
Ares dan keluarganya sudah menempati rumah baru yang sudah selesai dibangun. Ares sengaja membuat rumah yang deket dengan kantornya.
Sudah seminggu mereka menempati rumah baru, Inas dan Argan sangat senang karena dibelakang rumahnya ada taman untuk Argan bermain.
Hari itu Ares sedang dirumah karena hari minggu, jadi dia menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.
"Ohh iya bun, lusa ayah ada kerjaan diluar kota, selama tiga hari!!" ucap Ares yang sedang duduk ditaman belakang sambil melihat anaknya bermain.
"Dimana yah?"
"Di Semarang bun!" Inas mengangguk.
"Iya yah, besok juga sodaranya mbak Ega mau kesini, yang mau bantuin kita." ujar Inas.
"Syukur deh jadi bunda gak berdua aja sama Argan ada temannya!" Ares menaruh kepala Inas dibahunya.
"Kenapa yah?" tanya Inas saat melihat ekspresi suaminya sedih.
"Ini pertama kalinya ayah ninggalin kalian, ayah pasti bakal kangen banget sama kalian, kalian baik-baik ya." ucap Ares memeluk Inas.
"Ayah juga hati-hati disana ya, jangan nakal!" Inas memandangi suaminya, ini juga pertama kalinya dia ditinggal suaminya, rasanya berat padahal cuma tiga hari.
"Ayaaah..ndaaaa.." tiba-tiba saja Argan berteriak histeris mengagetkan Ares dan Inas. Mereka langsung berlari menghampiri anaknya.
"Ada apa sayang?" tanya Ares sambil menggendong anaknya.
"Agan gak mau ikut sama nenek jelek!" ucap Argan sambil terisak.
"Nenek siapa sayang?" tanya Inas. Argan hanya menunjuk ke arah ayunan. Ares dan Inas saling berpandangan lalu mereka masuk ke dalam.
Terlihat seorang nenek dengan wajah menghitam dan keriput, sudah bungkuk dan memakai tongkat, dia tersenyum dengan gigi yang menghitam pula.
Tak lama datang sosok seorang pemuda menghampiri nenek itu.
"Jangan kau ganggu mereka atau kau berhadapan dengan saya!" ucap si pemuda.
"Jadi kau penjaga anak itu, saya tidak takut, saya pasti akan mendapatkan anak itu," ucap si nenek.
"Jangan mimpi kau nenek peot." geram si pemuda.
Saat si pemuda mau menyerang si nenek itu dia kabur duluan.
"Dasar nenek peot pengecut." ucap si pemuda kesal.
"Awas aja tuh si nenek peot kalo balik lagi, saya cabik-cabik." gerutu si pemuda.
Sedangkan Ares dan Inas sedang menenangkan anaknya yang sedang menangis karena masih takut dengan nenek-nenek tadi.
"Udah sayang jangan nangis lagi ya, udah gak ada kok neneknya," ucap Inas menenangkan.
"hu hu hu.. Agan takut nda!!"
"Iya sayang sekarang kan ada nda sama ayah, adek jangan takut ya." Inas terus menenangkan anaknya yang sedang memeluknya erat.
"Yah apa kita gak minta bantuan seseorang aja buat nutup mata batin Argan, bunda gak tega lihat Argan ketakutan kaya gini!" ujar Inas.
"Iya bun, tapi siapa ya yang bisa?"
__ADS_1
"Ustadz atau kyai yah, mungkin bisa!" usul Inas. Ares mengangguk.
"Ya udah deh ayah mau ke pak RT dulu, mau nanya ustadz disini ada yang bisa kaya gitu gak?" Inas mengangguk.
Ares pun berangkat menuju rumah pak RT. Inas masih menenangkan Argan.
Si pemuda tadi melihat Argan menangis dia langsung mengusap wajah Argan, sehingga membuat Argan jadi lebih tenang.
Inas pun jadi tenang melihat anaknya sudah tidak nangis lagi, walau pun masih sesenggukan.
"Kasian kamu sayang, masih kecil harus menghadapi keadaan kaya gini, maafin bunda ya, ini semua karena bunda." batin Inas.
Inas merasa bersalah, karena dulu mata batin dia juga terbuka, jadi dia pikir sekarang malah pindah ke anaknya.
Tak lama Argan tertidur dalam pelukan Inas. Inas memandangi wajah lucu dan polos anaknya.
"Bunda takut nak! bagaimana jika kutukan Lakhuds jadi kenyataan, bunda gak mau kamu kenapa-napa sayang." ucapnya sambil meneteskan air mata dan mencium pipi chubby Argan.
Sedangkan si pemuda yang melihatnya, hanya menatap lirih kedua tuannya itu.
"Andai saja saya bisa membebaskan kutukannya, akan saya lakukan, tapi saya hanya bertugas untuk menjaganya. Tapi kalian tenang saja setiap penyakit pasti ada obatnya dan suatu saat dia akan menemukannya", ucapnya sambil tersenyum lalu menghilang.
...***...
Hari ini hari dimana Ares akan pergi ke semarang, sebenarnya dia berat meninggalkan anak dan istrinya meski hanya beberapa hari, karena baru kali ini dia meninggalkan dua orang yang sangat dicintainya itu. Terlebih lagi saat dia tau dari ustadz yang katanya mata batin Argan tidak bisa ditutup, karena itu sudah terbuka sejak lahir dan mungkin juga itu sudah takdir Argan.
Inas sedang membantu merapikan dasi suaminya, terlihat wajah sedih pula darinya, karena ini pun pertama kalinya dia ditinggalkan. Ares menyadari kesedihan istrinya, dia langsung memeluk dan mengusap kepala istrinya.
"Baik-baik ya sayang, saya janji jika kerjaan disana cepat selesai, saya akan cepat pulang, mudah-mudahan gak sampai tiga hari."
"Iya sayang, kamu juga hati-hati disana ya, jangan telat makan, jangan tinggalin ibadah!" ucap Inas sambil melepaskan pelukannya.
"Jangan sedih dong sayang, ayah jadi ikut sedih."
"Gak kok yah, bunda gak sedih!" Inas berusaha tersenyum, lalu Ares memeluk istrinya lagi.
Sebelum berangkat tak lupa Ares mencium anaknya yang masih terlelap. Inas mengantarnya sampai depan.
"Ayah pergi ya, bunda hati-hati dirumah kalo ada apa-apa telpon ayah," ucap Ares sambil memeluk istrinya lagi dan mencium kening istrinya.
"Iya yah, hati-hati sayang!" ucap Inas sambil melambaikan tangannya.
Ares pun membalas lambaian tangannya, lalu masuk mobil dan melajukan mobilnya. Setelah mobil Ares tak terlihat Inas menutup pagar dan masuk ke dalam.
Baru juga melangkah ternyata ada yang datang, seorang ibu paruh baya, dia sedang berdiri depan pagar.
"Ibu siapa ya?" tanya Inas.
"Saya Watiah." jawabnya dingin.
"Ibu cari siapa?"
"Saya yang mau kerja disini." jawabnya dengan muka yang datar.
"Ohh ibu ini sodara nya mbak Ega ya, ya udah ayo masuk!" ucap Inas sambil membuka pagar dan mempersilahkan masuk. Inas senang karena dirumahnya dia tidak berdua saja, ada temennya lagi. Meski sikapnya dingin dan aneh.
Inas memberitahukan dimana kamar pembantu barunya itu. Karena kemarin tidak jadi datang, karena ada halangan, jadi hari ini pembantunya baru datang.
__ADS_1
"Bibi istirahat aja dulu, pasti capek habis perjalanan jauh." ucap Inas.
Dia hanya mengangguk datar tanpa ekspresi. Sebenarnya Inas merasa aneh dengan pembantu barunya itu, tapi dia abaikan mungkin memang begitu orangnya, pikirnya.
...***...
Sore itu Inas sedang sibuk memandikan Argan di bathtub, Argan senang sekali main Air bersama mainannya itu. Ditambah ada teman gaibnya yang terus menemaninya.
Argan menciprat-cipratkan Air ke segala Arah karena temannya terus terbang menghindari cipratan Argan.
Argan sangat senang bermain dengan Tio teman gaibnya.
"Sayang jangan dicipratin airnya, bunda basah semua tuh!" ucap Inas.
"Kakak nya telbang mulu nda." sahut Argan dan masih terus mencipratkan airnya. Inas tersenyum mendengar ucapan anaknya.
Karena badan Inas basah semua gara-gara Argan. Inas berniat memangggil bi Wati, tapi belum sempat Inas memanggil bi Wati tiba-tiba dia sudah dibelakang Inas dan mengagetkannya.
"Astagfirullah, bibi ngagetin aja!" Inas mengusap dada karena kaget karena bi Wati tiba-tiba ada dibelakangnya.
"Biar saya yang mandiin den Argan bu," ucap Bi Wati datar dan seperti biasa tanpa ekspresi apa pun, bahkan sikapnya sangat dingin.
Inas pun mengangguk karena dia pun sudah kedinginan, karena badannya basah. Lalu dia keluar dan ke kamarnya untuk sekalian mandi dan ganti baju.
Bi Wati menghampiri Argan yang sedang bermain air, entah kenapa teman gaibnya Argan malah menghilang saat bi Wati masuk.
"Ayo den biar bibi mandiin," ucap bi Wati tersenyum, namun senyumannya sangat mengerikan karena senyuman dia menyeringai.
Argan yang melihat itu ketakutan, tapi entah kenapa dia tidak bisa bicara atau pun menangis, tiba-tiba saja lidahnya kelu, tubuhnya kaku.
Argan yang tadinya aktif tiba-tiba saja diam saat bi Wati menatapnya, seolah terkena hipnotis. Bi Wati menyabuni badan Argan dan sesekali dia menyanyikan tembang jawa, yang justru membuat Argan semakin terlena, wajah ketakutan Argan berubah menjadi wajah yang pasrah.
"Cah bagus!" bi Wati mengelus kepala Argan membuat Argan seperti mengantuk dan membuat dia tertidur.
Bi Wati tersenyum menyeringai melihat Argan tertidur.
"Bi..!" panggil Inas, membuat bi Wati terkesiap, dia pun langsung mengangkat Argan dan menghandukinya. Buru-buru dia bawa ke kamar, entah apa yang dia perbuat hanya dengan mengusap wajah Argan membuat Argan membuka mata, namun tatapannya kosong.
Inas menghampiri bi Wati dikamar Argan, karena dia tidak menemukannya dikamar mandi.
"Jagoan nda udah selesai mandi ya, anak pinter!" ucap Inas sambil mengecup kepala Argan.
"Udah bi, biar aku aja yang bajuin Argan, bibi kebelakang aja ya." bi Wati mengangguk terlihat wajah kesalnya saat membelakangi Inas, lalu dia pun berlalu.
Inas pun memakaikan baju Argan, dia tidak merasa curiga, bahwa anaknya itu dari tadi diam saja, biasanya Argan bawel dan gak bisa diem.
"Udah selesai, sekarang waktunya kita nonton," ucap Inas. Lalu dia menggendong Argan dan membawanya keruang tv untuk menonton acara kartun kesukaan Argan.
Tatapan Argan masih kosong namun Inas tidak menyadarinya. Teman gaib Argan pun tidak kembali lagi setelah melihat bi Wati, biasanya dia akan ikut menonton dan bermain dengan Argan.
Bi wati yang sedang membereskan dapur bekas Inas memasak masakan Argan, menatap tajam ke arah Inas. Dan terlihat raut kesal diwajahnya.
Siapa sebenarnya bi Wati?
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....