Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Pagi itu Inas sudah disibukkan dengan pekerjaan pagi, anak dan suaminya masih bersiap untuk sekolah dan ke kantor, sedangkan anak bungsunya lagi main dengan mbak Susi ARTnya.


"Ayah, kakak ayo cepat sarapan dulu!" teriak Inas memanggil anak dan suaminya.


"Iya bun." Ares menghampiri Inas yang sedang menyiapkan sarapan.


"Dedek mana bun?" tanya Ares sambil menarik kursi makan.


"Itu sama mbak susi yah!" Ares mengangguk.


"Kakak cepetan nanti kesiangan!" panggil Inas. Dengan langkah tergopoh Argan menghampiri bundanya. Lalu dia ikut sarapan bersama.


Mereka sarapan bersama, begitu juga dengan mbak Susi, Inas dan Ares tidak pernah membedakan antara mereka. Mbak Susi sudah di anggap saudara sama mereka.


Selesai sarapan Ares dan Argan pamit ke kantor dan ke sekolah.


"Hati-hati yah, kak!"


"Iya sayang.." Sebelum pergi Ares menyempatkan untuk mencium kening istrinya dan pipi anaknya Inka dan Argan menyalami Inas juga mencium pipi adiknya yang menggemaskan itu.


"Assalamualaikum bun!"


"Waalaikumsalam hati-hati yah, kak"


"Dadah ayah, dadah kakak!!" Inka melambaikan tangannya pada ayah dan kakaknya. Mereka pun membalasnya.


Setelah mobil Ares sudah tak terlihat, Inas dan Inka masuk ke dalam.


"Sekarang dedek mandi yah!" Inka mengangguk.


Inas memandikan Inka sambil bermain dengan mainannya dibak mandi.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu, mbak Susi yang membukakan pintu.


"Ehh.. bu Intan silahkan masuk!"


"Makasih mbak." Intan tersenyum seraya masuk dan duduk di sofa.


"Inasnya ada mbak?"


"Ada bu nanti saya panggilin dulu, ibu mau minum apa?"


"Apa aja mbak!" setelah mbak Susi mengantarkan minum dia pun menghampiri Inas yang baru selesai memandikan Inka.


"Maaf bu ada bu Intan!"


"Oh iya mbak, tolong bajuin dedek ya!" Inas menyerahkan Inka pada mbak Susi dia menghampiri Intan yang sudah menunggu.


"Kak, tumben pagi-pagi udah kesini, kakak gak ke rumah Sakit?"


"Entar habis ini aku kesana nas, ada yang mau aku bicarain sama kamu!"


"Ada apa ya kak?"


Intan merasa ragu tapi dia benar-benar penasaran, dia harus mendapatkan jawaban dari kegelisahannya yang sudah mengganggunya beberapa tahun ini.


"Apa yang mau dibicarain kak Intan? kenapa sepertinya ragu!" batin Inas.


"Nas.." ucapnya tertahan dan membuat Inas semakin penasaran.


"Kakak ada masalah? Kakak lagi berantem sama bang Sakti?" terka Inas, dia merasa tak enak dengan perasaannya.


"Nas sebenarnya apa hubungan kamu dengan mas Sakti?" Inas mengernyit mendengar pertanyaan Intan.


"Maksud kakak? Ya aku sama bang Sakti kakak beradik, emang kenapa?"


"Nas aku mohon jujur, kalian bukan kakak beradik kan?"


Deg!


"Dari mana kak Intan tau?" pikir Inas.


"Aku mohon Nas aku butuh penjelasan!"


Inas bingung dia tidak mau membuat rumah tangga abangnya ada masalah, kalo hubungannya dengan Sakti bukan kakak adik sebenarnya, terlebih lagi mereka pernah menjalin hubungan.

__ADS_1


"Kenapa kakak tanya itu?"


"Sudah beberapa tahun ini, sikap mas Sakti dingin sama aku, dia jarang ngomong sama aku, setiap pulang dari kantor dia sibuk di ruang kerjanya. Sesekali dia main sama Penty. Sampai suatu saat aku gak sengaja mas Sakti sedang memandangi foto kamu-"


"APA??" Inas terkejut dengan penuturan Intan, begitu juga Intan terkejut tiba-tiba Inas memekik.


"Maaf kak, lanjutin." Inas merasa tak enak pasti ada sesuatu yang terjadi dengan mereka.


"Awalnya aku gak curiga sama sekali kenapa dia memandangi foto kamu. Tapi lama kelamaan dia sering sekali memandangi foto kamu. Sampai suatu saat aku tanya sama dia, tapi dia malah marah. Dan sikapnya malah semakin dingin dan cuek sama aku. Apa salah aku?" Intan terisak ketika mengatakan semua itu dadanya terasa sesak dan sakit, bagaimana tidak suaminya mencintai orang lain.


"Tapi kenapa kakak menanyakan ini sama aku? kenapa kakak berfikir aku dan bang Sakti bukan kakak adik?"


"Aku pernah denger mas Sakti bilang kalo dia masih mencintai kamu, awalnya aku hanya berfikir itu hanya sayang sebagai kakak kepada adiknya, tapi aku melihat dia sering sekali memandangi dan menciumi foto kamu." ucapnya terisak


"Sebenarnya apa hubungan kalian? Kalo kalian kakak beradik aku merasa ada yang janggal dengan sikap mas Sakti. Aku gak yakin kalian kakak beradik, apa hubungan kalian sebenarnya?" Intan masih tersedu menuturkan ucapannya.


Inas gak menyangka kalo Sakti masih mencintainya, padahal dulu dia sudah melupakannya.


"Tapi apa mungkin dia masih mencintaiku? bukankah dulu dia sudah melupakanku. Saat bersama Penty, kenapa bang Sakti menyakiti kak Intan?" batin Inas.


"Nas, ada apa sebenarnya?"


"Apa kakak udah tanya sama bang Sakti?" Intan menggeleng.


Inas menghela nafas, dia juga bingung sudah selama ini apa mungkin Sakti masih mencintainya, apa lagi mereka sudah sama-sama punya keluarga masing-masing.


...***...


Malam itu seperti biasa Inas menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Pikirannya masih mengingat apa yang dikatakan Intan, dia melamun sampai tidak sadar dia menyenggol gelas disampingnya hingga jatuh dan pecah.


Semua orang yang ada dirumah terkejut termasuk dirinya sendiri. Ares dan kedua anaknya langsung menghampiri Inas.


"Sayang kamu kenapa?" Saat Ares menghampiri Inas yang sedang memungut serpihan beling itu jari Inas terluka dan mengeluarkan darah.


"Ahkk.."


"Kamu hati-hati dong sayang!" Ares langsung menghampiri Inas dan melihat luka itu dia membawa Inas untuk mengobati lukanya.


"Mbak Susi lanjutin beresin ya!"


Ares dan Inas duduk diruang tengah bersama Argan dan Inka. Tapi entah kenapa Argan terlihat tegang dan pucat saat melihat darah yang ada dijari Inas, beberapa kali dia menelan salivanya.


"Darah itu baunya enak!" gumam Argan namun tak ada yang mendengar gumamannya, karena bising dari suara tv.


"Bunda kenapa? Ada masalah?" Ares membersihkan luka Inas, karena lukanya cukup besar Ares melilitnya dengan kain kasa tidak diplester.


"Gak apa-apa yah, tadi gak sengaja bunda nyenggol gelas!"


"Kamu gak bisa bohong sayang, kelihatan dari wajah kamu pasti ada masalah!"


Setelah luka Inas diperban, reaksi Argan kembali normal, bahkan dia sampai menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa darah tercium bau sangat lezat, lalu dia melanjutkan main bersama Inka. Untung saja orang tuanya tidak ada yang menyadari itu. Sebenarnya setiap dia melihat darah dia akan bereaksi seperti itu, bau darah tercium sangat nikmat di indera penciumannya. Bahkan dia sendiri tidak tau kenapa seperti itu.


"Gak ada apa-apa yah, ya udah ayo kita makan, entar keburu malam!" Inas langsung mengendong Inka, dia mengalihkannya agar Ares tidak banyak bertanya lagi, karena dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, kalo Ares tau dia bakal marah sama Sakti.


Akhirnya mereka makan malam bersama, Inas masih terdiam dan melamun, bahkan Inka yang sudah membuka mulut dihiraukan oleh Inas yang sedang menyuapi Inka, Inka cemberut karena bundanya malah ngelamun.


"Nda kok bengong?" tanya Inka sambil memonyongkan bibirnya.


"Bun!!" pekik Ares hingga membuyarkan lamunan Inas.


"Iya, kenapa yah?"


"Bunda kok bengong, itu dedek udah nganga dari tadi!"


"Eeh iya maaf sayang, ayo kita makan lagi anak pinter!!" ucap Inas Sambil menyuapi Inka.


"Good girl!" ucap Inas saat Inka makan dengan lahap.


Setelah mereka selesai makan mereka bercengkrama diruang tv sambil menonton tv.


Melihat kedua anaknya akur membuat mereka sangat bahagia.


"Dedek mau bobo sama ayah bunda atau kakak?" tanya Argan. Inka nampak berfikir.


"Sama kakak!" tukasnya.

__ADS_1


"Kakak gak mau!" ledek Argan membuat Inka cemberut.


"Kakak jeyek.." ucapnya lalu berlari menghampiri ayahnya, Ares langsung memangku Inka.


"Ayah dedek mau bobo sama kakak." Ucapnya polos memohon.


"Iya nanti dedek bobo sama kakak!"


Inka girang mendengar ucapan ayahnya, membuat Ares dan Inas senang melihat anaknya bahagia.


Inas langsung menidurkan Inka karena sudah malam, seperti permintaannya tidur bersama Argan, Inas menidurkannya dikamar Argan.


Sedangkan Argan masih diruang tengah bersama Ares. Sebenarnya Argan ingin menanyakan dengan keanehannya itu, tapi dia ragu dan takut.


"Gak usah deh, takut ayah marah!" pikirnya. Lalu dia melanjutkan nonton bersama ayahnya.


Setelah Inka tertidur, Inas tidak kembali lagi keruang tv, dia langsung masuk kamar dan duduk dikasurnya, perkataan Intan mengganggu pikirannya.


Tak lama kemudian Ares masuk ke kamar dia melihat istrinya lagi melamun, dia yakin ada yang disembunyikan istrinya. Dia pun naik ke kasur bahkan Inas tidak menyadarinya, dia terlalu asyik dengan lamunannya.


"Bun.." Inas masih terdiam dan tidak mendengar panggilan suaminya.


"Bunda.." Inas masih terdiam. Ares menghela nafas, lalu dia mencium pipi Inas dan memeluknya baru Inas tersadar, dia menatap suaminya yang sedang menatap dan memeluknya.


"Sejak kapan ayah disini?"


"Udah dari tadi, bahkan dari tadi ayah panggil bunda cuekin, bunda mikirin apa sih?" Inas menggeleng.


Ares gemas dengan istrinya yang masih gak mau jujur. Lalu Inas mengalihkan pandangannya lagi dan terlihat dia akan melamun lagi, namun Ares sigap mengalihkan pandangan Inas agar menatapnya.


"Bunda gak mau jujur sama ayah?" Ares mulai serius, dia agak kesel karena Inas selalu seperti ini setiap ada masalah selalu disembunyiin.


"Bunda gak apa-apa sayang!" ucapnya sambil mengelus pipi Ares. Ares kesal dengan ucapan istrinya, dia langsung melepaskan pelukannya dan langsung tidur membelakangi Inas. Inas sudah terbiasa melihat Ares bersikap seperti ini.


"Maaf yah bunda gak bisa cerita, bunda gak mau nanti ada masalah sama bang Sakti!" pikirnya.


Lalu dia pun membaringkan tubuhnya, lalu dia memeluk suaminya dari belakang.


"Ayah marah?" tanyanya sambil mengeratkan pelukannya. Ares terdiam dia tak menggubris istrinya.


"Sayang, beneran bunda gak ada masalah apa-apa!" Ares masih terdiam, Inas terbangun dan melihat reaksi Ares tapi matanya terpejam, tapi Inas tau Ares pura-pura tidur.


"Sayang!" panggilnya sambil menciumi pipi Ares tapi Ares masih terdiam, Inas terus mengganggu suaminya sampai Ares jengah dan dia langsung memegang tangan Inas dan membalikan tubuhnya hingga Inas berada dibawah tubuhnya.


"Ayah, bikin bunda kaget!"


"Bunda udah gak anggap ayah suami bunda lagi!" ucap Ares agak kesal.


"Kenapa ayah ngomong kaya gitu?" Inas sedih mendengar ucapan Ares, tapi dia masih tidak mau mengatakan masalahnya.


"Bunda masih gak mau bicara jujur?"


"Bicara apa yah? Bunda gak ada apa-apa!" Inas masih dalam pendiriannya.


"Bohong!" teriak Ares. Membuat Inas tersentak


"Bunda gak bohong yah!" Ares melepaskan cengkraman ditangannya lalu dia turun dari kasurnya dan keluar dari kamar.


Inas sedih dia tau suaminya marah, tapi suaminya akan tambah marah kalo tau masalahnya.


"Maafin bunda yah!" gumamnya sedih.


Lalu dia memiringkan tubuhnya, dia pun bingung bagaimana mungkin cerita masa lalu harus di ungkit lagi.


"Kenapa bang, kenapa kamu masih mencintai aku? Kamu sudah punya kak Intan dan Penty, kenapa abang menyimpan perasaan itu? Bahkan abang tau aku tidak pernah mencintai abang!!" tak terasa air matanya menetes, Inas bergelut dengan pikirannya, sampai akhirnya dia terlelap.


Setelah merasa tenang, Ares kembali ke kamar, istrinya sudah terlelap lalu Ares menyelimutinya.


"Maafin ayah sayang, udah bentak bunda!" ucapnya sambil mencium pipi istrinya, lalu dia ikut tertidur sambil memeluk istrinya.


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2