Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Ares bertemu Fahri 2


__ADS_3

"Haus!" Argan terus berkata haus. Inas bingung harus bagaimana dia tidak mau menuruti anaknya, dia harus bisa menahan rasa haus itu. Tapi Inas sangat tidak tega dengan keadaan anaknya itu.


Tak lama Ares masuk setelah mengantar Inka ke depan.


"Kakak udah sadar?" Argan menatap Ares dengan pandangan memohon.


"Haus!" ucapnya lagi. Inas menatap Ares dengan berderai air mata. Lalu pandangan Argan mengarah ke darah itu lagi. Ares mengerti dengan tangis istrinya dan pandangan anaknya.


"Bunda tunggu di sini ya!" Inas mengangguk.


Ares keluar lagi, dia ingin meminta suster untuk memberikan obat penenang agar Argan bisa terlelap dan bisa melupakan tentang darah itu.


Tapi tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. "Mas Ares!"


"Mas Fahri!" ucap Ares saat menengok ke arah si pemanggil.


"Bagaimana keadaan anak mas Fahri?"


"Sudah lebih baik mas Ares, nanti sore juga pulang mas!"


"Syukurlah kalo gitu! maaf ya mas saya belum sempet jenguk anaknya mas!"


"Ahh tidak apa-apa mas! oh iya boleh jika saya minta nomer telpon mas Ares?"


"Ohh boleh mas!" Ares pun memberikan nomer telponnya.


"Lalu bagaimana keadaan anak mas Ares?"


"Masih perlu perawatan mas Fahri, mohon doanya semoga anak saya cepat sembuh!"


"Aamiin, pasti saya doain mas! padahal saya ingin menjenguk anak mas Ares, tapi saya harus mengurus kepulangan anak saya!"


"Tidak apa-apa mas Fahri, anak saya juga sudah mulai membaik!"


"Kalo gitu saya pamit dulu mas Fahri, masih ada urusan!"


"Iya mas, lain kali kita bisa ngobrol lagi!"


Setelah pamit Ares langsung menemui suster.


Ares kembali ke ruangan Argan dengan membawa suster, Argan masih terus menatap darah yang ada di pinggir atasnya, dia terus menelan salivanya.


"Haus!" ucapnya lagi.


"Tolong bu berikan minum untuk masnya!" pinta Suster.


Inas menatap Ares, dia tidak tau harus bagaimana karena Argan pasti akan menolaknya.


"Sus tolong ya suntik anak saya, saya gak tega liat dia kesakitan!" ujar Ares.


Suster itu menurut. Dia bingung dengan kedua orang yang ada dihadapannya, aneh, pikirnya.


"Orang haus kok, minta obat penenang! bukannya di kasih minum, lagian juga dia gak seperti kesakitan, benar-benar aneh kedua orang ini, padahal cantik dan ganteng." gumamnya dalam hati.


Tapi dia pun tak mau banyak bicara dia menurut saja apa yang di katakan Ares. Dia malas berdebat sepertinya.


Setelah di suntikan obat penenang Argan terlelap dan jarum pun di tancapkan lagi di lengan Argan yang sempat di cabut, Inas merasa lega begitu juga Ares.


"Kalau gitu saya permisi pak, bu!"


"Makasih ya sus!" Suster itu pun tersenyum lalu keluar.


"Bunda pasti capek, bunda istirahat ya, kakak juga lagi tidur biar ayah yang jagain!"


"Iya sayang!" Ares membaringkan Inas di sofa. Lalu dia mengelus kepala Inas dan mengecup kening Inas.


"Tidurlah sayang, jangan khawatirkan anak kita, dia pasti baik-baik aja!" Inas mengangguk dia mencoba memejamkan mata. Ares masih di dekat Inas untuk mengusap kepala Inas agar dia cepat terlelap.


...***...


Keadaan Shina sudah lebih baik, sore ini dia di perbolehkan pulang oleh dokter.

__ADS_1


Meski badannya masih terasa sangat lemas.


"Pah!"


"Iya sayang!"


"Aku pengen pizza nanti ya!" pinta Shina.


Rizal tersenyum. "Iya sayang nanti papa beliin ya!"


Shina mengangguk. Setelah selesai menyelesaikan administrasi mereka pun bergegas pulang. Shina juga sudah ingin istirahat di kamarnya.


Setelah lima belas menit mereka sampai di rumah. Shina langsung menuju kamarnya dan istirahat.


"Bi tolong buatin teh ya!"


"Iya pak!"


Rizal duduk di sofa dia merasa lelah, sampai kapan ini akan berakhir. Dia tidak tega melihat kondisi anaknya yang seperti itu. Tak lama bibi pun datang membawa teh.


"Maaf pak, tadi ada temennya non Shina nyariin!"


"Siapa bi?"


"Den Marvel!"


"Bibi bilang apa?"


"Seperti biasa pak!" Rizal mengangguk lalu bibi pun kembali ke dapur.


Rizal tidak mau ada yang tau kondisi anaknya, makanya jika saat Shina sedang di rawat, jika ada yang mencari dirinya atau anaknya. ART nya harus mengatakan mereka sedang ada acara keluarga.


...***...


"Bagaimana?" tanya si pria tampan


"Masih di rumah sakit tuan, mereka mencegahnya agar tuan muda tidak meminum darah!" jawab si pelapor.


"Baiklah, kalian pikir bisa mencegahnya terus, kali ini saya akan biarkan kalian, tapi selanjutnya jangan harap kalian bisa menghalanginya!" ujarnya tersenyum smirk.


"Awasi terus mereka, laporkan apa saja yang terjadi dengan mereka!"


"Baik tuan!" si pelapor itu pun undur diri.


"Saya pasti akan mendapatkannya!"


...***...


Esok hari Penty sudah bersiap untuk berangkat sekolah, tapi dia tidak bersemangat karena tidak ada Argan. Dia ingin sekali kembali ke rumah sakit dan menemani Argan.


Dengan langkah lesu dia berjalan kemeja makan.


"Dedek makan yang banyak ya!" ucap Sandi pada Inka.


"Iya om!" Sandi melihat Penty yang terlihat lesu.


"Semangat adek, jangan lesu gitu!" ucap Sandi pada Penty. Penty hanya mengangguk namun masih lesu.


Setelah sarapan Sandi mengantar Inka dan Penty ke sekolah. Setelah mengantar Inka lalu mengantar Penty ke sekolahnya.


"Masih lesu aja kenapa?"


"Aku khawatir sama Argan om!"


"Khawatir apa kangen?" ledek Sandi.


"Ihhh om nyebelin!" ucap Penty malu wajahnya memerah saat diledek Sandi. Sandi hanya terkekeh. Tak lama mereka pun sampai di sekolah Penty.


"Nanti kalo udah pulang telpon om!"


"Hm!" Penty pun keluar dari mobil dengan raut yang tidak semangat. Sandi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keponakannya.

__ADS_1


Sandi pun melajukan mobilnya hari ini dia ingin menjenguk kakaknya di rutan.


Penty berjalan lesu di koridor sekolah. Hari ini dia mendengar bisik-bisik tentang dirinya, Argan dan Shina. Yang katanya terlibat cinta segitiga dan itu membuat para siswi lain patah hati, karena Dewa Sekolah mereka sedang mencintai dua wanita, bahkan mereka berfikir Argan akan berpoligami. Dasar masih sekolah udah mikirin poligami.


Penty hanya menggelengkan kepala acuh mendengar gosip-gosip gak jelas. Penty duduk di kelasnya lalu tak lama Marvel menghampirinya.


"Pen kemarin gue ke rumah Argan kok pada gak ada?"


"Argan masuk rumah sakit!"


"Apa? dia sakit apa?" tanya Marvel panik. Penty mengendikan bahu dia malas berbicara.


"Jawab Peniti!" ucap Marvel tak sabar.


"Jangan panggil gue peniti, panggilan itu hanya punya Argan!" pekik Penty sebal.


"Ya ampun jangan galak-galak jadi cewek, iya udah jadi Argan sakit apa?"


"Anemia kronis!"


"Si Argan hilang ingatan? kenapa? kepentok apa? atau dia di tabrak apa?" tanya Marvel bertubi-tubi, membuat Penty pusing.


"Anemia Marvel bukan amnesia!" pekik Penty kesal.


"Eh emang beda?" ucapnya sambil menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.


"Issh.. nyebelin ah, udah sono pergi!"


"Iya, iya tar kasih tau alamat rumah sakitnya gue mau kesana!"


"Hm!" jawab Penty singkat.


Tak lama bel masuk berbunyi. Penty pun mengikuti pelajaran dengan tidak fokus, selain dia memikirkan keadaan Argan dia juga memikirkan kejadian kemarin.


Bel istirahat berbunyi, biasanya Penty akan berkumpul dengan Argan, Marvel dan Shina. Tapi kali ini tidak ada Argan Penty malas berkumpul dengan mereka, akhirnya Penty hanya duduk di kelas.


Tak lama Shina datang ke kelas Penty, karena memang mereka tidak satu kelas.


"Ada apa?" tanya Penty saat melihat Shina.


"Katanya Argan masuk rumah sakit?" Penty hanya mengangguk. Sebenarnya mereka tidak pernah bicara berdua dan itu membuat mereka merasa canggung. Biasanya mereka berempat dengan Argan dan Marvel.


"Gimana keadaannya?" tanya Shina datar.


"Kemarin sih udah sadar!" jawab Penty tak kalah datar.


Kedekatan mereka tak luput dari perhatian para siswi yang menjadi fans Argan. Mereka mengira Shina dan Penty sedang memperebutkan Argan.


Mereka mengintip Penty dan Shina sambil saling berbisik. Penty dan Shina jengah melihat kelakuan para siswi.


"Argan di rawat di rumah sakit mana?" tanya Shina mengabaikan para siswi.


"Rumah sakit Bangsa!"


"Apa?" tanya Shina kaget.


"Rumah sakit Bangsa, kamu gak denger?" tanya Penty.


"Ya udah makasih!" ucap Shina lalu berlalu meninggalkan Penty. Penty menghela nafas.


Shina menemui Marvel di kantin. "Nanti elo mau ke rumah sakit?" Marvel mengangguk.


"Gue ikut!" Marvel mengangguk lagi dia malas berbicara karena dia sedang menikmati makanan favoritnya.


"Berarti kemarin di rumah sakit ada Argan!" ucap Shina dalam hati.


.......


.......


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2