
Hari ini sepulang sekolah Argan berniat akan kerumah Penty. Dia ingin bicara dari hati ke hati bersama gadis itu.
Dia berangkat naik sepedanya, karena motornya hilang saat Sandi mencari Shina. Tapi Sandi berjanji akan mengganti motor itu dan Fahri pun akan membantu Sandi untuk mengganti motor itu, karena motor itu hilang saat Sandi menolong Shina.
Setelah sampai di rumah Sandi, Argan terkejut karena ada Shina di sana. Argan semakin yakin kalo laki-laki yang di cintai Shina adalah Sandi. Argan berusaha menahan diri dan terus mengingatkan diri tujuan dia kesini.
"Sayang ini-" Sandi menghentikan ucapannya saat melihat Argan. Sungguh hati Argan memanas saat Sandi memanggil Shina dengan sebutan sayang.
"Argan!" ucap Sandi. Shina pun menoleh ke Argan dia baru menyadari kehadiran Argan. Suasana di sana menjadi canggung.
"Om aku mau ketemu Penty!" ucap Argan berusaha menahan perasaannya. Shina hanya terdiam melihat Argan ada disana.
"Oh Penty ada di belakang, samperin aja!" ujar Sandi kikuk. Meski dia tau Shina sudah tidak ada perasaan pada Argan, tapi Sandi tau Argan masih menyukai Shina.
Argan tersenyum lalu berlalu meninggalkan Sandi dan Shina. Sandi duduk di samping Shina dan menatap Shina yang terdiam.
Sandi mengalihkan pandangan Shina agar menatapnya.
"Apa kamu masih mencintainya?" Shina menggeleng.
"Gak bang, sekarang aku hanya mencintai abang, saat aku menerima abang, aku udah putuskan akan menyerahkan hati aku buat abang!" jawab Shina.
"Abang tidak ingin menyakitimu, kalo kamu tidak bahagia sama abang, maka abang akan-"
Shina menaruh jari telunjuknya di bibir Sandi.
"Hati Shina cuma buat abang dan Shina bahagia sama abang, jangan bicara kaya gitu lagi!" ucap Shina sambil mengelus kedua pipi Sandi. Sandi tersenyum lalu mengecup kening Shina.
"Terima kasih sayang, abang beruntung memiliki kamu, terima kasih karena sudah menerima segala kekurangan abang!" Shina tersenyum dan memeluk Sandi.
"Shina mencintai abang!" Sandi tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
Di tempat lain Argan menghampiri Penty yang sedang duduk di taman belakang sambil mengerjakan tugas sekolah, dia sedang mendengarkan musik pake earphone sehingga tidak menyadari kehadiran Argan. Argan berdiri di belakang Penty dan memperhatikan gadis cantik itu yang sedang belajar, sambil sesekali melantunkan lagu yang sedang dia dengarkan.
Argan duduk di samping Penty, Penty menoleh dan dia terkejut saat melihat Argan.
"Ngapain lo di sini?" tanya Penty sambil kembali mengalihkan pandangannya ke laptop.
"Mau ketemu kamu!"
"Gue lagi belajar! jangan ganggu gue!" ketusnya tanpa mengalihkan pandangannya.
Argan menutup laptop yang sedang di gunakan Penty.
"Elo!" kesal Penty sambil menatap tajam Argan.
"Makanya kalo ada tamu itu temui dulu dan layani dulu!" ucap Argan.
"Siapa tamu? elo bukan tamu, elo tuh cowok nyebelin!" sentak Penty kesal lalu memalingkan wajahnya dari Argan. Argan tersenyum, lalu menggenggam tangan Penty.
"Peniti maafin aku yah, please maafin atas segala kesalahanku, maafin aku udah nyakitin kamu!"
__ADS_1
Penty masih terdiam dan masih memalingkan wajahnya. Argan mengalihkan pandangan Penty agar menatapnya namun Penty menutup matanya, dia sedang menahan air matanya agar tidak terjatuh. Argan memegang kedua pipi Penty. Lalu mengecup bibir Penty membuat Penty membuka mata dan membulatkan matanya karena kaget.
plak..
Penty menampar pipi Argan. "Gue benci elo!" isak Penty sambil meninggalkan Argan. Argan melongo tak percaya Penty menamparnya, lalu dia mengacak rambutnya frustasi.
"Salah lagi gue! lagian nih mulut main nyosor aja sih!" gerutunya kesal sambil menampar mulutnya.
Argan menyusul Penty ke kamarnya, tapi Penty mengunci pintunya dari dalam. Terdengar isak tangis Penty di dalam kamar.
"Peniti maafin aku, aku beneran gak sengaja!" ucap Argan di depan pintu sambil mengetuk pintu kamar Penty. Sandi dan Shina menghampiri Argan.
"Ada apa gan?" tanya Sandi. Sebenarnya Sandi kesal sama Argan karena sudah sering dia buat Penty menangis, tapi dia berusaha menahannya. Biar gimana pun Argan pun keponakannya juga.
Argan berdecak kesal saat melihat Shina dan Sandi yang semakin dekat, dia langsung pergi meninggalkan mereka.
"Aaarghh..!" pekiknya sambil menendang sepedanya hingga rubuh. Lalu dia menaiki sepedanya dan pulang ke rumah.
...***...
Pagi hari semua sudah sibuk, Inas sibuk dengan peralatan dapurnya, suaminya sibuk dengan dokumen kantor yang akan di bawa, Inka sibuk dengan alat sekolah yang belum dia rapihkan, Argan sedang sibuk dengan hati dan pikirannya.
Tak lama Inas memanggil semuanya untuk sarapan.
Semua pun berkumpul di meja makan, terlihat sekali wajah Inas begitu cerah, setelah beberapa waktu ke belakang dia terus menangis karena memikirkan penderitaan putranya.
"Wahh.. bunda kok hari ini cantik banget sih!" ucap Ares.
"Kemarin cantik banget, tapi hari ini cantiknya pake banget bun!" goda Ares membuat Inas tersipu.
"Ayah ini suka banget godain bunda, malu sama anak-anak yah!" ucap Inas sambil memukul pelan tangan Ares.
Inka terkekeh geli melihat keromantisan kedua orang tuanya, Argan tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya selalu harmonis dan saling mencintai
"Oh iya jangan lupa ya, nanti sore kita bakal ke rumah om Reka, ajak Marvel juga ya kak!" ujar Inas.
Argan hanya mengangguk dan tersenyum. Tak lama mereka pun selesai sarapan. Ares, Argan dan Inka, berangkat sekolah di antar Ares. Setelah mengantar Inka Ares mengantar Argan ke sekolahnya.
"Kakak kenapa? ayah perhatiin seperti banyak pikiran!"
"Gak apa-apa yah, cuma mikirin ujian aja, sebentar lagi kan ujian!" jawab Argan. Ares mengangguk.
"Kakak yakin mau di kuliah di Melbourne? apa gak bisa di sini aja? benar kata bunda di sini juga banyak universitas yang bagus!"
"Aku udah pikirin yah dan aku udah mantep mau kuliah di sana!"
"Ya ayah sih terserah kamu, asal nanti belajar yang bener dan jaga diri disana, jangan ikut-ikutan hal yang gak baik! tapi kalo bunda gak ngijinin ayah gak bisa apa-apa ya! kamu tau sendiri kan gimana bunda kamu!"
"Iya yah, nanti aku akan bujuk bunda!" Ares mengangguk dan tersenyum pada Argan. Tak lama mereka sampai disekolah. Argan menyalami Ares dan keluar dari mobil.
Argan melangkah lesu ke kelas, dia melihat Shina yang sedang duduk sambil mengobrol dengan temannya. Hatinya selalu sesak jika mengingat kedekatan Shina dan Sandi.
__ADS_1
Shina menoleh ke arah Argan dan tersenyum, lalu dia kembali mengobrol dengan temannya. Tak lama Marvel datang.
"Hei bro!!" sapa Marvel.
"Hm!" jawab Argan singkat.
"Gimana elo udah ngobrol sama orang tua lo, soal kuliah di Melbourne?" Argan mengangguk.
"Ayah sih ngijinin tapi gak tau bunda, agak sulit membujuknya!" jawab Argan.
"Tetap semangat dan berusaha, gue juga bakal bantu doa, semoga bunda lo ngijinin!" Argan mengangguk.
"Oh iya nanti elo ikut gak ke acara om gue?"
"Hm.. gimana entar deh gan! kalo nanti gue ikut, ntar gue kesana!"
"Oke!"
Tak lama bel masuk berbunyi dan mereka pun memulai pelajaran.
...***...
Sore hari semua sudah siap untuk berangkat ke rumah Reka, Shina dan Fahri pun ikut, karena Reka mengundang mereka juga, kali ini Fahri mengajak Widia juga.
Marvel pun ikut, semua sudah berkumpul di rumah Ares dan bersiap akan berangkat.
"Semua sudah siap?" tanya Ares.
"Sudah!" jawab semua.
"Ehh.. tunggu yah Argan mana?" tanya Inas.
"Kayaknya masih di kamar bun, coba susul bun!" Inas mengangguk. Lalu dia menghampiri anaknya di kamar.
"Sayang semua sudah siap loh!" Argan terdiam dan berdiri menghadap jendela sambil melipat tangan di dadanya. Inas menghampiri Argan dan menepuk bahu Argan.
"Kak!" panggil Inas. Argan menoleh. Wajah Argan terlihat tegang dan serius.
"Ada apa? semua sudah kumpul loh dan siap mau berangkat!" ujar Inas.
"Bun, perasaanku gak enak, kaya ada sesuatu hal besar yang akan terjadi!"
"Cuma perasaan kakak aja kali!" Argan menggeleng.
"Tidak bun, tapi semalam aku ketemu kakek dan beliau bilang, akan ada hal besar yang akan terjadi dan kakek menyuruhku untuk bersiap!"
Inas terdiam dan terpaku setelah mendengar apa yang di sampaikan anaknya.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....