Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Sandi dan Shina 5


__ADS_3

Argan masih tak sadarkan diri, Inas terus menemani anaknya sambil terus mengelus kepala Argan. Air matanya tak berhenti menetes.


Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita seperti itu. Inas tidak sanggup melihat penderitaan anaknya. Terkadang dia membenci dirinya sendiri atas apa yang terjadi dengan anaknya. Tapi semua ini sudah takdir mau tidak mau dia harus menjalaninya.


"Maafin bunda sayang, karena kesalahan bunda kamu jadi seperti ini!" isaknya sambil terus mengelus kepala Argan.


Ares yang melihat istrinya tak beranjak dari sisi Argan sangat sedih. Dia pun tak sanggup melihat penderitaan anaknya.


"Sayang!" Inas menoleh.


"Ayah!" lirih Inas.


Ares menghapus air mata istrinya, dia tidak tega melihat kesedihan istrinya yang terus menerus. Ares memeluk Inas.


"Kita pasti bisa melewati ini dan yakinlah kita bisa menyelamatkan anak kita!"


Tangis Inas pecah. Di saat mereka sudah menemukan obat penawar untuk Argan. Mereka justru kehilangannya.


"Kita harus cari Shina yah, kita butuh Shina bawa Shina untuk Argan yah! cuma dia yang bisa menolong anak kita!" isak Inas dalam pelukan suaminya. Ares mengelus kepala Inas.


"Iya sayang ayah janji, bakal bawa Shina untuk anak kita!" Inas memeluk erat tubuh suaminya.


Di luar kamar Argan, Penty mendengarkan percakapan Ares dan Inas.


"Ada apa dengan Argan? kenapa cuma Shina yang bisa menolongnya? ada apa sebenarnya ini? Apa Argan dan Shina akan di jodohkan?" banyak pertanyaan dalam hati Penty.


Meski selama ini dia berusaha melupakan perasaannya pada Argan. Tetap saja itu tidak mudah, dia masih menyimpan perasaannya pada Argan.


Tapi sekarang dia mendengar sendiri, sepertinya kedua orang tua Argan lebih memilih Shina di banding dirinya. Sungguh hatinya terasa sesak, mendengar semua yang di bicarakan Inas dan Ares. Penty meninggalkan tempat itu dia menghapus air matanya yang mengalir.


"Kamu harus bisa melupakan dia Penty, dia memang bukan untukmu bahkan bunda dan ayah lebih memilih Shina di banding kamu!" Hatinya terus menasehatinya.


Penty keluar dia ingin pulang ke rumah, semenjak Sandi belum pulang dia menginap di rumah Inas. Tapi untuk sekarang dia ingin sendiri, dia ingin merenungi dan menata hatinya.


Fahri sudah bingung harus kemana lagi dia mencari anaknya, polisi pun belum bisa menemukan keberadaan Shina.


"Kamu di mana sayang, cepat pulang nak, papa rindu!" lirih Fahri sambil menatap foto Shina.


...***...


Shina terbangun dan menoleh ke sekeliling.


"Abang!" panggilnya.


Dia mencari-cari Sandi dia takut Sandi akan meninggalkannya. Tapi ternyata pria yang di carinya sedang terlelap di sofa. Shina tersenyum lalu menghampiri Sandi yang sedang terlelap.


"Aku kira abang tinggalin aku!" gumamnya.


Dia berjongkok dan menatap wajah Sandi yang sedang terlelap. Dia tersenyum, terkadang dia tidak mengerti dengan hatinya bagaimana dia bisa mencintai pria dewasa ini.


Tapi dia merasakan kebahagiaan saat bersama Sandi. Shina mengelus kepala Sandi dan mengecup kening Sandi.


"Terima kasih, abang sudah memberiku kebahagiaan!" bisiknya.


Lalu dia mengecup kening Sandi, namun saat Shina melepaskan kecupannya dia kaget ternyata Sandi tidak tertidur.


Sandi terbangun saat Shina memanggilnya, namun dia pura-pura tertidur, dia ingin tau apa yang akan di lakukan gadisnya saat dia tertidur.

__ADS_1


Dia tidak menyangka gadis itu memperlakukannya seperti itu, dia semakin yakin gadis itu benar-benar mencintainya, dia juga bahagia karena dia adalah orang yang memberi gadis itu kebahagiaan.


Sandi beranjak dan duduk di sofa Shina pun berdiri dia sangat malu karena ketahuan mencium pria itu, lalu Sandi menarik Shina hingga jatuh ke sisinya.


"Abang gak tidur?" tanya Shina menunduk karena malu.


"Siapa yang ganggu abang tidur?"


"Maaf!" jawab Shina tak enak karena sudah mengganggu Sandi tidur. Sandi tersenyum.


"Kenapa kamu minta maaf?" Shina masih menunduk dan takut karena sudah mengganggu Sandi tidur.


"Karena udah ganggu abang tidur!" ucapnya pelan dia takut Sandi marah karena sudah mengganggunya. Dia tau Sandi pasti sangat lelah tapi dia malah mengganggu istirahatnya.


"Tatap aku!" ucap Sandi. Shina menatap Sandi lalu Sandi melingkarkan tangannya di pinggang Shina. Shina memegang kedua bahu Sandi. Namun Shina menunduk lagi, dia tidak berani menatap sandi.


"Abang marah?" tanya Shina pelan.


"Siapa yang bilang abang marah?" Shina menatap Sandi.


"Aku takut abang marah karena aku udah ganggu abang tidur!" Sandi tersenyum lalu membelai pipi Shina.


"Abang gak marah sayang, apa benar kamu bahagia sama abang?" Shina mengangguk dan tersenyum.


"Aku bahagia dan ini pertama kalinya aku merasakan sangat bahagia!" ucap Shina sambil menatap mata Sandi.


"Abang juga sangat bahagia bisa memiliki kamu!" Shina tersenyum lalu dia mengelus pipi Sandi.


cup..


Shina mengecup pipi Sandi. "Abang suka itu?"


"Abang tau? Aku dengar Saat Abang bilang cinta sama aku di dalam gua!" ucap Shina sambil tangannya mengusap dada Sandi dan bermain-main di dada Sandi, sekarang dia sudah tidak malu-malu lagi.


"Benarkah?" tanya Sandi tak percaya. Shina mengangguk. Sandi menatap Shina sungguh dia sedang menahan diri untuk bisa menjaga hasratnya agar tak lepas kendali.


"Tidak Sandi kamu harus bisa menahanya!"


Shina ingin mencium Sandi lagi, tapi Sandi menahannya.


"Jangan!" pekik Sandi.


"Kenapa? abang tidak suka?" tanya Shina kecewa.


"Bukan begitu, abang takut tidak bisa menahan diri!"


"Maksud abang?" tanya Shina tak mengerti.


"Abang sangat mencintai kamu, abang gak mau lepas kendali dan menyakiti kamu!"


Shina masih belum paham apa yang di ucapkan Sandi. Sandi melepaskan Shina dari pelukannya dan membuat Shina terkesiap, lalu Sandi berlalu ke kamar mandi.


Sungguh Shina tidak mengerti dan kecewa Sandi menolaknya. Sedangkan Sandi sedang merutuki kebodohannya.


"Sadar Sandi sadar!" ucapnya di depan cermin, lalu dia membasuh mukanya dan berusaha mendinginkan pikirannya.


Sungguh sikap Shina membuatnya tergoda, kalo saja dia tidak bisa menahan diri lagi. Sudah pasti dia akan lepas kendali dan akan menghancurkan masa depan Shina, apa lagi mereka sedang berada di tempat yang tepat.

__ADS_1


Sandi keluar dari kamar mandi setelah pikirannya dingin.


Shina sedang duduk di sofa sambil menunduk. Meski Sandi bukan cinta pertamanya, tapi Sandi adalah laki-laki pertama yang menjadi kekasihnya, dia merasa hidupnya berwarna saat memiliki kekasih dan dia sangat bahagia memiliki Sandi.


Sandi menghampiri Shina dan duduk di samping Shina. Shina masih menunduk, dia takut kalo Sandi tidak benar-benar mencintainya.


Sandi mengalihkan pandangan Shina ke arahnya. Lalu dia menangkup pipi Shina.


"Abang sayang sama kamu, abang sangat mencintai kamu, makanya abang gak mau nyakitin kamu!" Shina memalingkan wajahnya sungguh dia masih belum paham apa yang di maksud Sandi.


Sandi mengalihkan pandangan Shina lagi, dia tau gadis itu masih belum paham, bahwa sikapnya sudah menggoda dirinya.


"Abang ini sudah dewasa, melihat perlakuan kamu seperti tadi membuat abang tergoda, abang takut abang akan lepas kendali dan malah menghancurkan kehormatan kamu. Karena abang mencintai kamu, abang gak mau melakukan itu, abang ingin menjaga kehormatan kamu! abang gak mau masa depan kamu hancur karena abang!" Ucap Sandi menjelaskan.


Shina menangis sekarang dia paham maksud Sandi, Sandi menolaknya karena pria itu ingin menjaga kesuciannya. Dia terlalu polos sehingga tidak tau sikapnya itu sudah menggoda dan membangunkan hasrat pria dewasa itu. Dia juga belum paham apa yang di lakukannya itu adalah salah.


"Maafin Shina bang! maaf Shina gak bermaksud-"


"Husstt.." Sandi menaruh jari telunjuknya di bibir Shina.


"Ini bukan salah kamu sayang! ini tugas abang untuk menjaga kamu, selama kamu ada di dekat abang!"


"Makasih abang sudah menjaga Shina dan mencintai Shina!"


Sandi tersenyum lalu mengecup kening Shina. Lalu dia memeluk gadis cantik itu.


"Abang sangat mencintai kamu dan abang akan selalu menjaga kamu!" Shina mengeratkan pelukannya.


Dia merasa sangat beruntung memiliki Sandi yang bertanggung jawab dan bisa menjaga kehormatan wanita. Dia semakin mencintai pria itu dan semakin yakin akan melabuhkan hatinya hanya pada pria itu.


...***...


Di tempat lain seorang pria tampan sedang murka.


"Bodoh kenapa tidak langsung membunuhnya?" geramnya.


"Maaf Kak!" jawab seorang pria sambil menunduk, dia sangat ketakutan melihat kakaknya murka seperti itu.


Pria tampan itu menendang dada pria itu hingga terpental dan menabrak dinding hingga memuntahkan darah.


"Kau tidak berguna! habisi dia!" pekik pria tampan itu kesal.


"Saya mohon ampuni saya kak, saya berjanji akan melakukan apa pun, saya mohohn kak beri saya kesempatan!" ucap pria itu memohon sambil bersujud pada pria tampan itu.


"Enyahlah! saya tidak butuh manusia tak berguna seperti mu!"


"Saya mohon kak!"


"Bawa dia!" Lalu beberapa orang menyeret pria itu keluar.


"Kakak beri saya kesempatan!" teriak pria itu.


Tapi pria tampan itu tak peduli, dia benar-benar kesal dan marah.


"Saya harus segera melenyapkan gadis itu! dan saya harus segera menyantap jantung iblis kecil itu!" ucapnya dengan pandangan penuh amarah.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2