Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Menemukan Inas


__ADS_3

...Sebelumnya Author mau ngucapin selamat hari raya idul fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita selama berpuasa diterima Allah SWT. Aamiin.....


..........


Hari kelima Ares masih belum menemukan istrinya, dia sudah stres dan frustasi tapi dia tidak pernah menyerah untuk mencari istri tercintanya. Para informan yang dia sebar pun, belum ada yang memberi kabar baik. Sangat sulit untuk menemukannya, karena ponsel Inas tidak ada sehingga tidak bisa dilacak.


Saat ini Ares sedang dalam mobil nya dia terus berusaha mencari istrinya. Dia terus berdoa dalam hati agar istrinya cepat ditemukan. Dia terpaksa harus meninggalkan kedua anaknya di rumah, untung saja Argan anak yang baik dan bertanggung jawab dia bisa menjaga adiknya.


"Saya gak akan lepasin kamu Sakti apa lagi kalo sampe istriku terluka!" geram Ares sambil memukul setir mobilnya.


Tak lama ponsel Ares berdering, Ares langsung mengangkat panggilan itu.


📞"Hallo!"


📞"...."


📞"Dimana? berikan alamatnya!"


📞"...."


📞"Oke terima kasih!"


Ares memutuskan sambungan telponnya, dia tersenyum senang.


"Akhirnya saya bisa menemukanmu sayang!" ucap Ares tersenyum senang.


Di tempat lain seorang wanita yang sedang duduk diranjang sambil menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang, tatapannya sendu menatap kearah luar jendela, matanya sayu, wajahnya pucat. Terlihat badannya semakin kurus tak terurus.


Lalu seorang gadis masuk menemuinya dan duduk didekatnya sambil membawa nampan ditangannya.


"Bunda makan dulu ya!" namun tak ada jawaban dari wanita itu dia masih tetap dalam posisinya.


"Kalo bunda gak makan, nanti bunda sakit, aku gak mau bunda sakit!" gadis itu terus berusaha membujuknya. Namun wanita itu masih terdiam seolah tak mendengar ucapan gadis itu.


Di pintu terlihat seorang pria tampan sedang menatap kearah dua wanita itu, tatapannya sedih dan bingung.


"Lamu keterlaluan bang, kenapa kamu jadi kaya gini, menyiksa kak Inas!" ucapnya dalam hati.


Lalu pria yang tak lain adalah Sandi menghampiri kedua wanita itu, Inas dan Penty.


"Kak kamu makan ya, biar kakak gak sakit, kalo kakak sakit kakak gak bisa ketemu Argan dan Inka, kakak gak mau kan kalo mereka sedih lihat kakak sakit!" ucap Sandi berusaha membujuk, sontak membuat Inas menoleh ke arah Sandi.


"Argan, Inka aku rindu mereka!" ucap Inas pelan lalu dia kembali menatap ke arah jendela.


Penty menangis melihat keadaan Inas, meski Penty pengen Inas menjadi ibu barunya, tapi dia sedih melihat papanya memperlakukan Inas seperti itu. Mengurung Inas dan memisahkan dari kedua anaknya.

__ADS_1


"Om kenapa papa tega sama bunda?" Sandi menghela nafas dia pun tidak mengerti dengan jalan pikiran abangnya.


"Elo bukannya cinta bang, tapi obsesi, elo egois elo gak mikirin perasaan kak Inas!" Sandi geram dengan sikap abangnya itu.


Dia pun bingung bagaimana membawa Inas pergi, tidak ada kendaraan yang bisa membawa mereka pergi, karena mobil selalu di bawa Sakti. Sedangkan mereka tinggal dipelosok entah dimana. Sandi pun bingung dari mana Sakti mendapatkan tempat ini, jalur untuk sampai ketempat itu melewati hutan yang lebat dan rimbun, sehingga susah untuk diakses dunia luar.


Semenjak Sakti membawa Inas dan yang lainnya itu. Dia tidak mengijinkan Sandi atau pun Penty pergi, dia yang pulang pergi membawa makanan dan segala kebutuhan untuk mereka. Namun semenjak Inas di bawa kesitu, dia tidak pernah bicara lagi dia hanya diam dan mematung dengan posisi yang sekarang.


Entah apa yang ada dipikiran Sakti kenapa dia tega melakukan itu pada wanita yang katanya dia cintai. Tapi dia menyiksa batinnya sampai kondisi Inas miris seperti itu. Benar kata Sandi dia hanya terobsesi pada Inas bukan cinta.


Di sisi lain Sakti sedang berada didalam mobilnya sedang menyetir, senyumnya terus mengembang di bibirnya.


"Abang yakin kita akan hidup bahagia setelah ini!" gumamnya dengan senyum yang masih mengembang.


Mobil Sakti terus berjalan di jalan yang kanan kirinya terdapat hutan rimbun dan lebat. Tapi Sakti tidak menyadari ada sebuah mobil yang mengikutinya.


Sakti masih saja tenggelam dalam pikirannya, dia membayangkan akan memiliki Inas wanita yang selama ini sangat dia inginkan, entah apa yang merasuki Sakti, pria baik, penyayang dan bertanggung jawab, bisa berbuat nekad seperti itu.


"Abang akan lakukan apa pun asal bisa memiliki kamu, abang tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya!" ucap Sakti sambil memegang dan menatap sebuah botol kecil berwarna coklat.


"Sebentar lagi kamu akan jadi milik abang sayang! apa lagi penty pun setuju abang nikah sama kamu, bahkan dia sangat senang." Senyum bahagia terus mengembang dibibir Sakti.


Dua jam perjalanan di hutan itu, Sakti sampai di sebuah rumah yang ada ditengah hutan, rumahnya tidak besar tapi juga tidak kecil. Rumah yang sudah terlihat tua tapi masih terawat. Sakti memarkirkan mobilnya di depan rumah itu.


Senyuman bahagia tak lepas dari bibirnya. Sakti keluar dari mobil dan saat dia hendak masuk, tiba-tiba beberapa orang mencegatnya.


Tiga orang itu tak menjawab dia langsung menyerangnya, sontak Sakti pun melawan mereka, perkelahian pun tak bisa dihindari. Sakti masih unggul dari ketiga orang itu, tapi mereka pun tak menyerah, mereka masih bisa bangkit dan menyerang Sakti lagi.


Sandi dan Penty yang mendengar keributan diluar langsung berlari ke arah luar, mereka terkejut saat Sakti sedang diserang dengan orang tak dikenal.


"Om bantuin papa!" rengek Penty khawatir. Sandi pun mengangguk lalu dia menghampiri Sakti dan membantunya. Meski Sandi masih kesal dengan Sakti tapi dia juga tidak ingin abangnya kenapa-napa, karena Sakti satu-satunya keluarga yang dia punya sekarang, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.


Saat Sakti dan Sandi sedang sibuk dengan perkelahian. Tiba-tiba seorang pria masuk kedalam rumah itu. Penty yang melihatnya terkejut, dia terdiam dan tak berkata apa pun.


Pria itu hanya menatap tajam ke arah Penty. Lalu dia masuk dan mencari sesuatu di setiap ruangan, lalu di ruangan ketiga dia berhenti dan mematung di pintu yang terbuka, dia menatap sosok wanita yang sangat dirindukannya.


Namun tatapannya menjadi tajam dan rahangnya mengeras saat melihat kondisi wanita itu, dia menghampiri wanitanya dia duduk didepannya. Namun pandangan wanita itu tak beralih sedikit pun, dia masih dalam posisi yang sama.


Pria itu mengusap pipi wanita itu, namun tetap tak ada respon darinya dia masih tak menggerakkan sedikit pun badannya.


"Aku sangat merindukanmu!" Mendengar suara yang tak asing wanita itu pun menoleh ke asal suara. Dia menatap lekat ke arah pria yang sedang duduk didepannya dia menatap dengan seksama lalu dia memejamkan matanya untuk sesaat dan membukanya lagi. Terukir senyum di bibirnya saat melihat pria itu. Saat tangan wanita itu akan memegang pipi pria dihadapannya.


Tiba-tiba raut wajahnya berubah dan menjauh dari pria itu, dia terlihat sangat ketakutan. Dia mundur kepojok ranjang dan mendekap lututnya sendiri, tubuhnya bergetar ketakutan.


Pria itu terkejut melihat reaksi wanita yang dirindukannya.

__ADS_1


"Sayang ini aku suamimu, aku akan menjemputmu ayo kita pulang, anak-anak sudah menunggu kita!" ucap pria itu lalu mendekat kearah wanita yang sedang ketakutan.


Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak mau ikut dengannya. Tak lama Sakti masuk ke kamar itu dan menarik pria yang sedang mendekati wanita yang dicintainya.


"Jangan sentuh dia!" pekiknya lalu dia menghajar wajah pria itu.


"Abang stop!" Sandi berusaha melerai.


"Apa kau bilang? jangan sentuh dia! kata itu seharusnya keluar dari mulutku, berani-beraninya kau menyentuh dan membawa kabur istriku!"


Kedua pria itu saling menatap tajam dengan emosi yang sedang memuncak. Saat mereka akan saling menyerang Sandi menahannya.


"Stop kalian jangan seperti anak kecil, kalian sama saja, kalian tidak kasian sama kak Inas, dia sudah sangat menderita, kalian sudah menyakitinya!" ucap Sandi berusaha menenangkan kedua pria yang sedang menahan amarahnya.


"Dia gak ada hak atas istriku!" Pekik Ares.


Sakti sudah sangat geram dan tangannya terkepal, dia sangat ingin menghajar pria yang ada dihadapannya.


Sedangkan Penty hanya menangis melihat pertengakaran dua orang dewasa yang sama-sama sedang mempertahankan satu wanita.


"Kita bicarakan ini baik-baik! kak Ares maaf sebaiknya kakak pulang dulu, kakak liat sendiri kan kak Inas ketakutan liat kakak!" ucap Sandi.


"Kamu gak berhak ngatur saya, dia istri saya dan saya akan membawanya pulang!"


Sakti semakin geram emosinya sudah sampai ubun-ubun, dia mendorong Sandi dan akan menghajar Ares. Tapi Saat tangannya akan mendarat di wajah Ares justru pukulannya mengenai seseorang.


"Bundaaaa!!"


"Kak Inaaass!!" teriak Sandi dan Penty barengan. Inas tergeletak tak sadarkan diri saat mendapat pukulan dari Sakti.


Sakti sangat terkejut dia sampai terbengong tak percaya telah memukul wanita yang sangat dicintainya. Ares langsung emosi dia menghajar Sakti tapi Sandi menahannya.


"Kak aku mohon jangan!"


"Minggir!! dia sudah berani menyentuh istriku saya akan menghabisinya!" teriak Ares emosi. Tapi Sandi terus menahannya.


Penty menangis dan memangku kepala Inas dipahanya.


"Bunda bangun, bunda maafin aku!" isak Penty.


"Udah kak jangan ribut lagi, lebih baik cepet bawa kak Inas ke rumah Sakit, dia lebih penting!" ucap Sandi menahan Ares.


Ares tak mendengarkan dia terus berusaha melepaskan cengkraman Sandi agar bisa menghajar Sakti yang masih terdiam, karena masih kaget dengan perbuatannya sendiri karena memukul Inas.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2