
"Berhenti!!"
Sandi berdecak kesal dia sengaja masuk mengendap-endap bukan berarti dia tak bisa berkelahi. Dia hanya tidak mau Shina kenapa-napa.
Tapi ternyata dia terpaksa harus berkelahi. Sandi menengok para penjaga itu sudah mengepungnya. Shina bersembunyi di belakang Sandi sambil menggenggam tangan Sandi.
"Aku takut om!" lirih Shina.
"Kamu jangan takut ya!"
Tak buang waktu Sandi langsung melawan mereka sendirian, untung saja bela diri nya lumayan, dulu dia pernah mengikuti sekolah silat saat SMA dan sekarang bermanfaat untuk menyelamatkan seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Meski Sandi sempat kalah dia kembali melawan mereka, dia gak boleh nyerah dia harus bisa membawa Shina pergi dari sini.
Setelah bisa mengalahkan penjaga yang ada di dalam Sandi segera menarik Shina dan membawanya berlari. Di luar penjaga lain menghadangnya, Sandi menyuruh Shina untuk menjauh dia melawan penjahat itu, kali ini Sandi hampir kalah karena tangannya terkena pisau yang mereka bawa.
Tapi Sandi segera mengambil kayu yang ada di dekatnya dan segera menyerang mereka dengan membabi buta. Setelah mereka tersungkur Sandi langsung membawa Shina berlari.
Mereka berlari masuk hutan tapi sepertinya para penjahat itu mengejar mereka. Sandi menggenggam erat tangan Shina agar tidak terlepas dan terus membawanya berlari.
Sandi lupa kemana jalan yang menuju dia menaruh motornya. Akhirnya dia berlari tak tentu arah sepertinya dia lari semakin memasuki hutan.
"Om aku capek!" ucap Shina terengah-engah. Sandi berhenti lalu dia berjongkok.
"Naik ke punggung saya!" Shina kaget melihat Sandi mau menggendongnya.
"Tapi om!"
"Ayo cepat naik, keburu mereka datang!" Shina pun menurut dia naik kepunggung Sandi.
Sandi menggendong Shina dan terus berjalan dia tak sanggup untuk berlari lagi dengan menggendong Shina. Apa lagi tangannya terus mengeluarkan darah.
"Om aku turun aja, om pasti capek! penjahatnya juga sudah tidak ngejar!" ucap Shina yang tidak tega melihat Sandi kelelahan.
Sandi pun menurut karena dia juga sangat lelah, dia menurunkan Shina. Lalu mereka beristirahat sebentar untuk menghilangkan lelah.
"Tangan om berdarah!" Shina menyobek bajunya dan membalut luka Sandi dengan sobekan bajunya.
"Makasih!" ucap Sandi sambil menatap Shina.
"Gak om, harusnya aku yang terima kasih karena om sudah menolong aku!" balas Shina. Sandi tersenyum.
Tak lama terdengar suara para penjahat itu, Sandi dan Shina bersembunyi di balik semak, untung saja ini malam, mereka akan sulit untuk menemukan Sandi dan Shina.
"Om aku-" Sandi langsung menaruh jari telunjuknya di bibir Shina.
Para penjahat itu terlihat sangat kesal karena tidak menemukan sanderanya.
Mereka bergegas pergi dan mencari ke tempat lain. Sandi dan Shina bernafas lega, karena dengan keadaan sekarang, Sandi tak mungkin melawan mereka.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa? apa ada yang terluka?" tanya Sandi khawatir. Shina menggeleng lalu dia menangis dan memeluk Sandi.
"Aku takut banget om, mereka bilang mereka mau membunuhku, aku gak tau apa salahku!" isaknya. Sandi mengelus kepala Shina.
Dia geram mendengar mereka mau membunuh Shina.
"Ya sudah sekarang kita lebih baik pergi, sebelum mereka kembali kesini!" Shina mengangguk.
Mereka pun meninggalkan tempat itu, malam semakin larut, malam pun semakin dingin. Shina kedinginan karena dia hanya memakai baju lengan pendek. Sandi langsung membuka kemejanya.
"Om mau apa?" tanya Shina. Sandi tak menghiraukannya, dia membuka kemejanya dan memakaikannya pada Shina.
"Biar gak terlalu dingin!" ucap Sandi.
"Makasih om!" ucap Shina menunduk dia tidak menyangka akan dapat perlakuan seperti itu dari Sandi.
Mereka kembali berjalan, tak lama mereka menemukan gua. Mereka pun terpaksa masuk ke gua sambil menunggu pagi, di sana pun lebih aman untuk bersembunyi.
"Kita istirahat dulu di sini ya!" Shina mengangguk meski dia agak takut dengan keadaan gua yang gelap itu.
Sandi mengumpulkan ranting untuk membuat api unggun agar mereka tidak kedinginan dan agar ada pencahayaan. Setelah cukup mengumpulkan ranting. Sandi menggosok-gosokkan batu agar bisa mengeluarkan api.
Itu bukan hal yang sulit buat Sandi karena dia sering melakukannya saat pramuka dulu. Setelah api menyala dan memberi kehangatan Sandi menyuruh Shina istirahat.
"Tidurlah biar saya yang menjaga kamu!" Shina menatap Sandi begitu juga Sandi. Shina merasakan perasaan aneh, jantungnya berdegup kencang saat menatap Sandi.
Sandi menepuk bahunya agar Shina tidur di bahunya. Shina terdiam dia malu jika harus tidur di bahu sandi.
Shina pun terlelap karena dia sangat kelelahan. Sandi menatap gadis yang sedang bersender dibahunya dia mengelus pipi Shina. Membuat Shina menggeliat, Sandi tersenyum melihat wajah tenang Shina yang sedang terlelap.
"Apa aku salah jika aku mencintaimu?" ucapnya. Entahlah dia tidak berani mengatakannya langsung pada Shina. Dia hanya bisa memendam dan menatap gadisnya itu.
Dia sadar usia mereka terpaut jauh, gadis itu masih terlalu muda untuknya. Tapi dia tak bisa membohongi perasaannya jika dia mencintai gadis cantik yang sedang ada di sampingnya ini.
Tiba-tiba Shina memeluk Sandi, membuat Sandi terkesiap dia menatap kembali gadis itu dan masih terlelap.
"Sepertinya kamu kedinginan!" Sandi pun menyenderkan punggungnya di dinding gua lalu dia menaruh kepala Shina di dadanya dan dia memeluk Shina agar dia tidak kedinginan.
Sandi tidak tau bahwa Shina pura-pura tidur, dia terbangun saat Sandi menggerakkan tubuhnya dan mengelus pipinya, Shina mendengar apa yang di katakan Sandi. Sepertinya dia pun menyukai Sandi dan dia sengaja memeluk Sandi. Dia tersenyum saat Sandi meletakkan kepalanya di dada Sandi.
"Apa aku juga mencintainya? kenapa aku sangat bahagia saat dia mengatakannya!" gumamnya dalam hati. Lalu dia memeluk erat Sandi dia merasa sangat nyaman berada dalam dekapan pria itu.
...***...
Pagi menyapa mentari sudah menampakkan sinarnya, dua insan yang habis melewati malam panjang itu masih terlelap. Shina masih dalam pelukan Sandi kepalanya masih bersender di dada Sandi.
Sandi terbangun saat cahaya matahari mengenai wajahnya dia mengerjapkan matanya, lalu dia membuka mata dan melihat gadis pujaannya sedang terlelap dalam dekapannya. Dia tersenyum menatap gadis itu dia merapihkan rambut yang berantakan mengenai wajahnya.
Shina melenguh dia menggeliat di atas tubuh Sandi, dia belum sadar masih ada di atas tubuh Sandi. Dia kembali tertidur dia begitu nyaman tidur di dalam pelukan Sandi.
__ADS_1
Sandi tersenyum melihat tingkah lucu gadis itu, baginya dia sangat menggemaskan.
Sudah beberapa saat Shina masih tertidur, Sandi terus menatap wajah cantik gadis pujaannya. Sandi mengusap wajah Shina mengelus pipinya, matanya yang sedang terpejam dan itu membuat Shina terbangun.
"Jangan ganggu aku, aku masih ngantuk! ini kan hari minggu aku gak sekolah pah!" ucapnya seprtinya dia belum sadar.
Sandi terkekeh mendengar ucapan gadisnya itu. Shina terbangun lalu dia bangkit, dia menggeliat lalu menguap dan dia mengucek matanya dia masih belum sadar, di mana dia sedang berada sekarang.
Sandi terus menatap tingkah gadis itu sambil tersenyum. Lalu Shina tersadar dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Lalu dia menatap Sandi yang ada di hadapannya. Dia menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Sungguh dia sangat malu pasti Sandi melihat tingkah lakunya saat bangun tidur.
Sandi tersenyum lalu mendekati Shina, Shina kaget dan hampir terjengkang ke belakang, namun Sandi segera menangkapnya. Tatapan mereka bertemu, jantung mereka berdegup kencang tak berirama.
Sandi menarik tubuh Shina hingga wajah mereka sangat dekat. Sandi menatap wajah cantik Shina, lalu dia menyelipkan rambut ke belakang telinga Shina.
Cup..
Sandi mencium pipi Shina, Shina terbelalak kaget dan jantungnya berdebar kencang. Shina menatap Sandi tak percaya, namun hatinya merasa berbunga-bunga. Sampai akhirnya terdengar suara desisan ular dan menyadarkan mereka berdua.
Mereka langsung menjauhkan diri dan mereka jadi salah tingkah dan kikuk.
"Maaf saya gak sengaja!" ucap Sandi dia merutuki kebodohannya karena tidak bisa menahan diri. Shina mengalihkan pandangannya karena dia sangat malu. Lalu suara desis ular itu semakin mendekat, Shina langsung mendekap tubuh Sandi karena takut.
Ular itu melata ke arah mereka, Sandi segera mengusir ular itu. Hingga ular itu pun pergi.
"Sebaiknya kita cepat pergi, takut masih ada ular lagi!" Shina mengangguk.
Mereka pun keluar dari gua itu, Sandi menggenggam erat tangan Shina, membuat Shina tersenyum senang, sepertinya dia memang menyukai pria itu.
Mereka berjalan menelusuri hutan dan mencari jalan keluar. Mereka berjalan sudah cukup jauh dari gua.
"Kamu capek? kita istirahat dulu ya?" Shina mengangguk mereka pun duduk di akar pohon yang menyembul keluar. Tiba-tiba terdengar suara. Sandi menoleh ke arah Shina dia tau gadisnya itu sedang kelaparan. Shina memegang perutnya karena merasa lapar.
Sandi tersenyum dia beranjak dan mengulurkan tangannya. Shina menoleh.
"Kita cari makan! sambil cari jalan keluar!" Shina mengangguk dan tersenyum.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, lalu mereka menemukan pohon jambu. Sandi berhenti dan memetik beberapa buah jambu untuk mereka santap.
"Kita duduk dulu! kita makan dulu!" Shina mengangguk lagi, dia masih malu untuk berbicara.
Setelah menyelesaikan makan jambu, mereka melanjutkan kembali perjalanannya. Tak lama mereka pun menemukan jalan besar yang semalam Sandi lewati.
Sandi mencari keberadaan motornya, semoga tidak ada yang mengambilnya. Dia terus menggenggam tangan Shina. Dia merasa gadis itu pun mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.
Sandi ingin menelpon Ares tapi ponselnya tidak ada, sepertinya jatuh saat dia berkelahi semalam.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....