Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Argan dan Shina 2


__ADS_3

Argan dan Shina di bawa ke mobil, entah akan di bawa kemana mereka. Mereka masih terikat dengan mulut yang disumpal. Argan terus meringis saat berdekatan dengan Shina, hawa panas mulai menjalar ditubuhnya. Tapi Argan berusaha menahannya.


Argan masih belum tau apa sebab dia selalu kepanasan didekat Shina. Dia berniat akan mencari tau, terlebih lagi papa shina sepertinya mengenalnya.


Sekitar satu jam perjalanan mereka sampai disebuah bangunan tua belanda yang jauh dari pemukiman warga. Sepertinya itu markas mereka. Disana sudah banyak orang dengan tubuh kekar dan berotot. Argan dan Shina di bawa masuk oleh anak buah Rendi.


Argan melihat sekeliling, banyak sekali makhluk halus berkeliaran disana berlalu lalang, tentu saja hanya Argan yang melihatnya. Dengan berbagai macam bentuk dari yang normal sampai ubnormal. Tapi Argan tak mempedulikannya, seperti biasa dia hanya berpura-pura tidak lihat. Untung saja Argan terus memakai kalung belati itu, kalo tidak bakal banyak makhluk mencium bau Argan yang menarik perhatian mereka. Dan kalung itu pun terus bergetar.


Semua orang disana memberi hormat pada Rendi saat Rendi melewati mereka. Argan dan Shina di masukan ke sebuah ruangan kecil tanpa jendela hanya ada satu pintu dan satu ventilasi udara. Ikatan dan sumpalan mulut mereka pun sudah di buka.


"Apa kita akan membunuh mereka bos?" tanya Vincent.


Rendi tersenyum smirk. "Tidak perlu! biarkan mereka disana, jangan ada yang membuka pintu tanpa perintah saya!"


"Baik bos!" jawab Vincent.


Argan dan Shina saling terdiam mereka tak ada yang mulai berbicara. Karena memang hubungan mereka kurang baik. Argan terus menjauh dari Shina karena merasa kepanasan.


Shina hanya melirik ke arah Argan dia masih bingung apa kesalahannya sehingga Argan selalu menjauh darinya dan seperti tidak ingin disentuh olehnya. Shina ingin bertanya namun dia ragu, Argan pun sama ingin berbicara namun dia ragu. Akhirnya mereka hanya saling diam dan saling melirik saja.


"Gue harus keluar dari sini, ponsel di ambil om Rendi lagi!" gumam Argan.


Dia melihat kesekeliling tidak ada jalan keluar kecuali pintu itu dan ada satu makhluk bertubuh besar dan berbulu macam gorila tapi wajahnya manusia didekat pintu. Tapi Argan mengacuhkannya, dia pura-pura tidak melihat lagi, dia malas berurusan dengan mereka.


Sudah cukup dia di buat repot oleh Tamara. Ngomong-ngomong Tamara dimana hantu rese itu berada.


"Kalo gue lagi butuh ngilang tuh setan!" gerutu Argan. Shina mengernyit melihat Argan terus menggerutu sendiri di tambah lagi gerutuannya aneh. Namun dia acuh saja.


...***...


Ares bingung saat membuka pintu terlihat seorang pria paruh baya sedang berdiri didepan pintu.


"Bapak siapa?" tanya Ares.


"Maaf pak, apa benar ini rumah anak yang bernama Argan?" tanya bapak itu balik.


"Iya pak, kalo gitu silahkan masuk kita bicara di dalam!" ucap Ares mempersilahkan masuk.


Bapak itu pun masuk dan duduk disofa, Ares masuk kedalam untuk minta dibuatkan minum ke Inas. Lalu Ares kembali ke ruang tamu untuk menemui bapak itu.


"Ada apa ya pak dengan anak saya? dan bapak ini siapa?" tanya Ares.


"Saya driver ojek online!" Ares mengernyit bingung.


"Saya Rusdi, tadi siang saya dapet penumpang dan itu anak SMA namanya Argan!" lanjut pak Rusdi.


"Ada apa dengan anak saya pak? apa dia membuat masalah?" tanya Ares khawatir. Tak lama Inas pun datang membawa minuman dan sedikit camilan.


"Silahkan di minum dulu pak!" tawar Ares.


"Terima kasih mas!" bapak itu menenggak minumnya karena merasa haus.


"Jadi kenapa dengan anak saya pak?" tanya Ares lagi setelah bapak itu selesai minum.

__ADS_1


Inas pun ikut dalam pembicaraan karena mendengar Ares menyebut anak.


"Jadi gini mas, waktu saya sedang membonceng anak mas, di tengah jalan tidak sengaja kami melihat seseorang mau di culik dan ternyata orang yang diculik itu teman sekolahnya anak mas, lalu anak mas memaksa saya untuk mengikuti mobil yang membawa temannya itu. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah bangunan tua di dekat kebun tebu, anak yang diculik itu dibawa kesana.." pak Rusdi menjeda ucapannya.


Ares dan Inas mendengarkan cerita pak Rusdi tanpa menimpalinya, mereka ingin mendengar semuanya dulu.


"Lalu anak mas nyuruh saya pulang untuk lapor polisi dan datang kerumahnya untuk memberi tahukan ayahnya! awalnya saya menolak karena tidak mungkin membiarkan dia sendirian ditempat itu, tapi dia memaksa dan secepatnya untuk lapor polisi agar bisa menangkap para penjahat itu. Akhirnya saya pun mau dan saya sudah lapor polisi lalu kesini!" ujar pak Rusdi panjang lebar.


"Ya Allah yah, kita harus cepat selamatin anak kita!" Inas mulai panik mendengar anaknya dalam bahaya.


"Bunda tenang ya, anak kita pasti baik-baik aja, nanti ayah akan nyusul Argan." Ares berusaha menenangkan Inas.


"Bunda ikut!"


"Bunda dirumah aja sama dedek, gak mungkin kan bunda tinggalin dedek!" Inas menunduk Ares benar tapi dia sangat khawatir sama anak pertamanya itu.


"Tapi ayah cepat bawa pulang kakak ya!"


"Iya bunda doain ya, semoga anak kita baik-baik aja, ayah mau kesana sekarang, bunda baik-baik dirumah!"


"Iya yah, ayah hati-hati ya!" Ares mengangguk.


"Pak Rusdi bisa anter saya kesana?"


Pak Rusdi nampak terdiam dan ragu. "Kenapa pak?"


"Saya harus narik mas, nanti saya pulang gak bawa uang istri saya bisa ngomel!" ujar pak Rusdi dengan raut tak enak hati.


"Itu soal gampang saya akan sewa bapak, nanti saya akan bayar bapak, gimana?"


"Baiklah!" jawab pak Rusdi.


"Kita naik mobil saya aja, nanti bapak kasih tau lokasinya biar motor bapak taro disini aja!" Pak Rusdi mengangguk lalu mereka pun beranjak.


"Bun ayah pergi dulu, doain ya!"


"Iya yah, ayah hati-hati cepat pulang bawa kakak!" Raut Inas nampak khawatir dan takut.


"Iya sayang, kamu juga hati-hati dirumah ya, jangan buka pintu kalo ada orang asing!" Inas mengangguk lalu Ares mencium kening Inas sebelum pergi.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Inas mengantar suaminya kedepan. Setelah mobilnya hilang dari pandangan Inas terdiam sesaat.


"Ya Allah lindungi anak dan suamiku!" doanya. Lalu Inas masuk kedalam dan mengunci pintu.


Argan dan Shina masih terdiam mereka memikirkan untuk keluar tapi masih belum tau caranya, karena pintu keluar hanya satu.


Tapi Argan tetap berusaha, dia menggedor-gedor pintu agar di buka, Argan mengulanginya beberpaa kali dengan berbagai alasan namun tetap nihil tidak ada yang membuka pintu.


Argan menyerah dia terduduk lagi, kepalanya rasanya mau pecah mendengar geraman makhluk yang ada di dekat pintu.


"Ayah pasti udah kesana, tapi om Rendi malah mindahin kita!" ucap Argan tiba-tiba.

__ADS_1


Lantas Shina menoleh ke arah Argan, saat Argan menyebut kita. Argan pun tak sadar dia sudah berbicara dengan Shina. Dan itu memberanikan Shina untuk berbicara.


"Kenapa elo bisa tau gue di culik?"


Argan menoleh dan menatap Shina, dia juga agak terkejut akhirnya Shina berbicara setelah dari tadi mereka hanya saling terdiam. Bukannya menjawab Argan malah menatap Shina lekat, ada perasaan aneh ketika melihat Shina begitu juga Shina dia menatap Argan, namun Shina merasa hatinya merasa adem saat melihat Argan.


Setelah mereka tersadar dari saling tatap menatap mereka pun mengalihkan pandangannya dan menjadi salah tingkah.


Lagi-lagi mereka terdiam suasana menjadi hening. Untuk beberapa saat.


"Elo!" ucap mereka barengan. Lagi-lagi mereka salah tingkah karena bisa kompak.


Argan beranjak untuk menetralkan perasaan gugup dia, dia pura-pura berkeliling melihat-lihat tempat itu. Shina yang sama gugup pura-pura memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya di antara lutut.


Ares dan pak Rusdi sudah sampai di tempat itu, namun tempat itu terlihat sepi. Ares dan pak Rusdi berjalan menghampiri bangunan tua itu. Tidak ada orang tempat itu sangat sepi. Karena memang tempat itu jauh dari hingar bingar kota dan pemukiman warga.


"Gak ada orang pak!"


"Apa udah ditangkap polisi ya mas?"


"Gak tau pak, coba saya telpon anak saya dulu!" Ares menelpon Argan namun nomernya tidak aktif, berkali-kali Ares mencoba namun tetap sama.


Setelah memeriksa tempat itu, benar-benar tidak ada siapa pun. Ares khawatir dan takut anaknya kenapa-napa.


"Mungkin mereka sudah melarikan diri dan membawa anak saya!" ucap Ares.


"Mas sabar ya, kita pasti nemuin anak mas!" ucap pak Rusdi menenangkan.


"Saya juga minta maaf karena saya malah ninggalin anak mas disini!" pak Rusdi merasa menyesal.


"Tidak pak, ini bukan salah bapak, saya berterima kasih karena bapak sudah mau memberi tau saya!" ucap Ares.


Mereka pun keluar dari bangunan itu. Saat mereka mau keluar tiba-tiba ada yang menjatuhkan kaleng membuat Ares dan pak Rusdi kaget. Ares menengok tapi tidak ada siapa-siapa.


Mereka pun kembali keluar. Sedangkan terlihat Tamara sedang frustasi karena dia tidak bisa memberi tau Ares dimana keberadaan anaknya. Tamara terus mengikuti Argan, tapi karena Argan terlalu sibuk mau menyelamatkan Shina dia tidak menyadari keberadaan Tamara.


Tamara juga tidak bisa masuk ke bangunan tua yang sedang menyekap Argan. Karena disana banyak makhluk dengan aura jahat, di tambah makhluk itu berusia ribuan tahun dan ratusan tahun, apalah daya Tamara hanya makhluk kemarin Sore tidak bisa melawan mereka.


Tamara ingin memberi tau Ares tapi dia bingung harus bagaimana.


"Aduhh gimana ini!" Tamara mondar-mandir frustasi sambil mengacak rambutnya karena tidak bisa memberi tau Ares.


Setelah beberapa saat Tamara dapat ide cara memberi tau Ares.


Ares melangkah meninggalkan tempat itu, polisi pun tidak ada yang datang, atau mereka sudah datang tapi mereka tidak menemukan apa-apa.


Ares benar-benar khawatir. Dia terdiam sesaat duduk di depan kap mobilnya. Pak Rusdi merasa tidak enak karena sudah membiarkan Argan dalam bahaya. Tiba-tiba..


Bukkk..


"Pakkk.." pekik Ares.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2