
Ares dan Argan sudah dalam perjalanan pulang. Penty pun ikut, dia sangat senang karena dia tidak akan sendirian lagi dan yang terpenting dia tidak akan jauh dari Argan, tapi dia juga sedih karena meninggalkan om nya sendirian.
Empat jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah.
"Akhirnya kita sampe!" ucap Argan sambil meregangkan otot-ototnya karena kelelahan. Ares tersenyum sambil mengusap kepala Argan.
"Eh Penty malah tidur!" ucap Ares saat menengok ke belakang.
"Biar aku aja yang bangunin yah, ayah masuk aja!"
"Iya nanti suruh tidur di kamar kamu dulu ya, karena kamar satunya belum di beresin!" Argan mengangguk. Ares pun masuk kedalam, sedangkan Argan keluar lalu masuk lagi ke pintu belakang.
"Peniti bangun kita udah sampe!" Argan menepuk lembut pipi Penty. Tapi Penty hanya menggeliat lalu tidur lagi.
"Peniti bangun.." Argan mengguncang tubuh Penty tapi Penty tidak bangun juga.
"Susah banget sih di banguninnya!" Terpaksa Argan pun menggendong Penty ala bridal style.
Saat masuk, Ares yang sedang duduk di sofa terkejut melihat Argan menggendong Penty. Lalu Ares hanya tersenyum.
Argan meletakkan Penty di kasurnya lalu menyelimutinya. Dia menatap wajah cantik Penty, dia merapihkan helaian rambut yang mengenai wajahnya. Dia menatapnya sambil tersenyum.
"Kenapa perasaanku sangat senang melihatmu, apa sejarah ayah dan bunda akan terulang lagi di kita!" ucapnya sambil menatap Penty yang sedang terlelap.
Namun disisi lain, ada Shina yang hadir dihatinya membuatnya jadi bimbang.
"Apa gue menyukai keduanya!" gumamnya sambil terkekeh sendiri.
"Apa gue bakal jadi playboy!" lagi-lagi dia terkekeh dengan ucapannya. Dia pun beranjak dan keluar kamar lalu menghampiri ayahnya dan duduk di samping ayahnya.
"Bunda udah tidur yah?" Ares mengangguk.
"Ya udah kamu juga tidur udah malam! kamu tidur di sofa dulu ya!" Argan mengangguk lalu Ares beranjak ke kamarnya. Argan langsung merebahkan diri di sofa.
Ares masuk ke kamarnya dan langsung berbaring di samping istrinya yang sedang terlelap, lalu memeluk istrinya.
"Sayang ayah udah bawa anak kita, cepet sembuh ya sayang!" bisiknya di telinga Inas. Lalu dia pun terlelap menyusul istrinya ke alam mimpi.
Sedangkan Argan masih terjaga, dia memikirkan tentang perbedaan dirinya yang ternyata karena masa lalu kedua orang tuanya. Dia penasaran dan tidak sabar ingin mengetahuinya. Dia menghela nafas kasar dan berusaha memejamkan matanya. Namun baru saja dia memejamkan matanya, dia mendengar seseorang memanggil namanya.
Saat Argan membuka mata, Argan kaget karena dia berada di tempat yang tidak dia ketahui.
"Dimana ini?" Argan menengok ke sekeliling dia berada di sebuah desa dengan rumah-rumah yang terbuat dari bilik bambu, penerangannya hanya menggunakan obor. Argan masih kebingungan di mana dia berada.
"Argan.." panggil seseorang.
Argan pun menoleh ada seorang kakek memakai baju serba putih, sedang berdiri di salah satu rumah.
"Ikut kakek!" seperti terhipnotis Argan mengikuti kakek itu masuk kedalam rumah. Lalu dia duduk di kursi kayu dan kakek itu pun duduk di sebrangnya.
Kakek itu tersenyum menatap Argan. "Maaf, kakek siapa ya?"
"Carilah darah suci itu dan segeralah lenyapkan iblis itu sebelum semakin merajalela! dan belati itu adalah senjatanya." ucapnya sambil menunjuk ke arah dada Argan. Argan bingung dengan ucapan kakek itu.
"Maksud kakek apa? aku tidak paham!"
"Darah suci itu juga bisa melenyapkan kutukanmu!" lanjut kakek itu tak memperdulikan kebingungan Argan lalu dia menghilang.
__ADS_1
"Kakek..kakek..!" Argan memanggil-manggil kakek itu tapi dia sudah tidak ada.
"Kakek..!" teriaknya dia terperanjat dan terbangun dari tidurnya. Argan menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Sepertinya aku pernah bertemu kakek itu!" gumamnya.
Lalu dia beranjak dari sofa dan berlalu ke dapur karena merasa haus. Tapi dia kaget saat melihat sosok baju putih sedang berdiri di dapur, karena lampu dapur mati jadi Argan tidak melihatnya dengan jelas, Argan mendekatinya perlahan lalu dia menepuk pundak sosok itu. Argan terkejut saat sosok itu menoleh.
"Shina!"
"Argan kamu udah pulang?" reflek Shina langsung memeluk Argan karena senang. Argan terkejut tiba-tiba Shina memeluknya.
"I-iya aku datang jam 10 malam tadi!" ucap Argan. Shina melepaskan pelukannya dan menatap Argan, meski remang-remang Argan bisa melihat Shina tersenyum padanya.
"Ya udah kamu tidur lagi masih malam!" Shina mengangguk sebelum pergi dia mencium pipi Argan.
Argan terbelalak kaget dengan mata yang membulat dan mulut menganga. Shina masuk ke kamar Inka dia tersenyum senang, sebenarnya dia sangat malu mencium Argan tapi dia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia begitu senang.
Shina kembali berbaring di samping Inka, senyuman terus mengembang dibibirnya.
"Maaf gan, tapi aku menyukaimu, walaupun aku tau kamu tidak mau pacaran!" Dia senyam senyum sendiri. Sedangkan Argan masih terbengong disofa sambil memegang pipinya.
"Gue mimpi apa nggak?" Dia menepuk pipinya keras.
"Auaww.."
"Gue gak mimpi!" Lalu dia merebahkan tubuhnya di sofa. Dia menatap langit-langit dengan senyuman ambigu.
Argan terjaga sampai adzan subuh berkumandang. Karena dia sudah tidak bisa tidur lagi akhirnya dia bangun dan segera melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai sholat dia kembali ke sofa, sehabis sholat justru matanya malah mengantuk, akhirnya dia terlelap.
Pagi hari Inas terbangun, dia melihat suaminya tertidur di sampingnya.
"Sayang mana Argan?" Ares membuka mata dan menatap istrinya.
"Maaf!" ucap Ares membuat Inas menangis. Ares kaget melihat istrinya menangis.
"Sayang kenapa?"
"Ayah gak berhasil bawa Argan?"
"Siapa yang bilang? hmm.." Ares tersenyum istrinya salah paham.
"Tadi ayah minta maaf, ayah minta maaf karena gak bisa bawa Argan kan?" Ares mengecup bibir istrinya.
"Morning kiss!"
"Ayah bunda lagi gak becanda!" ucap Inas sebal sambil memukul pelan dada Ares.
Ares tersenyum lalu menuntun Inas keluar kamar, lalu membawanya ke ruang tamu. Lalu Inas melihat seseorang terbaring di sofa.
"Argan.." pekik Inas saat tau dia adalah anaknya, Inas langsung menghampiri Argan dan memeluk Argan yang sedang terbaring. Argan terbangun karena Inas memeluk erat tubuh dirinya.
"Bunda aku gak bisa nafas!" ucap Argan tercekat. Inas melepaskan pelukannya.
"Maaf sayang!" ucap Inas sambil membelai pipi anaknya. Argan terbangun lalu duduk disamping Inas dan memeluknya.
"Maafin Argan ya bun, Argan udah bikin bunda sakit!" Inas terisak dia sangat bahagia anaknya kembali.
__ADS_1
"Jangan pergi lagi ya nak, jangan tinggalin bunda sayang!" ucap Inas sambil melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Argan. Argan mengangguk lalu Inas mengecup kening Argan.
"Maafin Argan ya bun!"
"Enggak sayang ini bukan salah kamu!" Argan memeluk Inas lagi. Ares tersenyum bahagia bisa melihat senyuman istrinya lagi dan juga anaknya kembali.
"Kenapa kamu tidur disini nak?"
"Bunda!" Inas menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Penty! ya ampun sayang!" Penty menghampiri Inas dan memeluknya.
"Aku kangen sama bunda!"
"Iya cantik bunda juga kangen sama kamu!"
Sedangkan Inka dan Shina hanya berdiri sambil menatap yang sedang bertemu kangen.
"Siapa cewek itu?" tanya Shina dalam hati.
Sedangkan Inka merasa ragu untuk bertemu Argan. Dia hanya diam mematung.
"Kamu kesini sama Argan?" Penty mengangguk.
"Boleh ya bunda aku tinggal disini?"
"Boleh dong sayang, bunda seneng banget kalo kamu tinggal di sini!"
"Makasih bunda!" ucap Penty sambil memeluk Inas.
Argan menghampiri Inka, dia berdiri dihadapan Inka. Inka menunduk dan terisak.
"Dedek gak kangen sama kakak?" Inka mendongak. Air matanya mengalir deras.
Argan berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Inka. Argan langsung memeluk tubuh mungil adiknya.
"Maafin kakak dek, maafin kakak ya!" tangis Inka pecah dalam pelukan Argan.
"Maafin dedek, dedek yang udah ngusir kakak!" ucap Inka tersedu-sedu.
Argan melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Inka. Semua orang disana meneteskan air matanya, melihat adik kakak yang saling meminta maaf.
"Dedek masih marah sama kakak?" Inka menggeleng.
"Kakak marah gak sama dedek?" Argan menggeleng dan tersenyum.
"Kakak gak mungkin marah sama dedek, kakak sayang sama dedek. My Little Princessnya kakak!" Inka tersenyum lalu memeluk Argan lagi.
Semuanya menangis haru dan bahagia. Inas menatap suaminya lalu memeluknya.
"Makasih ya sayang kamu udah tepatin janji, dan kamu juga bawa Penty, bunda bahagia banget!"
"Iya sayang!" balas Ares sambil mengecup pucuk kepala Inas.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....