
Setelah mendengarkan ucapan Argan, Inas ikut panik dan cemas. Tapi dia tetap berusaha tenang.
"Sayang kita berdoa aja, semoga semuanya baik-baik aja, semoga hal besar itu sesuatu hal yang baik bukan hal yang buruk!" ucap Inas menenangkan, meski sebenarnya dia pun cemas.
Argan terdiam, dia yakin yang di maksud hal besar itu sesuatu yang buruk, tapi dia tidak tau apa itu.
"Apa mungkin tentang iblis itu?" pikir Argan.
"Sayang!" panggil Inas.
"Iya bun!"
"Cepetan yang lain udah nungguin!" Argan mengangguk lalu dia pun keluar bareng Inas.
Semuanya pun siap untuk berangkat ke pestanya Reka. Namun Argan masih terlihat cemas dan tegang. Semakin mobil yang dia tumpangi berjalan semakin perasaannya gak enak.
"Ada apa ini? apa yang akan terjadi? jika memang tentang iblis itu sungguh aku belum siap untuk menghadapinya, tapi kakek bilang aku harus mempersiapkan diri!"
Argan semakin gelisah pikirannya semakin kalut dan gak karuan. Sekitar 20 menit perjalanan, mobil yang di tumpangi Fahri bannya bocor, terpaksa semuanya berhenti dan membantu mengganti ban mobil Fahri.
Hati dan perasaan Argan semakin gak karuan, wajahnya pun sudah terlihat mulai pucat hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya, keringat dingin mengalir di tubuhnya.
Namun tak ada yang menyadari kondisi Argan, semuanya fokus pada mobil Fahri dan hal lain.
Argan kembali ke dalam mobil dia mencoba mengistirahatkan tubuhnya berharap bisa menghilangkan kecemasan dalam dirinya.
Untuk sesaat dia terlelap namun baru dia memejamkan mata dia mendengar suara tawa yang menggema, Argan membuka mata namun dia terkejut karena dia berada di tempat yang tidak dia ketahui.
Dia melihat ke sekeliling, hutan belantara dengan pepohonan yang besar-besar dan menjulang tinggi. Argan berjalan mencari jalan keluar, dia celingak-celinguk mencari keluarganya.
Dia bingung kenapa dia bisa ada di sini, padahal seingat dia, dia sedang berada didalam mobil. Argan berjalan di tengah hutan belantara, banyak semak-semak tinggi.
"Di mana ini?" gumamnya sambil melihat ke segala penjuru.
Perlahan dia memanggil semua anggota keluarganya yang ikut dalam rombongan. Namun tak ada sahutan dari mereka, hanya ada suaranya sendiri yang menggema di hutan itu.
Argan terus berjalan bahkan sedikit berlari mencari jalan keluar dan mencari keluarganya. Namun sudah cukup lama dia berlari, seperti nya dia hanya berputar-putar di tempat itu, karena setiap dia berjalan dia pasti berhenti di pohon yang sama, padahal dia merasa sudah berjalan jauh dari tempat itu.
Argan tak menyerah dia masih terus berjalan dan mencari jalan keluar, meski kakinya sudah lelah karena terus berjalan dan berlari tapi tetap dia kembali ke tempat itu.
"Sial.. gue kejebak di sini!" gerutunya kesal.
Nafas Argan sudah terengah-engah, dia beristirahat sejenak melepas penat dan lelahnya. Namun saat dia bersender di pohon besar itu, sekelebat dia melihat bayangan berlari.
Argan pun mengurungkan niatnya untuk beristirahat dia mengejar bayangan itu, namun saat dia mulai mengejar bayangan itu, bayangan itu menghilang.
__ADS_1
Tidak terasa hari sudah mulai gelap Argan masih belum menemukan jalan keluar, dia pun merasa haus dan lapar, tapi dia tidak tau harus mencari makan kemana. Argan terus berjalan berharap bertemu seseorang atau pun makanan.
Dia tidak tau ada sosok yang sedang memperhatikannya. Sosok dengan mata merah menyala, bulat dan besar. Karena suasananya gelap, jadi sosok itu tidak terlihat jelas hanya matanya saja yang terlihat.
Argan terus berjalan mencari sesuatu yang mungkin saja bisa dia makan, namun sudah sangat jauh di berjalan dia tak menemukan apa pun. Dia terduduk di atas akar pohon yang menyembul keluar.
Dia memegangi perutnya yang lapar.
"Sebenarnya di mana gue?" tanyanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara kambing yang mengembik, suaranya sangat banyak Argan langsung berdiri dan mencari asal suara itu.
Tapi dia tidak menemukan di mana keberadaan kambing itu, tapi suaranya masih terdengar bersahutan. Argan berlari ke arah suara itu tapi setiap dia berlari mendekat, suara itu berpindah ke tempat lain, begitu terus berulang-ulang hingga membuat Argan sangat kelelahan.
Argan pun berhenti untuk menetralkan nafasnya yang tersengal.
"Itu kam hoss.. hoss.. bing.. hoss atau setan?" ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.
Argan tergeletak karena kelelahan dia mengatur nafasnya untuk sesaat. Suara kambing itu menghilang, namun kali ini terdengar suara rintihan seseorang.
Dia menangis pilu, tangisannya benar-benar memilukan. Argan semakin merinding, selama ini dia sudah terbiasa dengan para hantu yang dia temui, meski merinding dia tidak merasa takut.
Tapi kali ini dia benar-benar merasa merinding dan ketakutan. Tubuhnya gemetar dan lemas, entahlah kenapa dia bisa selemah ini dan bisa begitu ketakutan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dan suara tangis itu pun menghilang, suasana di sana cenderung gelap, hanya ada cahaya rembulan yang memancar dari celah-celah dedaunan.
Suara langkah itu semakin mendekati Argan, Argan tak bisa lari bukan karena lemas atau gemeteran, tapi dia penasaran siapa yang sedang menghampirinya dan dia ingin tau siapa dia.
Tepat seseorang menghampirinya entah pria atau wanita sudah berada dihadapannya. Dia tidak bisa melihat wajah orang itu, karena orang itu memakai jubah hitam dan wajahnya terus ia tundukan sehingga Argan tak bisa melihat wajahnya.
"Siapa lo?" tanya Argan.
Sosok itu mengangkat kepalanya dan Argan bisa melihat wajahnya jelas meski suasana gelap, karena wajah itu sangat bersinar. Sehingga sangat kontras dengan suasana gelap dan jubah yang dia kenakan.
Sosok itu tersenyum menyeringai ke arah Argan dan membuat Argan terbelalak, seketika membuat lidahnya kelu dan tubuhnya kaku, matanya melotot menatap wajah itu.
Argan melihat sebuah kapak besar di tangan orang itu, Argan ingin berteriak tapi tak bisa, bahkan mulutnya pun susah untuk di buka karena terasa sangat kaku.
Orang itu mengangkat kapaknya dan mengarahkannya ke arah Argan.
"Aaaaa..." teriaknya.
Dia terbangun dan ternyata dia masih di dalam mobil, nafasnya terengah-engah, keringat bercucuran di wajahnya, mimpi itu benar-benar mengerikan, Argan melihat keluar bahkan mereka baru selesai mengganti ban mobil Fahri.
Argan bingung, perasaan dia tertidur cukup lama sampai bermimpi tersesat pun sangat lama sampai mau dibunuh pria berjubah itu, tapi ternyata dia baru tidur beberapa menit.
__ADS_1
Tak lama mereka pun melanjutkan perjalanan, Argan masih di landa kecemasan, mimpi itu semakin membuatnya khawatir dan cemas.
Semua orang tidak ada yang menyadari kecemasan Argan, semuanya larut dalam kegembiraan.
Tak lama mereka sampai dirumah mewah yang ada di tengah hutan, semua yang melihatnya merasa takjub, melihat ada istana di tengah hutan.
"Kapan Reka punya rumah ini yah?" tanya Inas takjub. Ares hanya mengendikan bahu.
Di sana juga sudah terparkir banyak mobil sepertinya mereka adalah tamu Reka.
Ares dan yang lainnya keluar, sungguh mereka di buat takjub dengan kemewahan rumah itu, bahkan itu lebih pantas disebut istana.
Semuanya menatap penuh kagum, kecuali Argan dia bahkan ragu untuk masuk, perasaannya semakin tidak enak. Dia malah berdiri di depan pintu sedangkan keluarganya sudah masuk ke rumah itu.
Tak lama Marvel menghampiri Argan dan menepuk pundak Argan.
"Elo ngapain bengong gan? yang lain udah pada masuk loh!" ucap Marvel sambil menarik Argan untuk masuk.
Saat masuk Argan terkejut , dia melihat sesuatu yang mengerikan. Dia bukan melihat orang, dia justru melihat manusia-manusia yang sangat mengerikan, ada yang isi perutnya terburai keluar dan itu membuat Argan mual dan ingin muntah, masih ada lagi manusia yang tidak memiliki tangan, kaki, kepala, ada yang matanya hampir keluar bahkan bolong, dan semua yang ada di sana tidak ada yang normal, kecuali dirinya dan keluarganya.
Entahlah apa perasaan Argan atau bukan, semua manusia ubnormal itu menatap tajam ke arah Argan. Argan hanya menenggak salivanya.
Semuanya terlihat mengerikan, tapi semua keluarga Argan melihatnya orang biasa. Yang lebih mengerikan mereka memakan entah apa, seperti daging tapi berlumuran darah, jika di perhatikan itu seperti janin.
Argan bingung saat dulu dia kesini keadaannya tidak seperti ini, bahkan para penjaga dan bawahan om nya, sekarang begitu mengerikan wajah dan tubuhnya seperti habis di sayat-sayat, dadanya sampai keperutnya sobek dan isinya menyembul keluar dan kondisinya pun sama semua, darah mengucur dari setiap lukanya.
Argan merasa pusing dan rasanya ingin pingsan. Namun tiba-tiba dia mendengar suara bisikan di telinganya.
"Kau harus siap! akan ada hal besar yang terjadi, kau harus mempersiapkan diri!" suara itu yang dia dengar dalam mimpi dan dia tau itu suara kakek Nur Jagad.
"Keselamatan keluargamu ada ditanganmu! tapi jika memang takdir berkehendak, karena sejatinya sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak sang Pencipta!"
Suara itu menggema lagi di telinganya, Argan yang terasa mau pingsan pun berusaha kuat dan bertahan. Karena dia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, dia hanya mengikuti alur dari perjalanannya, dan kemana dia akan di bawa, mau tidak mau dia harus siap menghadapinya.
Yang terpenting sekarang bagaimana dia menyelamatkan keluarganya. Seharusnya dia melarang dari awal untuk datang ke pesta ini, bahkan dia sudah merasakan firasat buruk itu.
Tapi mungkin ini lah yang di namakan takdir tak ada yang bisa mencegahnya, semuanya sudah terjadi atas kehendak takdir
Tapi Argan yakin, bahwa hal besar itu adalah Lakhuds iblis itu.
Dan apakah dia sudah siap untuk melawan iblis itu? dan memusnahkannya dari muka bumi ini?
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....