Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Malam Mengerikan Argan dan Shina


__ADS_3

Ares dan Inas sedang memikirkan cara, bagaimana menghadapi perkara nanti malam agar bisa mencegah Argan untuk meminum darah.


"Gimana? Ayah ada ide?" Ares menggeleng dia juga bingung harus bagaimana. Inas menghela nafas dia pun tak punya ide untuk rencana nanti malam.


Sedangkan Argan dan Penty mereka sedang bersiap untuk pulang, Argan sengaja membawa motor biar sekalian bisa berangkat dan pulang bareng Penty.


"Gan!"


"Iya!" sahut Argan yang akan memakai helmnya.


"Kita jadi kan ketemu papa?" Argan terdiam dia lupa, kalau hari ini dia akan mengantar Penty menjenguk Sakti.


"Jadi dong peniti, kan aku udah janji!" Penty tersenyum senang, Argan hampir aja lupa kalo Penty tidak mengingatkan. Mereka pun menaiki motor dan melaju menuju rutan.


Shina memandang lirih kepergian Argan dan Penty. Marvel menepuk bahu Shina.


"Sabar! kalo emang jodoh gak bakal kemana!" ucap Marvel menenangkan.


"Kayaknya Argan suka sama Penty!"


"Tapi belum tentu jodoh kan?" tanya Marvel.


"Udah ayo pulang!" ajak Marvel.


"Elo mau nganter gue?"


"Hm." Shina pun naik ke motor Marvel dan mereka pun pulang.


Argan dan Shina sampai di rutan dimana Sakti di tahan. Setelah memenuhi prosedur untuk menjenguk tahanan.


Argan dan Penty bisa bertemu Sakti. "Papa!" Penty langsung memeluk Sakti saat polisi membawa Sakti.


"Hay sayang gimana kabar kamu?"


"Aku baik pah, aku kangen sama papa!" Ucap Penty terisak sambil memeluk papanya, sakti mengelus kepala Penty. Setelah puas berpelukan Penty pun duduk di samping Argan dan duduk menghadap Sakti.


"Pah!" sapa Argan sambil menyalami Sakti.


"Gimana kabar kamu gan?"


"Aku baik pah!"


"Inas?" Argan menatap Sakti bingung kenapa dia menanyakan bundanya.


"Maksudnya, gimana kabar Inas?"


"Baik pah, ayah juga baik!" jawab Argan. Sakti tersenyum getir mendengar Argan menyebut ayahnya padahal dia tidak menanyakannya.


"Om Sandi mana?"


"Om di rumah nenek, dia sendirian!"


"Lalu kamu tinggal sama siapa sayang?"


"Sama ayah Ares dan bunda Inas!" Sakti terdiam.


"Kenapa gak tinggal sama om?" Lalu Penty menceritakan kondisi omnya yang sedang menghadapi masalah hukum.


"Ya ampun Sandi!" Sakti mengurut pelipisnya yang terasa pusing mendengar kasus adiknya.


"Makanya om Sandi menitipkan aku di rumah ayah Ares!" ucap Penty.


"Tapi papa tenang aja ayah Ares bantuin om Sandi, biar bebas dari tuduhan!"


"Padahal saya sering mengganggu keluarga kamu res, tapi kamu masih mau merawat anak saya dan membantu adik saya!" batinnya.

__ADS_1


"Papa!"


"Iya sayang!"


"Kapan papa keluar? aku kangen sama papa!" Penty terisak lagi dia sangat merindukan papanya. Argan menggenggam tangan Penty yang ada di bawah meja, untuk memberinya kekuatan agar bersabar.


"Sabar ya sayang! papa janji kalo papa bebas papa akan jemput kamu!"


"Sekarang kamu jangan nangis ya, papa gak mau lihat kamu menangis!" Penty mengangguk lalu menyeka air matanya.


Setelah itu waktu menjenguk Sakti habis. Penty memeluk Sakti sebelum pulang.


"Baik-baik ya sayang, jangan nyusahin ayah sama bunda!" Penty mengangguk.


"Iya pah! aku sayang sama papa, papa cepat kembali!"


"Papa juga sayang sama kamu nak, maafin papa ya, kamu jaga diri baik-baik ya!" Sakti mengecup pucuk kepala Penty.


"Titip Penty ya gan!" Argan mengangguk.


"Iya pah!" lalu Argan menyalami Sakti.


Mereka berdua pun kembali pulang. Di motor Penty memeluk erat Argan sambil menyenderkan kepalanya di punggung Argan.


Argan tersenyum senang karena Penty memeluknya erat dengan kemauannya sendiri bukan karena di jahilin.


Mereka pun sampai dirumah, Argan langsung ke kamarnya begitu juga Penty untuk berganti pakaian. Setelah selesai mereka ke meja makan karena Inas memanggilnya untuk makan siang.


Di tempat lain Shina pun sedang makan siang sendirian karena papanya tidak pulang untuk makan siang. Shina menghela nafas.


"Aku kangen makan bareng keluarga Argan!"


Setelah selesai makan, Shina bersiap untuk pergi ke rumah Argan karena dia merindukan mereka.


"Mau ke rumah teman bi!"


"Tapi non malam ini-" ucap bibi terpotong karena Shina langsung menepuk jidat karena dia melupakan malam ini, padahal niatnya dia akan menginap di rumah Argan.


Shina pun mengurungkan niatnya. Dia kembali ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke kamar.


"Sampe kapan? Aku capek, aku pengen hidup normal!" lirihnya sambil menatap langit-langit rumahnya.


"Mama! kenapa aku gak ikut mama aja! aku gak mau merasakan sakit itu lagi!" isaknya.


Dia menangis sampai dia kelelahan dan tertidur.


...***...


Di tempat lain seorang pria tampan sedang menikmati wine sambil sesekali dia memainkan gelas yang dia pegang.


"Sepertinya bakal ada perang lagi!" gumamnya sambil menatap gelas berisi wine yang dia pegang lalu dia menggenggam gelas itu hingga pecah.


"Baiklah kapanpun saya siap!" ucapnya tersenyum smirk.


...***...


Malam itu Ares, Inas dan Argan sedang berada di kamar Argan.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Inas cemas.


"Bunda tenang ya, jangan khawatir aku pasti baik-baik aja!" Argan berusaha menenangkan Inas yang terlihat cemas.


"Bunda khawatir sayang!" ucap Inas sambil mengelus kepala Argan. Lalu Argan merebahkan kepalanya di bahu Inas. Sebenarnya dia takut, karena dia belum pernah mencoba untuk tidak meminum darah saat merasa terbakar, apa mungkin dia akan mati jika tidak meminumnya, itulah pikirnya.


Inas mengelus kepala Argan, dia tau putranya sedang takut meski Argan mengatakan baik-baik saja.

__ADS_1


Ares pun bingung harus bagaimana? dia gak mau bakal ada korban lagi. Dia tidak menyangka korban-korban yang sering di temukan meninggal setiap jumat itu adalah ulah anaknya.


Meski dia tau itu bukan Argan yang melakukan tapi darah iblis yang ada di dalam diri Argan yang mengendalikannya.


"Kurung aja aku yah bun, biar aku gak bisa keluar untuk mencari darah!" ucap Argan lalu dia bangkit dari senderan Inas.


Inas merasa teriris mendengar kata kurungan, seolah Argan adalah penjahat meski memang selama ini Argan membunuh orang, tapi dia tau itu bukanlah kehendak Argan. Rasanya sangat sakit saat menyebut Argan pembunuh.


Inas tak bisa menahan air matanya. Argan menunduk sedih dia sudah terlalu banyak membuat bundanya menangis.


"Bunda jangan nangis, aku pasti baik-baik aja!" ucap Argan tersenyum sambil menyeka air mata Inas, namun matanya berkaca-kaca menahan air mata yang akan tumpah.


"Maafin bunda sayang!" isak Inas sambil mengelus kedua pipi Argan.


"Ini bukan salah bunda!" Inas mengecup kening Argan.


Malam semakin larut, Ares memutuskan mengurung Argan di kamarnya sambil mengikat Argan agar dia tidak bisa keluar atau melukai dirinya.


Inas hanya bisa menangis melihat kondisi anaknya yang mengenaskan.


Ares dan Inas menunggu di luar, Inas tak pernah lepas dari pelukan Ares dan juga tidak berhenti menangis.


Rintihan kesakitan mulai terdengar di kamar Argan. Pekikkan haus dan panas terdengar dari mulut Argan.


Malam ini Argan merasakan panas terbakar lagi di seluruh tubuhnya, bahkan lebih panas dari pada sebelumnya, tenggorokannya lebih panas dan kering dan juga perih dari sebelumnya, membuat dia semakin tersiksa.


Teriakan mulai terdengar dari kamar Argan. Inas hanya bisa menangis mendengar teriakan Argan yang merasakan kepanasan. Dan Ares pun ikut menangis mendengar teriakan Argan.


Ares memeluk erat istrinya, untung saja sebelumnya Penty dan Inka sudah mereka titipkan di rumah tetangga yang agak jauh dari rumah Inas, kebetulan dia adalah teman Inas selama di bandung.


Malam semakin dini, rintihan Argan masih terdengar.


Di tempat lain seorang gadis sedang merasakan sakit yang sama, rasa terbakar dan juga rasa di sayat di seluruh tubuhnya. Dia sedang merintih kesakitan, seperti Argan dia juga sering merasakan Sakit setiap malam jumat kliwon, kaki dan tangannya terikat agar dia tidak bisa lepas dan melukai dirinya.


Sudah sering dia ingin melukai dirinya karena tidak sanggup merasakan sakit yang dia derita. Shina gadis malang yang tidak tau apa penyebabnya dia merasakan sakit yang sangat hebat itu, bahkan bukan hanya sakit tapi panas terbakar diseluruh tubuhnya.


Malam Ini dia tidak berteriak dia hanya merintih merasakan sakit dan panas, hanya air mata yang mengalir deras berharap bisa meredam sedikit rasa sakit dan panas itu, meski semua itu sia-sia, tak membuatnya merasa lebih baik.


...***...


Fajar menyingsing sebentar lagi waktu subuh akan tiba malam mengerikan Argan dan Shina akan segera berakhir.


Shina sudah pingsan terkulai lemah tak berdaya, Rizal segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapat perawatan untuk Shina agar dia kembali pulih dan mendapatkan tenaga.


Biasanya dia akan merawat Shina di rumah, tapi terkadang peralatan dan obat medis nya kurang, jadi dia harus membawa Shina ke rumah sakit.


Di rumah Argan pun sama, Argan tidak sadarkan diri karena harus menahan rasa panas terbakar. Wajahnya terlihat pucat pasi seperti mayat, bahkan seperti tidak ada darah yang mengalir di tubuhnya.


Ares dan Inas benar-benar terpukul melihat kondisi anaknya. Inas hampir saja pingsan melihat kondisi anaknya.


"Bunda istirahat dulu ya!" ucap Ares saat melihat Inas sempoyongan seperti akan pingsan.


"Anak kita yah!" Inas tak berhenti menangis dari semalam.


"Kita bawa Argan ke rumah sakit ya!" Inas mengangguk.


Ares menggendong Argan untuk di bawa ke mobil, badannya sangat dingin, dia benar-benar seperti mayat, tapi jantungnya masih berdetak terlihat dari dadanya masih naik turun, itu berarti Argan belum meninggal.


Ares segera membawa Argan ke rumah sakit bersama Inas.


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2