Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Bertemu Pak Rendi


__ADS_3

Terlihat seorang pemuda yang sedang berjalan tertatih dan kepayahan. Dia berjalan ditengah malam buta disekitar jalanan yang terlihat lengang. Malam dingin yang menusuk tulang karena habis hujan deras pun tak memberikannya kesejukan justru semakin membuatnya terasa panas terbakar.


"Ha-us.. pa-nas." gumamnya sambil memegangi tenggorokannya.


Dia terus berjalan dan sesekali terjatuh, dia bahkan tidak bisa berteriak karena tenggorokannya terasa panas dan perih.


"Ha-haus.. pa-panas" gumamnya berkali-kali. Rasa panas membakar membuat dia tak berdaya dan akhirnya dia tergeletak tak sadarkan diri dipinggir jalan.


...***...


Ditempat lain terlihat seorang gadis yang sedang menjerit kesakitan dia merasakan tubuhnya tercabik-cabik dan juga panas membakar di sekujur tubuhnya. Dia berteriak sekencang mungkin, bergerak kesana kemari namun dia tak bisa lepas karena tangan dan kakinya terikat.


"Sakiiit.. panaaas..tolooong..!!" teriaknya.


Namun percuma dia tak bisa apa-apa, bahkan tak ada yang bisa menolongnya. Dia harus merasakan sakit itu, bahkan dia ingin sekali mati agar tidak merasakan sakit itu lagi. Tapi sudah beberapa kali dia ingin mengakhiri hidupnya pun selalu gagal. Seolah tak mengijinkannya untuk mati. Dia harus hidup dalam kesakitan itu.


Jeritan kesakitannya benar-benar menyayat hati, bagi yang mendengar pasti akan mengira dia sedang mengalami penyiksaan. Meski sebenarnya dia memang sangat tersiksa dengan rasa sakit itu.


Terlihat seorang pria yang sedang tertunduk duduk disofa. Air matanya mengalir deras, dan seorang wanita yang sedang bersimpuh dilantai pun menangis histeris karena mereka tidak bisa melakukan apa pun. Meski mereka tidak mendengar jeritan gadis yang ada didalam tapi mereka tau bahwa gadis itu sedang sangat kesakitan. Karena memang kamar itu kedap suara agar tidak ada orang lain mendengarnya.


"Maaf, maaf!" hanya kata itu yang terlontar dari mulut sang pria.


Rasanya sakit dan menyesakkan dada tapi apalah daya dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia hanya bisa berdoa semoga semuanya cepat selesai.


Fajar sudah menyingsing sebentar lagi waktu subuh akan tiba. Itu artinya gadis itu akan segera mengakhiri penderitaannya. Pria itu pun tidak tidur sama sekali dia masih diposisi yang sama.


Sedangkan wanita yang bersamanya sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Meski air matanya terus mengalir karena harus menyaksikan penderitaan gadis itu.


Tak lama adzan subuh berkumandang, pria itu pun beranjak dan berlalu ke kamar, dia membuka pintu dan seperti biasa dia menatap gadis itu sudah tidak sadarkan diri, dengan tubuh yang terlihat memerah seperti tersiram air panas.


Pria itu membuka ikatan tangan dan kaki gadis itu. Lalu dia membawanya ke kamar lain dan mengistirahatkannya. Dan pria itu mengecup kening gadis itu lalu meninggalkannya.


Air mata masih menetes dimatanya, kata maaf terus terlontar di bibirnya. Lalu dia pun berlalu ke kamarnya.


...***...


Pagi itu Argan sudah siap pergi kesekolah semua keluarganya sudah berkumpul di meja makan.


Inas langsung menghampiri putranya. "Kakak gak apa-apa?" tanyanya sambil mengusap kepala Argan.


Argan hanya mengernyit mendengar pertanyaan dan sikap bundanya. "Aku gak apa-apa emang kenapa bun?"

__ADS_1


Inas malah salah tingkah mendengar pertanyaan balik anaknya. Dia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Ya udah kalian lanjutin makan!" Mereka pun makan bersama.


Ares hanya melirik istrinya dan sesekali mereka melempar pandangan. Pagi itu suasana sarapan hening, Inka yang biasanya cerewet pun ikut terdiam kala melihat suasana menjadi hening.


Seperti biasa hari ini Argan merasa tubuhnya sangat fit dan segar bahkan wajahnya terlihat berseri. Tamara yang melihatnya pun di buat melongo dengan wajah Argan.


"Kenapa lo liatin gue kaya gitu?"


"Kok kamu makin ganteng sih!" jawab Tamara asal. Argan hanya mendengus, kenapa bisa ada cewek yang terus menggombalinya.


"Pokoknya kamu harus jadi pacar aku!" ucap Tamara membuat Argan terbelalak dan kaget.


"Maksud elo?"


"Aku mau jadi pacar kamu!" Tamara menyengir memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rapi.


Argan hanya begidik mendengar ucapan Tamara. Mana mungkin dia pacaran sama hantu, meski Tamara cantik, tetap saja hantu. Meski Tamara bukan hantu tetap saja Argan tidak akan mau pacaran.


Semua mata yang disekitar Argan terus menatapnya, karena melihat Argan selalu bicara sendiri, tapi Argan mengabaikannya karena sudah biasa.


Terlihat beberapa orang menghampiri Argan, dengan wajah songong dan sombongnya.


Dan itu membuat mereka terlihat geram dan kesal karena Argan mengacuhkannya. Tapi anak-anak yang lain terlihat ketakutan saat melihat segerombolan preman sekolah itu.


Salah satu dari mereka mencengkram kerah baju Argan karena kesal.


"Elo budeg ya, gue bilang minggir!" teriaknya tepat di hadapan wajah Argan. Tapi Argan masih bersikap santai dan tak gentar sama sekali.


"Hajar jo hajar!" ucap salah satu dari mereka.


Tamara yang melihat itu geram dan murka, melihat Argan diteriaki preman itu.


Argan melepaskan cengkraman itu lalu berdiri dan menatap tajam orang yang ada dihadapannya. Lalu dia pergi berlalu meninggalkan mereka dan mengabaikan mereka yang terus mengumpat dan ingin menghajarnya.


"Gan aku kasih mereka pelajaran ya?"


"Gak perlu!" Argan berlalu ke kelasnya dan duduk dikursinya.


Sedangkan segerombolan preman sekolah itu terlihat kesal karena baru kali ini ada orang yang tidak menghormati mereka dan malah menantang mereka. Salah satu dari mereka terlihat kesal wajahnya merah padam menahan amarah.

__ADS_1


"Kita harus kasih pelajaran dia!" ucap anak yang menahan kesal itu.


"Setuju.. setuju.." ucap teman-temannya.


Pelajaran hari ini di lewati Argan dengan baik, karena Tamara tidak mengganggunya, bahkan dia ikut duduk dan memperhatikan penjelasan guru, sambil sesekali memandangi wajah Argan. Tapi Argan masih acuh dan tetap fokus pada pelajaran.


Setelah pelajaran pertama selesai dan sebelum guru meninggalkan ruangan dia mengenalkan guru baru disekolah itu. Lalu seseorang masuk kekelas itu. Argan yang sedang tertunduk pun tak mengetahui guru baru itu.


Tepat saat guru baru itu bicara Argan menoleh dan terbelalak saat melihat siapa guru barunya.


"Pak Rendi!" pekik Argan tak percaya.


Setelah selesai perkenalan pak Rendi memulai pelajarannya yaitu Matematika. Argan dibuat heran kenapa pak Rendi ada disekolahnya.


Pak Rendi menatap sekilas ke arah Argan dan dia tersenyum tipis ke Argan. Argan hanya menelan ludah melihat senyuman pak Rendi. Dia masih teringat ancaman pak Rendi saat disekolahnya dulu. Bahkan Argan belum menyelidiki siapa pak Rendi. Dan ternyata sekarang mereka bertemu kembali, sepertinya takdir memang berpihak pada Argan agar dia bisa menyelidiki pak Rendi.


"Siapa sebenarnya kamu pak Rendi?" ucapnya dalam hati. Seperti biasa saat Argan menatap pak Rendi dia pun menatap Argan.


"Kita bertemu lagi bocah!" ucap pak Rendi dalam hati dan tersenyum.


Bahkan Argan tak menyadari dengan Keberadaan Tamara yang sudah menghilang dari sisinya saking fokusnya menatap pak Rendi.


Bahkan hati Argan gelisah saat dia mengingat bertemu pak Rendi sebelumnya, yang ternyata memang pak Rendi ada dikota ini.


"Apa hubungan mereka?" pikir Argan.


Argan tau pak Rendi bukan orang sembarangan, entahlah siapa dia tapi Argan merasa seperti itu. Argan pun mulai tidak fokus belajar karena pak Rendi sering menatap ke arahnya.


...***...


Tak terasa bel pulang berbunyi, hati Argan masih gelisah dengan kehadiran pak Rendi. Kehadiran pak Rendi membuatnya tidak tenang.


"Kenapa ini? kenapa perasaanku begini?"


Argan berjalan gontai seperti biasa dia berjalan ke arah halte, menunggu angkot untuk pulang. Bahkan dia masih belum menyadari ketidak hadiran si cerewet Tamara disampingnya.


Saat dia sedang terduduk lesu dihalte dan sedang menunduk. Tak sengaja dia melihat beberapa sepasang sepatu yang ada dihadapannya.


Dia pun mendongak dan seketika seseorang membekap mulutnya dan membiusnya hingga dia tak sadarkan diri.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2