
"Ada apa mas?" tanya Fahri.
"Jadi Shina anak mas Fahri?" tanya Ares tak percaya. Fahri mengangguk.
"Mas Ares kenal anak saya?"
"Dia teman sekolah anak saya mas, dia sering main di rumah saya, jadi saya sangat mengenalnya, gak nyangka kalo dia anaknya mas Fahri!" Fahri terperangah tak percaya.
"Apa saya boleh liat foto anak mas Ares?"
Ares mengangguk lalu dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto kedua anaknya. Dan sekarang Fahri yang terbelalak kaget.
"Bener dugaan saya!" ucap Fahri.
"Maksud mas Fahri?"
"Saya pernah bertemu dengan anak mas Ares yang laki-laki ini, awal ketemu saya kaget karena wajahnya mirip mas Ares, saya emang sudah lama mencari mas Ares karena ingin berterima kasih karena sudah menolong anak dan istri saya, tapi setiap saya mau menanyakan itu pada anak mas, saya ragu dan takut salah!" tutur Fahri.
"Tunggu! tapi kata Argan anak saya, nama ayahnya Shina adalah Rizal!" Fahri tersenyum.
"Iya nama saya Fahrizal Saputra mas, saya kadang di panggil Fahri kadang Rizal!" Ares mengangguk.
"Dunia memang sempit ya!" ujar Ares.
Sandi dan Widia hanya terdiam melihat obrolan dua pria itu. Namun Sandi terlihat senyum sendiri, entahlah apa yang membuatnya tersenyum begitu.
Setelah selesai mengobrol mengatur strategi untuk mencari Shina. Mereka bergegas berpencar, Fahri menyuruh Widia untuk pulang saja. Ares dan Fahri berpencar, untung saja ponsel Shina bisa di lacak semoga ponselnya tetap di pegang Shina.
"Kak apa sebaiknya kita berpencar juga, biar lebih cepet!" ucap Sandi.
"Iya san itu lebih baik, nanti kita saling kabari aja!"
"Iya kalo gitu aku pulang dulu, aku mau pinjam motor Argan!" Ares mengangguk dia segera masuk mobil dan Sandi segera naik ojek untuk kembali ke rumah biar cepat, untung saja lokasi cafe nya tidak terlalu jauh dari rumah Ares.
Sampai di rumah, Sandi segera masuk, Inas dan yang lainnya kaget melihat Sandi grasak grusuk.
"Ada apa san, pelan-pelan jangan grasak grusuk gitu!"
"Kak mana kunci motor Argan, aku mau pinjem!"
"Buat apa?"
"Udah cepetan kak, urgent nih!" Inas pun mengangguk lalu mengambil kuncinya. Argan dan yang lainnya hanya menatap bingung melihat Sandi heboh kaya gitu. Inas pun kembali membawa kuncinya.
"Nih! tapi ada-"
"Aku pergi dulu kak Assalamualaikum!" Sandi memotong perkataan Inas dan langsung pamit dan melenggang pergi.
"Waalaikumsalam!" Inas hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya itu.
"Ada apa sih bun?" tanya Argan.
"Gak tau kak, om kamu gak bilang apa-apa!"
...***...
Hari sudah mulai sore Ares belum menemukan keberadaan Shina. Begitu juga Fahri ponsel untuk melacak Shina tiba-tiba mati. Fahri berdecak kesal.
"Kamu dimana nak, jangan tinggalin papa sayang!" lirih Fahri.
Sandi masih berkeliling melajukan motornya untuk mencari Shina. Mereka tidak punya petunjuk apa pun selain ponsel Shina. Tapi sepertinya ponsel Shina mati, jadi tidak bisa di lacak lagi.
__ADS_1
Hari sudah mulai maghrib, Sandi berhenti dan sebentar untuk melaksanakan sholat maghrib di musolah sekitar, sekalian dia bertanya pada orang mungkin saja ada yang melihat Shina.
Setelah selesai Sholat, Sandi bertanya pada para jemaah mungkin ada yang melihat Shina tapi tak ada satu pun yang melihat Shina.
Sandi frustasi dia takut kehilangan Shina, dia menyukai Shina saat pertama kali bertemu dengan Shina, saat mereka ke rumah sakit menjenguk Argan, sandi sudah menaruh hati pada gadis cantik itu, selama ini dia sudah sering mendekati Shina tapi dia belum berani mengutarakan perasaannya. Shina juga selalu merespon baik Sandi dan Sandi berharap Shina pun punya perasaan yang sama.
"Kamu di mana?" lirihnya.
Sandi bergegas kembali mencari Shina. Dia melajukan motornya dia tidak peduli hari sudah mulai gelap. Dia harus menemukan gadis yang di cintainya.
Shina di sekap oleh seseorang, entahlah siapa yang menyekapnya. Dia berada di sebuah rumah tua dan dia di ikat di kursi dan mulutnya di sumpal, seperti dejavu.
"Apa mungkin pak Rendi!" pikirnya.
Mungkin Rendi ingin membalas dendam karena ulah Shina, dia dijebloskan ke penjara.
Tak lama datang seorang pria menggunakan jubah hitam menghampirinya, Shina memperhatikan orang itu, apa mungkin dia mengenalnya kenapa mereka menculiknya?
Pria itu pun membuka tudungnya dan terlihat wajah pria itu, Shina terbelalak kaget ternyata dugaannya benar, Pak Rendi yang menculiknya. Dia tersenyum pada Shina. Shina sudah menggeram kesal pada pak Rendi.
"Bagaimana pak Rendi bisa keluar dari penjara? apa dia kabur? sudah pasti dia kabur!" pikir Shina.
Rendi menghampiri Shina. "Kita bertemu lagi anak manis!" ucapnya sambil mencengkram pipi Shina.
"Dulu kau bermasalah denganku! dan sekarang kau bermasalah dengan kakakku!" ucap Rendi.
Shina mengernyit bingung, apa maksud Rendi bermasalah dengan kakaknya. Bahkan dia sama sekali tidak mengenal kakaknya.
"Sekarang aku tidak akan membiarkanmu hidup! tapi sepertinya aku ingin bermain-main dulu denganmu!" ucap Rendi sambil mengelus pipi Shina.
Shina menepis tak ingin di sentuh dengan memalingkan wajahnya. Dia ingin sekali memaki pria itu, tapi tidak bisa dia lakukan karena mulutnya di sumpal. Rendi tertawa terbahak melihat Shina terlihat kesal.
"Apa mungkin Rendi yang culik?" gumam Ares. Lalu dia menggeleng karena dia tau Rendi di penjara.
"Apa salahnya di coba!" gumamnya lagi.
Dia pun segera menelpon Fahri dan Sandi untuk memberi tahukan tempat dimana dulu Shina di culik.
Setelah memberi tau, Ares melajukan mobilnya namun ponselnya berdering. Ternyata istrinya yang menelpon.
Setelah menjelaskan pada Inas bahwa dia akan mencari anak Fahri, Ares belum memberitahukan bahwa anak Fahri adalah Shina.
Ares pun segera melajukan mobilnya dan menuju tempat di mana dulu dia menyelamatkan Shina dan Argan.
Satu jam dia sampai di tempat bangunan belanda itu. Tapi di sana tidak ada siapa pun Fahri dan Sandi pun tidak ada. Ares memeriksa tempat itu, tapi benar-benar kosong.
Ares segera pergi namun tak lama Sandi dan Fahri datang.
"Gimana mas?" Ares menggeleng. Fahri dan Sandi terlihat sangat sedih.
"Kita gak boleh menyerah, kita harus tetap semangat!" ucap Ares memberi semangat.
"Cuma dia satu-satunya yang saya punya mas, saya tidak mau kehilangan dia seperti kehilangan istri saya!" lirih Fahri sambil meneteskan air mata. Ares mengusap bahu Fahri untuk memberinya kekuatan.
"Sebaiknya kita cari lagi, semoga kita segera menemukannya!"
Mereka pun kembali mencari Shina dan mereka berpencar lagi.
Sandi sangat sedih dia tidak menyangka akan kehilangan gadisnya.
"Aku harus bisa menemukanmu dan aku akan mengatakan aku mencintaimu!" ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Sandi melajukan motornya, melewati hutan gelap karena bangunan tua tadi memang melewati hutan. Sandi melajukan motornya dibelakang mobil Ares dan Fahri. Tapi tak sengaja Sandi melihat dua orang sedang berjalan menuju arah hutan. Mereka terlihat mencurigakan dan membuat Sandi penasaran, dia menghentikan motornya dan mengikuti mereka ke tengah hutan.
Sandi berjalan di belakang mereka, meski suasana hutan gelap, tapi tak menyurutkan langkah Sandi karena dia punya feelling bagus, semoga itu adalah petunjuk buat menemukan Shina.
Sandi terus mengikuti mereka sampai akhirnya mereka sampai di sebuah rumah tua di tengah hutan. Terlihat ada yang menjaga rumah itu. Sandi mengintip dan memperhatikan entahlah tapi dia yakin Shina ada di dalam.
Saking fokusnya Sandi sampai lupa untuk mengabari Ares dan Fahri.
Tak lama terlihat pria berjubah hitam keluar dari rumah itu. Dia seperti berbicara pada penjaganya tapi Sandi tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.
Tak lama pria berjubah itu pergi, masuk kedalam hutan. Sandi harus berfikir keras untuk bisa masuk ke sana tanpa ketahuan.
Otaknya terasa buntu tak bisa berfikir dia hanya memikirkan Shina. Sandi mengendap-endap mendekat ke rumah tua itu, dia berjalan ke pinggir rumah untung saja tidak ada penjaganya. Dia mengintip di jendela meski agak susah dia berusaha mencari celah, dia menemukan celah untuk mengintip dan benar dugaannya, gadis yang di cintainya ada di sana.
Ternyata keberuntungan memang berpihak padanya, tak sia-sia dia mengikuti dua orang tadi. Namun tak lama terdengar suara orang berjalan mengarah ke arahnya.
Dia kelimpungan dan dia tak sempat bersembunyi karena mereka keburu melihatnya.
"Woyy siapa lo!" teriak salah satu dari mereka.
Sandi terdiam menghadap pohon besar, tadinya dia akan bersembunyi di balik pohon besar, tapi keburu ketahuan. Sandi terdiam jika lari mereka pasti akan mengejar.
"Gue lagi kencing! jangan ganggu!" sahut Sandi asal.
"Ohh kirain lagi apa lo? awas jangan kencing sembarangan entar ada demit lo!" ucap orang tadi.
Untung saja mereka tidak curiga, mungkin mereka mengira Sandi adalah komplotannya. Lalu mereka pun pergi meninggalkan Sandi yang masih menghadap pohon besar.
Sandi pun kembali ke jendela itu dan harus segera menyelamatkan Shina. Sandi berusaha membobol jendela itu, karena yang di lihat di dalam tidak ada penjaganya.
Dengan menggunkan kayu seadanya Sandi membuka jendela namun selalu gagal karena kayunya terus patah. Dia pun mencari jalan lain dia berjalan ke arah belakang tapi disana ada dua orang yang menjaga. Sandi berdecak kesal karena rumah ini banyak penjaganya.
"Don, anter gue kencing!" ucap salah satu penjaga itu tiba-tiba.
"Kencing aja sendiri, ngapain di anter!" jawab temannya ketus.
"Takut gue malam-malam begini di tengah hutan!" si pria itu pun memaksanya temannya untuk mengantarnya karena dia takut. Meski kesal temannya itu pun mengantarnya. Sandi senang ini kesempatan bagus dia akan masuk lewat pintu belakang, setelah mereka hilang di tengah kegelapan, Sandi segera masuk lewat pintu belakang dan pintunya pun tidak di kunci.
Sandi masuk dan mencari Shina, tapi ternyata di dalam pun banyak penjaganya. Sandi terus mengendap-endap dia harus segera menyelamatkan Shina.
Setelah menunggu beberapa saat para penjaga itu bergiliran menjaga, sebagian mereka tertidur. Sebagian berkeliling, saat mereka lengah Sandi segera menghampiri Shina.
Shina tertidur, Pelan-pelan Sandi membangunkan Shina sambil membuka ikatan dan Sumpalnya. Shina terbangun dia hampir saja bersuara kalo Sandi tidak segera membekap mulutnya.
"Hussttt.." ucap Sandi sambil menaruh telunjuk dibibirnya. Shina mengangguk paham, dia sangat senang ada yang menolongnya. Shina langsung memeluk Sandi.
"Aku takut!" bisik Shina.
Sandi merasa sangat senang bisa menemukan gadis yang dicintainya dan juga senang gadis itu memeluknya. Sandi melepaskan pelukannya dan menatap Shina dia menghapus air mata yang mengalir ke pipi Shina.
"Kita pergi! tapi jangan berisik!" bisik Sandi, Shina mengangguk.
Mereka segera pergi dengan cara mengendap-endap juga, tapi ternyata mereka ketahuan.
"Berhenti!!"
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1