
Bel pulang sudah berbunyi, murid-murid bersiap untuk kembali ke rumah tak terkecuali Argan. Tapi Argan sangat penasaran dengan pak Rendi. Kenapa sepanjang pelajaran pak Rendi menatap Argan dengan tatapan tidak suka.
"Gan gue pulang duluan ya, gue disuruh langsung pulang!"
Argan mengangguk. "Iya tur!"
Semua murid sudah bubar tinggal Argan yang masih tersisa dikelas. Dia benar-benar penasaran dengan gurunya itu.
Setelah beberapa saat termenung, Argan pun keluar kelas, masih ada beberapa anak yang masih di sekolah. Sebelum pulang Argan pergi ke musholah dulu untuk menunaikan sholat dzuhur.
Setelah selesai sholat Argan berniat langsung pulang. Saat Argan berjalan di koridor sekolah dan melewati kelas 8. Dia melihat seorang siswi sedang bicara dengan pak Rendi. Argan pun mengintip di pintu yang tidak tertutup rapat, karena penasaran. Pak Rendi seperti memberikan sesuatu pada siswi itu. Tapi apa yang diberikan pak Rendi pada siswi itu?
Entah kenapa Argan jadi sangat penasaran dengan sosok pak Rendi. Pertemuannya dengan pak Rendi di belakang sekolah seperti ada misteri dibalik sosok pria tampan bertubuh atletis itu.
Argan tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, tapi sepertinya sangat serius.
Argan begitu penasaran, Sampai dia harus bersikap tidak sopan menguping pembicaraan orang lain, kalo bundanya tau pasti akan di marahi. Tapi dia juga tidak mendengar apa pun.
Setelah beberapa saat, terdengar suara langkah keluar. Argan segera pergi meninggalkan tempat itu. Untung saja pak Rendi tidak melihat Argan, kalo sampe ketahuan pasti bakal di hukum.
Akhirnya Argan memutuskan untuk pulang saja. Seperti biasa dia menunggu angkot di halte depan sekolahnya. Sudah beberapa saat belum ada angkot yang lewat.
Sudah pukul dua siang Argan masih menunggu karena belum ada angkot yang lewat. Tak lama Argan melihat siswi yang bersama pak Rendi tadi, wajahnya nampak bahagia dan dia terus memandangi sesuatu ditangannya.
Argan terheran saat siswi itu berjingkrak senang. Argan pun mengabaikan siswi itu dan dia memesan ojol untuk pulang karena tak ada angkot lewat jadi terpaksa dia pesan ojol.
Setelah beberapa saat menunggu ojolnya datang, dia segera meluncur kerumah. Beberapa menit Argan sampai kerumah.
"Lhl ayah udah pulang?" gumam Argan saat melihat mobil ayahnya ada dirumah.
"Assalamualaikum!" Tak ada jawaban. Argan masuk setelah membuka sepatu.
Argan mendengar suara keributan di kamar orang tuanya. Argan pun langsung menghampiri ke kamar orang tuanya.
"Ayah!!" pekik Argan kaget saat melihat ayahnya akan memukul Inas.
"Ayah jangan pukul bunda!" Argan langsung membantu Inas berdiri yang sedang terduduk dan terlihat bibirnya berdarah.
"Ayah jangan sakitin bunda!" teriak Argan kesal.
"Diam kamu anak kecil, jangan ikut campur urusan orang tua!" pekik Ares kesal
__ADS_1
Argan menatap marah pada Ares tangannya mengepal. Ingin rasanya dia menghajar wajah ayahnya tapi dia tahan.
"Kenapa kamu menatap ayah seperti itu, mau nantang ayah kamu!" ucap Ares emosi.
"Udah yah, kak jangan berantem!" Inas berusaha melerai kedua pria yang dicintainya itu. Ini pertama kalinya keluarga mereka bertengkar.
"Jangan pernah sakitin bunda atau aku-"
"Atau apa hah!! kamu mau melawan ayah!" teriak Ares memotong ucapan Argan.
"Udah sayang jangan lawan ayah nak, udah ayo kita keluar!" Inas membawa Argan keluar kamar. Namun tatapan Argan masih emosi melihat ayahnya. Dia tidak rela ada orang yang menyakiti bundanya meski itu ayahnya sendiri.
"Masih mau nantang ayah kamu!" sentak Ares karena melihat tatapan emosi Argan. Hampir saja Ares memukul Argan, untung saja Inas menahannya.
"Udah yah jangan sakiti anak kita, bunda mohon!"
"Aaargghh!" teriak Ares kesal sambil menendang sofa yang ada di kamar. Inas segera membawa Argan keluar.
"Bunda berdarah, Argan obatin ya." Argan menangis melihat wanita yang dicintainya terluka, bibir Inas berdarah karena tamparan Ares.
"Bunda gak apa-apa sayang, bunda baik-baik aja!" Tapi Argan menghiraukan perkataan bundanya dia mendudukan bundanya disofa, lalu dia beranjak mengambil p3k. Lalu Argan mengobati luka bundanya.
Masih terlihat raut emosi di wajah Argan disela air matanya. Dia penasaran kenapa ayahnya tiba-tiba bersikap kasar seperti itu, ini pertama kalinya Argan melihat sang ayah murka sampai memukul Inas, tapi dia sengaja tidak ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang tuanya. Takut akan membuat bundanya semakin terluka karena pertanyaannya.
"Argan gak apa-apa bun!" jawab Argan sambil tersenyum dan mengobati luka bundanya.
"Gak apa-apa gimana, wajah kamu pucet sayang!"
"Bunda, Argan gak apa-apa, sekarang yang kenapa-napa itu bunda!" ucap Argan menenangkan bundanya.
Sebenarnnya Argan sedang menahan bau manis darah yang ada dibibir Inas. Padahal darahnya cuma sedikit tapi baunya sangat terasa bagi Argan.
"Duh kenapa lagi nih gue, rasanya pengen gue jilat aja tuh darah!" batin Argan
"Astaghfirullah apa yang gue pikirin, sadar gan sadar!" Argan menggelengkan kepalanya Agar tersadar dari pikiran buruknya itu.
"Kenapa nak?"
"Gak apa-apa bun, sekarang bunda istirahat ya!"
"Sayang, apa pun yang ayah lakukan jangan benci ayah ya, jangan bersikap kaya tadi lagi, seolah kamu menantang ayah. Bunda gak mau kamu jadi anak durhaka sayang!" ucap Inas sambil mengelus kepala Argan.
__ADS_1
"Tapi Argan gak mau ayah nyakitin bunda, Argan gak rela siapa pun nyakitin bunda. Meski itu ayah Argan akan tetap melawannya kalo dia nyakitin bunda!" Argan menangis dalam pelukan bundanya.
Air mata Inas menetes tapi dia segera menyekanya karena tidak mau Argan melihatnya menangis. Dia juga tidak menyangka suaminya bisa bersikap kasar seperti itu, ini baru pertama kalinya Ares seperti itu. Ada apa dengannya? kenapa dia jadi tempramen, apa bipolar Ares kambuh tapi apa yang memicunya kambuh? pikir Inas.
"Bunda mohon sayang, jangan diulangi lagi yah! bunda gak mau anak sholeh bunda melawan orang tuanya!!" Inas mengelus kepala Argan.
"Ya sudah sekarang kakak makan terus istirahat!! kakak udah sholat?" sambil melepaskan pelukannya.
Argan mengangguk. "Udah bun."
"Anak sholeh, makasih ya sayang bunda sama ayah sayang sama kakak dan dedek!" Argan memeluk bundanya lagi dia masih sangat marah sama ayahnya. Dia masih tidak percaya dengan sikap ayahnya seperti itu.
"Dedek kemana bun?"
"Lagi main dirumah siska, katanya ngerjain tugas kelompok!"
"Ya udah bunda juga istirahat ya!"
"Iya sayang!" Argan beranjak dan ke kamar. Setelah kejadian tadi Argan merasa tak lapar dia masih kesal dengan sikap ayahnya. Bagaimana bisa dia memukul wanita yang sangat dicintainya.
Setelah kepergian Argan Inas tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis tak bersuara, dia masih bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba tempramen seperti itu.
Inas menghampiri suaminya di kamar dia sedang terlelap. Inas mengusap pipi Ares menatap suaminya yang sedang terlelap.
"Kenapa dengan ayah? kenapa ayah jadi begini? Ayah.. bunda mohon jangan pernah sakiti anak kita, biar bunda aja yang ayah sakiti tapi jangan anak kita, bunda gak rela!" Inas masih mengusap pipi Ares, air matanya mengalir deras.
Dia mengingat perjuangan untuk bisa hidup bersama yang penuh liku dan cobaan. Sampai akhirnya doanya terkabul untuk bisa hidup bersama dan ini kali pertama mereka bertengkar hebat.
Inas mencium kening, pipi dan bibir Ares.
"Aku sangat mencintai kamu kak, aku sangat mencintai kamu, aku gak mau kehilangan kamu. Tapi jika kamu menyakiti anak kita, aku gak tau apa aku bisa memaafkan kamu!" bisik Inas lalu dia memeluk suaminya dan menangis dipelukan Ares. Lalu Inas menyelimuti Ares.
Lalu dia menghampiri Argan yang masih dikamar, dia sedang duduk ditepi ranjang, dengan wajah yang masih sangat kesal.
"Sayang kok belum makan?"
"Argan masih kenyang bun, tadi pas pulang Argan jajan!" jawab Argan bohong.
Inas tersenyum sambil mengelus kepala anaknya, dia tau anaknya sedang berbohong, dia tau anaknya masih kesal dengan ayahnya.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....