
Argan sudah bersiap untuk sekolah, tapi dia merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah berfikir sesaat dia mengingat dia tidak melihat Tamara dan tidak mendengar ocehannya lagi.
"Kemana tuh bocah?" gumamnya.
Dia pun bergegas berangkat karena takut kesiangan, karena sehabis sholat subuh dia malah tidur lagi.
"Bun aku langsung berangkat ya!" sambil menyalami Inas dan Ares.
"Gak sarapan dulu kak?"
"Di sekolah aja bun, takut kesiangan!"
"Ya udah hati-hati!"
"Iya bun Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawab Inas dan yang lainnya.
Benar saja sampai sekolah, gerbang sudah mau ditutup, Argan langsung berlari agar tidak telat.
"Hufft.." Argan menghela nafas saat dia sudah berhasil masuk kesekolah. Dan pak Satpam hanya menggelengkan kepalanya melihat murid masih ada yang kesiangan.
Argan berlari masuk ke kelas karena takut guru sudah masuk, namun saat dia baru masuk tak sengaja dia menabrak seseorang, untung saja Argan segera menangkap tubuh orang itu.
Deg!
Mata mereka betemu, ternyata orang yang ditabrak Argan adalah Shina, siswi misterius yang membuat Argan kebingungan. Untuk sesaat mereka terdiam dan saling menatap.
Bahkan para siswa dikelasnya melongo melihat adegan yang menurut mereka seperti ada disinetron. Saat Argan tersadar dia langsung melepaskan tangannya hingga Shina terjatuh. Argan melepaskan tangannya karena saat dia tersadar dia merasakan hawa panas ditubuhnya.
"Aaarghh.." teriak Shina kesakitan.
Argan tak mempedulikannya, dia langsung berlalu begitu saja meninggalkan Shina yang sedang merintih kesakitan.
"Dasar cowok gila!" umpat Shina.
Namun Argan acuh saja meski dia mendengarnya. Para murid hanya melongo melihat adegan itu. Bahkan semakin melongo saat Argan tidak merasa bersalah sama sekali.
Shina menghentakkan kakinya karena kesal, dia langsung keluar karena ingin ke kamar mandi.
"Dasar cowok gila, cowok sinting, pantat gue sakit kan jadinya!" gerutu Shina kesal.
Argan santai saja seperti tidak terjadi sesuatu dia mengabaikan pandangan teman-temannya yang sedang menatapnya aneh.
"Gila Argan ganteng banget ya tadi, coba gue yang ditabraknya tadi!"
"Ya ampun biar pun dia aneh, tapi kenapa dia ganteng banget sih, gue bener-bener terpesona sama lu Argan."
"Sial, padahal gue mau deketin Shina, tapi si Argan malah gercep!"
"Ahh gue mau jadi pacar Argan, gue gak peduli dia aneh!"
Itu adalah suara hati sebagian teman-teman Argan yang habis melihat live sinetron.
"hi..hi..hi.." Argan tersentak saat mendengar cekikikan suara yang dikenalnya, siapa lagi kalo bukan Tamara.
"Kemana aja lo?"
"Ciyeee.. Argan kangen ya sama aku!" ucap Tamara sambil mengedip-ngedipakan matanya. Argan hanya memutar bola matanya malas.
"Kamu tau gak sih, banyak banget yang sedang memuji kamu?" Argan hanya mengendikan bahu. Dia tau kalo Tamara bisa mendengar suara hati manusia, tapi Argan tidak pernah peduli.
Tapi Tamara tidak bisa mendengar suara hati Argan. Entahlah Tamara pun tidak tau kenapa dia tidak bisa mendengar suara hati Argan.
Tak lama pelajaran pun dimulai.
__ADS_1
...***...
Argan berjalan gontai dihalte, seperti biasa dia akan menunggu angkot.
"Gan laper!! makan yuk!" sedari tadi Tamara terus merengek membuat Argan pusing.
"Argan!!" pekik Tamara karena diacuhkan.
"Gan aku laper, aku pengen makan!" rengek Tamara.
"Bisa diem gak sih, gue pusing arghh.." sentak Argan kesal.
"Dihh aneh! orang dari tadi gue diem!" ucap seseorang. Argan menoleh, Argan lupa kalo dia sedang tidak sendiri.
"Sorry!" ucap Argan sambil nyengir.
"Elo Argan kan anak 9B?" Argan hanya mengangguk.
"Elo kenal gue?"
"Ya iyalah siapa yang gak kenal elo, anak aneh yang suka ngomong sendiri dan juga suka marah-marah sendiri, dan sekarang gue lihat sendiri elo emang aneh!" jawabnya sambil menatap Argan.
Argan hanya menyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Seaneh itu ya gue?" ucap Argan sambil memelototi Tamara yang akan mulai merengek lagi.
"Oh iya gue Marvel anak 9A!" ucap anak itu memperkenalkan diri.
"Argan!"
"Iya gue tau."
Tak lama datang Shina yang akan menunggu angkot juga, karena papanya tidak bisa menjemputnya.
Argan hanya menoleh sekilas begitu juga Shina, ketika pandangan mereka bertemu mereka saling membuang muka sebal.
"Kenapa gak ada angkot yang lewat ya?" tanya Marvel. Argan hanya mengendikan bahu.
Tak berselang lama hujan pun turun, Shina yang berada diluar halte langsung masuk ke halte untuk berteduh. Meski dia males harus berdekatan dengan Argan tapi dari pada dia kehujanan, pikirnya.
Hawa panas mulai menjalar diseluruh tubuh Argan saat Shina mendekat, padahal ini hujan deras seharusnya dia merasakan dingin tapi dia malah kepanasan.
"Kenapa setiap deket dia gue selalu merasa panas?" gumamnya dalam hati.
Karena tempat duduk Shina bocor, terpaksa Shina bergeser kedekat Argan, membuat Argan kaget, karena Shina bergeser dengan cepat.
"Jangan deket-deket gue!" pekik Argan sewot.
"Apaan sih lo, bocor tau, sinting lo!" pekik Shina tak kalah sewot. Mereka pun membuang muka sebal.
"Bodo amat dasar cewek aneh!!" ucap Argan sambil bergeser agar menjauh dari Shina.
"Elo yang aneh, sinting!" sahut Shina makin sewot.
"Elo yang aneh, sinting!" balas Argan sambil meledek ucapan Shina sambil memajukan bibir bawahnya. Shina hanya menghentakkan kakinya karena kesal
Marvel yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Melihat kedua manusia yang berbeda gender itu adu mulut.
"Jangan saling benci, awas nanti jatuh cinta!"
"DIEM!" pekik Shina dan Argan barengan.
"Wahhh.. bener-bener jodoh ini mah, bisa kompak gitu!" ucap Marvel girang sambil tepuk tangan.
Argan dan Shina hanya mendengus sebal sambil menatap tajam Marvel. Marvel hanya nyengir ditatap tajam kedua manusia aneh itu.
__ADS_1
"Cantik, ganteng tapi aneh!" gumam Marvel pelan.
Hujan masih deras tak ada angkot atau kendaraan umum yang lain lewat.
Mereka masih menunggu. Argan semakin gelisah karena merasakan panas ditubuhnya, dia pun berpindah ke sebelah kiri Marvel dan Marvel jadi ditengah dekat Shina. Benar saja setelah menjauh sedikit dari Shina, tubuh Argan mendingan.
"Aneh! kenapa ya? siapa dia sebenarnya?" pikir Argan. Tak lama datang sebuah mobil berhenti didepan mereka, ternyata itu jemputan Marvel.
"Gan gue duluan ya, udah di jemput!" pamit Marvel
"Iya hati-hati Vel!" Marvel mengangguk lalu dia hanya tersenyum pada Shina.
Marvel pun masuk mobil dan tak lama mobilnya melaju. Sekarang tinggal Shina dan Argan. Mereka duduk berjauhan dan saling membuang muka.
Setelah beberapa saat hujan tak kunjung reda, Argan mengirim pesan ke bundanya untuk minta dijemput, karena ayahnya pasti sudah datang.
Sedari tadi Argan tidak melihat Tamara, dia celingak-celinguk mencari keberadaan si hantu gesrek itu, tapi dia tidak ada.
"Entar juga datang sendiri!"
Shina yang mendengar Argan ngomong sendiri, hanya mengendikan bahunya sebal sambil terus menggerutu didalam hatinya.
Setelah beberapa saat menunggu, mobil Ares datang, Argan pun langsung masuk mobil.
"Itu temen kamu belum dijemput juga?" tanya Ares saat Argan masuk mobil.
"Temen, temen yang mana?" tanya Argan sok polos.
"Kasian tuh sendirian disitu, suruh masuk aja biar ayah anterin!"
"Gak usah yah, ayo cepet jalan, aku laper!" ucap Argan.
"Kasian kak ini udah sore lo! ayo cepet suruh masuk!"
"Ayah aja sana, aku males!" ucap Argan malas. Ares hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak bujangnya. Ares pun keluar dan menghampiri Shina.
"Dek, belum dijemput ya, bareng om aja biar om anter!"
"Gak usah om, makasih aku nunggu papa aja!"
"Tapi ini udah sore, hujan juga makin deras, gak apa-apa biar om anter."
Shina nampak berpikir, hujan memang semakin deras, papanya juga pasti belum pulang. Setelah berpikir akhirnya Shina mau, dari pada dia sendirian di halte.
"Iya om aku mau!" Shina dan Ares pun masuk mobil. Setelah mereka masuk mobil Ares segera melajukan mobilnya menerjang hujan deras mengguyur kota Bandung.
"Rumah kamu dimana?" tanya Ares.
"Jl. Merdeka om!" Ares mengangguk.
"Bapaknya mah ganteng, baik, sopan kok anaknya nyebelin banget sih!" gerutu Shina dalam hati sambil mendelik ke arah Argan yang sedang duduk didepan dan kebetulan Argan pun sedang mendelik ke arah Shina.
"Ngapain lo liat-liat?" tanya Argan sewot.
"Kepedean!" jawab Shina sambil memalingkan mukanya ke arah jendela mobil. Ares hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan anaknya.
Tak lama mereka sampai ke daerah rumah Shina. Shina minta turun deket pangkalan ojek, karena rumahnya sudah deket.
"Makasih ya om!"
"Sama-sama!" Shina pun keluar dari mobil, untung saja hujannya sudah mulai reda, hanya tinggal rintik-rintik aja.
Setelah mengantar Shina Ares segera pulang.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....