
Reka tersenyum menatap Inka yang sudah berada di genggamannya, dia sudah tidak sabar ingin menghisap jiwa gadis kecil ini. Inka terus menangis karena ketakutan.
"Jangan sakiti anak saya!" isak Inas.
Argan berusaha konsentrasi dan fokus, dia memusatkan pikirannya agar bisa melepaskan kendali Reka. Dalam hatinya terus berdoa memohon ampunan dan pertolongan sang pencipta. Hingga dia merasakan tubuhnya bisa terkendali oleh dirinya sendiri, Argan senang karena dia berhasil. Dia segera menyelamatkan adiknya yang sedang di ujung kematian.
Saat Reka mengeluarkan kekuatannya untuk menghisap jiwa Inka, Argan segera menusuk punggung Reka menggunakan belatinya. Seketika membuat Reka berteriak kesakitan dia tidak menyangka Argan akan lepas dari kendalinya.
Inka segera berlari menuju Inas dan memeluknya erat.
"Argan!" ucap Inas senang dia tidak tau kalo ternyata Argan ada di dekatnya. Marvel pun senang melihat Argan.
"Kurang ajar!!" pekik Reka.
Tak lama kedua pria bertopeng datang menghampiri. Reka sangat murka.
Sedangkan Shina dia sedang di ambang kematian karena kedua makhluk berjubah itu akan mencabik-cabik tubuhnya, tubuh Shina kaku dan tak bisa di gerakkan, dia hanya bisa mengedipkan matanya dan menangis, dia sangat ketakutan melihat wujud dari orang berjubah itu yang ternyata sangat mengerikan.
Wajahnya membusuk salah satu bola matanya menyembul keluar, dari mulutnya mengeluarkan air liur kental yang sangat menjijikan, kuku-kukunya tajam dan siap mencabik tubuh Shina, bahkan Shina mencium bau busuk yang sangat menyengat.
Shina ingin berlari namun tidak bisa, dia hanya mampu menangis dan pasrah jika memang dia akan mati saat ini. Kuku-kuku itu mulai meraba tubuhnya, suara geraman makhluk itu sangat mengerikan, Shina tak pernah membayangkan akan mengalami hal seperti ini.
Dia pasrah dan memejamkan mata, jika memang harus mati saat ini juga.
"Papa aku sayang papa!" ucapnya dalam hati.
"Abang aku sangat mencintaimu!" ucapnya lagi dalam hati.
Shina merasakan sebuah tusukan di tubuhnya sepertinya makhluk itu akan mulai mencabik tubuhnya. Shina mulai merasakan perih saat ada sayatan di lengannya, dia hanya mampu meringis dan menangis merasakan sakit itu.
Tak ada harapan lagi, rasa sakit kini terasa di lehernya, tapi kenapa makhluk itu tidak mencabiknya dengan membabi buta, kenapa begitu perlahan sehingga Shina merasakan sakit yang sangat terasa.
Saat Shina sudah pasrah dan berserah diri, tiba-tiba dia mendengar teriakan kesakitan dan geraman makhluk itu. Shina membuka mata betapa terkejut dan senangnya dia melihat pria yang di cintainya ada di hadapannya.
"Abang!"
"Sayang!" Sandi langsung memeluk tubuh Shina dia sangat bahagia kekasihnya masih selamat, meski dia melihat ada beberapa luka di tubuhnya karena ulah makhluk itu. Sandi terus menciumi seluruh wajah Shina saking bahagianya dia.
Setelah Sandi dan Ares memeriksa Penty yang ternyata sudah sadar, mereka memutuskan mencari Inas dan yang lainnya, hingga saat mereka berjalan tak jauh dari Shina, mereka mendengar suara geraman dan akhirnya mereka memeriksanya dan ternyata itu suara makhluk yang sedang menguliti seseorang dan Ares segera menghajar makhluk itu dengan cambuknya hingga mereka berteriak kesakitan.
Betapa terkejutnya Sandi saat mengetahui ternyata orang itu adalah kekasihnya, jadi dia langsung menghampirinya.
Setelah mengalahkan kedua makhluk itu, Ares menggendong Penty dan Sandi menggendong Shina mereka melanjutkan untuk mencari Inas dan yang lainnya. Shina memberitahukan jalan di mana keberadaan Inas berada.
Tak lama mereka sampai, Ares terkejut melihat semuanya terkapar di tanah, sedangkan Reka sedang bertarung dengan dua sosok bertopeng itu, Ares segera menghampiri istrinya.
"Sayang!"
"Ayah!" Inas tersenyum melihat suaminya. Semuanya mendekat dan berkumpul, Ares senang karena semuanya selamat kecuali Widia, tak ada yang bisa menemukan wanita itu.
"Ayah siapa pria bertopeng itu?" tanya Argan sambil memegangi dadanya karena serangan Reka.
"Ayah juga tidak tau, tapi kita harus bersyukur karena Allah mengirim pertolongan untuk kita!" Semuanya mengangguk setuju.
"Lalu kita harus gimana yah?" tanya Argan lagi.
"Belatinya di mana nak?" Argan memberikan belatinya. Lalu Ares memanggil Shina.
"Iya om!" ucap Shina lemas.
"Om akan minta darah kamu!" Shina mengernyit bingung. Tapi Shina pun tak menolak dan mengangguk.
Lalu Ares menyayat telapak tangan Shina hingga mengeluarkan darah, segera Ares melumuri belati itu dengan darah Shina. Setelah itu dia menghadap Argan.
"Sekarang tugasmu nak!" Argan mengangguk mengerti.
Dia langsung beranjak dan menghampiri Reka yang sedang bertarung dengan kedua pria bertopeng itu.
"Jangan dulu serang, tunggu sampai kami memberi celah!" ucap salah satu dari pria bertopeng. Namun Argan terkejut karena pria itu mengucapkannya dalam hati dan dia bisa mendengarnya.
"Apa aku mengalami Delusi lagi?" pikir Argan.
Kedua pria itu saling serang dengan Reka, kekuatan mereka imbang jadi belum ada yang kalah atau pun menang. Ares dan yang lainnya berdoa, semoga iblis itu kali ini benar-benar hancur dan tak akan menyesatkan manusia lagi.
Argan sudah tidak sabar ingin menghancurkan iblis itu, tapi dia tidak menemukan celah untuk menusuk jantung iblis itu, kedua pria bertopeng itu hampir kalah dan kewalahan. Ternyata kekuatan Lakhuds sangat kuat.
"Mari kita berdoa dan berdizikir, memohon pertolongan kepada sang maha kuasa!" ucap Ares semuanya mengangguk dan memulai berdoa.
Argan sudah tidak sabar, dia segera membantu kedua pria itu, namun saat dia akan maju dia malah terpental terkena kekuatan iblis itu, lagi-lagi Argan mengeluarkan darah dari mulutnya.
__ADS_1
Tiba-tiba angin berhembus kencang, membuat pepohonan bergoyang. Tak lama beberapa makhluk berdatangan membantu Reka. Semuanya kaget dan terkejut karena melihat makhluk-makhluk yang sangat mengerikan. Inka langsung memeluk ayahnya dan membenamkan wajahnya di punggung ayahnya karena ketakutan.
Makhluk-makhluk itu mulai menyerang Ares dan yang lainnya, namun karena mereka sedang berdzikir sehingga ada perisai yang melindungi mereka, hingga para makhluk itu tidak bisa mendekatinya.
Namun mereka tak menyerah mereka terus berusaha, menerobos untuk menghancurkan Ares dan yang lainnya, tapi mereka tetap gagal membuat mereka geram dan murka.
Beberapa makhluk lain menyerang Argan dan kedua pria bertopeng itu. Sehingga mereka semakin kewalahan, membuat Reka merasa di atas angin.
"Kalian semua akan menjadi budakku!" ucap Reka dengan suara yang menggema. Bahkan tubuhnya perlahan mulai berubah menjadi wujud asli iblis itu.
Sosok bertubuh tinggi, kekar dengan kulit tubuh merah kehitaman dan teradapat duri-duri tajam di seluruh tubuhnya, di kepala sebelah kiri terdapat tanduk yang melengkung ke belakang, matanya merah menyala bahkan terdapat bara api di atas kepalanya. Gigi-giginya runcing dan tajam, begitu juga kukunya yang panjang dan tajam yang siap kapan saja mencabik-cabik mangsanya.
Hanya Argan, Inas dan Inka yang mampu melihat sosok itu, karena hanya keturunannya yang bisa melihat wujud asli Lakhuds.
Argan sampai menelan ludah melihat wujud asli iblis itu, hingga membuat dia diam terpaku dan membuat para pengikutnya menyerang Argan hingga tersungkur.
Sedangkan Inka pingsan saat dia mengintip dan melihat wujud asli Lakhuds yang sangat menyeramkan. Inas langsung memangku putrinya dan mendekapnya dia tau putrinya sangat ketakutan.
"Kalian tetap disini dan jangan putus berdoa dan berdzikir!" ucap Ares.
Semuanya mengangguk kali ini mereka hanya pasrah dan berserah diri kepada Sang Pencipta. Ares menghampiri Argan yang masih saja terpaku karena melihat sosok asli iblis itu.
"Bangun nak!" Argan menatap ayahnya.
"Ayah liat itu?" tanya Argan. Ares menggeleng.
"Hanya kamu, bunda dan dedek yang bisa lihat!" Argan tertegun.
"Apa yang harus aku lakukan yah?"
"Tusuk jantungnya dan hancurkan dia, ayah akan melawan makhluk lainnya!"
"Jangan lupa berdoa dan memohon pertolongan Sang Maha Kuasa!" Argan mengangguk.
Ares ikut bergabung dengan kedua pria bertopeng itu untuk melawan para makhluk pengikut Lakhuds. Sedangkan Argan berhadapan dengan raja Iblis itu, Argan sempat ragu dan gentar. Tapi dia berusaha yakin bahwa pertolongan Allah akan datang.
Argan memusatkan pikiran dan hatinya agar fokus, dia terus merapalkan dzikir. Tangannya sudah bersiap dengan belatinya untuk menusuk jantung iblis itu.
Inas terus berdoa semoga putranya bisa menghancurkan iblis itu.
"Kamu pasti bisa nak! bunda percaya sama kamu sayang!" ucap Inas. Argan merasa bisa mendengar ucapan Inas saat dia memusatkan pikirannya. Argan tersenyum.
Lakhuds terus menyerang Argan dengan kekuatannya tapi tidak bisa mengenai Argan, kekuatannya selalu meledak setiap akan mengenai Argan. Membuat iblis itu murka dan berteriak kencang karena marah.
Sesekali suara guntur yang di keluarkan cambuk Ares terdengar. Membuat Inas dan yang lainnya harus menutup telinga. Mereka tak berhenti berdoa dan berdizikir.
Argan sudah siap untuk bertempur dengan iblis itu dan iblis itu pun mulai mengerahkan kekuatannya dan menyerang Argan, tapi Argan dapat menghindarinya. Argan merasa tubuhnya sangat ringan sehingga dia bisa berlari dengan sangat kencang.
Argan terus bisa menghindar dari serangan Lakhuds dan benar-benar membuat Lakhuds murka. Saat Lakhuds sedang fokus mengerahkan kekuatannya, Argan tak buang waktu dia segera berlari dan menusuk paha Lakhuds dengan belatinya, membuat Lakhuds berteriak kesakitan dan kekuatannya meleset dan hampir mengenai Inas dan yang lainnya untung Ares segera menghalangi kekuatan itu yang akan mengenai keluarganya, tapi justru kekuatan itu mengenai dirinya hingga membuat dia jatuh tersungkur dan mengeluarkan darah yang begitu banyak dari mulutnya.
"Ayaaahh.." teriak Inas.
"Kak Ares!"
"Om!"
Semuanya kaget melihat Ares tergeletak dengan bersimbah darah. Argan pun menjadi tidak fokus mendengar teriakan Inas dan yang lainnya. Sehingga dia terkena serangan Lakhuds dan membuatnya terpental hingga menabrak pohon.
"Argan!" teriak Marvel dia langsung menghampiri Argan, dia juga mengeluarkan darah dari mulutnya. Marvel membantu Argan bangkit, dia jadi tidak fokus karena melihat keadaan ayahnya yang sedang sekarat.
"Kamu pasti bisa, kamu jagoan ayah, hancurkan iblis itu!" ucap Ares dalam hati. Tapi Argan mampu mendengarkan suara hati ayahnya. Dia ingin sekali menolong ayahnya tapi iblis itu ingin menyerang keluarganya lagi.
Argan segera menghampiri iblis itu, meski dadanya terasa sakit, kali ini kedua pria bertopeng membantu Argan melawan iblis itu.
"Kalian semua menjauh dari kami!" ucap salah satu pria bertopeng.
Sandi dan Marvel membantu memindahkan Ares yang sudah sangat lemah, Inas terus menangis melihat keadaan suaminya, begitu juga Penty dan Shina, Fahri hanya menatap lirih sahabatnya itu.
Setelah mereka sudah menjauh, ketiga pria itu berhadapan dengan Lakhuds. Serangan demi serangan mulai mereka lancarkan namun tak ada yang berhasil mengenai Lakhuds, pertarungan menjadi semakin sengit Argan dan yang lainnya terus kalah hingga mereka terus tersungkur.
"Ha ha ha ha kalian tidak akan bisa mengalahkanku!" ucap iblis itu sombong.
Ketiga pria itu duduk bersila dan melantunkan dzikir dan doa. Salah satu pria bertopeng itu mengeluarkan kekuatannya dan tepat mengenai Lakhuds, sehingga tubuh Lakhuds terikat dengan rantai.
"Cepat lari dan tusukan belatinya!" seru pria bertopeng itu. Argan mengangguk dan mengerti, secepat mungkin Argan berlari lalu dia melompat sehingga tangannya searah dengan jantung iblis.
"Allahu Akbar!!" teriak Argan.
Bless..
__ADS_1
Argan berhasil menusuk jantung iblis itu dengan belatinya. Seketika iblis itu meraung dan menjerit kesakitan, dia mengeluarkan seluruh kekuatannya dari tubuhnya hingga Argan terpental, tapi pria bertopeng itu segera menangkap tubuh Argan, hingga Argan tidak menabrak pohon.
Kekuatan Lakhuds menghancurkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, maka dari itu tadi pria bertopeng menyuruh Inas dan yang lainnya menjauh dan pria bertopeng yang satunya memberikan perisai pada mereka agar tidak terkena kekuatan yang akan keluar dari tubuh Lakhuds.
Argan tersenyum perlahan tubuh Lakhuds berubah jadi abu dan mulai beterbangan, di mulai dari kepalanya perlahan menuju leher, dada, perut, paha hingga ujung kaki. Tubuhnya hancur menjadi abu.
Argan terkulai lemas, dia tersenyum melihat iblis itu telah musnah.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah!" perlahan hutan menjadi terang, bukan karena sudah siang melainkan hutan itu terbakar karena terkena imbas kekuatan Lakhuds.
Semua orang segera pergi dari tempat itu, sebelum mereka pun ikut terbakar. Dengan kekuatan pria bertopeng itu, mereka bisa melesat cepat meninggalkan hutan itu.
Hingga mereka sampai di tepi sungai, tepat mereka sampai disungai terdengar suara ledakan yang sangat hebat, membuat mereka harus merunduk.
Semuanya bernafas lega, akhirnya iblis itu benar-benar hancur dan berharap dia tidak akan muncul lagi. Itulah harapan mereka, namun iblis itu tidak akan pernah mati karena memang itulah takdirnya dia akan hidup sampai hari kiamat tiba, dia tetap akan menyesatkan manusia dan membuat manusia menjauh dari Tuhannya sebagaimana tugasnya.
Mungkin hanya kekuatannya yang mati, namun dia akan terlahir kembali sebagai iblis baru, entahlah itu adalah rahasia Tuhan.
Sekarang semuanya fokus pada Ares yang sedang terluka karena terkena serangan Lakhuds.
"Ayah!" Argan menghampiri ayahnya. Ares tersenyum dan mengusap pipi Argan.
"A..ayah ba..ngga pada..mu nak!" ucap Ares yang nafasnya sudah tersendat-sendat.
"Ayah harus kuat!" ucap Argan sambil memeluk ayahnya. Inas dan yang lainnya menangis melihat kondisi Ares yang melemah.
"Bu..bun..da!" panggil Ares lalu Argan melepaskan pelukannya. Inas langsung memeluk suaminya.
"Ayah harus kuat, demi bunda demi anak-anak kita sayang!" ucap Inas. Ares menggeleng.
"Ja..ga.. an..ak ki..ta!" ucap Ares dengan nada terbata-bata.
"Enggak!! ayah gak boleh ngomong kaya gitu, kita akan menjaga anak-anak kita bersama!" isak Inas.
Inka yang tadi pingsan terbangun, dan langsung histeris saat melihat kondisi ayahnya, penty segera memeluk Inka.
"Ak..ku men..cinta..i..mu!!" ucap Ares.
"Aku juga mencintaimu, aku mohon jangan tinggalkan aku!"
"Ayah!!" Inka tak kuasa melihat ayahnya yang sedang sekarat dia langsung berhambur ke pelukan Ares begitu juga Argan, akhirnya mereka memeluk Ares.
"A..yah.. men..cinta..i ka..lian!" ucap Ares lalu dia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ayaaahhh..!"
"Ayah jangan tinggalin aku!" isak Inka.
"Ayah!!" Argan menatap wajah ayahnya lalu mencium kening Ares.
"Aku juga sangat mencintai ayah! terima kasih sudah menjadi ayah yang hebat buatku! beristirahatlah dengan tenang pahlawanku!" ucap Argan.
"Kenapa kamu tega, kamu udah janji bakal selalu ada di sampingku!" ucap Inas.
Semuanya menangis dan tak rela harus kehilangan Ares. Shina menangis dalam pelukan papanya, Penty menangis dalam pelukan Sandi. Marvel menangis tak bersuara, dia sangat bahagia ketika Ares memperlakukan dia seperti anaknya sendiri. Dia benar-benar tak rela kehilangan Ares yang sudah seperti ayahnya sendiri.
"Beristirahatlah dengan tenang ayah!" gumam Marvel.
"Pergilah kalian ke arah matahari terbenam!" ucap Salah satu pria bertopeng, semua orang menoleh ke arah dia.
"Dan ikhlaskan kepergiannya, ini sudah menjadi takdirnya, doa kan dia agar dia bisa mendapatkan tempat yang indah di sisi sang Pencipta!" Semua masih terdiam dan menatap Ares.
"Cepat pergilah! biarkan dia di sini, aku yang akan mengurusnya!"
Semua orang merasa ragu, tak lama datang Nur Jagad menghampiri mereka.
"Pergilah dan ikhlaskan dia, dia sudah menyelesaikan tugasnya, doakan dia selalu!" ucap Nur Jagad.
"Kakek!" lirih Inas dan Argan.
Nur Jagad tersenyum dan mengangguk. Akhirnya mereka menurut dan pergi ke arah matahari terbenam.
Sebelum pergi Argan dan yang lainnya memeluk Ares. Lalu mereka pun pergi, namun mereka seperti tak rela meninggalkan Ares, namun saat mereka menengok ke belakang, sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
Ares pun tidak ada, membuat mereka bingung. Lalu mereka melanjutkan perjalanan tak lama mereka sampai di padang rumput yang sangat luas.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....