
*Shina POV
Aku merebahkan tubuhku dikasur, tubuhku terasa penat karena pelajaran hari ini sangat menguras otakku. Aku rindu sahabat-sahabatku di Jogja, apa kabar mereka? kenapa papa harus pindah kesini, padahal aku gak mau ninggalin sahabatku disana.
Kenapa tiba-tiba aku mengingat cowok itu, kenapa aku merasa ada sesuatu padanya. Tubuhku bereaksi aneh, entah kenapa aku merasa nyaman dengannya meski hanya menatapnya. Tapi kenapa dengan dia? kenapa dia seperti jijik padaku, apa aku menjijikan? Dasar cowok aneh.
Entah kenapa aku merasa sebal dengannya, dia sudah membuatku malu, didepan orang banyak. Kenapa dia harus mendorongku, kalo gak suka kenapa gak bicara baik-baik. Dasar nyebelin.
Aku menghela nafas, ketika aku mengingat kemalangan hidupku, aku merasa manusia yang sangat tak berguna, kalo bukan demi papa aku ingin sekali menyusul mama.
Ya Tuhan sampai kapan aku hidup seperti ini, aku ingin hidup normal seperti manusia lainnya, kenapa harus aku yang mengalami ini. Ini sangat menyakitkan aku tidak ingin merasakannya lagi, apa yang sebenarnya terjadi denganku? Aku sangat lelah.
Salahkah jika aku berharap, kapan aku bisa mendapatkan penawar itu dan siapa yang akan menolongku?
Mah! andai mama ada disini aku tidak akan setakut ini, papa selalu rapuh jika melihatku sedang merasakan rasa sakit itu.
Mah! apa kau baik-baik saja disana, aku rindu aku ingin bertemu, aku ingin memelukmu, ingin rasanya aku menyusulmu. Aku tidak sanggup saat harus merasakan rasa sakit itu, aku gak kuat mah. Aku ingin menyusul mama.
Tak terasa air mataku menetes, aku sangat merindukannya, merindukan kehangatan pelukan mama. Tak terasa aku menangis dan membuat mataku mengantuk. Tak lama aku pun terlelap.
*Shina POV end
Terlihat seorang pria yang sedang menatap putrinya yang sedang berbaring. Dia sangat terluka melihat kemalangan dan penderitaan putrinya.
"Sayang, kenapa harus anak kita, kenapa gak aku saja, yang merasakan sakit itu!" Air matanya menetes kala mengingat setiap penderitaan putrinya. Di mana setiap malam tertentu dia harus merasakan sakit yang teramat sakit. Meski bukan dia yang sakit tapi dia juga merasakan rasa sakit putrinya.
Sudah kemana-mana dia mencari obat dan penawar tapi belum juga dia temukan.
"Ada apa denganmu nak, kenapa harus kamu yang menderita, maafin papa tidak bisa meredam rasa sakitmu kala sakit itu menyerang!"
Lagi-lagi air mata pria itu luluh lantah karena melihat kemalangan putri kecilnya. Dia menjadi rapuh semenjak kehilangan istrinya, dia semakin rapuh melihat penderitaan putrinya.
Dia selalu berharap cepat menemukan obat untuk putrinya. Agar dia sembuh dan bisa bahagia.
...***...
Argan melangkah gontai menuju halte, pikirannya melambung dengan kejadian tadi. Siapa gadis itu? kenapa dia merasakan panas terbakar kala menyentuhnya, dia merasa menyentuh bara api. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya? banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya.
Seperti biasa Argan menunggu angkot di halte, dia menunduk pikirannya menerawang.
"Gan!" panggilan Tamara pun dia hiraukan.
Entah lah dia merasa hidupnya tidak sesederhana yang dia pikirkan. Seperti akan ada suatu kejadian besar yang menimpanya. Bahkan meski dia belum sepenuhnya menyadari kejadian itu, dia sedikit mengingat kala dia menenggak cairan itu terkadang dia juga masih merasakan panas terbakar ditubuhnya, ada apa? kenapa? siapa sebenarnya dirinya itu? banyak pertanyaan yang ingin sekali dia temukan jawabannya.
Haruskah dia menanyakan ini kepada orang tuanya, apakah mereka tau sesuatu. Yah sepertinya dia harus menanyakannya mungkin saja mereka tau sesuatu.
__ADS_1
Hari demi hari dia jalani meski dia masih penasaran dengan jalan hidupnya. Dia belum menemukan jawaban dari rasa penasarannya, kedua orang tuanya tidak mengatakan apa pun.
Tepat hari ini sebulan berlalu dari kejadian itu, kejadian di mana awal mula dia akan menjadi seseorang yang mengerikan. Bahkan jika orang tau dia akan seperti seorang iblis atau monster. Itulah pikirannya, namun dia masih belum sadar sepenuhnya.
Malam itu seperti biasa dia dan keluarga makan malam bersama, bercengkrama, bercanda dan tertawa. Tanpa menyadari akan terjadi sesuatu.
"Bun besok aku ingin dibuatkan bekal!"
"Iya cantik, kakak mau dibikini juga nggak?"
"Iihh emang aku anak SD bun di buatin bekal!" Argan mengerucutkan bibirnya.
"Emangnya cuma anak SD doang yang boleh dibuatin bekal? ayah juga ke kantor dibuatin bekal!"
"Aku kan malu bun ke sekolah bawa bekal!" ucap Argan sebal. Ibu dan adiknya hanya terkekeh melihat ekspresi Argan.
Setelah selesai makan malam dan bercengkrama, Argan dan Inka kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolah.
Sedangkan Inas dan Ares masih duduk diruang tv. Inas menyenderkan kepalanya dibahu Ares.
"Yah!"
"Hm."
"Bunda khawatir apa?" tanya Ares sambil mengelus pipi istrinya.
"Bunda pikir kejadian bulan kemarin itu, adalah pertanda!"
Ares langsung berdiri dan mengajak istrinya ke kamar, sepertinya istrinya akan mengatakan sesuatu yang penting. Mereka duduk bersama di kasur dengan tubuh yang mereka senderkan dikepala ranjang.
"Maksud bunda?" Inas nampak terdiam, dia seperti ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Sebelum kejadian itu, bunda bermimpi sesuatu-"
"Apa?" Ares menyelah.
"Bunda bertemu Lakhuds!"
Deg!
Ares menatap Inas dengan tatapan yang semakin khawatir, seketika jantungnya berdegup kencang saat mendengar Inas menyebutkan Lakhuds.
"Apa yang terjadi sayang?"
"Ayah masih inget kan kutukan Lakhuds?" Ares mengangguk.
__ADS_1
"Iblis itu bilang, kita tidak akan bisa lari dari takdir yang sudah ditentukan, kutukan itu sudah mengalir dalam tubuh Argan, darah iblis itu sudah menyatu dengan Argan dan tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali darah suci bunda. Dan kutukan itu akan dimulai dimana usia Argan sudah baligh! bukankah saat kejadian itu tepat Argan berusia lima belas tahun, dimana seorang pria sudah masuk masa baligh!"
Ares mencerna semua perkataan istrinya, dia menatap istrinya yang sedang menangis terlihat sekali ketakutan, kekhawatiran dan penyesalan.
Ares memeluk istrinya, dia pun merasakan sama. Kenapa harus anak mereka yang mendapatkan karma dari perbuatan mereka dulu, padahal dia tidak tau apa-apa, dia tidak salah apa-apa.
Ares menghela nafas, memikirkan nasib keluarganya yang tidak pernah tenang.
"Sayang!" Inas melepaskan pelukannya dan menatap suaminya.
"Kia akan lewati ini sama-sama, kita pasti akan mendapat penawar untuk anak kita!" Ares menangkup pipi istrinya dan menyeka air matanya.
"Tapi yah, ayah tau kan darah suci itu sudah tidak ada lagi, setelah bunda menyerahkan kesucian bunda pada ayah, darah suci itu sudah lenyap, lalu bagaimana kita menolong anak kita. Bunda takut yah!"
"Jangan menangis sayang, kita pasti menemukan cara lain, setiap penyakit pasti ada obatnya, kita harus tetap berdoa untuk kesembuhan anak kita, oke!" Inas mengangguk.
Cup.. Ciuman hangat mendarat di bibir istrinya.
"Ayah akan selalu disamping bunda dan anak kita. Kita akan lewati ini sama-sama, seperti janji kita yang akan selalu bersama-sama!"
"Iya yah! bunda sayang sama ayah dan kedua anak kita!"
"Ayah juga sayang sama kalian, terima kasih bunda udah setia dan sabar temenin ayah, cuma kalian yang ayah punya didunia ini!" Inas mengangguk dan tersenyum.
"Ayah, we love you!" Ares tersenyum dia membaringkan istrinya dan menghadiahi kecupan padanya, dia mencium bibir istrinya dengan lembut, begitu pun Inas dia membalas ciuman itu. Beberapa saat mereka sejenak melupakan kekhawatiran mereka dan menikmati momen mereka berdua.
"We love you too, bunda!" ucap Ares setelah melepaskan pagutan bibir mereka. Ares mengecup kening Inas dengan lembut. Inas tersenyum dan membelai pipi suaminya.
"Jangan pernah tinggalin bunda, kalian adalah hidup bunda!"
"Tidak akan sayang!" Ares kembali mengecup bibir istrinya mengecup seluruh wajah istrinya dan memberikan kehangatan pada istrinya.
...***...
Malam itu terlihat seorang pria dan wanita sedang membaringkan tubuh seorang gadis, mereka merentangkan tubuh gadis itu lalu mengikat kedua tangan dan kakinya pada sisi ranjang.
Air mata menetes di wajah cantik itu namun setelah itu dia tersenyum, begitu juga pria dan wanita itu, air matanya mengalir deras. Gadis itu memejamkan matanya, dia terlihat seperti sudah pasrah, apa yang akan terjadi.
Lalu menunggu beberapa saat malam mengerikan itu akan dimulai..
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1