Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Menyembuhkan Argan


__ADS_3

Sudah tiga hari Argan belum sadarkan diri dan itu membuat dokter dan perawat di rumah sakit kebingungan. Karena tidak ada penyakit serius atau pun penyakit kecil bahkan darahnya sudah kembali normal karena sudah banyak darah yang masuk kedalam tubuhnya.


Inas dan Ares semakin khawatir dengan keadaan anaknya, mereka sangat takut terjadi apa-apa dengan anaknya.


Karena Shina belum di izinkan keluar oleh papanya karena keadaan di luar masih belum aman untuk dia. Inas dan Ares terpaksa menunda meminta pertolongan Shina, mereka juga tidak mungkin memaksa Shina yang memang sedang tidak aman untuk dia keluar rumah.


Tapi hari ini Fahri akan mengajak Shina untuk menjenguk Argan dengan di kawal polisi. Fahri melaporkan pada polisi bahwa selalu ada yang mengintai rumahnya.


Sandi ikut menjemput Shina, dia ingin memastikan kekasihnya itu aman dan selamat.


Di rumah Sakit Inas dan Ares sedang melantunkan ayat suci berharap anaknya itu mendengar dan segera terbangun. Air mata Inas terus menetes, Ares terus mengelus punggung Inas untuk memberi kekuatan.


Sedangkan di alam bawah sadar Argan, dia sedang berada ditempat yang sangat gelap, panas dan pengap, tubuhnya sudah banjir dengan keringat, dia ingin berteriak namun kerongkongannya tercekat. Tubuhnya pun tak mampu di gerakan, tubuhnya benar-benar mati rasa, dia hanya bisa menggerakan kelopak matanya saja.


Dia tidak tau dia sedang di mana, di sana sangat gelap, tak ada setitik cahaya pun. Dia hampir kehabisan nafas karena tempat itu sangat pengap seperti tak ada udara.


"Ayah bunda maafin aku!" lirihnya dalam hati dengan air mata yang menetes.


"Ayah bunda dedek, aku sayang kalian, maafkan atas segala kesalahanku!" ucapnya dalam hati.


Nafasnya semakin pendek dia sudah tidak sanggup untuk bertahan, air matanya mengalir deras. Semua kenangan bersama kedua orang tuanya berputar di otaknya, bersama adiknya bersama orang-orang yang disayanginya, kenangan itu berputar di otaknya. Sampai akhirnya dia tak sanggup lagi bernafas.


Namun sebelum dia memejamkan mata dan menulikan pendengarannya dia mendengar sayup-sayup suara memanggilnya.


"Argan cucuku, jangan menyerah nak, kamu harus kuat, masih ada tugas yang harus kamu selesaikan!" ucap Sebuah suara.


Argan yang akan memejamkan mata membuka mata kembali.


"Berjuanglah dan hancurkan iblis itu!" lanjut suara itu.


Tak lama dia mendengar suara lantunan ayat suci, tak lama dia mendengar suara tangis bundanya, adiknya dan Penty. Dia mengenali semua suara itu.


"Bangunlah nak, tugasmu belum selesai!" ucap Sebuah suara itu lagi.


Sedangkan Inas, Ares dan yang lainnya sedang cemas karena tubuh Argan tiba-tiba kejang dokter datang dan langsung memberikan alat pacu jantung pada Argan, karena jantungnya melemah. Inas, Inka dan Penty sedang menangis melihat kondisi Argan yang mengkhawatirkan.


"Jangan tinggalin bunda nak!" Isak Inas sambil memeluk tubuh Ares. Ares tak mampu berkata apa-apa dia hanya terus berdoa semoga anaknya selamat. Namun air matanya tak berhenti menetes.


"Kamu gak boleh pergi Argan, jangan tinggalin aku!" isak Penty sambil menatap Argan dari pintu kaca.


"Gan lo harus kuat, jangan tinggalin orang-orang yang sayang elo!" lirih Marvel. Marvel berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh, namun pertahanannya runtuh dia tak sanggup melihat sahabatnya yang sedang berjuang dengan maut.


Tak lama Shina dan yang lainnya datang, mereka terlihat panik melihat Inas dan yang lainnya menangis.


"Kak ada apa?" tanya Sandi. Tangis Inas pecah.

__ADS_1


Sandi menoleh ke dalam dimana Argan sedang diberi alat pacu jantung.


"Argan!"


Shina pun melihat ke arah Argan dia langsung menangis melihat kondisi Argan. Dia langsung memeluk Sandi yang ada di sampingnya. Semua orang bingung melihat Shina memeluk Sandi, namun mereka menghiraukannya karena sedang fokus pada Argan.


Fahri berusaha menguatkan Ares. "Shina!" panggil Ares.


Shina pun menoleh. "Iya om!"


"Boleh om bicara sama kamu!" Shina mengangguk. Ares membawa Shina agak jauh dari keluarganya.


"Shina om mau minta tolong! bantu Argan nak!" Shina tidak paham dengan perkataan Ares.


"Aku gak ngerti maksud om!" ucap Shina.


"Argan membutuhkan kamu!" Shina benar-benar tidak mengerti tapi dia pun mengangguk. Karena dia juga ingin Argan baik-baik saja.


"Apa yang harus aku lakukan om?"


"Boleh om minta darah Shina?" Shina terkejut.


"Maksud om?" tanya Shina tidak mengerti.


"Nanti om cerita, tapi untuk kali ini om butuh darah Shina untuk menyelamatkan Argan!" Shina benar-benar tidak paham tapi dia mengangguk dan tak mau banyak bertanya.


Setelah selesai mengambil darah Shina. Ares dan Shina kembali menghampiri keluarganya. Ares ingin segera ke ruangan Argan tapi masih ada dokter disana, Ares bingung dia pasti tidak di izinikan masuk untuk memberikan darah itu pada Argan. Tapi dia harus segera memberikan darah itu pada Argan.


Setelah darah Shina di ambil, Shina menjadi lemas dia jatuh pingsan, untung saja Sandi segera menangkap tubuh Shina hingga dia tidak jatuh.


"Shina!!" pekik Sandi.


Yang lainnya pun ikut panik melihat Shina pingsan. Sandi segera menggendong Shina dan membawanya untuk di periksa dokter di ikuti Fahri.


Ares mengacak rambut frustasi melihat Shina pingsan, ini pasti karena dia mengambil darah Shina.


Tak lama dokter pun keluar, dia menyampaikan Argan sudah melewati masa kritisnya dan itu membuat semua orang lega.


"Dok boleh saya temui anak saya?" tanya Ares.


"Sebaiknya tunggu kondisi anak bapak stabil!"


"Saya mohon dok saya ingin bertemu anak saya!"


"Baik tapi hanya satu orang saja!" Ares mengangguk. Ares pun masuk sendiri, Inas dan yang lainnya menunggu di luar.

__ADS_1


"Sus, boleh tinggalin saya bersama anak saya?" pinta Ares. Suster mengangguk lalu dia keluar.


Ares menghampiri Argan, Argan membuka matanya, keadaannya sangat lemah, wajahnya sangat pucat, dia menatap ayahnya. Ares tersenyum.


"Terima kasih nak, karena kamu sudah bertahan!" Argan tersenyum dan mengedipkan matanya dia belum sanggup untuk menggerakkan tubuhnya.


Ares menaruh darah Shina disebuah gelas lalu memberikannya pada Argan. Tapi Argan menolak untuk meminumnya.


"Ayah ingin semuanya berakhir nak, minumlah semoga ini adalah terakhir kalinya kamu meminum darah!" ujar Ares. Argan terdiam lalu dia mengedipkan matanya tanda setuju.


Dia meminum darah itu dengan menggunakan sedotan. Bau darah itu sangat amis dan anyir, rasanya pun sangat pahit melebihi empedu. Berbeda sekali dengan yang biasa dia minum yang terasa sangat manis.


Sesekali Argan memuntahkan darah yang sudah dia telan, dia menolak darah itu. Tapi Ares terus membujuknya, Argan pun terus berusaha untuk meminum darah itu, sampai akhirnya dia berhasil meminumnya sampai habis, meski dia terus meringis saat meminumnya.


Sesaat Argan tenang setelah meminum darah itu namun saat darah itu sudah mengalir di tubuhnya Argan kembali kejang. Dia merasakan panas yang berkali lipat dari biasanya. Dia menghentak-hentakkan tangan dan kakinya.


"Panas!" ucapnya dengan suara yang tercekat. Ares terdiam dia tau obat itu sedang bereaksi dengan tubuh Argan. Mungkin darah suci itu sedang bertentangan dengan darah iblisnya.


Ares memegangi tubuh Argan. Inas yang melihat diluar cemas melihat anaknya. Tapi dia tau itu adalah reaksi Argan saat meminum penawarnya.


Satu hari sebelum Argan kejang, Inas bermimpi bertemu Nur Jagad dan menyampaikan Argan harus segera meminum darah Suci itu untuk menyembuhkannya. Dan memberi tahu reaksi yang akan dialami Argan sehingga nanti Ares dan Inas jangan panik. Mereka hanya perlu banyak berdoa memohon kesembuhan pada sang pencipta, karena sejatinya Dialah yang maha penyembuh.


Sudah beberapa saat Argan masih kejang tak lama dia menyemburkan darah hitam dari mulutnya.


Ares bernafas lega, setelah menyemburkan darah hitam itu Argan berhenti kejang-kejang. Bahkan Argan sudah bisa berbicara.


"Ayah!" panggil Argan. Ares tersenyum dia langsung memeluk anaknya. Inas yang sedang di luar melihat anaknya sedang memeluk ayahnya, dia memaksa masuk dan langsung berhambur ke pelukan anak dan suaminya.


...***...


"Bodoh apa yang kalian lakukan, kenapa membiarkan iblis kecil itu meminum penawarnya!" teriak pria tampan itu murka.


Sungguh pria tampan itu sangat murka, amarahnya memuncak. Semua orang yang ada disana ketakutan melihat tuannya murka. Entah apa yang akan terjadi dengan kemarahan tuannya yang sebesar itu, semuanya ketakutan melihat tuannya menatap tajam penuh amarah pada mereka, matanya sudah bukan mata tuan mereka lagi tapi mata iblis, mereka ingin kabur namun tidak bisa karena tuannya sudah mengunci pintu ruangan itu.


Pria itu ingin mencabik-cabik tubuh para anak buahnya yang tidak becus bekerja. Bukan hal sulit baginya untuk mencabik tubuh mereka, karena iblis yang ada dalam dirinya mampu melakukannya.


Dia menghabisi semua anak buahnya dengan mencabik menggunakan taring dan kukunya.


"Aaargghhh.." geramnya dengan suara yang menggema diruangan itu. Tak ada yang selamat karena tak ada yang bisa melarikan diri dari cengkraman iblis itu. Iblis itu memakan jantung para anak buahnya yang sudah dia cabik-cabik.


Sepertinya pertempuran akan di mulai!!


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2