
Argan masih belum sadarkan diri, Inas dan Ares membawanya ke rumah sakit agar Argan dapat perawatan, entah apa yang terjadi dengannya sehingga dia tidak sadar-sadar.
Inas dan Ares sangat cemas dengan keadaan anaknya. Ares menyesal karena sudah memukul anaknya hingga pingsan. Inas terus menangis dalam pelukan Ares.
Seperti biasa Argan membutuhkan donor darah karena kehabisan darah karena kemarin dia tidak berhasil meminum darah.
Sepertinya jika Argan tidak meminum darah, Darah iblis yang ada di dalam tubuhnya akan menyerap darah manusianya, sehingga dia akan kehilangan darah hingga yang tersisa hanya darah iblisnya saja.
Inas dan Ares kembali mendonorkan darahnya untuk Argan. Setelah selesai mengambil darah mereka menunggu Argan untuk di pindahkan ke ruang perawatan.
Perkiraan dokter sebab Argan belum sadarkan diri karena dia sedang mengalami koma, namun belum pasti karena dari pemeriksaan Argan hanya tertidur biasa.
Di rumah Penty dan Inka sedang duduk menunggu, tadinya mereka ingin ikut tapi Ares melaranganya karena takut nanti Sandi datang dan ternyata benar tak lama Sandi pun datang, sebelum ke rumah Ares dia pulang kerumah dulu, mengganti pakaiannya.
Penty langsung menghampiri Sandi dan memeluk Sandi.
"Om gak apa-apa kan? om kemana aja? aku khawatir banget sama om!" Sandi mengelus kepala Penty.
"Om baik-baik aja dek, liatkan om gak apa-apa!"
"Om jangan bikin aku khawatir kaya gini, aku takut!" Sandi tersenyum lalu menyeka air mata Penty. Lalu tak lama Inka pun memeluk Sandi.
"Dedek seneng om udah pulang dan baik-baik aja!"
"Iya cantik, om baik-baik aja makasih ya sayang!" Inka mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Om kakak sakit!" ucap Inka sambil menatap Sandi.
"Kakak sakit apa dek?" Inka menggeleng.
"Ayo om kita kesana, dedek pengen lihat keadaan kakak!" Sandi mengangguk lalu mereka pun berangkat ke rumah Sakit.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit, mereka langsung ke ruang perawatan Argan. Inas dan Ares kaget melihat Sandi, mereka langsung menghampiri Sandi.
"Gimana keadaan kamu san? kamu baik-baik aja? gimana Shina apa kamu menemukan dia?" tanya Inas bertubi-tubi.
"Aku baik-baik aja kak dan Shina juga selamat!"
"Benarkah? Syukurlah Alhamdulillah!" Sandi tersenyum melihat kelegaan di wajah kakaknya.
Tak lama mereka pun mengobrol dan menceritakan kejadian yang menimpa Shina.
Di tempat lain setelah Shina puas melepas rindu dengan papanya dia kembali ke kamar. Dia ingin tidur tapi dia tak bisa tidur karena terus memikirkan Sandi. Dia mengingat pertama kali bertemu dengan Sandi dia tersenyum saat Sandi menanyakan namanya, dia tersenyum ternyata saat itu Sandi sudah menyukainya, sedangkan dia sedang merasa patah hati karena melihat Argan dan Penty.
Lalu dia mengingat saat Sandi sering mendekatinya, awalnya dia biasa saja, bahkan dia menganggap Sandi seperti om nya, namun seiringnya waktu perasaan dia mulai aneh, jantungnya sering berdebar kencang saat di dekat Sandi, namun dia belum menyadari perasaannya.
Lalu dia mengingat kejadian kemarin, hanya dalam waktu satu hari satu malam, dia bisa begitu sangat mencintai pria itu, dia tersenyum membayangkan kebersamaan mereka meski singkat namun sangat berarti baginya. Dia memegang bibirnya. First kiss nya di ambil oleh orang yang dia cintai.
Dia tersenyum sambil berguling-guling di kasur saat mengingat kebersamaannya dengan Sandi sambil terus memegang bibirnya. Dia menutup wajahnya dan malu sendiri.
"Abang aku mencintaimu!" gumamnya setelah puas membayangkan kekasihnya dia pun terlelap karena lelah. Tadinya dia ingin menelpon Sandi tapi dia tau ponsel Sandi dan dirinya tidak ada, jadi dia memutuskan tidur saja.
Di tempat lain Sandi pun sama, dia sedang membayangkan kebersamaannya dengan Shina dia tersenyum sendiri, dia dan Penty sedang menjaga Argan. Karena Inas dan Ares pulang bersama Inka. Kasian Inas belum istirahat karena terus menjaga Argan.
Akhirnya Ares memaksa Inas untuk pulang dan beristirahat. Penty sudah terlelap di sofa. Sedangkan Sandi dia masih duduk disofa sebelahnya sambil terus membayangkan kekasih kecilnya itu.
"Aku mencintaimu My Princess!" gumamnya.
__ADS_1
...***...
Pagi hari Inas dan Ares sudah berangkat ke rumah sakit karena ini hari minggu Inka pun ikut ke rumah sakit. Argan masih belum sadar, dia masih terbaring bagaikan orang yang sedang tertidur.
Sandi pamit pada Inas dan Ares karena dia akan menjemput Shina.
"Kak aku pergi dulu ya!"
"Mau kemana san? kamu sarapan dulu kakak udah bawa makanan!"
"Aku belum laper kak, nanti aku kesini lagi!"
"Ya udah kamu hati-hati!" Sandi mengangguk dan tersenyum.
Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Shina. Dia melajukan mobilnya menuju rumah Shina. Tak lama dia sampai di rumah Shina. Namun tak sengaja dia melihat dua orang mencurigakan sedang mengintai rumah Shina.
Sandi khawatir kalo itu penjahat yang kemarin yang ingin membunuh Shina. Sandi pun keluar dari mobil dan berpura-pura tidak melihat mereka. Dia mengetuk pintu rumah Shina. Tak lama bi Ida membukakan Pintu.
"Ehh den Sandi, silahkan masuk!" ucap bi Ida.
"Shina nya ada bi?"
"Ada den, non lagi sarapan sama papanya!" jawab bi Ida. Sandi pun mengangguk lalu dia menunggu di ruang tamu.
Tak lama bi Ida kedalam Shina keluar menemui Sandi. Dia langsung berlari dan berhambur ke pelukan Sandi.
"Hei kenapa lari? nanti jatuh!"
"Aku kangen sama abang!" Sandi tersenyum dan membelai pipi Shina yang sedang mendongak ke arahnya.
"Abang sudah kenyang melihat kamu!" Shina blushing mendengar ucapan Sandi.
"Abang belum sarapan kan?" Sandi mengangguk.
Shina pun menarik Sandi untuk ikut sarapan dengannya. Sandi canggung dan gugup melihat Fahri.
"Ehh mas Sandi ayo sarapan bareng!" ucap Fahri. Sandi mengangguk dan dia duduk di samping Shina.
"Abang mau apa? Shina ambilin ya!" tanya Shina senang.
"Abang?" tanya Fahri dalam hati dia bingung kenapa Shina memanggil Sandi abang.
Fahri memperhatikan Shina yang sangat perhatian pada Sandi bahkan Shina terlihat sangat senang dan bahagia. Baru kali ini dia melihat anaknya sebahagia itu, padahal kemarin-kemarin dia terlihat selalu murung.
Lalu Fahri pun memperhatikan Sandi, terlihat tatapan pemuda itu pada Shina seperti menyukai Shina begitu juga Shina, tatapannya pada Sandi seperti menyukai Sandi.
"Apa mereka saling menyukai?" tanya Fahri. Lalu Fahri menggeleng.
"Mana mungkin? mungkin perasaanku aja!" bantahnya.
"Shina harus sembuh dulu, jangan sampai dia dekat dengan pria dulu!" ucapnya lagi dalam hati.
Setelah mereka selesai Sarapan, Sandi dan Fahri mengobrol di ruang tamu.
"Pak Fahri maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud membuat pak Fahri khawatir, tapi saya hanya ingin memastikan keselamatan Shina!" ucap Sandi.
"Maksud mas Sandi?" tanya Fahri bingung.
__ADS_1
"Tadi saya tak sengaja melihat dua orang mencurigakan di luar sedang memperhatikan rumah ini, saya takut itu para penculik yang menculik Shina kemarin, saya mohon tolong jaga Shina pak, saya takut mereka akan menculik Shina lagi!" Fahri terkejut mendengar penuturan Sandi.
"Maaf Pak Fahri saya tidak bermaksud membuat pak Fahri khawatir!"
"Tidak mas Sandi saya berterima kasih karena mas Sandi sudah memberi tau saya, saya bisa jadi lebih waspada dan menjaga anak saya!"
"Sebaiknya Shina jangan keluar rumah dulu demi keselamatannya dan jangan tinggalkan Shina sendirian!" Fahri mengangguk mengerti.
"Makasih banyak mas Sandi, saya tidak tau harus membalas kebaikan mas Sandi dengan apa!" Sandi hanya tersenyum sungguh dia ingin mengatakan bahwa dia sangat mencintai putrinya itu, namun lidahnya terasa kelu saat ingin mengatakan itu.
Tak lama Shina pun datang menghampiri kedua pria yang di sayanginya itu.
"Pah aku pengen beli sesuatu!" ucap Shina.
"Beli apa sayang?" tanya Fahri sambil mengelus kepala Shina. Shina berbisik pada papanya dan membuat Sandi mengernyit bingung.
"Emang sudah habis?" tanya Fahri. Shina mengangguk.
"Boleh ya pah aku keluar!"
"Enggak boleh!" ucap Sandi dan Fahri barengan.
Shina menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal melihat papa dan kekasihnya kompak.
"Aku gak keluar sendiri pah, aku mau minta di anter bang Sandi!" Fahri menggeleng, Shina sebal dan mengerucutkan bibirnya.
"Emang Shina mau beli apa? biar abang aja yang beliin!"
"Mau beli-" belum sempat Fahri melanjutkan bicaranya Shina sudah membekap mulut papanya.
Sandi bingung dengan tingkah lucu kekasihnya itu. Shina melotot pada Fahri dan bergumam pada Fahri.
"Jangan kasih tau aku malu pah!" bisik Shina.
Fahri tergelak melihat tingkah lucu putrinya. Shina hanya mendengus sebal papanya menertawakannya dan itu membuat Sandi semakin bingung.
"Ya udah papa aja yang beli, kamu di rumah aja! mas Sandi titip Shina sebentar ya!" ucap Fahri setelah selesai tertawa. Shina dan Sandi mengangguk.
Fahri pun beranjak dan pamit pergi. Setelah Fahri pergi Sandi bersender di sofa lalu melipat kedua tangan di dadanya. Shina mendekat ke Sandi dan bermanjaan pada Sandi.
"Kenapa bisik-bisik sama papa?" tanya Sandi. Shina tersenyum dan menggeleng.
"Oh sekarang sudah mulai rahasia-rahasiaan sama abang!"
"Gak gitu Shina malu kalo bilang sama abang!" ucap Shina. Sandi memeluk Shina dan menatap wajah cantik itu.
"Kenapa harus malu, hm?"
"Aku malu bang!" ucap Shina sambil menundukan wajahnya. Sandi mengangkat wajah Shina dan mengecup bibir Shina.
"Morning kiss!" Shina tersenyum dan memeluk erat tubuh Sandi.
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1