauh dari papa ya?"


"Siap bos!" sahut Shina sambil memberi hormat. Pak Rizal papa Shina tersenyum sambil mengelus kepala anaknya.


Mereka pun berangkat ke proyek yang ada di Cimahi. Setelah sampai Shina ikut keluar dan mengikuti papanya. Papanya sudah di sambut oleh mandor yang ada disana.


Lalu papa Shina mengobrol dengan mandor mengenai progres pembangunan. Pembicaraan lumayan lama sambil sesekali mengecek pembangunan. Shina yang mulai bosan pamit untuk kembali ke mobil.


Namun saat akan masuk mobil Shina tak sengaja bertemu kucing lucu dekat mobilnya. Shina mengambilnya tapi kucing itu lepas dari tangannya dan berlari, reflek Shina mengejar kucing itu. Sampai tidak sadar Shina sudah jauh dari tempat pembangunan proyek papanya. Dia memasuki hutan jati yang lebat, Shina masih belum tersadar dia sudah melangkah jauh.


Sampai akhirnya tak sengaja Shina melihat segerombolan orang sedang berkumpul, Shina mengintip di balik semak-semak dan memperhatikan apa yang sedang orang-orang itu lakukan. Ada sekitar delapan orang, salah satu dari mereka yang memakai hoodie dan masker memberikan sesuatu pada orang yang memakai jaket hitam dan kacamata hitam.


Lalu orang memakai jaket hitam itu membuka bungkusan itu.


"Sesuai janji!" ucap orang yang memakai hoodie. Shina yang melihat itu hanya memperhatikan, saat pembicaraan mereka, tak sengaja Shina mendengar nama obat yang ternyata adalah obat terlarang Shina masih memperhatikan, ternyata mereka sedang transaksi jual beli obat terlarang.


Semoga dia bisa melaporkan tindak kejahatan bandar narkoba itu. Setelah dirasa cukup memvideo, apa lagi pembicaraan mereka akan melakukan transaksi lagi ditempat lain itu akan mempermudah polisi untuk menggagalkan transaksi berikutnya.


Shina segera pergi namun tak sengaja dia tersandung dan melenguh kesakitan. Sontak saja membuat segerombolan itu mendengar dan menoleh. Mereka langsung berlari ke arah suara, mereka melihat Shina dan mengejar Shina yang sudah berlari. Untung Shina masih bisa berlari meski kesakitan, para penjahat itu mengejar Shina, namun Shina tidak sadar kalo ponselnya terjatuh dan ditemukan oleh orang yang memakai hoodie itu.


Dia memeriksa ponsel itu, matanya terbelalak kaget melihat foto yang terpampang diponsel itu.


"Cari mati bocah itu!" geram pria itu. Pria itu adalah Rendi dia punya bisnis jual beli obat terlarang, profesinya sebagai guru selain buat alibi untuk menutupi profesi sebenarnya, itu juga agar mempermudah dia untuk jual beli disekitaran anak sekolah.


Rendi tau Shina karena Shina pernah menjadi muridnya waktu SMP.


Setelah di rasa tidak bisa mengejar Shina anak buah Rendi kembali karena kehilangan jejak Shina.


"Maaf bos kami kehilangan jejak!" ucap pria berotot dan bertatto itu.


"Gak apa-apa, buktinya sudah ada di saya, kita hanya perlu melenyapakannya, karena saya mengenal bocah itu!" ucap Rendi tersenyum Smirk.

__ADS_1


Semenjak kejadian itu Rendi menyuruh anak buahnya untuk selalu mengikuti Shina dan menerornya sampai akhirnya mereka berhasil menculik Shina untuk dilenyapkan.


*Flashback off


Shina terbelalak melihat Video dan ponselnya, dia baru sadar orang yang memakai hoodie itu adalah Rendi, karena waktu itu tidak bisa melihat karena Rendi memakai masker.


"Kamu sudah ikut campur urusan saya, kamu harus mati bocah!" ucap Rendi. Shina ketakutan dia terus menggeram agar dilepaskan, bahkan Shina sudah lupa kejadian itu, karena kejadiannya sebulan yang lalu. Karena kesibukan sekolah dia melupakannya. Tapi ternyata mereka masih dendam.


"Dan kamu juga, saya akan melenyapkanmu meski kamu adalah keponakan Reka, saya tidak peduli kalian adalah sumber masalah buat saya!" ucap Rendi.


"Kurang ajar!" geram Argan.


"Gak usah sok suci boy kita sama, sama-sama penjahat, apa kamu lupa kamu juga penjahat!" bisik Rendi tersenyum membuat Argan semakin geram.


"Lepas!! atau kalian tau akibatnya!" geram Argan.


"Bawa mereka kita pindah, bocah itu pasti sudah lapor polisi!" ucap Rendi. Anak buah Rendi pun segera membawa Argan dan Shina ke mobil untuk di bawa ke tempat lain.


Di tempat lain Inas dan Ares sedang bercengkrama dengan Inka. Mereka sedang bersantai diruang tv.


"Kakak kok belum pulang bun? ini udah mau sore!" tanya Ares.


"Bunda udah telpon yah, tapi gak di angkat mungkin masih ada tugas biasanya dia ngerjain di sekolah bareng Marvel!"


"Kakak paling sedang pacaran bun!" celetuk Inka.


"Masih kecil bilang pacaran-pacaran gak boleh!" protes Inas sambil mengelus pipi Inka.


"Hehehe iya bun!" ucap Inka menyengir.


Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Inas pun beranjak tapi Ares menahannya dia takut itu adalah Sakti. Inas mengerti dan membiarkan suaminya yang membuka pintu.


Ares bingung saat membuka pintu terlihat seorang pria paruh baya sedang berdiri di depan pintu.


"Bapak siapa?" tanya Ares.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2