Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Reka


__ADS_3

Sore itu Inas mondar-mandir di ruang tamu, dia khawatir karena Argan belum juga pulang. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi, dia benar-benar panik dan cemas.


"Kamu dimana nak, kenapa belum pulang?" gumamnya.


Inka yang melihat bundanya khawatir juga ikut khawatir. Tak lama Ares datang dari kantornya, dia datang lebih awal karena Inas menelponnya, karena sangat khawatir dengan Argan yang belum pulang, karena tidak biasanya Argan belum pulang sampai sore, jika ada acara atau tugas sekolah Argan pasti akan mengabarinya.


"Gimana bun?"


"Belum pulang yah, cari Argan yah bunda khawatir, ini udah sore yah!" Ares mengangguk dan mengusap kepala istrinya.


"Iya bunda tenang dan jangan panik, nanti ayah cari Argan, ayah bersih-bersih dulu ya!" Inas mengangguk lalu mengantar suaminya ke kamar. Tak lupa sebelum ke kamar Ares mengusap kepala Inka.


"Yah bunda takut!" ucap Inas saat mereka sudah dikamar.


Ares yang melihat istrinya khawatir langsung memeluknya untuk menenangkannya, Ares tau kekhawatiran istrinya karena dia pun sama. Apa lagi saat subuh tadi mereka melihat Argan tidak sadarkan diri diruang tamu.


"Kita berdoa terus ya, semoga semuanya baik-baik aja!" Inas mengangguk dalam pelukan suaminya.


"Ya udah ayah mandi dulu!" ucap Ares melepaskan pelukannya, dia menangkup pipi istrinya dan menghapus air mata yang menetes.


"Udah dong sayang jangan nangis lagi, ayah gak mau liat bunda sedih, oke!" Inas mengangguk dan menatap suaminya, Ares mengusap kedua pipi Inas dengan jempolnya, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.


Lalu dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


...***...


Argan kaget karena tiba-tiba ada pak Rendi, disana dan membuat Argan semakin penasaran dengannya.


"Kenapa ada pak Rendi?" pikirnya.


Lalu Argan mengalihkan pandangannya pada pria yang ada dihadapannya yang mengaku kalo dia adalah om nya.


Argan di buat bingung berkali-kali belum selesai penasarannya sama pak Rendi, sekarang ditambah orang yang mengaku om nya. Argan semakin bingung dan pusing.


"Maaf om tapi sebenarnya ada apa ini? kenapa aku diculik?" tanya Argan penasaran dia masih belum sadar siapa orang yang ada dihadapannya adalah orang yang semalam menolongnya.


Pria itu tersenyum pada Argan. "Apa kamu lupa sama saya boy?"


Argan mengernyit tapi dia berusaha mengingat karena sebenarnya dia pun merasa pernah melihat orang yang ada dihadapannya ini.


Beberapa saat dia mengingat lalu munculah memori saat pria ini memberikan sesuatu padanya dan membuat dia langsung tersadar.


"Om yang semalam?" pria itu hanya mengangguk. Argan masih kebingungan kenapa dia ada disini.


"Tapi kenapa om bawa aku kesini?"


"Apa kamu tidak ingin tau sesuatu?"


"Maksudnya?" tanya Argan semakin bingung, terlebih dia tidak mengenal siapa orang yang ada dihadapannya kenapa dia mengaku sebagai om nya. Karena setau Argan dia hanya punya om, Sakti dan Sandi.


"Siapa om sebenarnya, kenapa om kenal sama saya?"


"Saya om mu boy, jika kamu penasaran tanyakan pada orang tua mu nanti?"

__ADS_1


Argan semakin kebingungan dengan pengakuan orang itu. Dan orang itu mengerti kebingungan Argan.


"Saya Reka, adiknya ayahmu apa dia tidak pernah cerita?" Argan hanya menggeleng.


"Tega sekali kamu kak Ares, tidak mengakuiku!" ucap Reka.


Argan hanya terbengong, karena dia memang tidak mengetahui tentang orang yang ada dihadapannya.


"Lalu kenapa om membawaku kesini? ada apa?" Reka tersenyum, membuat Argan semakin bingung.


"Untuk mengajarimu, bagaimana caranya biar bisa menghilangkan dahaga kamu dan gak merasakan kepanasan lagi!"


"Maksud om?"


"Kita sama boy!" Argan mengernyit tak mengerti.


...***...


Ares sudah mencari Argan kesekolahnya dan juga sudah menanyakan pada pihak sekolah. Tapi tidak ada satu pun yang melihat Argan. Ares pun sudah menanyakan pada teman-temannya yang dia ketahui, namun sama sekali tidak ada yang tau.


Ares frustasi karena tidak menemukan anaknya, dia semakin khawatir apa lagi kalo Inas dengar dia tidak menemukan Argan, akan semakin panik dan khawatir.


Karena Ares tak menemukan apa pun dia pun kembali ke rumah, mau tidak mau dia harus memberitahukan istrinya.


Di perjalanan dia melihat segerombolan pemuda yang sedang mengganggu seorang gadis. Ares pun tak tinggal diam, dia menghentikan mobilnya dan menolong gadis itu.


"Berhenti!" pekik Ares. Seketika membuat mereka menoleh ke Ares.


"Ayah Ares!!" pekik gadis itu.


"Pergi kalian atau saya kasih pelajaran!" Ares menatap tajam ke arah mereka. Dan membuat mereka pada kabur.


"Masuk mobil!" ucap Ares saat berandalan itu pergi.


Penty pun menurut, mereka pulang ke rumah Ares. Ares tak bertanya apa pun pada Penty. Penty hanya terdiam melihat Ares terdiam Penty pun takut untuk berbicara, jadi dia pun hanya ikut terdiam.


Beberapa menit mereka sampai dirumah, Ares bingung karena ada sebuah mobil bertengger di halaman rumahnya. Ares dan Penty pun turun dari mobil lalu masuk kedalam rumah.


Ares terkejut ternyata Argan sudah pulang, begitu juga Inas terkejut melihat Ares bersama Penty. Ares lebih terkejut lagi melihat seseorang yang sedang duduk disofa dan menatap tajam ke arahnya. Ares terbengong apa dia salah lihat atau tidak.


"Reka!" gumamnya. Reka hanya menatap datar lalu memeluk Ares ala pelukan pria dewasa. Penty berhambur ke pelukan Inas, Saat Ares dan Reka saling melepas rindu.


"Kapan kamu pulang?"


"Dua minggu yang lalu."


"Kenapa gak kasih kabar?" Reka hanya mendengus sebal melihat kakaknya itu.


"Elo juga tega kak, kenapa gak ngakuin gue!"


Ares menautkan Alisnya bingung. Reka yang mengerti kebingungan Ares menghela nafas kasar.


"Ya udah kalian lanjutin aja ngobrolnya, aku ajak Penty kedalam!" ucap Inas. Ares hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kakak juga istirahat ini udah malam!"


"Iya bun!" Akhirnya Argan pun pamit pada ayah dan om nya yang baru dia ketahui itu.


"Jadi maksud elo apa kak, gak ngakuin gue?" tanya Reka saat Inas dan yang lainnya kedalam.


"Seharusnya saya yang bilang begitu, kenapa kamu pulang gak bilang-bilang, apa udah gak ngakuin saya, mentang-mentang saya ini bukan kakak kandung kamu!" ucap Ares.


"Cihh.. malah memutar balikan fakta!" dengus Reka kesal.


Akhirnya mereka pun mengobrol panjang lebar dan Reka juga menceritakan pertemuannya dengan Argan. Tapi dia tidak menceritakan pertemuan pada malam itu. Karena itu adalah rahasianya yang tidak boleh siapa pun tau.


Setelah cukup mereka ngobrol Reka pamit pulang, Ares pun mengantar Reka ke depan.


"Sering-sering mampir Re!"


"Siap bos, salam aja buat si boy, si dedek sama Inas!" Ares hanya mengangguk.


Tak lama mobil Reka melaju, Ares kembali ke dalam, dia duduk kembali ke sofa. Dia mengurut keningnya yang terasa pusing.


"Kenapa Reka sangat mirip Ghandi sih!" gumamnya.


Reka memang mirip Ghandi bukan hanya wajahnya tapi sikap dan perilakunya sekarang, mengingatkan pada Ghandi, meski jailnya masih sama seperti dulu. Dan membuat Ares merasa tidak nyaman dekat Reka, mungkin karena dia mengingatkan pada Ghandi.


Tapi bagaimana pun dia adalah adiknya, walaupun hanya adik angkat. Inas menghampiri suaminya yang sedang terduduk lesu.


"Ayah udah makan?" Ares menggeleng.


"Ayah gak laper sayang!" ucap nya sambil memeluk istrinya.


"Oh iya gimana dengan Penty?"


"Penty udah cerita yah, dia disini sama Sandi dan bang Sakti karena Sandi mendapat pekerjaan disini dan bang Sakti juga sedang sakit dan dirawat dirumah sakit!" Ares hanya terdiam dan acuh tidak mempedulikannya. Dia menyesal menanyakan Penty, yang membuat dia mengingatkan pada Sakti.


"Ayah masih marah sama bang-" belum Inas melanjutkan ucapannya Ares sudah menghentikannya dengan ciuman di bibir istrinya.


"Mphhh.." Inas yang terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari suaminya hanya memukul dada Ares pelan. Karena Ares mencium kasar bibir istrinya. Namun lamat laun ciuman itu menjadi lembut dan Inas pun tidak berontak lagi.


Setelah puas bermain dengan bibir istrinya, Ares melepaskannya dan menatap tajam ke Inas.


"Saya gak suka kamu menyebut nama dia!" ucapnya tegas dan dingin, sorot matanya mengisyaratkan dia sedang marah.


Inas yang mendapat tatapan tajam dari suaminya langsung ciut. Karena jarang sekali dia melihat suaminya seperti ini.


Inas hanya mengangguk. "Maaf yah!" ucapnya menunduk. Ares mengangkat kepala Inas dan mau menciumnya lagi tapi Inas menahannya.


"Jangan yah, nanti anak-anak lihat!" Tanpa pikir panjang Ares langsung menggendong istrinya ala bridal style dan membawanya ke kamar dan melanjutkan aksinya.


Sedangkan Argan masih terjaga, matanya tidak bisa terpejam apa lagi pikirannya terus memikirkan perkataan Reka.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2