
Inas dan Argan sudah berada dirumah Sakti, Argan langsung bermain dengan Penty.
"Argan belum mulai masuk sekolah?" tanya Intan.
"Belum kak, aku masih gak tega dia habis sakit." jawab Inas.
Lalu Ares datang menghampiri, dia habis dari toilet, dia duduk disamping Inas.
"Sakti pulang jam berapa tan?" tanya Ares.
"Kayaknya sore deh res!" jawab Intan.
"Emang kenapa ayah tanyain bang Sakti?" tanya Inas.
"Gak apa-apa bun."
"Kakak iyooo.." teriak Argan tiba-tiba.
Inas dan yang lainnya langsung menghampiri Argan yang tiba-tiba berteriak.
"Ada apa nak?" tanya Inas.
"Ada kakak iyo nda!" jawab Argan sumringah.
Argan langsung lari-lari karena senang temannya kembali. Inas dan Intan hanya mengernyitkan dahi. Sedangkan Ares dia hanya tersenyum.
"Kakak iyo siapa nas?" tanya Intan bingung.
"Temen gaibnya kak!"
"Ohh jadi bener kalo Argan itu indigo?"
Inas dan Ares hanya mengangguk tersenyum menjawab pertanyaan Intan.
"Ya udah bun, ayah mau langsung pulang ya!" ucap Ares. Tapi langsung membuat Inas sedih.
"Sebentar ya kak, aku mau bicara sama kak Ares dulu!" ucap Inas. Intan mengangguk dan tersenyum, lalu menghampiri anak-anak. Inas langsung menarik Ares ke kamar.
"Ada apa sayang?" tanya Ares.
"Ayah gak mau nginep dulu, besok aja ke Bandungnya yah, nginep dulu disini semalam!" jawab Inas dengan tatapan memohon.
"Tapi ayah-"
"Bunda mohon yah, semalam ya nginep disini!" ucap Inas memotong perkataan Ares sambil memeluk Ares dengan wajah yang dia tengadahkan menatap Ares.
Ares terdiam dan ikut menatap istrinya, sebenarnya dia ingin cepat menyelesaikan masalahnya, tapi dia juga tidak tega dengan istrinya yang memohon seperti itu.
Akhirnya Ares mengangguk, membuat Inas tersenyum senang.
"Makasih sayang!" ucapnya sambil memeluk suaminya.
...***...
Esok harinya Ares bergegas kembali ke rumah setelah berpamitan dengan anak dan istrinya, dia sudah tidak sabar ingin menyelesaikan masalahnya.
Ares melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia sudah meminta bantuan kyai Hasan, tapi beliau sedang berada di Demak, jadi dia tidak bisa membantunya. Tapi tidak menyurutkan niat Ares untuk mengetahui siapa bi Wati dan kenapa dia bisa datang kerumahnya.
Ditengah perjalanan, terlihat kerumunan dan justru membuat Ares penasaran apa yang sedang terjadi. Ares menepikan mobilnya ditepi jalan dan turun untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Ada apa pak?" tanya Ares saat mendekati kerumunan itu.
"Ada yang meninggal pak!" jawab seorang pria memakai kemeja berwarna telor asin.
"Kenapa bisa meninggal?"
"Gak tau, tiba-tiba saja dia tergeletak dan tau-tau sudah meninggal!" jawabnya.
"Ohh mungkin serangan jantung ya, udah telpon ambulans?" tanya Ares lagi. Namun tiba-tiba pria itu menatap lekat ke arah Ares, dia seolah sedang memikirkan sesuatu.
Ares tidak menyadari tatapan pria itu, karena dia sedang sibuk melihat korban yang meninggal itu.
"Ares!!" ucap pria itu tiba-tiba. Membuat Ares terkesiap dan mengalihkan pandangannya pada pria itu, dari mana pria itu mengenalnya.
Ares menatap pria itu dengan seksama, meneliti apakah dia mengenalnya.
"Siapa ya?" tanya Ares karena tidak bisa mengenali pria itu.
"Beneran elo Ares?" wajah pria itu sumringah dengan reflek Ares mengangguk.
"Ini gue Faris temen SMA elo!" ujar pria yang bernama Faris itu.
"Ohhh.. Faris kembaran gue!" ucap Ares setelah beberapa saat mengingat. Dia mengangguk cepat.
"Ya ampun bro gak nyangka kita ketemu disini!" ucap Faris.
"Apa kabar?" tanya Ares sambil menyalami Faris.
"Baik, elo tinggal di sini?"
"Gak juga kebetulan cuma lewat, tapi rumah gue gak jauh dari sini."
"Kok elo ada disini? Bukannya elo di luar negri?" tanya Ares.
"Iya gue disini udah dua bulanan lah!" Ares mengangguk.
__ADS_1
"Ehh gak enak ngobrol disini ris, ke rumah gue aja yuk, kebetulan sudah deket!" ucap Ares. Faris pun mengangguk, mereka masuk ke mobil masing-masing, Ares melajukan mobilnya duluan lalu Faris menyusulnya.
Tak lama mereka sampai dirumah Ares, Ares dan Faris keluar dari mobilnya. Namun tatapan Faris langsung aneh tatkala melihat rumah Ares, dia merasakan aura negatif yang sangat kuat.
Faris hanya berdiri mematung dengan tubuh yang menegang. Membuat Ares bingung dan menepuk pundak Faris dan membuat Faris terkejut.
"Kok bengong? Ayo masuk!" ucap Ares.
"Ehh, iya ayo!" jawab Faris.
Mereka pun masuk tapi hawa didalam rumah Ares membuat Faris merinding dan sesekali dia bersin karena merasakan hawa dingin ditubuhnya. Padahal hawanya panas dan pengap namun justru membuat Faris dingin serta bersin beruntut.
"Elo gak apa-apa?" tanya Ares bingung melihat temannya bersin-bersin.
"Gue gak apa-apa!" jawab Faris sambil duduk.
Ares berjalan kebelakang untuk menemui bi Wati untuk membuat minuman, terlihat bi Wati sedang didapur dan membuat sesuatu, ternyata dia sedang membuat minuman bahkan dia membuat dua, membuat Ares bingung padahal dia belum mengatakan apa pun pada pembantunya itu.
"Bi buat minum ya!" ucap Ares. Bi wati mengangguk dan tersenyum.
"Ini sudah saya buatin pak!" ucapnya.
Membuat Ares begidik ngeri melihat bi Wati, Ares pun kembali keruang tamu dan menemui Faris. Terlihat Faris sangat tegang bahkan wajahnya pucat.
"Elo beneran gak apa-apa, muka lo pucet ris!" ucap Ares.
Faris menggeleng dengan senyum kikuk. Tak lama bi Wati datang membawa minuman dan camilan, saat mata Faris dan bi Wati sekontak, seketika tubuh Faris semakin menegang bahkan kaku, jantungnya berdebar kencang, bahkan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, hawa dingin menjalar di seluruh tubuhnya bahkan menusuk ulu hati.
Kondisi Faris tak luput dari penglihatan Ares. Ares tau ada sesuatu yang tidak beres, terutama saat bi Wati menatap Faris, entah kenapa tatapannya sangat menusuk, Ares melihatnya bahkan merasakannya.
"Silahkan pak diminum!" ucap bi Wati sambil meletakkan minumannya dan camilannya.
"Iya bi makasih!" ucap Ares berusaha tenang. Tapi Faris masih bersikap sama.
"Sepertinya bapak sakit? Wajahnya pucat sekali." ucap bi Wati sambil menatap Faris.
Seketika membuat Faris tercekat, bahkan jantungnya semakin berdebar kencang, dan tubuhnya semakin kaku dan tegang.
Bi Wati tersenyum smirk melihat kondisi Faris yang seperti itu, lalu dia pun berlalu meninggalkan Ares dan Faris.
Ares masih menatap Faris dengan teliti, Ares tau Faris tau sesuatu karena dia juga indigo.
"Silahkan ris di minum!" ucap Ares membuyarkan ketegangan Faris
"Ehh i-iya makasih res." ucap Faris gugup, dia menyeka keringat yang membasahi dahi dan wajahnya.
"Sepertinya saya bisa minta tolong sama Faris!" gumam Ares dalam hati.
Beberapa saat mereka mengobrol dan bernostalgia semasa SMA, apa lagi saat dikira mereka kembar karena wajah mereka yang sangat mirip, padahal mereka bukan saudara kandung.
"Gak tau, tapi sekarang wajah kita gak mirip ya, apa karena kita udah tua!" sahut Faris disambut tawa mereka.
Tak lama mereka membahas keluarga mereka, ternyata Faris sudah mempunyai anak dua, semuanya laki-laki, yang pertama berumur 9 tahun yang kedua seumuran Argan 5 tahun.
"Ris gue boleh minta tolong gak?" tanya Ares.
"Apa?"
Pranggg...
Tiba-tiba suara mengagetkan mereka, sontak saja membuat mereka berdiri karena kaget.
"Ada apa ya?" Ares melangkah kebelakang, tapi Faris segera menahannya dan membuat Ares terkesiap.
"Ikut gue!" ucap Faris sambil menarik Ares ke arah luar tapi belum mereka sampai luar, pintu tiba-tiba tertutup sendiri bahkan pintunya dibanting, membuat Ares dan Faris semakin terkejut.
Jantung mereka berdebar kencang, mereka merasa ada seseorang dibelakang mereka, Ares dan Faris menengok perlahan dan saat mereka menengok kebelakang tidak ada siapa-siapa.
"Res pembantu elo itu bukan manusia!" ucap Faris.
"Sudah gue duga ris, dia udah ganggu keluarga gue!" sahut Ares.
"Tapi apa yang dia mau dari keluarga elo, sampe-sampe dia harus nyamar jadi pembantu?" tanya Faris bingung.
"Kayaknya anak gue ris!" jawab Ares.
"Maksud elo?"
"Entar gue ceritain."
Suasana dirumah itu semakin mencekam padahal itu masih pagi hari, tiba-tiba barang-barang dirumah itu beterbangan, kesana-kemari bahkan hampir mengenai Ares dan Faris.
"Gue harus gimana ris?"
"Sepertinya dia gak suka kedatangan gue, makanya dia ngamuk!" ucap Faris tak menjawab pertanyaan Ares.
Ares berusaha membuka pintu, tapi pintu itu susah untuk dibuka.
"Sial!!" pekik Ares.
Tiba-tiba saja Faris seperti dicekik, tubuhnya sampai terangkat dan terlihat Faris kesakitan dan sulit bernafas. Ares berusaha menolongnya tapi Ares malah terlempar dan mengenai sofa.
...***...
Inas terlihat gelisah, bahkan saat suaminya berpamitan, perasaannya sudah gelisah dan tidak enak. Pagi itu dia sedang mengantar Argan dan Penty sekolah, tapi terlihat wajahnya yang khawatir dan panik, bahkan dia mengabaikan obrolan bersama ibu-ibu yang lainnya.
__ADS_1
"Semoga ayah baik-baik aja, kenapa perasaanku tidak enak!" gumamnya dalam hati.
"Nda..ndaa.." Argan memanggil-manggil Inas tapi Inas masih sibuk melamun, sampai ibu Sari menepuk pundak Inas dan membuyarkan lamunannya.
"Mbak Inas kok melamun, itu Argan panggil-panggil!" ucap bu Sari.
"Ehh iya Astaghfirullah.." ucap Inas.
"Ada apa sayang?" tanya Inas pada Argan.
Terlihat Argan pun gelisah, mungkin dia juga merasakan kalo ayahnya sedang dalam bahaya.
"Nda Agan pengen pulang, Agan pengen ketemu ayah!" ucap Argan sambil menarik tangan Inas.
"Ayo nda kita pulang!" Argan menarik-narik tangan Inas.
"Sebentar nak, kan Argan masih sekolah, nanti dimarahin bu guru sayang!" bujuk Inas.
Tapi Argan terus merengek meminta pulang dan bertemu ayahnya. Akhirnya Inas menyerah karena tidak tega melihat anaknya terus merengek, Inas segera membawa Argan dan Penty pulang.
Sesampainya dirumah, Argan berlari-lari mencari ayahnya.
"Nda ayah mana? Nda Agan pengen ketemu ayah!" Argan merengek dan menangis karena ingin ketemu Ares, terlihat dia sangat gelisah dan tidak tenang.
"Iya sayang ayahnya lagi pulang dulu!" ucap Inas menenangkan. Penty hanya menatap bingung melihat Argan menangis.
"Bunda kenapa Agan nangis?" tanya Penty polos.
"Gak apa-apa sayang, Penty nyamper bibi dulu ya ganti baju!" jawab Inas. Penty mengangguk dan berlalu meninggalkan Inas dan Argan.
"Nda ayo pulang!!" rengek Argan.
"Nda telpon ayah aja ya sayang!" ucap Inas sambil mengambil ponsel ditasnya. Argan masih menangis dalam gendongan Inas.
Beberapa kali Inas menelpon tapi tidak ada jawaban dari suaminya, membuatnya semakin khawatir.
"Kamu kemana sih yah? Kok nggak di angkat!" ucap Inas khawatir.
"Nda ayo pulang, ayo ketemu ayah!" rengek Argan.
Inas semakin bingung dan juga ikut panik, perasaan dia juga tidak enak tentang suaminya.
Inas terus menenangkan Argan, jika pulang juga Ares tidak ada, dia pasti sudah berangkat ke Bandung, pikir Inas.
...***...
Ares dan Faris tidak sadarkan diri diruang tamu yang sudah sangat berantakan.
Tak lama terlihat bi Wati berdiri dekat dengan mereka, menatap sambil tersenyum senang.
Lalu dia menyeret tubuh Faris dan dibawa kebelakang, entah apa yang akan dia lakukan pada Faris.
Ares mulai tersadar meski tubuh dan kepalanya terasa sakit, dia berusaha bangkit dan mencari keberadaan temannya.
"Faris!" gumamnya.
Tak lama terdengar suara dibelakang, Ares berusaha bangkit dan mencari tau apa yang terjadi. Dengan langkah terhuyung dia berjalan ke arah taman belakang.
Ares terkejut dan terbelalak, melihat bi Wati sedang menggali ditanah ditamannya menggunakan cangkul.
"Sedang apa dia?" pikirnya.
Tak sengaja dia melihat Faris yang tergeletak tak jauh dari bi Wati.
"Astaghfirullah, apa dia mau mengubur Faris?" Ares langsung bergegas menghampiri bi wati.
"Sedang apa kamu?" pekik Ares.
Membuat bi Wati menghentikan aktivitasnya, lalu dia menoleh ke arah Ares dan tersenyum menyeringai.
Ares begidik melihat senyuman bi Wati yang sangat mengerikan. Lalu bi Wati berjalan menghampiri Ares, membuat Ares mundur.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengganggu keluarga saya?" pekik Ares.
Bi wati terus maju dan Ares juga terus mundur, matanya menatap tajam ke arah Ares tatapannya benar-benar menusuk.
"Saya Nyai Kelana dan saya menginginkan anakmu!!" ucapnya membuat Ares tercekat.
Seketika bi Wati berubah jadi wanita cantik dan membuat Ares terkesiap, karena bi Wati yang sudah agak tua tiba-tiba saja berubah jadi wanita cantik yang masih muda.
"Kau harus menyerahkan anakmu!!" ucap wanita yang bernama Nyai Kelana itu.
"Tidak akan pernah, bahkan saya tidak akan membiarkanmu menyentuhnya!" pekik Ares.
"Lebih baik kau serahkan dia, karena dia juga akan menjadi iblis kelak, kau juga tau itu manusia!" ucap Nyai Kelana.
"Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menyerahkan anakku!!" pekik Ares.
Lalu tiba-tiba Nyai Kelana menyanyikan tembang jawa, suaranya yang halus membuat bulu kuduk berdiri dan merinding, seketika membuat Ares terdiam mematung bahkan tatapannya kosong dan membuatnya tergeletak tidak sadarkan diri lagi.
Nyai kelana tersenyum dan mendekati Ares lalu tiba-tiba dia dan Ares menghilang dari tempat itu.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....