
Argan melangkah lesu di koridor sekolah, pikirannya benar-benar kacau. Dia tidak tau harus bagaimana menjelaskan kejadian itu pada adiknya, dia semakin takut kalo orang tuanya tau tentang dirinya yang berbeda, dia takut akan dibuang oleh mereka
"Apa iya aku bukan anak ayah dan bunda?" pikirnya.
Argan menghela nafas dia bahkan tidak mempedulikan para siswi yang menyapanya, biasanya dia akan membalas sapaan itu dengan senyuman tapi untuk kali ini dia benar-benar tidak ingin diganggu. Setelah berjalan hampir memasuki kelasnya dia terdiam sesaat lalu Argan berbalik lagi dan melangkah keluar meninggalkan sekolah, dia bahkan mengabaikan panggilan satpam karena bel sudah berbunyi. Argan tetap melangkah keluar sekolah, dia benar-benar ingin sendiri.
Dia berjalan tanpa tau tujuannya, dia berjalan mengikuti kemana langkah kakinya akan membawanya. Dia berjalan semakin menjauh dari sekolah, dia berhenti sejenak dia membuka tasnya dan mengeluarkan sweater dari tasnya dan memakainya, untung saja dia selalu membawa sweater di dalam tasnya.
Dia melanjutkan langkahnya, dia terus berjalan dengan pikiran yang berkecamuk. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan keluarganya.
Dia terus berjalan sampai akhirnya kakinya berhenti melangkah di sebuah jembatan tua. Tempatnya sepi tidak ada kendaraan yang berlalu lalang.
Dia naik ke besi penyangga jembatan itu, dia berdiri lalu berteriak sekencang mungkin, jika orang lain melihat mungkin mereka berfikir Argan akan bunuh diri Padahal tidak.
Argan berteriak kencang, untuk melepaskan rasa sesak di dadanya, karena sakit atas sikap adiknya.
"Siapa gue!!" teriaknya lagi.
"Manusia?" teriaknya lagi.
"Atau iblis!" lirihnya pelan sambil menunduk.
"Gue gak mau kaya gini! gue pengen normal!" ucapnya pelan.
Argan benar-benar bingung tentang siapa dirinya. Jika manusia tidak mungkin dia meminum darah manusia. Jika dia iblis tidak mungkin dia bisa beribadah seperti manusia lainnya. Apakah dia manusia setengah iblis?
Argan berteriak lagi, dia kesal karena tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
"Om Reka!" gumamnya.
Dia segera turun dari atas jembatan itu, dia melangkah meninggalkan jembatan itu dan berjalan ke arah dimana tadi dia datang. Dia berfikir Reka tau sesuatu karena selama ini dialah yang mengajari Argan untuk menghisap darah manusia.
Saat Argan melangkah memasuki jalan raya, seseorang memanggilnya.
"Argan!" Argan pun menoleh.
"Om!"
"Kamu gak sekolah?" Argan menunduk dan tak ingin mengatakan kalo dia bolos.
"Gan!"
"Apa kabar om?" tanya Argan mengalihkan pembicaraannya.
Sandi menghela nafas. "Buruk!" jawab Sandi.
"Ada apa om, apa yang terjadi?" Argan tidak tau apa yang sudah terjadi dengan keluarga om nya itu, karena semenjak ke Bandung dia jarang berkomunikasi dengan keluarga Sakti.
"Kamu gak tau soal bang Sakti dipenjara?" Argan menggeleng, lalu tiba-tiba dia kaget.
"Apa? papa sakti di penjara! kenapa papa sakti di penjara om?"
"Karena ayahmu!"
"A-ayah.." ucap Argan terbata karena kaget soalnya ayahnya tidak pernah cerita padanya.
"Tapi itu memang kesalahan bang Sakti yang selalu mengganggu bundamu!" Argan terdiam karena memang hubungan mereka memang kurang baik. Argan juga tidak mengerti kenapa mereka terlibat konflik seperti itu, yang menurutnya sangat rumit.
Mereka berjalan sambil mengobrol, Argan sampai lupa tujuannya.
"Peniti gimana kabarnya om?"
"Dia sedang sakit semenjak papanya di penjara, mungkin om dan Penty akan kembali kerumah nenek, karena pekerjaan om disini juga sudah selesai!" jawab Sandi.
__ADS_1
"Maafin ayah ya om!" Sandi menepuk bahu Argan.
"Tidak gan, ini bukan salah ayahmu, ini salah papa Sakti, dulu juga dia pernah culik bundamu, Om tidak ingin membantunya, biarin dia merasakan efek jera biar gak gegabah lagi!"
"Tapi kasian papa om!" Argan tidak tega.
"Om juga kasian, tapi dia harus dapat pelajaran agar dia jera dan sadar, kamu tau siapa yang mengirim jin kerumahmu untuk menghancurkan keluargamu?"
Argan menggeleng dan mendongak menatap Sandi. "Dia bang Sakti!" Argan terbelalak kaget.
"Om gak becanda kan?" Sandi menggeleng.
"Awalnya om juga gak percaya, bang Sakti melakukan hal semacam itu, tapi om lihat dan dengar sendiri dari mulut bang Sakti, bahwa dia yang sudah mengirim jin ke ayahmu, agar dia berubah dan di benci kak Inas. Tapi ternyata kak Inas tidak terpengaruh sama sekali!" ujar Sandi.
Argan masih tidak menyangka kalo Sakti akan berbuat seperti itu.
"Maafin bang Sakti ya, dia udah ganggu keluarga kamu!"
"Iya om, aku udah maafin papa Sakti kok! aku yakin ayah dan bunda juga udah maafin papa Sakti!" Sandi tersenyum, meski dia tau Ares tak mungkin memaafkan Sakti apa lagi kalo sampai tau, Saktilah yang sudah mengirim jin padanya dan hampir menghancurkan keluarganya.
"Oh iya ini om mau kemana?"
"Mau beli obat buat Penty!"
"Aku boleh tengokin peniti om!" Sandi mengangguk dan tersenyum mendengar panggilan Argan ke Penty tak pernah berubah.
"Kenapa sih kamu panggil Penty peniti?" tanya Sandi penasaran.
"Aku juga gak tau om, waktu kecil aku ingetnya nama Penty tuh peniti!" ucap Argan terkekeh disambut tawa Sandi.
Mereka pun bergegas pulang ke kontrakannya Sandi. Sesampainya di sana ternyata Sandi sudah bersiap-siap, sudah ada koper dan box yang sudah siap di bawa.
"Om kapan kembali? kenapa sudah siap?"
"Ya udah om aku mau ketemu Peniti!"
"Iya masuk aja ke kamarnya!" Argan mengangguk dan masuk ke kamar Penty. Terlihat Penty sedang duduk bersender diujung tempat tidur dan kaki yang di luruskan.
Penty membuang muka saat melihat Argan. Argan mengerti Penty pasti benci padanya, karena ayahnya sudah memasukan papanya ke penjara.
"Hai Peniti!"
"Nama gue Penty bukan Peniti!" balas Penty ketus.
"Tapi gue udah biasa manggil kaya gitu!"
"Tapi gue gak mau dipanggil kaya gitu!" sahut Penty kesal.
"Peniti-"
"Jangan panggil gue peniti!" pekik Penty memotong ucapan Argan.
"Gue mau minta maaf, maafin ayah gue!"
"Gue gak mau maafin, elo gak tau rasanya jadi gue.." ucap Penty terjeda karena dadanya terasa sesak.
"Mama gue ninggalin gue dan sekarang gara-gara ayah lo, gue juga harus ditinggalin papa gue, kenapa orang tua gue ninggalin gue semua, mereka gak ada yang sayang sama gue!" ucap Penty terisak sambil memukul-mukul bahu Argan.
Argan langsung mencengkram kedua tangan Penty. Dia menatap Penty dengan jarak yang sangat dekat, mata mereka bertemu. Penty pun terdiam saat melihat tatapan Argan.
"Please, maafin ayah gue!" ucap Argan sambil melepaskan satu tangannya lalu menyeka air mata Penty.
Air mata Penty mengalir deras, Argan menyekanya lagi. Mata mereka masih saling bertemu dan mengunci. Tak sadar Argan mengusap pipi Penty.
__ADS_1
"Jangan nangis, nanti cantiknya ilang!"
Penty terpaku mendengar ucapan Argan. Namun sesaat dia tersadar dan langsung melepaskan tangan yang di cengkram Argan. Dan mengalihkan pandangannya. Dia merasakan perasaan aneh saat Argan bersikap seperti itu, dia menjadi gugup dan salah tingkah.
Argan pun sama saat dia tersadar dia merasa gugup dan salah tingkah. Saat mata mereka bertemu mereka langsung mengalihkan pandangannya.
"Gu-gue cu-cuma mau bilang itu!" ucap Argan terbata.
"Bilang apa?" tanya Penty dengan pandangan yang masih teralihkan.
"Gue minta maaf atas nama ayah gue. gue tau ayah lakuin itu bukan tanpa sebab, gu-"
"Dia ayah lo, pasti lo bakal belain dia!" ucap Penty memotong ucapan Argan dengan pandangan yang masih teralihkan, dia merasa gugup saat menatap Argan.
"Iya gue tau, memang gak mudah untuk memaafkan!" Padahal Sakti yang salah, tapi Argan tak mau mengatakannya dia tidak mau membuat Penty semakin terluka.
Sedangkan Sandi yang sedari tadi memperhatikan kedua keponakannya itu, hanya senyum-senyum melihat kedekatan mereka.
"Apa gue jodohin aja ya?" pikir Sandi tersenyum.
Lalu meninggalkan mereka berdua. Argan dan Penty saling terdiam mereka canggung setelah kejadian tadi dan bingung mau ngobrol apa.
"Mm.. elo gak sekolah?" tanya Penty. Argan tersenyum saat Penty bertanya dengan lembut tidak ketus seperti tadi.
"Gue bolos!"
"Kenapa?" tanya Penty kaget dan langsung menatap Argan.
"Gue denger lo sakit, jadi gue kesini pengen jengukin elo!" jawab Argan asal karena dia tidak mungkin bicara yang sebenarnya.
"Kenapa harus sampai bolos, elo kan bisa kesini pulang sekolah, nanti kalo bunda tau dia bakalan marah sama elo dan ayah Ares juga pasti bakal marah, elo gima-"
Cup..
Penty terbelalak kaget saat Argan tiba-tiba menciumnya. Matanya melotot tak percaya.
Argan pun kaget dan tak percaya dengan apa yang dia lakukan, dia langsung memukul-mukul mulutnya.
Entahlah Argan merasa gemas saat Penty mengomelinya, dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan, hingga dia tidak sadar mencium Penty.
"Sorry.. peniti gue gak sengaja, elo sih bawel banget!" ucap Argan membela diri.
"Lo nyebelin banget sih, itu first kiss gue!" teriak Penty kesal sambil memukul-mukul Argan.
"Stop Peniti, sakit badan gue, gue gak sengaja!"
"Bodo amat, elo nyebelin banget!" Penty masih memukul-mukul Argan.
"Kalo lo gak diem gue cium lagi nih!" Seketika Penty pun terdiam padahal Argan cuma bercanda. Penty langsung merebahkan dirinya dan menutupi seluruh badannya dengan selimut karena malu.
"Udah sono lo pulang, nyebelin!" pekik Penty di balik selimut.
"Awas jangan sampe kebawa mimpi ya!" bisik Argan menggoda. Penty hanya menggerakkan tubuhnya kesal dibalik selimut. Argan terkekeh melihat Penty kaya anak kecil.
Dia pun keluar kamar. Dan terlihat Sandi sedang beres-beres, Sandi hanya senyum-senyum melihat adegan tadi. Saat dia mau masuk untuk memberi obat, dia kaget saat Argan mencium Penty. Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk masuk.
Setelah Argan keluar, Penty membuka selimutnya, dia memegang bibirnya. Dia merasakan panas di wajahnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengingat kejadian tadi.
"Dasar cowok mesum!" umpatnya. Namun tak lama dia tersenyum sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....