
Argan dan Shina masih terdiam, mereka sudah cukup lama di sekap, hari pun sudah mulai malam, mereka meringis karena merasakan lapar.
Tapi tak ada satupun yang memberi mereka makan, akhirnya mereka hanya menahan lapar.
Argan juga sudah merasa lemas karena terus berteriak memanggil Rendi dan menggedor pintu. Namun semuanya sia-sia di tambah rasa lapar yang melanda.
"Kayaknya om Rendi bakal bunuh kita pelan-pelan, kita bakal mati kelaparan!" ujar Argan.
Argan sudah tergeletak lemas karena menahan lapar begitu juga Shina, wajah mereka sudah pucat. Apa lagi Shina hanya baru makan tadi pagi.
Di tempat lain Rizal sedang panik karena anaknya belum di temukan, dia pun sudah lapor polisi namun belum bisa di proses karena belum satu kali dua puluh empat jam.
"Ya ampun sayang kamu di mana nak?" Rizal masih di dalam mobilnya untuk mencari anaknya, dia juga sudah mencari ke teman-temannya tapi tak ada yang tau. Rizal melajukan mobilnya perlahan, semoga dia bisa melihat Shina.
Kembali ke Argan dan Shina.
Mereka sudah terkulai lemah karena dari siang mereka belum makan apa pun. Tak berselang lama Argan mendengar suara keributan di luar. Argan bangkit dan duduk untuk menajamkan pendengarannya. Dia seperti mendengar suara yang dia kenal.
"Ayah!" gumamnya.
Dia pun merasa mendapatkan kekuatan saat mendengar suara ayahnya. Dan terdengar juga suara tembakan, sepertinya Ares bersama polisi. Setelah beberapa saat mendengar suara keributan tiba-tiba suasana jadi hening. Bahkan Argan tak mendengar suara apa pun lagi. Shina juga sudah terlelap karena kelaparan.
"Kemana mereka? apa aku salah dengar padahal jelas sekali aku mendengar suara ayah!"
Tiba-tiba Argan mendengar suara geraman yang menggelegar, suaranya begitu kencang. Sehingga memekakkan telinga Argan.
"Suara apa itu?" Argan meringis, suara geraman itu sangat kencang membuat telinganya terasa sakit.
"Aarggh.." pekik Argan sambil menutup telinganya. Karena suaranya semakin kencang.
Shina yang mendengar teriakan Argan terbangun dia panik melihat Argan sedang meringis kesakitan, tapi tubuh dia pun lemas, perlahan Shina menghampiri Argan dengan berjalan ngesot karena tubuhnya tidak kuat untuk berdiri.
"Argan.." lirihnya.
Argan masih menutup kedua telinganya, tak lama suara geraman itu perlahan menghilang, Argan pun melepasakan tangan dari telinganya. Wajahnya terlihat sangat pucat lalu tiba-tiba Argan tak sadarkan diri.
"Argan.." Shina masih mengesot dia menghampiri Argan. Setelah dekat dengan Argan, Shina mencoba membangunkan Argan dengan menggoyangkan tubuh Argan.
"Gan bangun.."
Shina panik karena Argan pingsan, tapi tubuhnya pun terasa semakin lemas dan pandangannya mulai kabur dan akhirnya dia pun tak sadarkan diri di samping Argan.
...***...
Argan terbangun dari pingsannya, dia mengerjapkan matanya berkali-kali, sampai akhirnya dia bisa membuka mata dengan sempurna. Dia menilik ke sekeliling, ternyata dia ada di rumah sakit.
Argan meringis karena kepalanya merasa pusing, terlihat ayah dan bundanya sedang tertidur di sofa begitu juga dengan adiknya.
"Ayah, bunda.." panggilnya namun suaranya tidak keluar. Dia merasa haus dan ingin minum, dia mencoba mengambil sendiri gelas yang ada di nakas. Namun gelas itu malah jatuh dan pecah membuat semua orang terbangun.
"Ya ampun sayang!" Inas langsung menghampirinya begitu juga Ares.
"Kakak haus?" Argan mengangguk pelan.
Inas pun memberi minum dari botol mineral menggunakan sedotan. Argan meminum hampir setengah botol. Setelah minum Argan merasa lega.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kamu kak?" tanya Ares. Argan hanya menggeleng dia ingin bicara tapi suaranya tidak keluar.
"Kakak jangan kaya gini lagi ya, jangan buat bunda dan ayah khawatir!" ucap Inas terisak.
Argan mengangguk, lalu menyeka air mata bundanya.
"Bagaimana kamu bisa di culik Rendi?" Ares penasaran dan dia juga tidak menyangka sepupunya itu adalah bandar narkoba.
Argan hanya menggeleng pelan, sambil menutup mata, lalu membukanya lagi. Lalu dia ingat sesuatu.
"Shina.." ucapnya dengan suara yang sama sekali tidak keluar. Inas yang sedang menatap anaknya melihat anaknya berbicara tapi dia pun tak mendengar suara Argan.
"Ada apa sayang?"
"Shina!" ucap Argan tanpa bersuara.
"Bunda gak denger kakak ngomong apa?"
Lalu Argan menggerakkan mulutnya perlahan agar bunda dan ayahnya bisa mengerti.
"Shina?" tanya Inas dan Ares, Argan mengangguk dia ingin tau keadaan Shina.
"Dia baik-baik aja, dia juga sudah di rawat tapi ayah belum kasih tau keluarganya karena gak tau alamat rumahnya!" ujar Ares.
"Tapi nanti kalo kalian sudah boleh pulang, nanti kita anterin pulang ya!" Argan mengangguk pelan.
Tiba-tiba Argan meringis merasakan sakit ditelinganya. Telinganya serasa berdengung sangat kencang.
"Kamu kenapa sayang ada yang sakit?" Argan berusaha tenang agar bundanya tidak khawatir. Meski telinganya masih terasa sakit.
Tak lama seseorang datang ternyata Reka.
"Belum tau Re, dokter belum ngasih kabar kondisi yang sekarang!" jawab Ares.
"Gue gak nyangka si Rendi kaya gitu!" ucap Reka.
"Saya juga Re, padahal dulu dia paling pendiem di antara kita!" sahut Ares. Reka hanya mengangguk lalu menghampiri Inka yang sedang terduduk sofa.
"Hai cantik.."
"Hai om ganteng!" balas Inka. Sambil menyalami Reka.
Sedangkan di ruangan lain, Shina masih tertidur. Dia sudah sempat sadar, tapi dia tidur lagi karena merasa kepalanya pusing.
Begitu juga Argan, dia kembali terlelap setelah tadi merasakan sakit ditelinganya.
Setelah dokter memeriksa kembali Argan dan Shina mereka di perbolehkan untuk pulang. Shina di ajak kerumah Ares terlebih dulu sebelum di antar pulang kerumahnya.
Setelah mereka sampai, mereka langsung di suruh beristirahat Shina istirahat di kamar Inka.
"Kamu istirahat dulu ya, nanti om anter kamu pulang!" Shina mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah dek anterin kak Shina ke kamar dedek ya!"
"Iya bun!" Inka pun memapah Shina menuju kamarnya, lalu Inka pun istirahat bersama Shina di kamar.
__ADS_1
Ares sedang duduk di sofa ruang tengah sambil mengurut keningnya karena merasa pusing.
"Diminum dulu yah!"
"Makasih sayang!" Inas mengangguk.
"Ayah pusing?"
"Sedikit bun!"
"Ya udah sini bunda pijitin!" Ares pun merebahkan kepalanya di paha Inas. Inas memijit kepala Ares pelan.
"Makasih ya, ayah udah kembali sama kakak dengan selamat!" Ares tersenyum menatap istrinya, lalu dia bangkit dan mencium bibir istrinya.
"Kalo udah kaya gini pasti minta lebih!" ucap Inas saat Ares melepaskan bibirnya. Ares tertawa mendengar ucapan istrinya. Apa lagi dia semakin gemes melihat istrinya mengerucutkan bibirnya.
"Gak sayang ayah capek, ayah pengen istirahat aja!" ujar Ares sambil mengelus pipi istrinya.
"Ya udah kita istirahat yuk!" Ares mengangguk. Lalu mereka pun ke kamar untuk istirahat.
"Ayah!"
"Hm! apa sayang?" Mereka sedang terbaring sambil berpelukan.
"Mm.. ayah jangan marah ya, bunda mau tanya sesuatu!" Ares mengangguk sambil menatap istrinya.
"janji!"
"Iya istriku sayang yang paling cantik!" Inas tersenyum mendengar rayuan suaminya.
"Ayah yakin mau laporin bang-" Inas ragu untuk menyebut nama Sakti takut Ares marah. Ares yang mengerti pun hanya mengangguk. Selain Sakti sudah mengganggu rumah tangganya dia juga pernah menculik Inas, itu sudah cukup bukti untuk melaporkan Sakti. Jika dulu Inas melarangnya untuk melaporkan Sakti dengan alasan penty, kali ini Ares tidak akan melepaskannya.
"Ayah!"
"Hm!" jawab Ares sambil memejamkan mata karena sudah merasa ngantuk.
"Boleh nggak kalo ayah gak usah laporin bang Sakti, bunda yakin kok bang Sakti gak akan ganggu bunda lagi, bunda gak tega sama pen-" belum Inas menyelesaikan ucapannya, Ares sudah menghentikannya dengan ciuman di bibir istrinya.
Inas pasrah aja dengan apa yang di lakukan suaminya, dia tau suaminya tidak setuju dengan permintaannya.
"Jangan sebut nama pria itu lagi, dihadapan saya!" ucap Ares setelah melepaskan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Inas. Inas hanya menelan ludah melihat tatapan suaminya lalu dia hanya mengangguk.
"Ya udah kita istirahat, ayah capek banget sayang!" Ares memeluk erat tubuh istrinya lalu memejamkan mata. Inas pun tersenyum lalu mengecup bibir suaminya lalu ikut terlelap.
Sedangkan Argan dia terbangun setelah tadi beristirahat. Dia melihat Tamara yang sedang duduk di meja belajarnya sambil menatap Argan. Tapi Argan malah membuang muka kesal. Dia kesal karena Tamara malah hilang di saat dia membutuhkannya.
"apa juga yang gue harepin dari hantu rese itu, tetap saja tidak ada yang paling baik tempat untuk meminta pertolongan selain Tuhan!"
"Gan kamu marah?" Tamara menghampiri Argan. Tapi Argan mengabaikannya.
"Kenapa kamu marah?" Argan masih terdiam sambil memejamkan matanya.
"Argan jangan marah, kamu tau gak sih aku susah payah buat tolongin kamu!" Argan membuka mata mendengar ucapan Tamara. Lalu menatap Tamara dan Tamara menceritakan perjuangannya dari mulai mengikuti Argan yang berusaha menolong Shina, sampai dia mengikuti saat Argan di pindahkan dan saat dia kembali ke gudang tua dan bertemu Ares.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....